Kimi Shi ni Tamou Koto Nakare

Kimi Shi ni Tamou Koto Nakare, atau juga dikenal dengan judul Thou Shalt Not Die (kira-kira berarti ‘engkau janganlah mati,’ atau ‘engkau tak boleh takluk pada kematian;’ kemungkinan judulnya diambil dari puisi klasik Asano Yokiko), sekilas tak terkesan istimewa. Ini seri manga relatif baru dengan cerita yang dibuat Yoko Taro dan digambar oleh Moriyama Daisuke. Ilustrator lepas Kurahana Chinatsu turut berperan sebagai perancang pakaian para karakternya.

Cerita Kimishini, gampangnya, adalah tentang anak-anak remaja yang dilimpahi kekuatan-kekuatan supernatural. Anak-anak remaja ini disuruh berperang menggunakan kekuatan-kekuatan tersebut, di zaman ketika minyak bumi sudah mengering dan sumber daya alam menjadi objek perebutan antar negara.

Seri ini diserialisasikan dari awal tahun 2015 di majalah bulanan Monthly Big Gangan milik Square Enix. Meski relatif baru, dengan perlahan namun pasti seri ini sudah menarik perhatian kalangan-kalangan penggemar tertentu.

Kalangan-kalangan penggemar apa yang aku maksud?

Tentu saja, kalangan-kalangan penggemar Yoko Taro-sensei.

Buat yang belum tahu, Yoko-sensei sebelum ini dikenal sebagai pencetus game-game Drakengard/Drag-On Dragoon yang dikembangkan perusahaan Cavia, biasanya dengan dukungan dari perusahaan Square Enix. Waralaba ini keluarnya di zaman Sony PlayStation 2, jadi kurasa wajar bila kalian tak kenal nama beliau. Drakengard sekilas terlihat seperti  permainan-aksi-satu-orang-melawan-keroyokan-banyak-musuh macam Dynasty Warriors yang dikombinasi dengan aksi-aksi pertempuran udara macam Ace Combat. Banyak yang bilang idenya menarik sih, tapi eksekusinya kelihatan kurang begitu bagus. Namun mereka yang tak mencobanya sendiri, atau tak diberitahu tentangnya, biasanya juga takkan sadar kalau cerita Drakengard itu sebenarnya gelap.

Maksudku, gelap dalam artian lebih dekat ke ‘sakit.’

Cerita game-game Drakengard  biasanya berlatar di dunia dark fantasy muram di mana sedang berlangsung perang yang dapat mengakhiri nasib dunia. Namun segala yang terjadi biasanya berujung jauh lebih aneh dari yang kau bayangkan. Maka dari itu, cerita-cerita beliau amannya kau ikuti kalau kau dewasa dan berpikiran agak terbuka.

Dalam game-game beliau, Yoko-sensei kadang terasa nge-troll. Tapi di balik itu, selalu terkesan kalau dirinya punya maksud yang lebih dalam dari yang terlihat.

Makanya, terlepas dari adaptasi manga bersifat prekuel dari Drakenguard 3 yang belum lama ini juga dibuat, Kimishini bisa dibilang adalah karya manga beliau yang pertama. Atau setidaknya, seri manga pertama di mana beliau terlibat langsung sebagai pencetus cerita. Lalu seperti yang semua penggemar beliau harapkan, hampir semua ciri khas beliau bisa ditemukan di seri ini.

Ciri-ciri khas tersebut biasanya berupa:

  • Perkembangan yang senantiasa segar dan mengejutkan. Pola cerita yang pernah beliau pakai sekali biasanya tak akan beliau pergunakan untuk kedua kalinya.
  • Perkembangan yang lebih ‘dalam’ dari yang terlihat. Terlepas dari apakah itu bagus atau enggak, terlepas dari apakah kau sebagai pemirsa menyukainya atau enggak, selalu ada sesuatu yang tak tampak di permukaan.
  • Karakter-karakter yang kejiwaannya agak sakit.

