Taimadou Gakuen 35 Shiken Shoutai

Aku pertama tahu tentang Taimadou Gakuen 35 Shiken Shoutai atau Anti-Magic Academy: The 35th Test Platoon dari versi light novel-nya.

Beberapa tahun sebelum animenya keluar, terjemahan buku-buku awalnya sempat dibuat di Baka Tsuki. Walau tertarik, sesudah membacanya, aku ternyata kurang sreg dengannya. Nanti aku jelaskan soal kesanku sih. Intinya, aku jadi senang saat dengar kalau animenya akan dibuat, karena ini berarti aku bisa tahu lebih banyak soal ceritanya tanpa perlu membaca novelnya.

35 Shiken Shoutai ditulis oleh Yanagimi Touki dengan ilustrasi buatan Kippu. Penerbitannya dilakukan oleh Fujimi Shobo di bawah label Fujimi Fantasia Bunko sejak tahun 2012. Saat ini kutulis, seri ini telah terbit sebanyak 13 buku.

Animenya diproduksi oleh studio Silver Link dengan jumlah episode sebanyak 12. Pertama mengudaranya pada perempat akhir tahun 2015 (di masa ketika seri ini kalah menonjol dibandingkan beberapa seri lain). Sutradaranya adalah Kawamura Tomoyuki (nama relatif baru yang sebelum ini paling menyutradarai anime reverse harem Kamigami no Asobi, meski pernah jadi sutradara episode dari bermacam seri), dengan naskah dipenai oleh Shimoyama Kento (lagi, nama yang relatif baru), dan musik ditangani oleh A-bee.

(Sempat ada dua adaptasi manganya juga, yang dibuat dalam dua versi. Satu terbit di majalah shounen sedangkan satunya lagi, yang agak belakangan, terbit di majalah seinen. Tapi aku kurang tahu banyak tentangnya.)

Meski Senyumku Payah

Daya tarik 35 Shiken Shoutai memang tak langsung terlihat. Sekilas, seri ini benar-benar berkesan seperti seri sekolah ajaib/aksi/harem biasa.

Ceritanya berlatar di dunia di mana kekuatan sihir telah bangkit kembali, dan timbul perang terhadap para pengguna sihir menggunakan kekuatan senjata-senjata berbasis teknologi modern seperti pistol dan mesin. Ceritanya berfokus pada remaja lelaki Kusanagi Takeru dan teman-temannya yang tergabung dalam peleton uji ke-35 di Akademi Anti-sihir yang mendidik para pemburu penyihir (inquisitor), sekalipun sebelumnya dipandang sebagai tim yang gagal.

Meski punya elemen komedi romantis, ini salah satu seri LN dengan latar cerita paling suram yang pernah aku tahu. Walau para tokoh utama bersikap ceria, mereka menanggung beban pribadi masing-masing. Ditambah lagi, dunianya seakan dipenuhi ketakutan terhadap pengkhianatan dan perusakan. Kematian sering sekali terjadi, kerap dalam skala besar. Kalaupun ada perdamaian, sifatnya benar-benar sementara. Semua orang seperti hidup di bawah ancaman para penyihir, dan lingkungan para karakternya seperti berada dalam kondisi siaga perang konstan.

Di awal cerita, Takeru dikisahkan adalah orang yang cuma bisa pakai pedang (Jenis senjata yang masa jayanya mendahului masa jaya sihir. Jadi urutannya: pedang -> sihir -> senjata api). Takeru tak bisa pakai senjata api maupun sihir sama sekali, sehingga dirinya tentu saja jadi bulan-bulanan dalam latihan uji karena belum apa-apa dia langsung jadi sasaran tembak semua orang. Walau demikian, Takeru benar-benar jago berpedang. Bila diperlukan, dirinya bisa sampai membelah peluru yang melesat di udara. Lalu dia akan mengamuk bila sampai ada orang yang menghina keterampilannya.

Meski masih tahun pertama, Takeru ditempatkan sebagai pemimpin peleton uji ke-35 yang sudah hampir dibubarkan. Untuk suatu alasan, ini merupakan peleton yang memang bermasalah sejak dulu. (Salah satu anggota lamanya desersi dan akhirnya DO, satu tahu-tahu didapati telah bergabung dalam suatu aliran kepercayaan baru, sedangkan satu lagi tahu-tahu telah terdiagnosa punya penyakit mental.) Lalu agar tak bubar, Takeru perlu memimpin peleton ini dalam menjalani berbagai misi memberantas penyihir dan mengumpulkan poin.

