Kingsglaive: Final Fantasy XV

Aku agak sibuk belakangan. Karenanya, aku lagi susah fokus buat nulis.

Tapi terlepas dari itu, beberapa waktu bulan lalu, aku menonton Kingsglaive: Final Fantasy XV bersama sepupuku. Ada pekerjaan yang harusnya kubereskan hari itu. Tapi aku malah melarikan diri dari kenyataan dan menonton film ini. …Mungkin karena aku khawatir tayangnya cuma sebentar di CGV Blitz.

Hal-hal yang mendorongku menonton film ini antara lain:

  • Karena sejak dulu aku memang penggemar waralaba Final Fantasy.
  • Karena aku tak tahu kapan aku akan kesampaian main Final Fantasy XV nanti di Sony PlayStation 4. (Kayaknya aku dan imouto-ku akan memprioritaskan Persona 5.)
  • Adegan-adegan aksinya kayaknya bakal keren, walau ceritanya mungkin tak terlalu bisa diharapkan.
  • Sepupuku memang perlu nonton.
  • Pihak Square Enix yang memproduksi benar-benar niat dengan film ini. Mereka sampai membayar jasa aktor-aktor Hollywood sebagai pengisi suara segala.

Terlepas dari itu, Kingsglaive adalah film animasi CG yang dibuat sebagai pelengkap game Final Fantasy XV yang akan rilis bulan November nanti.

Dalam Final Fantasy XV, kita akan berperan sebagai pangeran muda Noctis Lucis Caelum yang kehilangan negara asalnya dalam suatu invasi serangan militer. Bersama tiga orang pengawal yang sudah seperti saudara-saudara dekatnya (Gladiolus Amicitia, Prompto Argentum, dan Ignis Scientia), Noctis melakukan perjalanan panjang (dengan mobil pusaka mereka yang canggih, Regalia) untuk memperoleh warisan yang telah menjadi haknya dan merebut tahtanya kembali.

Kingsglaive berperan sebagai semacam prolog bagi gamenya, yang memaparkan insiden jatuhnya negara asal Noctis, Kerajaan Lucis, saat yang bersangkutan tak ada di tempat.

Sebagaimana yang mungkin kalian tahu, proyek Final Fantasy XV berawal dari proyek Final Fantasy Versus XIII yang pertama diumumkan sepuluh tahun lalu. Kingsglaive adalah bagian cerita dari konsep asalnya yang berakhir tak dimasukkan ke dalam game. Tapi karena menarik, bagian cerita Kingsglaive dibuat dalam media terpisah (film) sebagai semacam bentuk ‘pengenalan’ terhadap semesta Final Fantasy XV untuk pemirsa awam.

Seperti halnya Final Fantasy: The Spirits Within dan Final Fantasy VII: Advent Children, Kingsglaive menjadi film animasi CG ketiga yang diprakarsai Square Enix. Jadi kau bisa harapkan visual yang benar-benar wah di dalamnya. (Walau sekali lagi, kau tak perlu berharap banyak soal cerita.)

Bicara soal stafnya, Nozue Takeshi yang menyutradarai. Naskah dibuat oleh Hasegawa Takashi, berdasarkan cerita yang sebelumnya dibuat oleh Nojima Kazushige dan Itamuro Saori. Produksinya sendiri dilakukan Visual Works dengan bantuan dari Digic Pictures dan Image Engine.

Seperti yang kusinggung di atas, Kingsglaive mencolok juga karena para tokoh utamanya diperankan oleh sejumlah bintang besar Hollywood. Disulihsuarakan dalam Bahasa Inggris, terlepas dari kualitas ceritanya secara umum, secara mengesankan, mereka benar-benar menjalankan peran mereka secara profesional.

Perwira khusus Nyx Ulric, yang penuh kesetiaan dan kesungguhan, disuarakan oleh Aaron Paul, pemeran pemuda kepepet Jesse Pinkman dalam seri drama TV sangat terkenal Breaking Bad. Mengingat peran Nyx sebagai tokoh utama, ada semacam ‘kewajaran’ dalam suaranya yang benar-benar tak kusangka di film ini.

