Thunderbolt Fantasy

Belum lama ini, aku mengikuti Thunderbolt Fantasy.

Susah buatku untuk tak tertarik pada Thunderbolt Fantasy. Selain mengusung Urobuchi Gen selaku penulis cerita dan Sawano Hiroyuki untuk musik, aku tak pernah bisa benci acara-acara berbasis pertunjukan boneka begini. Meski aku bukan generasi yang besar dengan menonton Si Unyil, aku dulu suka menonton seri-seri ‘marionation’ yang diproduksi Gerry Anderson di Inggris, macam Thunderbirds dan Captain Scarlet. Lalu aku suka Muppets. Di samping itu, aku lumayan menggemari cerita-cerita wuxia.

Diproduksi lewat kerjasama perusahaan-perusahaan Nitroplus dan Good Smile Company dari Jepang dengan perusahaan Pili International Multimedia dari Taiwan, Thunderbolt Fantasy: Touriken Yuuki (subjudulnya kira-kira berarti: ‘pengelanaan pedang dari timur’) merupakan semacam seri pertunjukan boneka tangan yang lagi-lagi sempat memicu perdebatan soal batasan-batasan definisi ‘anime.’ Pertama disiarkan langsung dalam tiga bahasa, Min-Nan Taiwan, Mandarin, dan Jepang, penyutradaraannya dilakukan oleh Chris Huang dan Jia-Shiang Wang. Jumlah episodenya sebanyak 13, dan sudah dikonfirmasi ada sekuelnya yang sedang dibuat.

(Untuk kemudahan pengetikanku, nama-nama yang digunakan dalam ulasan ini adalah nama-nama Jepang.)

Kode Etik Payung

Cerita Thunderbolt Fantasy benar-benar sederhana, dan sekilas terkesan sangat generik.

Kisah dibuka dengan dikejar-kejarnya sepasang kakak beradik dari kelompok penjaga segel Goinshi, Tan Kou dan Tan Hi, dari kejaran orang-orang jahat kelompok Genkishu (‘para iblis onyks’). Meski keduanya sanggup bertahan beberapa lama, terutama berkat kepiawaian Tan Kou dalam bermain pedang, keduanya terdesak saat pemimpin Genkishu, seorang pria bertopeng bernama Betsu Tengai, ikut serta dalam pengejaran.

Betsu Tengai, yang berjulukan Shinra Kokotsu (‘tulang-tulang penciptaan’) berkat penguasaannya atas ilmu bela diri sekaligus ilmu sihir, dengan mudah menaklukkan Tan Kou. Sehingga di ambang kematiannya, Tan Kou kemudian mendorong adik perempuannya, Tan Hi, untuk terjun ke lembah sungai agar melarikan diri.

Singkat cerita, Tan Hi yang masih terguncang oleh kematian kakak laki-lakinya, kemudian bersimpangan jalan dengan dua orang pengelana yang kebetulan juga baru saling bertemu. Yang pertama adalah seorang musafir bernama Shoufukan yang kebetulan sedang lewat. Yang kedua adalah seorang pria tampan berambut perak yang mengaku bernama Kichou, yang kebetulan sedang berteduh di tengah hujan. Karena suatu alasan, Kichou kemudian membujuk Shoufukan yang awalnya ingin menghindar masalah untuk menolong Tan Hi. Tindakan ini tak dinyana malah memaksa Shoufukan terlibat rencana bulus Kichou untuk melawan Genkishu, yang ternyata berkaitan dengan perebutan senjata-senjata pusaka Tankenshi yang telah mengakhiri Kobo no Sen (‘perang senja pudar’) yang berlangsung melawan kaum Iblis beratus tahun lalu.

Dipelopori Kichou, Shoufukan akhirnya terseret dalam upaya membantu Tan Hi, yang berujung pada bagaimana kelompok mereka yang sebanyak tujuh orang menempuh perjalanan melintasi Pegunungan Masekizan (‘tulang punggung iblis’) yang berat, demi mencapai Menara Tujuh Dosa yang menjadi markas kelompok Genkishu.