…Apa lagi ya? Terus terang, belum banyak karya beliau yang telah aku tahu selain itu.

Moriyama Daisuke-sensei sendiri adalah pengarang seri manga aksi eksorsisme Chrno Crusade dan seri sains fiksi World Embryo. Aku belum pernah baca World Embryo, jadi aku tak bisa berkomentar tentang itu. Tapi kalau menilai dari Chrno Crusade, Moriyama-sensei tipe mangaka yang meski karya-karyanya kurang memiliki cerita menonjol, karakter-karakter yang beliau buat selalu seperti punya aura karismatik kuat. Desain-desainnya sekilas tak istimewa, tapi kesemuanya memiliki presence yang kuat dalam konteksnya masing-masing gitu. Hal itu tetap terasa bahkan dengan gaya gambar beliau yang sudah agak berbeda di Kimishini.

Soal Kurahana-san, beliau perancang karakter untuk seri Uta no Prince-sama. Jadi tentu saja rancangan-rancnagan pakaian beliau modis dan bagus.

Tersentuh oleh Perintah Itu

Kimishini bercerita seputar siswa-siswi yang tergabung dalam SMA Swasta Kemampuan Istimewa Nasional. (Iya, disebutnya demikian. Namanya blak-blakan sekali.)

Agak rumit penjelasannya. Tapi intinya, semenjak keringnya pasokan minyak bumi delapan belas tahun sebelumnya, konflik-konflik bersenjata global kemudian melanda dunia. PBB memutuskan untuk mengadakan intervensi-intervensi militer demi memulihkan keadaan di wilayah-wilayah konflik. Lalu Jepang, sebagai salah satu negara paling makmur, terpilih sebagai salah satu negara pelaksananya.

Masalahnya, konstitusi Jepang (semacam undang-undang dasarnya) secara jelas melarang tindakan-tindakan yang menjurus ke arah peperangan dengan negara lain (ini sebagai dampak akhir Perang Dunia II?). Solusi yang kemudian diambil? Gampangnya, kirim saja prajurit-prajurit yang tidak menggunakan senjata api.

Dalam hal ini, prajurit-prajurit yang ditenagai kekuatan-kekuatan supernatural.

Kekuatan-kekuatan seperti telekinesis dan penguatan tubuh ceritanya sudah bisa tercipta lewat penggunaan berbagai obat-obatan. Lalu anak-anak yang dikumpulkan di sekolah tersebut adalah bagian semacam proyek pemerintah untuk pengembangan kekuatan-kekuatan ini.

Resminya, mereka anak-anak remaja yang terpilih sebagai bagian badan amal suatu NGO (organisasi non-pemerintah). Mereka dikirim ke wilayah-wilayah yang dilanda konflik sebagai bentuk ujian atas kekuatan yang telah mereka kembangkan.

Anak-anak ini sendiri pun tahu kenyataannya seperti demikian.

Kenapa remaja-remaja ini yang dikirim, dan bukan orang-orang dewasa yang sudah matang dan lebih terlatih? Alasannya karena kekuatan-kekuatan tersebut konon akan lenyap begitu mereka menginjak usia dua puluh tahun.

Ada lumayan banyak hal yang sebenarnya tersamar pada rinciannya. Terutama dengan bagaimana ceritanya langsung masuk ke porsi adegan-adegan aksi. Tapi sedikit demi sedikit, beragam aspek ceritanya secara perlahan diungkap, memperlihatkan sisi-sisi kenyataan yang lumayan gelap.

Dan Kau Masih Ulurkan Tangan

Cerita Kimishini dibuka di suatu medan perang urban di Amerika Selatan.

Kematian secara brutal terjadi.