Khusus film ini, tokoh utama perempuan FF XV, Lunafreya Nox Fleureth, tunangan Noctis yang cantik dan penuh tekad, dihidupkan oleh suara berwibawa Lena Headey, yang namanya mencuat sebagai pemeran karakter ibu tangguh Sarah Connor dalam seri TV Terminator: The Sarah Connor Chronicles. Beliau sekarang lebih dikenal sebagai pemeran ratu kejam Cersei Lannister dalam seri TV fenomenal Game of Thrones sih.

Lalu Sean Bean, yang belakangan paling diingat berkat perannya sebagai Ned Stark dalam seri Game of Thrones (serta berbagai karakter menonjol lain yang akhirnya meninggal dunia), menyuarakan Regis Lucis Caelum CXIII, raja negeri Lucis sekaligus ayah dari Noctis, tokoh utama yang kita mainkan dalam game. Serius, beliau memainkan perannya di sini dengan jauh lebih keren dari yang kuduga. Aku semakin terkesan soal ini mengingat usia karakter Regis dibuat lebih tua dari konsep awalnya.

Mengingat ini… film CG yang diprakarsai Square Enix, kau mungkin berlebihan kalau berharap hasil akhirnya bakal ‘bagus.’ Mungkin ada di antara kalian yang ingat bagaimana The Spirits Within menjadi mimpi buruk finansial. Lalu Advent Children juga pada akhirnya hanya diterima di kalangan terbatas.

Tapi serius, itu tak berarti kau takkan menemukan alasan untuk menyaksikan film ini.

Ceritanya memang berakhir kurang mengesankan sih. Tapi film ini punya sisi-sisi baiknya kok. Tetap ada saat-saat tertentu ketika para penggemar Final Fantasy veteran akan sempat dibikin “Wow.” Lalu setidaknya, film ini menjadi milestone yang menandai pencapaian teknologi animasi manusia sudah sejauh mana.

Tembok dan Tembok

Aku benci mengatakan ini, tapi memang susah membahas cerita Kingsglaive tanpa membuatnya terdengar membosankan.

Singkat cerita, ada dua pihak yang sedang berperang: Kerajaan Lucis (yang baik) dan Kekaisaran Niflheim (yang jahat dan mengembangkan mesin-mesin perang raksasa berbasis magitek).

Ceritanya, di dunia Final Fantasy XV yang modern dan ajaib yang bernama Eos, masing-masing negara pada awalnya diberkahi (oleh dewata?) sebuah kristal yang menjadi semacam sumber kekuatan bagi negara-negara tersebut. Namun kemudian Niflheim datang, melancarkan agresi ke negara-negara lain, dan merebut (menghancurkan?) satu demi satu kristal dari masing-masing negara.

Lucis ceritanya adalah negara terakhir yang kristalnya masih tersisa.

Kingsglaive (‘glaive’ adalah sebutan untuk sejenis tombak bermata pedang) adalah nama pasukan elit Lucis yang ditenagai oleh kekuatan kristal yang disalurkan pada para anggotanya atas izin sang raja. Mereka ceritanya menjadi andalan terakhir negara dalam menangkal serangan Niflheim.

Di samping mampu menggunakan sihir, manuver khas para Kingsglaive adalah bagaimana dengan kekuatan ‘pinjaman’ tersebut, mereka bisa berteleportasi ke manapun pisau-pisau khusus mereka terlontar. (Istilahnya kalau tak salah adalah Warp Strike?) Jadi hanya dengan melontarkan pisau, mereka bisa dalam sekejap bisa berpindah-pindah gitu. Mereka menangkap kembali pisau mereka untuk dilontarkan lagi dan berpindah lagi, dan sebagainya; membuat gerakan mereka sangat lincah dan sulit tertebak.

Nyx Ulric, bersama dua kawan lamanya, Libertus Ostium yang berbadan besar dan Crowe Altius, salah satu dari sekian sedikit anggota yang perempuan, ceritanya adalah anggota dari pasukan elit ini. Di awal cerita, mereka baru saja mundur dari pertempuran yang di dalamnya mereka kembali terdesak.

