Mahouka Koukou no Rettousei

Sewaktu aku pertama masuk dunia kerja, aku tersadar kalau di dunia ini ada dua macam orang:

  1. Orang yang mengusahakan hasil kerja bagus;
  2. Orang yang mengusahakan pekerjaan enggak gagal.

(Lalu orang yang enggak mau kerja sama sekali. Tapi kita enggak usah bahas sampai sejauh itu.)

Dua macam orang di atas itu sekilas kedengarannya sama, tapi ada perbedaan lumayan mendasar antara keduanya. Yang satu berusaha menemukan batasan-batasan baru, mendobrak batasan-batasan lama, menginovasi, dan mencoba menggapai apa-apa yang sebelumnya tak terbayangkan. Sedangkan yang satunya, dia mencari cara untuk mastiin soal gimana caranya agar mereka enggak mungkin gagal.

Jadi yang satu pemberani, yang satu lebih cari aman—untuk kepentingan semua orang.

Tentu saja, perbedaan jenis pekerjaan akan berarti cocoknya buat orang yang berbeda juga.

Lalu pas aku menonton adaptasi anime dari Mahouka Koukou no Rettousei, atau juga dikenal dengan judul The Irregular at Magic High School, yang diproduksi studio Madhouse dan pertama ditayangkan pada musim semi tahun 2014, aku kembali teringat akan hal di atas.

Seri ini didasarkan pada seri light novel lumayan populer buah pena Satou Tsutomu yang diterbitkan oleh ASCII Media Works di bawah label Dengeki Bunko mereka. Seri ranobenya memiliki prestasi tersendiri karena menjadi seri web novel kedua sesudah Sword Art Online yang dikomersilkan dan diterbitkan secara resmi oleh Dengeki. Pada saat ini kutulis, seri novelnya telah mencapai buku ketiga belas.

Jumlah episode animenya sendiri secara keseluruhan adalah 26.

Irregular

Aku pernah membahas soal seri novelnya sebelumnya. Jadi bahasan kali ini takkan masuk terlalu mendalam ke soal cerita.

Mahouka pada dasarnya berlangsung di suatu masa depan alternatif sesudah ‘sihir’ ditemukan kembali dan dipelajari secara ilmiah pada abad kedua puluh satu. Ceritanya berlatar di Jepang, di dunia yang telah mengalami perubahan geopolitik besar-besaran sesudah Perang Dunia III yang berlangsung sampai beberapa dasawarsa, yang salah satu pemicunya adalah penemuan kembali sihir ini.

Fokus ceritanya ada pada kehidupan kakak beradik Shiba Tatsuya dan Shiba Miyuki, yang sama-sama baru mau memulai kehidupan SMA mereka.

Sedikit demi sedikit dipaparkan bahwa bahkan untuk ukuran sekolah sihir, Tatsuya dan Miyuki sama-sama bukan remaja SMA biasa. Keduanya sama-sama memiliki keterikatan dengan salah satu klan yang memiliki pengaruh terkuat di dunia sihir, yang membuat mereka tak lepas dari intrik dan perpolitikan yang ada di dalamnya. Tatsuya terutama, dengan kecerdasannya yang menonjol, sebenarnya telah menjadi salah satu figur terpenting di perusahaan produsen perlengkapan sihir terkemuka FLT yang dikelola ayah mereka. Lalu tanpa sepengetahuan umum, Tatsuya juga merupakan salah satu aset kemiliteran terpenting JSDF (pasukan bela diri Jepang), yang menempatkannya di tengah pusaran konflik kepentingan antara berbagai pihak.

Adaptasi anime ini merangkum buku 1 sampai 7, dari tiga story arc pertama seri ini. Mulai dari Enrollment yang mengetengahkan masa awal pendaftaran Tatsuya dan Miyuki ke SMA, hingga Yokohama Disturbance yang mengetengahkan insiden terorisme ke Kompetisi Thesis Sembilan Sekolah.

Sebelumnya, aku pernah menyebutkan kalau Mahouka mungkin salah satu LN yang paling susah diadaptasi ke bentuk anime. Di samping karena beberapa… elemen cerita dan tema yang diangkatnya, ada pemaparan dunia yang terinci di sini. Maksudnya, aspek world building, yang perlu dipaparkan secara optimal agar daya tariknya kena.

Hal inilah terutama yang membuatnya susah.

Sistem sihir yang diangkat di Mahouka merupakan salah satu sistem yang paling menarik dari yang pernah kutahu. Jadi itu kayak, dengan ide bahwa ‘sihir’ merupakan kemampuan untuk memecah suatu ‘fenomena’ di alam ke bentuk ‘data/informasi’ dan memanipulasinya, ada banyak aplikasi menarik darinya yang kemudian diangkat. Digabungkan dengan latar sekolahan, bumbu-bumbu ilmu bela diri, teknologi futuristis, serta intrik politik dan kemiliteran, ceritanya jadinya benar-benar menarik. Tapi itu bukan sesuatu yang bisa disampaikan secara gampang.

Ditambah lagi ada… uh, beberapa alasan lain.

Dua di antaranya meliputi pertama, kedekatan agak ‘berlebih’ antara Tatsuya dan Miyuki, yang sama-sama berstatus kakak-beradik (walau sebenarnya ada alasan bagus untuk ini sih, yang terkait dengan misi pribadi mereka untuk bisa lepas dari jeratan keluarga mereka sendiri, tapi cara penyampaiannya terus terang aja memang enggak selalu baik). Keduanya adalah kondisi Tatsuya sendiri, yang karena suatu alasan, telah kehilangan sebagian besar emosinya, dan semata lebih banyak bertindak mengikuti logika. Ini menjadikan Tatsuya bisa terkesan seperti psikopat bagi sebagian orang, yang kalau dipikir, sebenarnya secara dingin memanipulasi perilaku orang-orang di sekelilingnya dalam kesehariannya. Ini yang bagi beberapa orang kayaknya bisa jadi suatu hal yang mengganggu.

