Fate/Grand Order: First Order

Ini catatan singkat(?), berhubung sekarang masih suasana tahun baru.

Episode spesial Fate/Grand Order: First Order beberapa hari lalu ditayangkan.

Diangkat dari game sosial ponsel Fate/Grand Order yang sekarang terkenal, produksi animasinya dilakukan studio Lay-duce (studio relatif baru yang sebelumnya memproduksi Magi: Adventure of Sinbad, Classroom Crisis), penyutradaraannya dilakukan oleh staff veteran Nanba Hitoshi (Baki the Grappler, Gosick, Heroman) dengan dibantu sutradara episode Tsukada Takurou, serta naskah yang dibuat pendatang baru Sekine Ayumi (Makura no Danshi).

Menyambut sekitar setahun semenjak perilisan gamenya, sekaligus mungkin menyambut tahap penutup Final Order yang dirilis di dalamnya belum lama ini (walau sudah dikonfirmasi akan ada perkembangan cerita baru yang menyusulnya), penganimasian FGO menjadi yang pertama dari rangkaian berita menggembirakan bagi para penggemar waralaba Fate keluaran perusahaan pengembang Type Moon. Selain FGO, bagian pertama dari trilogi film layar lebar Fate/stay night: Heaven’s Feel akhirnya akan rilis, seri anime Fate/Extra: Last Encore yang diproduksi studio SHAFT dengan disutradarai Shinbo Akiyuki sudah dijadwalkan untuk akhir tahun, lalu seri novel Fate/Apocrypha juga dikonfirmasi akan diangkat ke bentuk seri anime TV.

Kayak beberapa kasus sebelumnya, sebenarnya yang menggemari Fate/Grand Order adalah adik perempuanku, bukan aku. Kegemarannya terhadap game ini bahkan sempat mengalihkan perhatiannya dari kegemaran ngegamenya yang biasa. Tapi sejauh yang aku tahu, ini game sosial pertama yang Type Moon kembangkan, yang memang jadinya lumayan sukses.

Garis besar permainannya tak jauh beda dari game-game seluler mobage lain. Di dalamnya, kita jalankan misi-misi dengan karakter-karakter yang punya, memperoleh karakter-karakter baru, meningkatkan level karakter-karakter kita melalui misi-misi baru, dalam proses yang terus berulang hingga akhir cerita. Tentu saja, perolehan karakter barunya, sebagaimana yang kerap terjadi untuk game-game macam begini, kalau tidak kita beli khusus, ya terjadi secara acak (istilahnya: gacha, seperti halnya mesin gachapon). Tapi yang membuat FGO benar-benar istimewa dibandingkan game-game sejenis (macam Chain Chronicle, Rage of Bahamut, atau Final Fantasy Brave Exvius misalnya), kudengar adalah sistem pertempurannya yang bernuansa Perang Cawan Suci (tentu saja, dengan sedikit modifikasi), seluruh karakternya yang mendapat pengisi suara, serta konsep ceritanya yang menarik dan khas Nasu Kinoko-sensei.

Sejauh ini perilisannya hanya di Jepang dan menggunakan bahasa Jepang. Tapi berhubung user interface (UI)-nya dirancang sedemikian rupa agar sangat mudah dinavigasi, ditambah dengan banyaknya penggemarnya, ada banyak juga pemainnya dari negara-negara lain.

Terlepas dari itu, kalau kalian misalnya baca sejauh ini dan tak tahu Perang Cawan Suci itu apa, mungkin kalian nyadar Fate/Grand Order bukan judul tepat untuk memperkenalkan waralaba Fate kepada penggemar-penggemar baru. Soalnya, apa-apa yang ditampilkan dalam game ini mereferensikan hampir seluruh karya yang pernah dikeluarkan Type Moon. Jadi bukan hanya Fate/stay night dan berbagai turunannya, melainkan Kara no Kyoukai dan Tsukihime juga.

Di sisi lain, kalau kalian sudah lumayan tahu tentang semesta Nasuverse buatan Type Moon, dan ingin tahu lebih tentang FGO, maka episode spesial ini mungkin pilihan tepat.

Simulasi Dunia

Berlangsung di linimasa berbeda dari Fate/stay night, FGO mengetengahkan sebuah lembaga rahasia di bawah naungan PBB yang didirikan dengan maksud untuk memastikan keberlangsungan hidup umat manusia. Lembaga tersebut bernama Chaldea Security Organization, dan saat ini dipimpin oleh seorang perempuan bernama Olga Marie Amusphere yang mewarisi jabatan direktur dari mendiang ayahnya.