“Kau ingin berbasa-basi, di saat seperti ini?”

Jadi, sekali lagi, ada tujuh orang yang akhirnya terlibat dalam perseteruan melawan Genkishu. Masing-masing anggotanya semula dipilih karena ada suatu peran tertentu yang Kichou siapkan untuk mereka. Mereka adalah:

  • Kichou, sang pelopor, yang dengan pengaruhnya yang luas, mengundang para anggota kelompoknya yang lain untuk bergabung. Ia menggunakan sebilah pipa yang dengannya, ia bisa menciptakan ilusi.
  • Shoufukan, seorang pengelana dari jauh dengan aksen aneh yang bertemu Kichou secara kebetulan dan karena satu dan lain hal, ikut terseret-seret dalam masalah. Ia bersenjatakan sebilah pedang.
  • Tan Hi, yang akan ditolong. Juga seorang ahli pedang dan kekuatan sihir perlindungan.
  • Shu Unshou, seorang pemanah ternama berjulukan Eigan Senyou (‘ahli tembak bermata tajam’) yang memiliki cakupan penglihatan sangat jauh meski telah kehilangan sebelah matanya.
  • Ken San Un, seorang ahli tombak muda, yang turut bergabung sebagai adik didik Shu Unshou untuk belajar tentang sikap seorang ksatria padanya. Julukannya adalah Kan Kaku (‘ketakjuban beku’).
  • Kei Gai, seorang Iblis wanita yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan jasad orang-orang mati dengan tarian dan nyanyiannya. Julukannya adalah Kyuu Shou (‘malam tangisan’).
  • Setsu Mushou, seorang pembunuh bayaran sekaligus ahli pedang sangat berbahaya, yang ikut bergabung karena mengharapkan kepala Kichou sebagai imbalan. Julukannya adalah Meihou Keisatsu (‘pembantai burung api mengaum’).

Tankenshi yang tengah dicari oleh Betsu Tengai rupanya adalah sebilah pedang bernama Tengyouken. Pedang ini yang rupanya telah disegel oleh kelompok Goinshi. Dua ‘kunci’ untuk melepas segelnya rupanya dibawa oleh kakak beradik Tan Hi dan Tan Kou. Lalu bersama tewasnya Tan Kou, salah satunya telah jatuh ke tangan Betsu Tengai.

Tujuh sekawan pimpinan Kichou ini berhadapan dengan pihak Genkishu, yang sesudah kehilangan salah satu komandannya, Zankyo, di tangan Shoufukan, masih memiliki Betsu Tengai yang dibantu dua bawahannya yang setia, Ryou Mi dan Chou Mei, serta anak-anak buah bertopeng yang tak terhitung jumlahnya.

Ceritanya sekilas terkesan sangat generik, dengan lumayan banyak adegan yang terkesan ‘keju.’ Tapi kalau kalian bisa menikmati yang begini, kalian akan dapati kalau Thunderbolt Fantasy itu bagus.

Seriusan, bagus.

Pada menit-menit awal aku pertama menontonnya, ada rasa takjub aneh karena aku merasa seperti sedang mengikuti sebuah anime, dan bukan acara pertunjukan boneka. Pergerakan kameranya senantiasa dinamis gitu, dengan fokus-fokus yang berpindah. Bahkan ada saat-saat ketika pergerakan kaki digambarkan. Lalu pas ada pertarungan, adegan-adegan aksinya diilustrasikan lewat banyak penggunaan CG gitu.

