Xanadu Next

Terkadang, menulis soal game itu bisa seriusan susah.

Aku dulu pernah berjanji pada seseorang untuk menulis tentang seri Tactics Ogre. Lalu semakin aku mendalami tulisan-tulisan orang lain tentangnya, semakin susah untuk menulis itu tanpa mengaitkannya ke seri induknya, Ogre Battle Saga. Aku jadi stres sendiri! Meski jumlah gamenya enggak banyak, aku perlu mencoba beberapa judulnya secara ekstensif buat memahami feel dari masing-masing judulnya, dan… uh, itu enggak gampang.

Semua game dari seri Ogre Battle itu panjang, man!

Apalagi dengan kesibukanku(?) belakangan.

(…Oke. Mungkin bukan kesibukan. Yang lebih menyita waktu mungkin sebenarnya adalah krisis identitas. Belakangan aku terkadang iri pada para protagonis cerita-cerita isekai yang tahu-tahu meninggal dunia dan berkesempatan mulai dari awal di sebuah dunia lain.)

(…Oke. Tactics Ogre: The Knight of Lodis juga enggak terlalu panjang sih.)

Tapi terlepas dari itu, belum lama ini, pihak lisensor terpercaya XSEED membereskan lokalisasi ke Bahasa Inggris resmi untuk versi PC dari Xanadu Next.

Mereka bahkan merilisnya di Steam!

Xanadu Next merupakan game aksi RPG yang dikembangkan oleh perusahaan Nihon Falcom (para pembuat seri aksi RPG Ys dan Legend of Heroes). Game ini aslinya dirilis di PC tahun 2005(!). Sempat juga dilokalisasi. Tapi untuk suatu alasan, versi yang diterjemahkan dulu adalah versi port (yang sangat inferior, bahkan dengan cerita berbeda) yang dirilis untuk konsol permainan portable N-Gage buatan Nokia, yang terus terang, meski idenya menarik, merupakan suatu produk gagal. (Ini semua terjadi di zaman sebelum smart phone digunakan secara umum. Bahkan sebelum zaman ponsel Blackberry.)

Kenapa game jadul berusia lebih dari 10 tahun lalu dipaksa untuk diterjemahin sampai rilis sekarang? Bahkan sesudah ada patch terjemahan Bahasa Inggris yang sudah dibuat oleh para fans?

Karena ini bagus! Meski tampilannya sudah agak berusia (dan sebenarnya, visual gamenya memang terbilang agak kolot bahkan saat pertama rilis), Xanadu Next itu seriusan bagus!

Puri di Tengah Kabut

Cerita Xanadu Next berlatar di sebuah pulau bernama Harlech. Pulau ini terletak di tengah danau teramat luas. Lalu kita ceritanya berperan sebagai seorang mantan ksatria yang dimintai tolong oleh sahabat lamanya, Charlotte L. Wells, untuk menemaninya menjelajahi berbagai reruntuhan di sana. Mereka berharap bisa menguak kebenaran tentang berbagai misteri yang ada di tempat itu. Salah satunya adalah soal keberadaan Puri Strangerock, yang secara ajaib hanya muncul dan terlihat pada hari-hari berkabut.

Singkat cerita, ketika akhirnya sampai di Harlech, sedang merebak beberapa kabar tak enak berkenaan terbunuhnya seorang pengunjung lain oleh sesosok pria misterius beberapa waktu sebelum kita dan Char tiba. Lalu saat kita mulai menjelajah, suatu insiden terjadi. Karakter yang kita mainkan, tak dinyana juga menjadi korban dari sosok ahli pedang misterius yang belakangan diketahui bernama Dvorak ini. Untungnya, nyawa kita terselamatkan. Roh kita masih berhasil diikat ke badan berkat kehadiran makhluk-makhluk halus yang disebut Guardian, yang memang menjaga keselamatan masing-masing penduduk setempat semenjak mereka masih bayi. Para Guardian istimewa karena bahkan sanggup memberikan kekuatan-kekuatan tertentu pada orang-orang yang terikat dengan mereka.