Persoalan timbul saat Niflheim, di luar dugaan, menyusul akhir salah satu pertempuran yang di dalamnya pihak Lucis kalah, tiba-tiba mengutus salah satu orang sangat penting mereka, penasihat flamboyan Ardyn Izunia, untuk menawarkan perjanjian damai. Niflheim akan mengakui kedaulatan negara Lucis dengan syarat semua wilayah di luar ibukota Lucis, kota kerajaan Insomnia (iya, benar itu nama kotanya), diserahkan kepemilikannya pada Niflheim. Persyaratan ini masuk akal, mengingat di sekeliling Insomnia, ada suatu tembok medan pelindung yang ditenagai kristal yang akan sangat sulit ditembus pasukan Niflheim. Namun di saat yang sama, permintaan ini juga aneh karena status Niflheim yang sedang di atas angin.

Masalahnya, seluruh anggota Kingsglaive adalah orang-orang yang dipilih dari tempat-tempat di luar Insomnia. Makanya, kesepakatan damai yang akhirnya disetujui Raja Regis tersebut malah memicu perpecahan di kalangan mereka, karena itu berarti mereka semua akan kehilangan kampung halaman mereka seandainya perjanjian itu terwujud.

Kunci untuk mengetahui apa maksud Niflheim yang sebenarnya diduga tersirat dalam persyaratan mereka yang kedua: putra mahkota Kerajaan Lucis, Noctis (sekali lagi, yang kita mainkan dalam game)—yang kebetulan saat itu telah disusupkan ke luar Insomnia—akan harus dinikahkan dengan teman masa kecilnya, Lunafreya, putri dari negeri Tenebrae yang telah menjadi negara boneka Niflheim. Karena itu, suatu misi rahasia yang diprakarsai Raja Regis kemudian dijalankan untuk memastikan nasib Luna yang telah lama tak ada kabarnya.

Namun singkat cerita, misi rahasia ini berakhir buruk.

Sangat buruk.

Lalu Nyx tahu-tahu menjadi satu-satunya anggota Kingsglaive tersisa yang dapat menyelamatkan sang putri sekaligus negaranya dari kehancuran.

Kekuatan Dunia

Sebelum menonton Kingsglaive, aku masih belum yakin apa aku akan ‘mengusahakan’ main Final Fantasy XV. Seperti yang sempat kusinggung dalam tulisanku soal Final Fantasy XIII, aku merasa ada terlalu banyak hal dalam industrinya yang sudah berubah. Di samping itu, usiaku sudah bertambah. (Semakin banyak orang mencemaskan soal kapan aku akan nikah.) Lalu konsep Final Fantasy XV sendiri, sekilas, terus terang saja, memang memberikan kesan aneh.

Maksudku, kita main sebagai empat cowok tampan yang ke mana-mana naik mobil dan punya stereotip kepribadian masing-masing? Kesannya sangat boyband sekali.

Ketika video permainan Final Fantasy XV yang lebih ke sini sudah keluar (itu loh, yang durasinya sudah lebih dari setengah jam?), aku tetap masih ambivalen. Aku agak kecewa karena visualnya tak semegah bayanganku. Ide soal dunia mafia dan nuansa Romeo and Juliet yang membuat konsep asli Final Fantasy Versus XIII begitu menarik juga sudah dikesampingkan. Tapi mesti kuakui, pandanganku berubah begitu melihat bagaimana pembangunan dunianya kayaknya sudah ‘bener’ (seenggaknya, game kali ini bener ada NPC yang bisa kita ajak ngobrol), aksi permainannya kelihatannya seru, serta, terutama, melihat kerennya adegan pembuka di mana kita menyaksikan sosok Noctis yang telah lebih matang dan dewasa duduk di kursi tahta.

Lalu setelah menonton Kingsglaive, aku berubah pikiran: aku (dan sepupuku) ingin bisa main Final Fantasy XV.