Terkadang masih terasa batasan-batasan medianya (seperti dalam hal bagaimana hampir semua karakternya kidal karena struktur mekanis untuk pergerakan bonekanya). Tapi dalam berbagai sisi lain, Thunderbolt Fantasy seolah mendobrak batasan-batasan yang semula aku bayangin. Ada karakter-karakter sampingan, seperti banyak penduduk desa, yang muncul. Meski terbatas, pembangunan dunianya beneran terasa jadi. Lalu bahkan ada adegan-adegan minum-minum dengan cairan beneran yang mengalir. Meski lebih condong ke dialog, adegan-adegan aksinya, pas ada, itu seriusan keren. Kadang jurus-jurusnya memang terasa seperti adegan-adegan sihir summon dalam game-game, tapi semua ada penjelasan teknisnya yang bisa kalian gali. Lalu, meski mungkin seri ini dibuat agar bisa cocok untuk anak-anak, sebenarnya ada porsi gore yang lumayan banyak dengan berbagai tangan dan kaki terpotong serta tubuh-tubuh yang meletus (sekali lagi, meletus, bukan meledak).

Soal ceritanya sendiri, meski sentuhan Urobuchi-sensei yang khas sebenarnya terasa sejak awal, kebagusan Thunderbolt Fantasy memang baru terasa sekitar episode delapan. Di sekitar itu, ada momen penentuan ketika terungkap bahwa segala sesuatunya tak persis seperti yang dikira. Sebagian besar karakter utama, yang kita ikuti kisahnya dari awal, ternyata adalah orang-orang brengsek.

Daya tarik itu terutama tertuang lewat konflik yang timbul saat Kichou terungkap sebenarnya adalah Lin Setsuha, berjulukan Ryoufuu Setsujin (kira-kira berarti: ‘pencuri angin’), seorang pencuri legendaris yang padanya, ada banyak orang menaruh dendam. Tapi segala permusuhan terhadapnya tertahan karena tak ada yang tahu siapa Shoufukan sebenarnya, yang secara mengejutkan menyatakan diri berasal dari Seiyuu, negeri yang harusnya telah lama hilang semenjak terpisah dari Tourii selama ratusan tahun semenjak Perang Senja Pudar.

Meski klise, hasil akhirnya beneran keren, dan aku susah buat enggak terkesan karenanya.

Bukan hanya elemen-elemen fantasi generik, elemen-elemen khas wuxia, seperti konflik kepentingan dan harga diri, juga dimiliki Thunderbolt Fantasy, sehingga saat konflik final dengan Betsu Tengai akhirnya terjadi, semuanya berhasil memuncak dengan akhir yang memuaskan.

“Bahkan kau pun tak bisa selamanya menghindari akhirat!”

Kalian tahu, dunia sekarang makin rumit. Ada begitu banyak hal yang tak bisa kita apa-apain tentangnya. Lalu mungkin karena itu, pesan positif yang Thunderbolt Fantasy usung benar-benar ‘kena’ buatku.

Aku suka saat ada karakter-karakter imba yang dengan tegas memperbaiki masalah dan membenarkan yang salah. Lalu aku semakin suka lagi bila karakter-karakter seperti itu bisa muncul dari mana saja, termasuk dari tempat-tempat paling tak disangka.

…Uh, iya. Perkembangan karakternya, agak aneh untuk suatu karya buatan Urobuchi-sensei, tak sebanyak itu sih. Lalu iya, ini bukan seri di mana ada banyak karakter bernama yang mati. (Untuk yang bisa menimbulkan feels yang datang karena death flag gitu, kayaknya kita semua sepakat kalau itu tersedia lewat Gundam: Iron-Blooded Orphans yang sedang tayang season keduanya pas aku ngetik ini. Random shoutout: desain Gundam Vidar itu keren!)

Tapi ini bagus. Seriusan bagus.

Kurasa, siapapun yang tertarik untuk mengikuti Thunderbolt Fantasy pada akhirnya akan menganggapnya bagus sih. Sedangkan mereka yang tidak, akan berpendapat sebaliknya.

Yah, paling baik jika kalian menilainya sendiri.

(Btw, untuk yang mau tahu, cerita wuxia favoritku sepanjang masa adalah The Smiling Proud Wanderer karya Jin Yong, yang di sini dikenal dengan judul Pendekar Hina Kelana.)

Penilaian

(Tidak jadi. Aku bingung bagaimana menilainya.)


About this entry