Urutan apa-apa yang terjadi agak membingungkan. Namun singkat cerita, Chaldea yang dipimpin Olga Marie tersebut, melalui kombinasi sihir dan teknologi, menjalankan suatu simulasi dunia bernama Chaldeas (yang dibangun dengan fondasi ‘roh Dunia’ itu sendiri) yang dengannya, mereka bisa memperkirakan masa depan. Dengan simulasi tersebut, mereka bisa memastikan keberlangsungan umat manusia dalam waktu dekat. Hanya saja pada tahun 2005, terjadi sesuatu yang ganjil. Masa depan yang sebelumnya dapat mereka pandang sampai satu abad ke depan tahu-tahu tersamar. Lalu umat manusia, dan mungkin sekaligus juga dunia, diperkirakan oleh sistem akan berakhir pada bulan Desember 2015.

Apa yang terjadi besar kemungkinan berkaitan dengan suatu wilayah bernama Fuyuki di Jepang pada tahun 2004. Pihak Chaldea memiliki suatu sistem bernama Shiva ciptaan ilmuwan Lev Lainur yang bisa mereka gunakan untuk memantau setiap titik geografis dan waktu di Chaldeas. Namun wilayah dan masa yang dikenal sebagai Singularity F tersebut merupakan area dari sejarah dunia yang entah kenapa tak pernah bisa mereka amati.

Menurut catatan sejarah yang mereka tahu, suatu ritual sihir bernama Perang Cawan Suci konon pernah berlangsung di Fuyuki pada tahun 2004. Lalu bencana kepunahan yang kini manusia hadapi bisa jadi berkaitan dengan artefak Cawan Suci yang didesas-desuskan sanggup mengabulkan permohonan apapun.

Untuk mengatasi masalah ini, ditemukan suatu proses bernama Rayshift yang memungkinkan untuk mengirimkan roh-roh orang-orang masa kini ke masa lalu. Lewat proses ini, kebenaran dari apa yang terjadi akan bisa terkuak.

Chaldea lalu mengumpulkan orang-orang yang memiliki potensi menjadi Master, sebutan untuk para peserta Perang Cawan Suci, untuk kemudian mereka kirim ke masa lalu demi menyelidiki apa yang terjadi dalam Singularity F. Tentu saja, juga untuk memastikan apakah benar sejarah yang mereka kenal telah berubah.

Gudao dan Gudako

Fate/Grand Order: First Order pada dasarnya mencakup cerita yang dipaparkan di prolog game. Meski… sifatnya lumayan berdiri sendiri, cerita First Order benar-benar lebih bersifat perkenalan terhadap para karakter dan dunianya.

Dalam versi game FGO, kita bermain sebagai agen Chaldea yang diutus ke masa lalu. Dalam perkembangan sesudah prolog Singularity F di atas, kita hanya dijelaskan perlu mendatangi berbagai ‘titik anomali’ lain yang tersebar di berbagai zaman, di mana konon konsep Cawan Suci disebut-sebut pernah muncul.

Ada dua avatar yang bisa pemain pilih dalam gamenya, yakni tokoh utama cowok (yang sebelumnya fans sebut Gudao) dan tokoh utama cewek (yang sebelumnya dipanggil Gudako). Tokoh utama untuk adaptasi anime ini dipilih tokoh utama cowok, yang kini memiliki nama resmi Fujimaru Ritsuka.

Sebagai catatan, Gudako (yang berkuncir dan berambut coklat) juga sempat tampil secara cameo sebagai salah satu calon Master potensial. Dirinya karakter yang lumayan populer. Tak ada perbedaan mencolok antara Gudao dan Gudako dari segi cerita. Tapi Gudako konon memang dikenal sebagai pribadi yang lebih… uh, ‘agresif’ di kalangan fans.

Fujimaru Ritsuka sendiri intinya pemuda biasa yang kebetulan terpilih menjadi salah satu Master potensial di Chaldea. Berhubung sifat Ritsuka sebagai ‘pengganti pemain,’ selain kedudukan anehnya di antara para karakter lain, tak banyak latar belakang cerita yang ia punya.

Kalau tak salah, berbeda dari para Master potensial lain, Ritsuka hanya diceritakan belum pernah mendapat pendidikan atau pelatihan khusus sebagai penyihir. Dirinya benar-benar seperti orang biasa. Orang yang kebetulan melihat iklan lowongan pekerjaan, melamar, dan secara tak terduga diterima. Tapi meski sempat membuat Olga Marie marah dengan sikapnya di awal, Ritsuka dipertahankan karena terbatasnya jumlah orang yang berpotensi sebagai Master.

Namun tak dinyana, hukuman Olga Marie padanya justru menyelamatkan Ritsuka dari ledakan misterius yang terjadi di awal misi.

