NHK ni Youkoso!

Dunia ini suram. Sudah tak lagi ada harapan. Jangankan bertatap muka dengan orang, buat melangkah ke pintu saja aku ketakutan.

Kenapa? Kenapa aku bisa berakhir begini? Aku… tak bisa berhenti gemetaran. Mereka menertawakanku. Aku tahu kalau mereka pasti sebenarnya menertawakanku! Aku selalu jadi aneh kalau harus berbicara. Bahkan sekedar berada di sana, aku bisa merasakan sorot mata merendahkan dari orang-orang!

Tapi tidak… tidak mungkin sesuatu seperti ini bisa semata terjadi karena salahku.

Ya!

Ini pasti terjadi karena mereka! Bagaimana mungkin hal seabsurd ini bisa tahu-tahu terjadi begitu saja? Tak mungkin sesuatu seperti ini bisa terjadi dengan sendirinya!

Hanya ada satu kemungkinannya.

Tanpa kusadari, rupanya aku telah menjadi korban dari sebuah KONSPIRASI.

Mimpi-mimpi dan Harapan

Pada pertengahan dekade 2000an, ada semacam ketidakpastian aneh soal dunia akan bergerak ke arah mana. Itu adalah zaman ketika Internet sudah ada, tapi berbagai aplikasi dan media sosial masih belum merambah kehidupan kita seperti sekarang. Lalu seiring dengan datangnya Internet tersebut, muncul pula berbagai metode yang memungkinkan kita untuk bisa memenuhi barang-brang kebutuhan kita tanpa ke luar rumah.

Hm, mungkin dari sana sindrom hikikomori berasal.

Untuk yang belum tahu, hikikomori adalah sebutan bagi orang-orang yang mengurung diri mereka di dalam rumah atau bahkan kamar mereka. Karena satu dan lain sebab, mereka tahu-tahu menolak segala bentuk interaksi sosial. Mereka berhenti bekerja atau bersekolah. Lalu sebagai akibat dari terlalu lama mengurung diri tersebut, mereka jadi merasakan keengganan atau bahkan ketakutan luar biasa kalau seandainya harus membawa diri ke lingkungan luar.

Fenomena ini mulai mencuat ke permukaan publik Jepang pada dekade 2000an dan tetap mendapat banyak sorotan sampai awal-awal dekade 2010an. Sekarang, pada saat ini aku tulis, fenomenanya sudah agak memudar sih, walau orang-orang yang menderitanya masih ada.

Di sekitaran zaman itu, mulai muncul istilah yang menyebut suatu golongan masyarakat sebagai NEET (not under employment, education, or training). Istilah ini intinya mengacu pada lapisan masyarakat yang tidak memegang pekerjaan tetap, tidak sedang menempuh pendidikan, dan juga tidak sedang menjalani pelatihan. Lalu para hikikomori ini merupakan salah satu subset dari mereka.

NHK ni Youkoso! atau Welcome to the N.H.K. (‘selamat datang ke NHK’) yang dipenai oleh Takimoto Tatsuhiko merupakan seri yang menyoroti tema tersebut. Ceritanya pertama terbit dalam bentuk novel dari Kadokawa Shoten dengan ilustrasi buatan Yoshitoshi ABe yang dikenal lewat ilustrasi beliau di NiEA Under 7 dan Serial Experiments Lain.

Semula, aku dengar novel ini terlahir sebagai semacam karya semi-otobiografi dari Takimoto-sensei sendiri saat menjadi seorang ‘hikikomori dalam pemulihan.’ Versi awal ceritanya kalau tak salah sempat muncul dalam situs cerita Boiled Eggs sebelum diterbitkan secara resmi. (Sayangnya, bahkan setelah menerbitkan ini, Takimoto-sensei konon sempat lama vakum dan tak mengeluarkan karya apa-apa lagi, dan hanya hidup serampangan dengan hasil honor penerbitan yang diperolehnya, karena penyakit hikikomori-nya masih belum sembuh). Tapi kemudian aku juga dengar kalau ide ceritanya konon berasal dari rembukan malam-malam dadakan di suatu family restaurant bersama sahabatnya sesama pengarang, Sato Yuya (Sato Yuya yang membuat novel Dendera itu?!), karena dia sedang kehabisan ide cerita pas dia juga harus berhadapan dengan perwakilan Kadokawa esok harinya.

Pada tahun 2004, seri ini kemudian diadaptasi ke bentuk manga yang dibuat oleh Oiwa Kendi (kalau tak salah, beliau yang membuat adaptasi manga dari seri drama pembunuhan remaja GOTH) dengan naskah yang (sepertinya) masih dipenai Takimoto-sensei. Serialisasinya berlangsung selama tiga tahun di majalah Monthly Shonen Ace punya Kadokawa Shoten, sebelum tamat dengan cerita sebanyak delapan buku.

Lalu pada tahun 2006, seri ini kemudian diangkat ke bentuk anime 24 episode dengan produksi yang ditangani GONZO. Sutradaranya adalah Yamamoto Yuusuke, naskahnya ditangani oleh Nishizono Satoru, dan musiknya diaransemen oleh Pearl Brothers.

Ada beberapa perbedaan agak mencolok antara versi-versinya. Versi novel aslinya terutama, yang hanya terdiri atas satu buku, memiliki kesan lebih suram dan gritty. Versi manganya terasa seperti semacam ekspansi dari versi novelnya, dengan pengembangan cerita lebih lanjut, beberapa penyesuaian karakter, serta tampilnya sejumlah tokoh baru. Sedangkan versi animenya semula terasa lebih mengikuti versi manganya, sebelum menjelang tamat agak berubah haluan ke tamat yang lebih dekat ke versi novel.