Meski demikian, nasib kita jadinya terikat pada Harlech, berhubung para Guardian hanya terdapat di pulau tersebut. Tapi berdasarkan informasi yang dikumpulkan, kondisi kita konon bisa dipulihkan seperti sedia kala asalkan kita bisa menemukan pedang pusaka Dragonslayer, yang didesas-desuskan berada di suatu tempat di Pulau Harlech dan memiliki kekuatan sangat dahsyat.

Pencarian akan pedang tersebut meneruskan alasan awal kedatangan kita dan Char ke Harlech. Yakni untuk menemukan kebenaran tentang hilangnya peradaban kuno Xanadu, yang konon telah membangun jaringan labirin luas di bawah tanah pulau untuk suatu tujuan tertentu.

Kenangan Tahun-tahun Pertama Perusahaan

Sedikit membahas soal sejarah, Xanadu Next merupakan perilisan terkini dari seri Xanadu milik Falcom. Pada saat yang sama, seri Xanadu juga sebenarnya merupakan lepasan (spin off) dari seri Dragon Slayer mereka yang terkenal.

Seri Dragon Slayer ini… bagaimana menjelaskannya ya?

Wajar kalau kalian asing dengan seri Dragon Slayer, berhubung ini pertama keluarnya di masa sebelum seri Zelda dan Ys bahkan diciptakan. Jadi, seri ini berawal dari era game PC tahun 1984, sebelum kemunculan sistem NES atau Famicom. Tapi di dalamnya sudah ada konsep-konsep penjelajahan, pengumpulan barang, penaikan level, dan sebagainya.

Hanya saja, meski Dragon Slayer terbilang sebagai pencapaian besar pada zamannya (terutama dengan bagaimana Falcom pada dekade 80an menjadi pengembang yang fokusnya di PC, dan baru tahun-tahun belakangan saja mereka merambah ke konsol), sebagian besar game Dragon Slayer (game pertama maupun sekuel-sekuelnya) bakal terbilang terlalu mendokusai (enggak balik modal dari sisi waktu dan tenaga) untuk dimainkan di zaman sekarang. Karena bahkan dengan musik khas Falcom yang keren sekalipun, kesemuanya relatif susah. Apalagi dengan bagaimana game-game tersebut sebenarnya tak berkaitan dengan satu sama lain. Tak ada kaitan sama sekali dari sisi cerita. Hanya mengusung kemiripan tema, gaya gambar dan gaya musik.

Bahkan bisa dibilang kata ‘Dragon Slayer’ hanya kayak semacam ‘merek dagang’ yang Falcom tempelkan pada game-game pertama mereka.

Kalau kalian akrab dengan game-game Ys yang awal (tepatnya, game pertama sampai keempat), mungkin kalian tak asing dengan konsep ‘menyerang dengan menabrak’ yang game-game tersebut usung. Jadi, dengan mengasumsi tombol ‘serang’ belum diciptakan, karakter yang kita mainkan akan mengalahkan musuh-musuh dengan ‘menabrak’ mereka. Tapi ‘menabrak’ ini biasanya tak bisa secara langsung. Harus dari sisi samping atau serong depan. Atau kalau bisa, belakang. Ini susah, karena arah hadap si musuh lazimnya akan mengikuti gerakan kita.

(Aku pertama berpengalaman dengan pola permainan ini saat memainkan Ys IV: Mask of the Sun. Aku ingat jelas kalau aku memainkannya sampai tamat, tapi aku sempat tak bisa ingat apapun soal ceritanya, selain dari adanya karakter orang-orang bersayap dan bertopeng dan latarnya di pulau yang penuh hutan.)

Nah, meski dipopulerkannya oleh seri Ys,  awal mula konsep ‘menyerang dengan menabrak’ tersebut sebenarnya berawal dari seri Dragon Slayer ini.