Di peleton ini, Takeru kemudian bertemu kawan lamanya, siswi jenius penyuka lolipop Suginami Ikaruga, yang santai dan sering main-main, yang berperan sebagai teknisi. Lalu Takeru juga bertemu dengan teman Suginami, Saionji Usagi, seorang siswi mungil dari keluarga berada yang memegang posisi sniper, yang meski punya cukup keahlian, memiliki masalah demam panggung yang parah.

Upaya Takeru untuk memimpin peleton ini semula tak banyak membuahkan hasil. (Apalagi dirinya punya masalah emosinya sendiri.) Tapi kondisi kelihatannya mulai berubah saat ahli pistol Ohtori Ouka juga ditempatkan sebagai anggota mereka. Ini keputusan yang mengherankan, karena Ohtori—yang kebetulan juga adalah anak asuh dari kepala sekolah, Ohtori Sougetsu—adalah siswi jenius yang sebenarnya telah lulus awal dan bahkan telah resmi diterima sebagai bagian Inquisition (yang juga pernah mengalahkan Takeru secara telak di masa lalu, meski Takeru tak yakin apakah yang bersangkutan mengingat ini). Namun karena suatu alasan, dirinya kini disekolahkan kembali.

Berhubung poin akademis mereka sudah mencapai nol gara-gara berbagai penalti yang mereka peroleh, Takeru dan kawan-kawannya akhirnya nekat mengambil misi berbahaya, yang akhirnya membuat mereka bersimpangan jalan secara langsung dengan para penyihir jahat dari organisasi teroris Valhalla.

Hentikan Waktu, Sekarang Saatnya Berjuang

Bicara sedikit soal teknisnya dulu, kualitas teknis anime ini di luar dugaan benar-benar bagus. Gaya desainnya memang simpel dan penggunaan CG-nya terus terang saja masih kurang indah. Namun arahan visualnya kuat, dengan warna-warna yang tajam dan menonjol. Eksekusi adegan-adegannya pas. Lalu ini semua didukung dengan kualitas audio yang benar-benar kuat, baik dari segi seiyuu maupun BGM.

Satu keluhan yang aku punya dengan novelnya adalah struktur ceritanya yang terbilang tak biasa. Kita seolah-olah dibeberkan begitu saja dengan segala sesuatu tentang dunia ini, tanpa pengenalan yang benar-benar tuntas. Lalu penceritaannya juga kurang fokus dengan adanya sejumlah subplot yang berjalan sekaligus.  Buku pertama misalnya, memang menonjolkan Ouka dan latar belakanganya sebagai fokus utama. Tapi di saat yang sama, buku satu juga memperkenalkan karakter Nikaido Mari, seorang gadis penyihir baik-baik yang dimanipulasi Valhalla karena mempunyai atribut sihir kuno Aurora yang langka, sehingga ia menjadi salah satu buron yang dikejar peleton Takeru sebelum nantinya bergabung sebagai kawan (meski dengan bom di leher yang dapat meledak sewaktu-waktu bila sampai menggunakan sihir tanpa izin).

Animenya ternyata mengatasi ini lewat keberhasilannya memadatkan segala yang perlu diketahui tentang cerita dari sekitar lima buku dalam hanya 12 episode. Pacing-nya memang jadi kurang bagus. Tapi ini menjadi jenis anime adaptasi yang akhirnya berhasil menyampaikan segala yang mau disampaikan meski secara tidak sempurna. Walau kita mungkin luput soal beberapa detil, kita tetap memahami garis besar cerita. Sehingga rasa puas saat menyadari, “Oo, jadinya begini.” itu tetap ada.