Selain Ritsuka, kita juga diperkenalkan pada Mash Kyrielight (namanya juga sempat diromanisasikan sebagai ‘Matthew’ meski dia perempuan), seorang gadis ramah namun dengan sisi misterius yang memiliki kedudukan agak aneh di Chaldea; Fou, makhluk serupa tupai yang menjadi semacam hewan peliharaan Mash; Olga Marie yang terkesan tinggi hati dan keturunan terakhir keluarga magus ternama Animusphere; Lev Lainur yang necis dan tampak sangat dipercayai Olga Marie; serta Dr. Romani Archaman yang ceria dan menjabat sebagai kepala medis di Chaldea.

Ada sejumlah hal tersamar tentang Chaldea yang masih sebatas diimplikasikan. Tapi porsi besar cerita First Order pada dasarnya tentang bagaimana Ritsuka, Mash, Fou dan Olga Marie justru menjadi harapan terakhir Chaldea untuk mengetahui apa yang terjadi, sesudah mereka terbawa proses Rayshift ke Fuyuki di tahun 2004.

Di sana, mereka menjumpai kota Fuyuki yang telah hancur dengan nyaris tak menyisakan manusia. Perang Cawan Suci, karena suatu sebab, berkembang ke arah yang sepenuhnya berbeda dari yang tercatat di sejarah, dengan bagaimana para Servant yang didatangkan para Master telah lepas kendali. Dengan bantuan Caster, satu-satunya Servant yang masih ‘waras,’ Ritsuka dan kawan-kawannya harus berhadapan dengan Saber Alter, wujud korup dari Saber, sang Servant terkuat, yang menjadi rintangan terakhir mereka untuk menjangkau Cawan Suci.

Unobservable Realm

Cerita episode spesial berdurasi 72 menit ini berakhir menggantung dengan cakupan sangat terbatas. Tapi secara umum, First Order lumayan berhasil menyampaikan premis awal FGO. Soal cerita, aku dengar babak-babak cerita selanjutnya konon akan dianimasikan juga. Jadi kurasa kita tak perlu khawatir soal itu.

Kalau bicara soal teknis, kualitas presentasi First Order memang tak sebagus seri-seri animasi Fate lain sih. Apalagi kalau dibandingkan dengan keluaran-keluarannya Ufotable.

Soal ini… bagaimana bilangnya ya?

Aku dapat kesan aneh bahwa produksi First Order dibuat dengan agak dadakan. Sehingga studio yang Type Moon perlukan bukanlah studio animasi yang bisa memberi hasil ‘bagus,’ tapi studio yang bisa memberi hasil ‘lumayan’ dalam waktu relatif singkat. Lay-duce sendiri, sesudah kasus Classroom Crisis, agaknya bisa dibilang sebagai pilihan yang tepat. Menurut pendapatku, mereka pasti sedang butuh proyek gampang yang pasti laku. Karena itu format episode spesial First Order cocok buat mereka. Makanya, karena itu pula, First Order berakhir dengan kesan yang worksmanship sekali. Terlepas dari kualitas ceritanya, kualitas presentasinya hanya sebatas ‘enggak bagus, tapi enggak jelek juga.’ Ketimpangannya lumayan distraktif, apalagi kalau kalian terbiasa dengan kerennya visual dari anime-anime Fate yang lain. Tapi itu sama sekali tak menutup kemungkinan kualitasnya bisa meningkat di kemudian hari kok. Apalagi dengan kualitas seiyuu dan BGM yang terbilang oke.

Kembali ke soal cerita, sekali lagi, cerita First Order memang kurang begitu menonjol. Alasannya bukan karena adaptasinya jelek, tapi lebih karena di game aslinya, cakupan ceritanya memang baru sebatas itu. Kalau di seri-seri Fate lain, kita belum apa-apa sudah langsung dilarutkan dengan tema cerita yang nampaknya akan ditonjolkan. Kita bisa langsung dibuat tertarik dengan apa yang terjadi. Kita langsung disodorkan koneksi dengan para karakternya. Tapi kalau di FGO, kalau tak salah, pihak Type Moon sendiri pernah mengakui bahwa mereka semula masih meraba-raba karena ini pengalaman pertama mereka membuat mobage. Pada babak-babak permainan yang lebih ke sana, sesudah adanya input dari para pemain, baru pihak Type Moon memberi lampu hijau untuk lebih menitikberatkan cerita. Lalu baru dari sana pula kualitas ceritanya mengalami peningkatan secara drastis.

Apa? Kalau benar ini ada lanjutannya, mulai bagusnya kira-kira nanti episode kapan?