Seperti seri Ys, game-game Dragon Slayer itu sepenuhnya dilihat dari ‘atas.’ Dalam game Dragon Slayer (yang paling pertama) kita ceritanya menjadi karakter yang harus menjelajahi semacam labirin raksasa. Tujuan akhir kita adalah untuk membunuh seekor naga. Hanya saja:

  1. Kita perlu menemukan senjata kita dulu. Sebelum kita bisa melakukan ‘menyerang sambil menabrak’ yang aku bilang tadi.
  2. Kita perlu grinding dulu dengan menjadi lebih kuat. Tapi ini bukan dilakukan dengan mengalahkan monster, melainkan dengan menemukan dan mengumpulkan sejumlah ‘batu kekuatan’ yang harus kita pindahkan(!) ke dalam ‘rumah’ kita (yang juga dapat kita gerakkan bila perlu).
  3. Kita perlu mengumpulkan berbagai barang dan kekuatan sihir untuk bisa memecahkan berbagai tantangan dalam labirin, seperti untuk menghancurkan tembok atau mendorong kotak. (Lalu kita hanya bisa membawa satu barang dalam satu waktu!)
  4. Banyak monster yang kita hadapi punya kemampuan aneh-aneh, yang termasuk di antaranya adalah mencuri batu-batu kekuatan yang dengan susah payah telah kita kumpulkan.

Game-game (yang mendapat cap) Dragon Slayer berikutnya menampilkan berbagai inovasi sekaligus perbaikan terhadap konsep mula ini. Singkatnya, kalau yang mau tahu, mereka terdiri atas:

  1. Xanadu, yang menjadi yang pertama mengkombinasikan konsep penjelajahan ini dengan sudut pandang permainan dari samping. Seperti Dragon Slayer, kita ceritanya harus menjelajahi labirin bawah tanah raksasa. Kita juga punya misi untuk membantai naga. Namun kini, ada beragam NPC yang kita temui di kota-kota (di dalam labirin), ada banyak perlengkapan yang dapat kita pakai dan beli (yang akan level up secara terpisah; jadi kalau kita beli senjata baru, perlu waktu smapai senjata baru kita menjadi lebih efektif dari senjata kita yang lama). Jadi, ada elemen-elemen platformer di dalamnya juga, seperti tangga dan lubang yang perlu dilompati. Kalau bertemu musuh atau masuk kota, sudut pandang permainan kembali berubah dari atas, dengan pengecualian saat melawan musuh-musuh besar. Seluruh dunianya benar-benar seperti labirin raksasa yang harus kita jelajahi. Namun penjelajahannya tak selalu linear, dan terkadang kemajuan yang kita peroleh terjadi tanpa kita pahami. Menyulitkannya lagi, ada semacam sistem Karma yang ditentukan oleh jenis-jenis monster tertentu kita kalahkan. Kalau kita terlalu banyak mengalahkan monster ‘baik’, maka kita takkan diizinkan untuk masuk ke Kuil-kuil yang kita perlukan untuk level up (alasannya konon karena para monster ‘baik’ itu aslinya adalah manusia yang dikutuk). Meski begitu, karena beneran keren untuk zamannya, seperti yang kubilang di atas, Xanadu kemudian berkembang menjadi serinya sendiri.
  2. Romancia, yang mirip dengan Xanadu, hanya saja ditampilkan dengan nuansa yang sangat kawaii. Segala sesuatunya juga disederhanakan, dengan dunia lebih kecil, aspek eksplorasi yang dikurangi, dan kebutuhan kustomisasi karakter yang dihilangkan. Meski demikian, tampilan imut itu seriusan menipu karena permainannya sendiri tetap brutal. Di samping sistem Karma yang masih tetap ada dan beragam proses aneh yang perlu kita lakukan, kita bisa kerap mentok karena alasan-alasan konyol. Ditambah lagi, ada juga batas waktu yang membatasi berapa lama permainan bisa kita selesaikan.
  3. Drasle Family (atau Legacy of the Wizard), yang lagi, mirip dengan Xanadu. Hanya saja kita bermain sebagai sebuah keluarga yang merupakan keturunan pahlawan yang mengemban tugas untuk mengalahkan kejahatan yang kembali sedang bangkit (termasuk dengan binatang peliharaan mereka). Jadi, ada sejumlah karakter dengan berbagai perbedaan dan keistimewaan masing-masing yang kita mainkan sekaligus. Labirinnya benar-benar besar. Menarik, tapi tetap tak gampang.
  4. Sorcerian, yang awalnya mirip dengan game RPG barat, yang dibuka dengan bagaimana kita membuat empat karakter untuk digunakan dalam satu party. Tapi daripada RPG pada umumnya, permainannya sendiri tetap platforming yang aksinya dilihat dari samping. Karakter-karakter kita juga punya keistimewaan masing-masing yang dapat kita pertukarkan sewaktu-waktu. Seperti Xanadu, Sorcerian juga berkembang menjadi serinya sendiri. Seri satu ini menonjol karena pengembangannya dilakukan secara modular, dengan jenis-jenis kampanye dengan berbagai tema yang beragam. Cerita-ceritanya juga kebanyakan berdiri sendiri dan tidak ‘menyatu.’ Kita tetap bisa mengumpulkan barang dan melakukan jual beli. Seri ini relatif lebih mudah dibandingkan judul-judul yang lain, tapi tetap lebih cocoknya untuk pecandu game-game antik.
  5. Legend of Heroes, yang merupakan RPG ‘normal,’ lengkap dengan sistem pertempuran berbasis giliran. Sistem permainannya sangat mirip seri Dragon Quest, hanya saja dengan empat orang dalam satu party dan musik yang terbilang bagus. Ceritanya di luar dugaan lumayan, dan akhirnya juga berkembang menjadi serinya sendiri. Masih tetap susah, dengan random encounter tinggi, walau mulai game kedua, musuh-musuh jadi terlihat di layar. Mulai game ketiga dan seterusnya, seri Legend of Heroes berkembang menjadi seri yang tersendiri, yang kesemua gamenya berlatar di dunia yang sama, tapi di waktu dan wilayah yang berbeda-beda. Yang paling terkenal di antaranya, tentu saja, adalah trilogi Trails in the Sky yang nuansa dunianya sangat kaya.
  6. Lord Monarch, yang merupakan seri RTS. Seri ini aneh dan tak terlalu menonjol, dengan motif-motif aneh seperti fast food dan opsi untuk membangun aliansi tapi keharusan untuk menang sendiri, jadi mungkin tak perlu banyak dibahas.