Adegan-adegan aksinya terbilang lemah. Ini sayangnya terasa banget berhubung jumlah adegan aksinya bukan hanya terbilang banyak, tapi juga melibatkan hal-hal kolosal macam tembakan kekuatan dahsyat, perubahan wujud ke armor, monster-monster besar, serta mecha-mecha menakutkan yang disebut dragoon. Namun di sisi lain, kekurangan ini diimbangi dengan adegan-adegan interaksi antar karakternya yang bagus. Lalu dengan adanya plot yang terus berjalan, momentum ceritanya berhasil terus terjaga. Ini tetap seri yang paling memikatku pada musim gugur tahun 2015 lalu, dan aku sempat heran kenapa seri ini tak lebih populer.

Memandang ke belakang sekarang, aku bisa mafhum dengan semua kelemahannya saat mengingat Silver Link memang bukan studio yang dikenal karena adegan-adegan aksinya. Aku kayak, “Perasaan, Silver Link lebih banyak membuat seri komedi? Oh, pantas saja adegan-adegan komedinya bagus.” Tapi aku jadi lebih salut lagi saat mengingat bahwa nama-nama staf kunci di baliknya adalah nama-nama relatif baru.

Ya, masih banyak kelemahannya. Tapi hasilnya buatku masih terbilang mengesankan.

Balik ke soal ceritanya, meski ada adegan-adegan fanservice-nya (ditambah tragedi-tragedi kematian sadis yang di dalamnya nyawa manusia dipandang berharga benar-benar murah)—dan lambat laun, semua teman sekelompoknya memang jatuh cinta pada Takeru—ceritanya mengusung tema soal kesetiakawanan dan pengorbanan yang kuat.

Aku selalu terenyuh setiap kali Takeru, karena rasa tanggung jawabnya sebagai pemimpin peleton, menawarkan pada para bawahannya untuk berbagi separuh beban mereka. Ceritanya berfokus pada masing-masing karakter anggota peleton secara berurut: Ouka (soal kasus yang membuatnya dikembalikan ke sekolah), Mari (soal hubungannya dengan Valhalla), Saionji (soal isu keluarga yang membuat ia terancam dikeluarkan), Suginami (masa lalunya sebagai produk percobaan suatu perusahaan alkimia), dan baru terakhir, Takeru sendiri (soal hubungannya dengan adik perempuannya, Kusanagi Kiseki, yang berstatus penyihir berbahaya karena badannya dikutuk dengan keberadaan iblis Hyakki Yakou, yang membuatnya tak bisa sekaligus tak ingin mati kalau bukan di tangan Takeru), saat ia balik menerima uluran tangan teman-temannya. Semua karakter utama ternyata memang menanggung rasa bersalah mereka sendiri-sendiri.

Lalu di antara semua ini, masih ada banyak hal lain yang terjadi.

Ada gadis kecil misterius berpakaian gothic lolita berwajah datar yang kerap mengawasi Takeru di awal cerita. Selanjutnya terungkap kalau dirinya perwujudan salah satu pusaka Relic Eater yang digunakan para Inquisitor untuk melawan penyihir. Dalam hal ini, Malleus Malficarum Type-Twilight “Mistilteinn” bernama Lapis, yang mampu mewujudkan senjata berbilah tajam jenis apapun. Lapis rupanya telah dipersiapkan Ohtori Sougetsu untuk melengkapi kemampuan berpedang Takeru, dan di ambang kematiannya, Takeru kemudian menjadi kontraktor dan tuan dari Lapis. (Identitas Lapis selama di sekolah kemudian disamarkan sebagai adik perempuan Takeru, Kusanagi Lapis, sesama anggota peleton ke-35, meski nyatanya tampang mereka tak mirip sama sekali.)

Ada serangan Valhalla ke sekolah melalui sosok Einherjar King Arthur yang memakan banyak nyawa teman-teman sekolah Takeru. Insiden ini didalangi Haunted, mantan pendeta Katolik yang menjadi musuh besar Ouka sekaligus Mari. (Kecintaannya terhadap keputusasaan, dan bagaimana ia terus menjadi duri dalam daging, menjadikannya salah satu karakter antagonis paling menarik yang pernah aku lihat.)

Ada kepulangan kembali pria dingin spesialis pisau dan pistol, Kurogane Hayato, orang nomor dua di Akademi sekaligus pemimpin pasukan elit Inquisitor EXE, yang merupakan keturunan klan yang sama dari Takeru. (Dia sebenarnya salah satu karakter paling kuat di seri ini, dengan statusnya sebagai kontraktor dua Relic Eater sekaligus, yakni Caligula dan Maximilian.)