Anak-anak sekolahan yang sebelumnya hanya mengenal kedamaian, meski telah dilatih berperang dan membunuh, tiba-tiba harus berhadapan langsung dengan rentetan peluru dan ledakan. Berhubung mereka tak boleh membawa senjata api maupun peledak, selain baju seragam yang mereka gunakan, siswa-siswi tersebut hanya dilengkapi pedang-pedang katana, perbekalan makanan dan minuman, serta peralatan-peralatan komunikasi. Parahnya, kekuatan-kekuatan supernatural yang harusnya bisa mereka andalkan ternyata belum cukup aplikatif untuk dipakai secara nyata. Waktu pengaktifan kekuatan sebagian besar orang masih lamban. Karena itu, meski terlatih sekalipun, mereka masih rentan terhadap kematian.

Remaja-remaja ini menjadi kontingen pertama dari sekolah tersebut yang dicoba di lapangan. Kontingen pertama itu dipimpin para pengurus Dewan Siswa di sekolah itu sendiri.

Para anggota Dewan Siswa itu terdiri atas: Usuki, sang ketua berjiwa pemimpin yang dapat diandalkan (kelas 3, dididik untuk sebagai Gunner, atau pengguna kekuatan jarak jauh, seperti telekinesis); Botan (kelas 3, Attacker, atau pengguna kekuatan jarak dekat, seperti penguatan tubuh), wakil ketua sekaligus kekasih Usuki yang telah bersumpah untuk melindunginya; serta kawan dekat Usuki, seorang cowok berharga diri tinggi bernama Sumi (kelas 3, Scanner, yang memiliki kemampuan jenis pelacakan, seperti penglihatan jarak jauh), yang menjabat sebagai sekretaris.

Selain mereka, cerita perlahan turut mengetengahkan Mashiro, siswi Attacker kelas 1 berambut pendek yang menyimpan perasaan suka terhadap Usuki, yang setidaknya berharap ia bisa menjadi tameng bagi teman-teman sekolahnya yang lain.

Kerap mengitari Mashiro, dan juga sesama Attacker, hadir seorang siswa seangkatannya bernama Kuroi. Kuroi ceritanya pribadi yang agak mistrius. Kuroi, karena suatu alasan, seakan seperti selalu bisa memahami hal-hal yang tak ia ungkap ke orang lain. Karenanya, Mashiro sering mendapati Kuroi tersenyum pada saat-saat yang tak semestinya.

Satu karakter lain yang menonjol adalah seorang siswa kelas dua Scanner berkacamata bernama Asagi. Asagi memiliki kepribadian aneh, karena seringkali seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tidak jadi, karena ia lupa.

Seluruh karakter yang berperan di Kimishini sejauh ini hanya dikenali dengan satu buah nama. Seakan-akan, sebagaimana yang para karakternya sendiri alami, segalanya hanya diceritakan ‘versi sederhananya’ gitu. Dengan hal-hal yang tak perlu kita ketahui dengan sengaja ditahan.

Karena seri ini pada dasarnya bergenre aksi, tapi diterbitkan bulanan, porsi ceritanya banyak disampaikan melalui dialog-dialog dengan makna terselubung. Kita seperti dibuat mengerti kalau memang ada hal-hal tertentu yang dirahasiakan. Lalu pada bab-bab tertentu, memang ada bagian-bagian eksposisi yang menguak rahasia atau pengetahuan yang dimiliki masing-masing karakter. Tapi tetap saja, dalam jangka panjang, seperti ada benang merah yang benar-benar tak bisa kita tebak gitu.

Benang-benar merah seperti soal tangan prostetik yang Botan miliki setelah ia kehilangan sebelah tangannya, politikus-politikus yang tiba-tiba ditahan, pengetahuan penting yang mungkin Asagi lupakan dari masa lalunya, atau kegilaan terselubung yang Kuroi rasakan terhadap Mashiro karena gadis tersebut seakan telah mengembalikan kemanusiaannya.

Dengan kata lain, benar-benar persis seperti pengharapan kita atas sebuah karya dari Yoko-sensei.