Putri Pengantin Hitam

Aku kepikiran untuk menggali lebih banyak soal seri Dragon Slayer (dan akhirnya membuat tulisan ini), karena cerita Xanadu Next seriusan membuatku penasaran soal game-game sebelumnya.

Setelah kutelusur, ternyata Xanadu Next memang tak punya kaitan apa-apa dengan game-game Xanadu yang telah lalu. Hanya tema dan motif permainannya yang mirip. Tapi bagaimana aku enggak penasaran? Sepanjang permainan, kita dihadapkan pada berbagai legenda dan mitos yang mereferensikan banyak kejadian yang telah lalu gitu.

Dalam Xanadu Next, kita ceritanya menjelajahi peradaban kuno Xanadu, yang disebut dibangun oleh raja ternama Kublai Khan (kalau di dunia nyata, ini namanya Shangdu, ibukota Dinasti Yuan di Cina). Lalu dalam penjelajahan kita atas berbagai labirin dan puing-puing di Pulau Harlech, ada berbagai prasasti batu yang bisa kita temukan. Kesemua prasasti itu ujung-ujungnya menjabarkan bagaimana Xanadu merupakan negeri yang sejahtera dan makmur, sampai datangnya iblis bersosok raja naga jahat yang bernama Galsis.

Dikisahkan kalau Galsis muncul dua kali dan dikalahkan juga sebanyak dua kali. Dirinya takluk oleh dua orang berbeda; pertama oleh seorang pahlawan misterius dan kedua oleh seorang putri. Konon ia takluk berkat kekuatan senjata pusaka Dragonslayer yang lagi kita cari itu. Tapi Xanadu anehnya lenyap bersama kekalahannya.

Keberadaan Puri Strangerock menjadi kayak semacam teka-teki berkelanjutan di sepanjang cerita. Berhubung di tempat tersebut, konon terlihat sosok misterius Black Bride (‘pengantin perempuan hitam’), yang kemunculannya menjadi pertanda akan datangnya bencana.