Ada konflik api dalam sekam antara Takeru dengan kawan lamanya, Kirigaya Kyouya, menyusul tragedi penyerangan Haunted atas sekolah. Perseteruan mereka memuncak dalam kasus yang melibatkan Kiseki.

Ada status tak jelas antara Ouka dan Relic Eater miliknya sendiri yang berbentuk pistol kembar, Vlad, yang dengannya Ouka baru menjalin separuh kontrak. (Salah satu alasannya karena keengganan Ouka untuk berkaitan dengan segala sesuatu berbau sihir, terkait traumanya dengan keluarga aslinya.)

Ditambah lagi, sosok ayah asuh Ouka, Ohtori Soegetsu, yang membimbing Takeru dan kawan-kawannya, sebenarnya bukanlah tokoh yang punya niat yang sepenuhnya baik.

Penceritaannya terbilang benar-benar padat. Tapi itu pun masih dengan beberapa subplot yang masih menggantung di episode terakhir. Walau begitu, hasil akhirnya, sekali lagi, masih terbilang lumayan mengesankan.

(Setelah kupikir lagi, meski tak berlebihan, unsur fanservice-nya terbilang benar-benar dewasa. Jadi baiknya itu satu hal yang juga kalian catat.)

…Dan Bersumpah Melindungi Hingga Akhir

Akhir kata, 35 Shiken Shoutai menghadirkan kombinasi aksi komedi yang berlatar di dunia yang benar-benar suram. Kuakui, memang agak susah untuk ‘masuk’ pada awalnya. Tapi sesudah kau berhasil ‘masuk,’ ceritanya jadi benar-benar menarik.

Porsi karakternya terasa menyentuh. Adegan-adegan komedi haremnya ajaibnya tak terlalu bikin ilfil. Para karakter perempuannya cantik dengan cara mereka masing-masing. Lalu adegan-adegan aksinya, meski menampilkan aspek power level lewat keberadaan Demon Slayer Mode berwujud zirah pada para pengguna Relic Eater, sebenarnya lumayan menonjolkan pentingnya kerjasama tim.

Lagu penutup yang dibawakan Itou Kanako, “Calling My Twilight” menjadi salah satu lagu favoritku bukan hanya karena tema yang dibawakannya. Iramanya kayak, betul-betul pas sebagai penutup tiap episode.

Aku juga lumayan terkesan dengan bagaimana gaya desain wajah bulat buatan Kippu-sensei berhasil ditranslasi secara pas. (Aku agak berharap desain Demon Slayer Mode para karakternya bisa dibuat lebih keren sih. Maksudku, itu benar-benar nuansa tokusatsu banget.)

(…Aku sedikit kecewa dengan wujud Demon Slayer Mode Ouka yang ditampilkan di akhir juga, sebenarnya.)

Aku terus terang bersyukur adaptasi anime dari seri ini ada. Daripada sesuatu yang berantakan atau setengah-setengah (seperti kebanyakan kasus adaptasi anime dari ranobe belakangan), 35 Shiken Shoutai berhasil menjadi sesuatu yang lumayan berkesan. Aku lumayan merekomendasikannya untuk kalian yang suka cerita-cerita aksi fantasi yang agak enggak biasa. …Atau, oke, mereka yang ingin lihat karakter jahat yang beneran jahat, karena Haunted lumayan berkesan walau cuma tampil beberapa kali dalam durasi 12 episode.

Agak panjang bagaimana aku berpikir begini, tapi seri ini sempat membuatku berpikir kalau mungkin orang merasakan kesepian karena mereka tak pernah benar-benar mencoba untuk menjadi ‘kekuatan’ bagi orang lain. Dalam artian, mereka masih terlalu terbawa ego dan belum pernah merasakan kerelaan untuk ikut mengusung beban selain beban mereka sendiri.

Tapi entah deh. Mungkin soal itu akan kusinggung lain waktu.

Mungkin sesudah aku membaca lebih banyak soal ranobenya.

(Aku serius merasa Yanagimi-sensei memasukkan terlalu banyak hal.)

Penilaian

Konsep: B-, Visual: B+; Audio: A; Perkembangan; B; Eksekusi: A+; Kepuasan Akhir: B+


About this entry