“Tak perlu ingat namaku. Toh, kau takkan melihatku lagi.”

Meski selera dan minat beliau agak aneh, kudengar Yoko-sensei sebenarnya orang yang berwawasan. Beliau mendalami bidang sejarah dan cukup up-to-date dengan perkembangan-perkembangan di bidang kemiliteran. Beliau juga kurang menyukai banyak hal yang umumnya dipandang konvensional. Lalu itu semua benar-benar tercermin dalam topik-topik dan tema yang diangkat dalam Kimishini.

Memang sudah jelas ini genrenya seinen sih. Tapi sekali lagi aku katakan, Kimishini benar-benar lebih cocok untuk dewasa. Pertama, karena berbagai kekerasan sadis yang terjadi di dalamnya. Kedua, adegan-adegan percakapannya juga mungkin membosankan, terutama bagi pembaca awam yang kurang tertarik dialog-dialog penuh ‘ketersiratan’ seperti ini. (Ada satu adegan ketika seorang ilmuwan mengutarakan secara panjang pendapatnya tentang kehebatannya sendiri, sebelum akhirnya tiba-tiba terkuak bagaimana dirinya seorang psikopat.) Lalu, ya, seperti yang mungkin bisa kau bayang, terkadang ada nudity dan bahasan-bahasan yang menyinggung soal seks juga.

Tapi kesemuanya menurutku benar-benar berhasil dipaparkan secara proporsional. Moriyama-sensei seperti berhasil mewujudkan gaya cerita, uh, khasnya Yoko-sensei. Kalau hanya melihatnya sekilas, mungkin aku takkan menyadari kalau manga ini digambar oleh pembuat World Embryo dan Chrno Crusade.

Di samping itu, adegan-adegan dalam ceritanya menurutku kerap benar-benar intens. Disusun sedemikian padatnya, sehingga pada setiap bab terasa ada sesuatu yang tertuntaskan atau terjelaskan.

Mungkin aneh kalau aku bicara begini. Tapi aku baru tersadar sudah betapa lamanya tak ada manga yang membuatku tanpa sadar menahan nafas sampai aku membaca Kimishini.

Kemampuan-kemampuan yang ditampilkan sejauh ini memang terbilang sederhana. Kemampuan ‘umum’ seperti kekuatan mengendalikan api saja tak ada. Mungkin karena terlalu membosankan untuk ukuran Yoko-sensei? Bagaimanapun, dasar kekuatan para karakternya tetap dari sains. Tapi aku tak bisa berkomentar untuk perkembangan-perkembangan cerita ke depan.

Berhubung masih baru, seri ini tentu saja statusnya masih berlanjut saat ini kutulis. Tapi meski jumlah babnya baru belasan, mungkin karena cara ceritanya dipadatkan, rasanya ada begitu banyak hal yang para tokohnya sudah alami.

Aku pribadi tertarik dengan cerita ini karena dari dulu selalu terngiang-ngiang akan jawaban dari Yoko-sensei saat beliau ditanya tentang metode beliau dalam membuat cerita dalam sebuah wawancara. Pada dasarnya, saat sedang bosan—seperti saat sedang berada dalam sebuah rapat, misalnya—beliau sering mengalihkan pikiran dengan mulai memikirkan hal-hal menarik apa saja yang lebih senang ia lakukan.

Dengan kata lain, yang beliau lakukan hanya berusaha membuat apa-apa yang sedang dikerjakannya menjadi menarik.

Sebagai orang yang gampang terseret dalam kemonotonan, aku sebenarnya dibuat cukup terganggu dengan perkataan ini.

Sial. Bahkan hingga kini pun ilmu tersebut masih belum aku kuasai!

Terlepas dari itu lagi, ceritanya mungkin memang terlalu keras untuk ukuran mainstream. Jadi kalau kalian tak suka (karena kalian jadi berasumsi macam-macam, misalnya), jangan paksakan diri.


About this entry