Lalu meski tak terlalu menonjolkan cerita, seperti halnya banyak game-game Falcom belakangan, nuansa dunianya benar-benar kuat. Meski aku baru mencobanya sebentar, Xanadu Next langsung mengingatkanku akan berbagai game keluaran Squaresoft di era PlayStation 1 (Persisnya, Brave Fencer Musashi serta Dewprism/Threads of Fate). Aku langsung jatuh cinta, karena nuansa dunia dan ceritanya memang sekuat itu (meskipun secara teknis, game ini pertama keluarnya di era PlayStation 2).

Ada dua macam prasasti yang dapat kita temukan, yakni tabulae dan memoires. Tabulae adalah rangkaian prasasti yang memaparkan sejarah lahir dan runtuhnya Xanadu yang misterius. Sedangkan memoires adalah rangkaian catatan kuno dari seorang putri(?) yang bisa jadi memberi kita informasi lebih jauh tentang penyebab lenyapnya Xanadu.

Lalu kita ceritanya adalah seorang ksatria dari kelompok legendaris Northsea Chevaliers yang telah kehilangan kehormatan dan tujuan hidupnya akibat kebijakan pemerintah kerajaan yang mengundang tanda tanya. (Tepatnya, kebijakan seorang perdana menteri yang mungkin jahat.) Nama mendiang atasan yang dulu kita hormati bahkan dikenali oleh para warga Harlech. Meski dengan grafis terbatas, seluruh warga Harlech juga diberi nama dan memiliki kepribadian masing-masing. Lalu mereka menyikapi kehadiran kita dengan cara beragam.

Meski tak berdampak besar pada permainan, semua cerita latar ini benar-benar memperkaya dunianya. Dunia permainannya jadi terasa besar dan lebih memikat, membuat semua tantangan dan upaya kita terasa lebih berarti.

Agak mengejutkan buatku, karakter Char, yang pertama menarik perhatianku dalam deskripsi gamenya, ternyata adalah semacam tipe karakter ‘adik perempuan’ yang berbicara dengan logat antik. Ceritanya, Char yang manis ini adalah seorang akademisi yang berasal dari panti asuhan yang sama dengan si tokoh utama. Lalu dirinya yang mengajak kita untuk turut serta dalam ekspedisi ini untuk memulihkan kita dari kesedihan sesudah hasil War of the Knights beberapa waktu sebelumnya. Dalam permainan, dirinya yang berperan menerjemahkan semua prasasti yang kita temukan. Padanya juga kita bisa menitipkan uang dan barang. Lalu sesekali, dirinya juga akan membuatkan kita bekal makanan (yang memulihkan lebih banyak HP dibandingkan penyembuh biasa).

Ceritanya sendiri berkembang dengan agak tak biasa. Semakin dalam kita menjelajahi labirin-labirin Harlech, kita mulai dihadapkan pada sejumlah monster kuno yang lepas dari segel. Lalu kita mulai bersimpangan jalan dengan sosok-sosok misterius yang mungkin berhubungan dengan sejarah Xanadu lebih dari yang kita kira.

Point and Click

Sebelum Xanadu Next dan selain game orisinilnya, secara garis besar, seri Xanadu terdiri atas game-game:

  • Faxanadu, yang pada dasarnya merupakan game Xanadu yang dirilis untuk Famicom, hanya saja dikembangkannya oleh Hudson, bukan Falcom. Sangat mirip dengan Zelda II, yang berupa game aksi platform dengan elemen-elemen RPG yang dilihat dari samping, hanya saja lebih mudah untuk dimainkan. Kita lagi-lagi menjelajahi sebuah dunia bawah tanah untuk menyelamatkan kampung halaman kita yang diserang kejahatan, tapi ceritanya tak berkaitan dengan game sebelumya.
  • Legend of Xanadu, atau Kaze no Densetsu: Xanadu, yang merupakan game baru sama sekali. Mulai memiliki nuansa visual anime yang kuat. Kita berperan sebagai semacam pangeran yang merupakan keturunan seorang pahlawan. Sangat mirip dengan game-game Ys, lengkap dengan urusan fetch quest-nya yang bisa berkepanjangan, hanya saja dengan jumlah musuh pada satu waktu yang lebih banyak serta peta-peta yang lebih luas. Kita juga akan memperoleh anggota-anggota tim yang ikut bertempur bersama kita. Aku seriusan suka gaya artwork-nya. Ada juga segmen-segmen platforming yang dilihat dari samping, yang akan muncul pada akhir setiap bab (dan biasanya lebih susah dari pertempuran biasa yang dari atas). Katanya oleh para penggemarnya, ini dipandang sebagai game yang beneran bagus.
  • Legend of Xanadu II, atau Kaze no Densetsu: Xanadu II, sekuel yang melanjutkan cerita dari game pertama. Karakter-karakter yang kita mainkan sama. Sangat mirip, hanya dengan durasi agak lebih pendek. Aksi para anggota tim kita lebih efektif, dan ada beberapa perbaikan pada sistem platforming-nya. Lalu kota-kota lama yang telah kita tinggalkan juga kini bisa kita datangi kembali.

Selain itu, ada juga game relatif baru Tokyo Xanadu yang baru dikeluarkan tahun 2015 lalu, yang merupakan game kembangan pertama Falcom yang berlatar di dunia modern. Nuansanya mirip game-game Persona modern kembangan Atlus yang belakangan terkenal. Hanya saja, dalam genre action RPG. Terjemahan Bahasa Inggrisnya sedang dibuat oleh Aksys Games dan dijadwalkan untuk rilis tahun depan.

Sebenarnya, Tokyo Xanadu adalah alasan utama aku tertarik dengan seri Xanadu sesudah Xanadu Next. Aku tahu pada akhirnya game ini tak berkaitan dengan game-game Xanadu sebelumnya. Dibandingkan adikku, aku memang masih awam dengan game-game Falcom. Tapi soal satu ini, lebih baik kita bahas lain kali.

Kalau menjelaskan secara singkat, Xanadu Next sendiri adalah kombinasi RPG dan genre tebas-tebasan pedang hack and slash. Ada bagian-bagian cerita dan teka-teki gitu. Sekilas, jadinya mirip dengan game-game Zelda atau Alundra. Tapi kalau ditilik lebih dalam, Xanadu Next sesuatu yang lebih dari itu.

Kekhasan game-game Xanadu kurasa terdapat pada:

  • Labirin luas yang bisa dijelajah.
  • Perlengkapan yang tumbuh kuat semakin seringnya kita pakai.

Xanadu Next memiliki kedua hal itu.

Xanadu Next benar-benar menonjolkan aspek penjelajahannya. Selama menjelajahi labirin dan memecahkan teka-teki, kita akan menemukan berbagai barang yang akan membantu dalam perjalanan kita. Ada jalan-jalan pintas yang kemudian bisa dibuka. Rasanya menarik melihat bagaimana setiap bagian jadi sambung-menyambung dengan yang lainnya.

Selain itu, semakin sering kita menggunakan sebuah senjata yang kita punya, maka keahlian kita dengan senjata tersebut juga akan semakin baik. Meski minor, ini menjadikan kita perlu melakukan sejumlah penyesuaian setiap kali ganti senjata.

Selain serangan biasa, kita juga bisa mempelajari sejumlah skill dari senjata-senjata yang kita gunakan. Skill-skill tersebut bisa aktif (seperti melancarkan serangan sihir es atau memunculkan medan pelindung listrik) maupun pasif (menambah parameter kekuatan, memunculkan lebih banyak uang dari musuh, dsb.). Namun kita hanya bisa dilengkapi empat skill dalam satu waktu. Di samping itu, kita harus menggunakan masing-masing senjata untuk jumlah tertentu untuk menjadikan skill yang dimilikinya permanen.

…Kita tetap perlu mendatangi kuil untuk mendistribusikan bonus stat yang kita peroleh setiap naik level sih. Itu satu khas lain seri Xanadu yang seri ini punya.