Daripada karena penasaran pada ceritanya (yang kayaknya sengaja dibuat menggantung) di Kingsglaive, alasannya buatku lebih karena diperlihatkannya Tenebrae di dalam cerita. Aku ingin berkunjung ke Tenebrae. Aku ingin menjelajahinya. Kayaknya, di semua video Final Fantasy XV yang telah keluar sebelumnya, negeri Tenebrae tempat asal Luna belum pernah disorot. Baru di Kingsglaive kita diperlihatkan Tenebrae kayak gimana. Lalu aku berpikir, kalau Tenebrae, atau tempat-tempat lain yang setara keindahannya, akan bisa kita jelajahi di Final Fantasy XV, aku benar-benar akan tertarik mencobanya.

Buat yang belum tahu, waralaba Final Fantasy sempat dikenal karena tempat-tempatnya yang wah. Meski visualnya indah, nuansa perjalanan ke tempat-tempat eksotis ini agak absen di trilogi Final Fantasy XIII. Makanya, melihat Tenebrae, aku berhasil diyakinkan bahwa Square Enix masih belum kehilangan sentuhan mereka dalam mendesain tempat-tempat kayak begini.

Eh? Soal Tenebrae kayak gimana?

Yah, sederhananya, seperti negeri di tengah hutan hijau.

Kedengarannya biasa, tapi daya tariknya jadi menonjol kalau dibandingkan dengan video-video permainan yang ada selama ini, yang lebih menonjolkan warna-warna abu-abu dan hitam yang dominan di jam-jam awal permainan.

Lalu soal ceritanya juga… meski mengangkat tema-tema yang mungkin masih akan bikin aku mengernyit, kayaknya Final Fantasy XV lebih ‘jadi’ karakterisasinya ketimbang Final Fantasy XIII. Jadi iya, pengharapanku berhasil dibuat naik.

Speedy Chocobo

Balik ke soal Kingsglaive, film ini punya lumayan banyak kelemahan dari segi cerita. Dari segi eksekusi teknis, memang tak buruk sih. Tapi dari segi struktur dan penyampaian, ada lumayan banyak hal yang terasa aneh.

Di awal, cerita Kingsglaive secara mengejutkan kelihatannya akan mengangkat tema-tema berbobot. Beberapa di antaranya mencakup diskriminasi antar golongan (antara masyarakat berkecukupan di Insomnia dan orang-orang kurang mampu yang terjebak di luarnya) dan makna di balik perjuangan. Tapi sayangnya, ini semua berakhir kurang tergali (aku memakai eufimisme di sini). Sehingga meski tetap ada hal-hal di dalamnya yang bisa kusukai, akhir film ini tetap meninggalkan rasa yang kurang enak.

Jadi seperti… gimana ya?

Seperti ada banyak yang tak seimbang? Omongannya banyak dan aksinya juga banyak. Tapi adegan-adegan aksinya, meski memang keren, enggak terasa berkontribusi terhadap cerita.

Hmm. Susah menjelaskannya.

Adegan-adegan aksinya sendiri, meski keren, sebenarnya juga bermasalah. Seperti dalam kasus Advent Children, aku rekomendasikan menonton Kingsglaive lebih untuk aksi-aksi visualnya ketimbang ceritanya. Masalahnya (dan entah karena ini isu teknis video/proyektor atau bagaimana), adegan-adegan aksi yang keren secara visual indah tersebut kayaknya hanya bisa kalian nikmati kalau penglihatan kinetik kalian bagus.

Penglihatan kinetik itu apa?

Gampangnya, itu kemampuan untuk melihat dan mencerna secara jelas benda-benda yang berada dalam kondisi bergerak. Seperti, seberapa mampu kalian bisa membaca sebuah iklan yang tertera di badan bus yang bergerak ke arah berlawanan dengan kendaraan yang kalian tumpangi. Biasanya, penglihatan kinetik yang bagus dimiliki oleh para olahragawan, karena memang bisa dilatih.

Balik ke soal Kingsglaive, bila penglihatan kinetik kalian kurang bagus, otak kalian kayak bakal kesulitan menangkap berbagai informasi yang disampaikan lewat visualnya. Akhirnya, kalian jadi enggak bisa mencerna apa-apa, dan akhirnya, kalian malah jadi merasa tontonannya membosankan.