Makanya, sewaktu aku pertama mendengar Mahouka bakal dianimasikan, aku terus terang saja lumayan skeptis. Madhouse adalah studio yang sudah cukup dikenal sih. Jadi, aku tak meragukan kalau kualitas produksinya tak akan buruk. Tapi apa hasilnya bakal bagus?

Makanya, aku lumayan kecewa saat mendapati kualitas presentasi seri ini enggak sebagus yang kuharapkan.

Harapanku sempat kembali naik begitu melihat lagu penutupnya, “Milleniaro” yang dibawakan Elisa. Itu lagu cinta yang mengalun secara lembut gitu, yang dibawakan dengan menampilkan Miyuki duduk di puncak reruntuhan perkotaan, sementara ada beberapa formasi Magic Sequence terbentuk di langit di atasnya. Penggambaran itu beneran keren. Itu jadi salah hal ‘kena’ yang anime Mahouka bawakan. Makanya, walau seri ini pada akhirnya enggak berakhir sebaik harapanku, aku enggak bisa benar-benar menyalahkan tim produksinya. Ada sebagian di antara mereka yang memang punya gambaran konsep cerita Mahouka itu sebenarnya tentang apa.

Cuma, yah, materi awalnya yang memang sesulit itu.

Magic Sequence

Bicara soal teknis, seperti yang sudah kubilang, visualnya agak mengecewakan. Bukan dalam artian buruk sih. Cuma seperti yang sudah kusinggung di atas, tim produksinya kelihatannya lebih banyak ke ‘cari aman’ ketimbang mencoba mengambil improvisasi atau intepretasi mereka sendiri. Beberapa kekurangannya meliputi: adaptasi desain karakter yang kurang baik (sehingga ada beberapa karakter yang bisa kelihatan ‘aneh’ bila muncul bersamaan dalam satu adegan), kecendrungan pemilihan warna yang terkesan agak monoton (apa ini kata yang tepat?), serta… apa ya satu lagi? Damn, aku enggak inget.

Tapi sisi baiknya, koreografi adegan-adegan aksinya masih termasuk keren. Cuma sayangnya, berhubung ceritanya kayak gitu, aksinya memang enggak benar-benar bisa dibilang banyak. Lalu bila dikaitkan dengan aspek sistem sihirnya, penonton awam yang belum akrab dengan novelnya mungkin akan agak kesulitan memahami apa persisnya yang sebenarnya terjadi.

Sedangkan dari segi audio, sebenarnya lumayan, dan bahkan termasuk di atas rata-rata. Namun dengan banyaknya karakter yang terlibat tapi tak dipaparkan lebih lanjut (seperti… kedua kakak lelaki Chiba Erika yang sebenarnya keren), serta cara eksekusinya yang mungkin perlu dikompromikan dengan jumlah episode, potensinya benar-benar kayak kurang tergali gitu. Kalau kau memperhatikan video untuk lagu penutup kedua, “Mirror”, mungkin kau bakal paham. Kau kayak masih bisa menikmati lagunya, tapi itu enggak lagi sepenuhnya kena ke kamu gitu. Padahal bisa, tapi jadinya enggak. Di paruh kedua seri ini banyak yang kerasa kayak gitu.

Jadi sayangnya, meski klimaks cerita cenderung naik mengingat Yokohama Disturbance merupakan salah satu bagian cerita Mahouka yang paling penuh aksi, kualitas seri ini secara umum sayangnya malah agak cenderung menurun.

Penceritaannya menurutku masih bisa jauh lebih baik lagi. Ini sesuatu yang argumentatif, berhubung penceritaan dalam novelnya juga enggak benar-benar bisa dibilang optimal. Tapi, yah, itu novel.

Akhir kata, ini seri yang direkomendasikan bagi mereka yang ingin menemukan sesuatu yang berbeda dan memang punya ketertarikan khusus terhadap ceritanya. Tapi buat peminat awam, hmmmm, entah ya?

Yah, ya sudahlah. Kita tetap mesti menghargai apa yang sudah ada. Good job, Madhouse! Seenggaknya kalian berhasil menganimasikan apa yang semula enggak mungkin dianimasiin ini ampe tuntas!

(Eh? Komentarku soal tokoh antagonisnya? Euh… yah, itu memang sesuatu yang agak kurang bahkan di versi novel aslinya.)

(Eh? Soal lanjutan ceritanya ke depan? Mmh, episode terakhir secara pas sudah ditutup di awal bagian cerita yang akan mengetengahkan masa lalu Tatsuya dan Miyuki dengan keluarga Yotsuba. Lalu selanjutnya akan ada perkembangan baru di dunia internasional tentang konsep demon yang muncul dari suatu eksperimen tertentu… Tapi nyahahaha, cerita di novelnya masih berlanjut kok! Jadi kayaknya masih bakal lama sampai ada konklusi jelas!)

(…Karakter favoritku tetap adalah Saegusa Mayumi. Argh, sudahlah!)

Penilaian

Konsep: B-; Visual: B-; Audio: B; Perkembangan: B+; Eksekusi: C+; Kepuasan Akhir: B-


About this entry