Uh, berhubung aku enggak main gamenya, aku juga enggak tahu. Ahahahaha. Mungkin nanti akan aku tanyakan ke adikku. Menurut adikku, ceritanya mulai bagus pas masuk ke latar London. Jadi kira-kira bab keempat dari tujuh. Mungkin kalo lanjut, maka itu sekitar episode 4-5?

Sekedar klarifikasi beberapa hal sebelum penutup, Perang Cawan Suci di Fuyuki tahun 2004 yang ditampilkan di First Order memang berbeda dari yang berlangsung di Fate/stay night. Ini terlihat dengan bagaimana sejumlah roh pahlawan dipanggil dengan kelas yang berbeda dari yang kita kenal. Roh pahlawan Medusa, yang menjadi Servant Rider di Fate/stay night, di sini ditampilkan menjadi Servant Lancer. Sedangkan Cu Chulainn, sosok Lancer yang kita kenal di Fate/stay night, di sini didatangkan sebagai Caster berkat ia dikisahkan menguasai sihir rune dalam mitologinya. Identitas Archer, Berserker, Assassin, dan Saber tak berubah (Assassin yang tampil di linimasa ini kelihatannya adalah True Assassin dari rute Heaven’s Feel). Aku lumayan penasaran dengan identitas Rider. Kudengar kalau di prolog gamenya, yang menjadi Lancer juga bukanlah Medusa, melainkan Benkei? Tak ada informasi jelas juga tentang para Master, tapi berhubung mereka tak tampil, mungkin mereka memang tak penting.

First Order sendiri lumayan berhasil menonjolkan jalinan hubungan Master-Servant antara Ritsuka dan Mash.

Soal Mash, ringkasnya, gadis manis ini adalah produk dari upaya pemanggilan Servant yang diprakarsai Chaldea untuk meniru sistem Perang Cawan Suci. Tapi upaya ini baru menampakkan hasil sesudah kekacauan yang terjadi dalam misi ke Singularity F. Dengan demikian, Mash menjelma menjadi Demi-Servant, atau manusia yang menjadi wadah dari roh pahlawan yang dipanggil Cawan Suci. Kelasnya adalah kelas istimewa Shielder yang terpisah dari ketujuh kelas Servant yang wajar.

(Uhukdiamanusiabuatanuhuk. UhukuhukuhukGalahaduhukKsatriauhukMejauhukuhukBundaruhuk.)

Kudengar kelas Shielder yang mengandalkan tameng sebenarnya pertama dicetus sebagai karakter orisinil untuk adaptasi anime Fate/stay night yang pertama dari Studio DEEN. Tapi sesudah diputuskan cerita anime tersebut akan mengadaptasi rute Fate, konsepnya terbengkalai, dan baru mencuat kembali sesudah proyek FGO berjalan.

Masih soal Mash, menyusul isu-isu kesehatan yang menerpa seiyuu Taneda Risa yang mengisi suara Mash dalam gamenya, perannya di First Order digantikan oleh Takahashi Rie yang menurutku berhasil memberikan good job. (Aku selalu merasa Taneda-san mendapat peran tersebut karena kebiasaan Mash memanggil orang-orang di sekelilingnya dengan sebutan ‘senpai,’ termasuk pada Ritsuka yang bergabung dengan Chaldea justru sesudah dirinya.)

Ada satu kejadian menarik di First Order tatkala Ritsuka kehilangan salah satu dari tiga command seal-nya. Aku mengira dia mengorbankan satu untuk mengembalikan mereka ke masa kini? Tapi sesudah aku mengikuti beberapa diskusi, nampaknya ada mistranslasi di teks. Ritsuka kelihatannya sebenarnya kehilangan command seal tersebut dalam adegan saat ia tanpa sadar memerintahkan Mash untuk ‘percaya pada diri sendiri.’ Tapi mungkin ini bukan isu penting berhubung di game FGO, command seal yang sudah terpakai nanti akan bisa terpakai kembali seiring dengan waktu.

Akhir kata:

  1. Ya, ini bukan adaptasi yang wah.
  2. Ya, ini bukan seri yang cocok disodorkan buat para penggemar baru waralaba Fate.
  3. Enggak, aku masih belum tertarik buat main FGO.
  4. Ya, kalau nanti ada lanjutannya, aku masih ingin lihat.

Eh? Makhluk apa itu Fou? Kenapa dia perlu ada? Yah, dia punya kaitan dengan Tsukihime dan Fate/Prototype sekaligus. FGO memang sesuatu yang sangat lintas semesta sih.

Mudah-mudahan proyek ini menjadi awal baru bagi Lay-duce untuk menciptakan sebuah hit.

Yah, kita lihat saja nanti.

Iklan

About this entry