Ibaratnya, kalian bosan karena mendengar obrolan-obrolan yang tak kalian mengerti gitu, hanya saja prosesnya terjadinya lewat mata.

Soalnya, animasinya memang segila itu. Ada begitu banyak hal yang bisa dilihat pada setiap frame. Lalu di saat yang sama, kayak ada begitu banyak detil tersirat dalam adegan-adegan yang ditampilkan. Tapi karena saking banyaknya, otak kita bisa sampai nge-hang karena enggak bisa menentukan titik fokus pas untuk mulai mencernanya. Bahkan aku, yang merasa penglihatan kinetikku termasuk lumayan berkat latihan kendo, beberapa kali kesusahan mencerna adegan-adegannya secara utuh. Apalagi orang awam. Sehingga wajar saja bila tak sedikit yang menganggap Kingsglaive membosankan.

Kuakui, karena alasan tersebut, pengalamanku menonton Kingsglaive di CGV Blitz waktu itu terbilang lumayan aneh.

Selamat Datang di Eos

Merangkum, hal-hal yang kusukai dari Kingsglaive antara lain:

  • Adegan-adegan lompat-lompatan sembari teleportasi via melempar-lempar pisau para anggota Kingsglaive. (Yang kelincahannya lumayan mengingatkan kita akan manuver-manuver para karakter di waralaba Assassin’s Creed.)
  • Visualnya yang sangat wah. Ada terlalu banyak detil yang bisa dilihat dalam satu detik!
  • Betapa flamboyannya Ardyn Izunia. Meski banyak hal tentang dirinya yang belum jelas, aku tetap terkesan oleh pembawaannya. Kuakui, meski gaje, konsep karakternya menarik.
  • Koreografi adegan-adegannya yang keren. Salah satunya, konfrontasi antara Raja Regis dan Kaisar Iedolas Aldercapt menjelang penandatanganan perjanjian, ketika semua yang hadir serta-merta saling mencabut senjata dalam gerakan lambat.
  • Pemaparan lebih jauh tentang dunia Final Fantasy XV. Terutama soal tempat-tempat lain yang belum diperlihatkan dalam demo-demo permainan. (Tenebrae.)
  • Sulih suara dalam Bahasa Inggris yang keren. Maksudku di sini benar-benar keren. Kayak, jauh lebih keren dari yang diperkirakan.
  • Lunafreya. Meski banyak tindakannya yang kurang kumengerti, daya pikatnya yang karismatik bagiku tetap kuat. (Aku agak lemah terhadap tipe-tipe cewek kayak gini.)
  • Crowe. Daya pikatnya juga lumayan kuat. Maka dari itu, perasaanku agak campur aduk soal ini. (Aku agak lemah terhadap tipe-tipe cewek kayak gini juga.)
  • Berbagai elemen Final Fantasy yang menarik perhatian para veteran, mulai dari iklan soal Chocobo sampai percakapan soal Cactuar (pas adegan makan!). Khusus perlu disebut adalah cameo Ultros dari game lawas Final Fantasy VI yang tampil dalam wujud sangat sangar di film ini. Mengingat seperti apa dia aslinya, kemunculannya menjadi kejutan terbesar bagi para penggemar Final Fantasy lama.
  • Si petugas penjaga perbatasan yang tahu-tahu muncul begitu saja di saat-saat terakhir untuk membantu Nyx. Kemunculannya di tengah-tengah pengejaran genting itu serta-merta membuatku ngakak.
  • Ditampilkannya Stella, heroine yang semula didesain sebagai pasangan Noctis untuk Final Fantasy Versus XIII (sebelum digantikan oleh desain Lunafreya), sebagai model produk kecantikan di salah satu papan iklan. (…Aku bisa komentar lebih banyak soal pergantian ini, tapi intinya, yang bisa kukatakan hanyalah bahwa pengembangan konsep ceritanya akhirnya memaksa perubahan konsep karakternya. Itu suatu proses kreatif yang kurang lebih bisa kumengerti.)
  • Adanya karakter Jenderal Glauca yang berzirah dan sangat kuat. Dirinya seperti Darth Vader dalam Star Wars. Atau, kalau dalam lingkup Final Fantasy, seperti Golbez di Final Fantasy IV atau para Judges di Final Fantasy XII. Aku benar-benar merasa sayang bila karakter seperti dia tak ada dalam game. Aku bahkan sampai merasa balik modal nonton Kingsglaive semata-mata demi melihat desain Jenderal Glauca. Dirinya tokoh antagonis utama di film ini btw, dan menjadi final boss yang Nyx harus bisa kalahkan.
  • Sosok mesin raksasa penghancur mengerikan milik Niflheim yang disebut Daemon, yang wujudnya sangat mirip dengan Diamond Weapon di Final Fantasy VII yang sempat membuat para pemain terpaku di masanya.
  • Subplot tentang keberadaan kaum mistis Lucii serta pertemuan Nyx dengannya, yang mirip dengan kaum misterius Occuria yang muncul di Final Fantasy XII. Kurasa, dalam gamenya nanti, Noctis telah ditakdirkan akan bertemu mereka juga.
  • Bagaimana summon Knights of the Round, makhluk panggilan terkuat di Final Fantasy VII, ternyata menjadi para penjaga rahasia di Insomnia. Ini sesuatu yang keren, tapi seperti banyak hal lainnya di film ini, tidak diceritakan secara baik.
  • Bagaimana filmnya diakhiri dengan after credits yang menampilkan tiba-tiba mogoknya mobil Regalia yang sedang dinaiki Noctis dan kawan-kawan, menandai bagaimana ceritanya langsung menyambung dengan adegan pembuka di gamenya nanti.