Hanya di kuil pula kita bisa mengubah Guardian yang menjaga kita. Sebagai orang yang kembali dari kematian, ceritanya ikatan roh kita terhadap Guardian terbilang lemah dibandingkan para penduduk Harlech yang biasa. Karenanya, kita bisa menukar-nukar Guardian yang terikat dengan kita berdasarkan kartu-kartu Guardian yang kita temukan. Dengan demikian, kita juga bisa mengubah bonus kemampuan yang kita peroleh dari sang Guardian. Guardian yang sedang terhubung dengan kita juga bisa naik level seiring dengan banyaknya musuh yang kita kalahkan, membuat keistimewaan yang dimilikinya semakin efektif.

Dari segi teknis permainannya sendiri, Xanadu Next juga lumayan mirip game-game Ys. Meski ada gerakan-gerakan menebas dan menangkis yang nyata, kita tetap perlu pandai-pandai mengatur posisi kita secara relatif terhadap musuh. Serangan dari arah samping atau belakang tetap akan memberikan kerusakan lebih besar. Lalu itu berlaku baik bagi kita maupun musuh.

Xanadu Next juga tak terlalu bisa dikatakan sebagai game yang susah. Tapi sebagai keluaran Falcom, ini tetap game yang menantang. Game ini takkan memaksamu melakukan grinding berlebih. Namun dari waktu ke waktu, Xanadu Next tetap memberimu kejutan. Mulai dari teka-teki yang membuatmu heran sampai ke musuh-musuh baru yang secara mengejutkan bisa memukul dengan sangat keras.

Resiko mengalami kematian di Xanadu Next termasuk lumayan. Kau bisa mempertahankan kemajuan karaktermu, tapi resikonya kau jadi kehilangan sebagian uang dan barang yang telah kau temukan. Tapi secara umum, Xanadu Next seriusan termasuk game seimbang.

Kadang terasa seperti ada hal-hal yang dengan sengaja tak dijelaskan sih. Seperti pada bagaimana lompatan kita bisa lebih tinggi secara diagonal, atau bagaimana kotak ternyata bisa didorong ke elevasi yang lebih tinggi. Tapi asal kau tak berhenti coba-coba dan bereksperimen, kau serius bisa menemukan gaya permainanmu sendiri.

Dari segi presentasi, visual Xanadu Next mungkin biasa, tapi musiknya terbilang keren. Ada nuansa sendu kuat yang diusung oleh cerita maupun musiknya, yang terus terang lumayan kusukai.

Satu hal unik lain dari Xanadu Next adalah apabila kita tak menggunakan gamepad, maka kendalinya secara umum dilakukan menggunakan tetikus (mouse). Ini membuatnya terdengar mirip seperti ARPG hack and slash macam Diablo dan Path of Exile, atau MOBA seperti League of Legends dan DOTA; tapi kendalinya secara teknis berbeda. Menggerakkan karakter kita dilakukan dengan menahan tombol kursor di satu arah, dan bukannya mengkliknya pada sasaran tujuan. Serangan biasa terhadap musuh juga hanya terjadi bila kita mengklik musuh yang berjarak dekat. Tombol roda mouse bahkan digunakan untuk mengubah sudut pandang kamera. Meski membuatku aneh di awal, skema kendali ini ternyata beneran bagus. Ini memudahkan pergerakan analog yang kadang perlu kita lakukan.

Perjalanan Baru

Aku sempat mendengar sejumlah keluhan soal game-game Falcom yang belakangan. Konon, kebanyakan seperti kurang berhasil mewujudkan potensi-potensinya yang sesungguhnya. Tapi sesudah mencoba Xanadu Next, aku serius tertarik untuk tahu lebih banyak tentang game-game Falcom yang lain.

Sejauh ini, yang baru kucoba adalah Trails in the Sky FC, tapi itupun belum tamat.

Mungkin yang kurasakan ini semacam dampak berhasilnya sebuah perusahaan dalam membuat produk yang bagus? Xanadu Next kayak mengingatkan diriku tentang pentingnya berpikir strategis dan menggali diri untuk menjadi lebih baik.

Mungkin habis ini aku akan mencoba memainkan lagi beberapa game Ys.

(Sumber informasi dari situs HardcoreGaming101)


About this entry