Hal-hal yang tidak kusukai adalah hampir segala hal selain yang di atas. Tapi beberapa yang perlu kusebut khusus kurasa meliputi:

  • Motivasi para penjahat yang tak jelas. (Kristal-kristal itu dipakai buat apa? Kenapa ada orang-orang yang mendukung mereka? Meski keren, kenapa pula si kaisarnya cuma terkesan numpang muncul?!)
  • Rencana para penjahat yang juga kurang jelas. (Maksud siasat perjanjian damai itu akhirnya apa? Masa iya cuma demi mematahkan Kingsglaive?)
  • Keputusan-keputusan Luna yang kurang jelas. Terutama di adegan penutup, pada bagaimana ia memilih berkelana seorang diri tanpa pengawalan.
  • Segala soal kakak lelaki Luna, Ravus Nox Fleuret, yang bukannya membenci Kekaisaran yang telah menginvasi negaranya, tapi malah benci pada Raja Regis dan garis keturunannya karena gagal menolong keluarganya di masa lalu. Kurasa kehadirannya dimaksudkan untuk klimaks urusan pusaka rahasia Cincin Lucii yang perlu dikirim ke Noctis. Tapi tetap saja karakterisasinya kurang bagus. Aku juga dapat perasaan aneh kalau dia ditambahkan cuma untuk menambah jumlah karakter bishonen di film ini.

Selebihnya, kurasa kesanggupan kalian menikmati Kingsglaive bergantung pada seberapa besar minat kalian terhadap Final Fantasy XV dan waralaba Final Fantasy. Kalau kalian cukup tertarik, mungkin kalian masih bakal menikmati. Tapi kalau tak ada apapun di dalamnya yang menurut kalian keren, lebih baik jangan memaksakan diri. Soalnya, maksud utama Kingsglaive memang lebih sebagai pengenalan terhadap Final Fantasy XV saja kok. Ceritanya memang lumayan berdiri sendiri, tapi juga tak bisa dibilang signifikan. Untuk sekedar bisa menikmati Final Fantasy XV nanti, melihat Kingsglaive menurutku bukan sesuatu yang wajib.

Tapi terkait dengan itu, selain Kingsglaive, beberapa waktu lalu juga sempat dirilis seri ONA 5 episode Brotherhood: Final Fantasy XV, yang juga punya posisi kurang lebih sama. Berperan sebagai perkenalan lain terhadap dunia Final Fantasy XV dan diproduksi oleh studio A-1 Pictures, ceritanya mengetengahkan Noctis dan ketiga pengawalnya di tahap-tahap awal perjalanan mereka.

Pengarahan Brotherhood dilakukan oleh Masui Sochi dengan naskah yang ditangani Ayana Yuniko. Musiknya ditangani bersama oleh Akizuki Susumi dan Inoue Yasuhisa. Kolaborasi dengan A-1 Pictures ini seperti mengulang kolaborasi multimedia dalam proyek Compilation of Final Fantasy VII yang terjadi bertahun-tahun sebelumnya.

Cerita Brotherhood sendiri mengambil alur maju-mundur, dimulai sekitar waktu kejatuhan Insomnia, ketika Noctis dan kawan-kawannya masih mengira mereka hanya perlu ke Tenebrae untuk menemui Luna yang baru menjadi tunangan Noctis. Tiap episodenya akan berfokus ke hubungan Noctis dengan salah satu kawan seperjalanannya (Gladiolus yang kekar dan tangguh, Ignis yang kalem dan cerdas, serta Prompto yang ceria dan perhatian).

Cerita Brotherhood secara umum juga tak wajib diikuti, karena tak langsung terkait dengan cerita di game. Statusnya lebih kayak gaiden atau side story. Tapi banyaknya kilas balik memberi lebih banyak gambaran seputar karakter masing-masing. Di samping itu, yang menurutku menarik adalah bagaimana Brotherhood juga memberi lebih banyak informasi soal latar gamenya, terutama dengan memunculkan karakter-karakter sampingan baru yang akan muncul dalam versi final game tapi belum diperkenalkan dalam versi-versi demo.

Kualitas Brotherhood sendiri sebenarnya lumayan menengah sih. Karena bisa disaksikan gratis, dan diproduksi dalam episode-episode pendek, tak banyak yang bisa dikatakan tentangnya dari segi teknis. Tapi ada campuran aksi dan drama dalam porsi-porsi pendek. Lalu kualitas per episodenya menurutku cenderung meningkat.

(Iya. Kayaknya Brotherhood contoh klasik kasus Square Enix ketika cerita yang terlanjur sudah mereka buat menjadi susah dimasukkan ke dalam game.)

Kudengar, versi Ultimate Collectors Edition yang nanti dirilis dari Final Fantasy XV akan menyertakan episode keenam Brotherhood yang akan berfokus pada Lunafreya. …Mungkin episode terakhir ini akan lebih menonjol dari yang lain.

Mata yang Melihat Pudarnya Jiwa-jiwa

Akhir kata, aku tak menyesal menonton Kingsglaive. Tapi perlu kukatakan bahwa ada banyak hal tak disangka yang aku alami saat menontonnya.

Jumlah penontonnya lebih banyak dari yang kusangka. Teks terjemahannya adalah Bahasa Melayu… yang sayangnya kurang bagus. (Yang kemudian memberi indikasi bagaimana kondisi perbioskopan kita enggak pernah sepenuhnya bisa dibilang sehat.) Lalu yang paling menggangguku, tema khas yang game-game Final Fantasy biasa usung ternyata tak benar-benar berhasil tersampaikan.

Tapi sudahlah soal itu.

Kurasa Kingsglaive cukup berhasil kalau sekedar memancing keingintahuan. Dalam tahun-tahun belakangan, keingintahuan saja, dan bukan ‘rasa tertarik’ sendiri, sebenarnya sudah cukup buatku untuk mendalami lebih banyak.

Terlepas dari semuanya, kalau dalam perkembangan ceritanya nanti Noctis benar-benar dibuat semakin matang sebagai raja, maka itu sudah lebih dari cukup alasan buatku untuk memainkan FF XV. Belakangan aku suka tema-tema soal tanggung jawab dan kepemimpinan gitu soalnya.

Nanti kalau aku benar berkesempatan main, mungkin FF XV kelak akan aku ulas.

Penilaian

Konsep: C+; Visual: S; Audio: A+; Perkembangan: C+; Eksekusi: X; Kepuasan Akhir: B


About this entry