Mimpi-mimpi dan Konspirasi

Berlatar di wilayah suburban Tokyo, NHK ni Youkoso! berkisah tentang seorang pemuda hikikomori di usia menjelang pertengahan dua puluhan tahun bernama Satou Tatsuhirou yang pada suatu hari berkesimpulan kalau nasibnya yang menyedihkan sebenarnya akibat manipulasi suatu konspirasi besar dan misterius.

Dalang konspirasi ini diyakininya adalah organisasi rahasia NHK, Nihon Hikikomori Kyoukai (‘organisasi hikikomori Jepang’), yang Satou yakini bertujuan untuk menciptakan suatu lapisan masyarakat hikikomori yang akan ditertawakan dan direndahkan oleh lapisan-lapisan masyarakat lain yang lebih unggul. (Iya, salah satu daya tarik seri ini ada pada bagaimana keyakinan konyolnya ini tak punya dasar jelas, tapi terus senantiasa membayanginya di sepanjang cerita.)

Satou telah menganggur selama empat tahun sejak sindrom social withdrawal-nya muncul. Sindrom ini pula yang menyebabkannya sampai drop out dari kuliah dan menjalani kesehariannya tanpa arah jelas. Sehari-hari, ia hanya berdiam di kamar apartemennya (yang dalam manga dan anime, diperlihatkan sebagai sebuah wisma bernama Mita House). Semenjak itu, Satou hidup hanya dengan uang kiriman dari orangtuanya di pedesaan, dan hanya keluar dari apartemennya pada larut malam saat mau membeli barang-barang kebutuhan hidup dari convenience store.

Meski ‘menyadari’ keberadaan konspirasi ini dan telah bertekad untuk melawan pengaruhnya, Satou sayangnya tetap tak mengalami kemajuan.  Sebulan tahu-tahu saja kembali sudah berlalu. Tapi Satou masih saja belum sanggup menguatkan hati untuk keluar kamar.

Sampai suatu ketika… takdir seakan mempertemukan Satou dengan seorang gadis remaja belasan tahun bernama Nakahara Misaki. Sesudah pertemuan pertama mereka (yang mungkin kebetulan tapi mungkin juga bukan), Misaki menyelipkan lewat lubang surat di pintu Satou sebuah undangan sekaligus tawaran kontrak. Isi kontrak itu adalah tawaran untuk bergabung dalam suatu ‘proyek’ seandainya Satou ingin bisa sembuh dari ke-hikikomori-annya.

“Purupurupururin!”

Sebenarnya, bukan hanya pertemuan dengan Misaki saja yang kemudian mengubah hidup Satou. Dalam kurun waktu hampir sama, Satou juga mengetahui bahwa tetangganya yang selama ini membuatnya terganggu dengan menyetel lagu-lagu anime keras-keras tak lain adalah Yamazaki Kaoru, adik kelasnya semasa SMA yang dulu pernah dekat dengannya semasa tergabung di Klub Literatur.

Begitu menyadari bahwa ternyata Satou yang selama ini bertetangga dengannya, Yamazaki langsung bahagia. Alasannya karena semenjak datang ke Tokyo untuk kuliah, dirinya mengalami kesulitan untuk mendapatkan teman. Bahkan saat Satou tiba-tiba mendobrak masuk ke kamarnya untuk protes soal musiknya yang keras, Yamazaki sebenarnya tengah menangis sedih karena mulai berpikiran untuk pulang ke kampung halaman, yang seketika tergantikan dengan tangisan haru.

Jadilah, lewat pertemuan dengan dua orang ini, dua plot utama NHK ni Youkoso! kemudian terjalin. Satu, hubungan aneh Satou dengan Misaki yang mengklaim kalau dirinya punya kemampuan untuk menyembuhkan Satou (lewat sesi-sesi konseling yang mereka laksanakan malam-malam di taman dekat Mita House). Dua, upaya penuh ketidakpastian Satou dan Yamazaki untuk memberi makna pada hidup mereka dengan menciptakan game erotis terhebat sepanjang masa.

Tentu saja, semua itu bergantung pada perjuangan Satou untuk bisa lepas dari jerat konspirasi NHK.

“Pururu-in!”

Perlu diperhatikan kalau versi novel NHK ni Youkoso! bersifat one shot.  Jadi bukan berseri. Sedangkan versi manganya bisa dibilang semacam versi ‘ekspansi’ yang di dalamnya, Satou dan kawan-kawannya (entah gimana) seakan jadi ‘mengeksplorasi’ satu demi satu bentuk alternatif ‘melarikan diri dari kenyataan’ yang bisa mereka temukan (turut tercakup di dalamnya: soal mendalami BDSM dan hidup sebagai gelandangan). Cerita di manganya lebih panjang. Karakterisasi para tokohnya agak beda. Di samping itu, juga ada lumayan banyak tokoh baru bersifat tambahan.

Adaptasi animenya sendiri semula seperti akan lebih mengangkat cerita versi manganya ini. Ditandai dengan pertemuan kembali Satou dengan Kashiwa Hitomi, kakak kelas cantik yang dengannya Satou sempat menjalin hubungan singkat saat yang bersangkutan patah hati, dan hingga kini ternyata masih dilanda depresi (dia juga karakter menonjol); sampai pertemuan Satou dengan Kobayashi Megumi, bekas ketua kelasnya yang kini menjadi front untuk suatu bisnis MLM mencurigakan. Tapi menjelang akhir, terasa ada sedikit haluan berganti. Lalu akhir ceritanya kembali jadi lebih dekat ke versi novelnya dengan fokus kembali pada misteri latar belakang Misaki yang akhirnya berhasil Satou ketahui.

Bicara soal kualitas teknis animenya, Gonzo sedang terkenal-terkenalnya sebagai studio spesialias animasi CG pada masa itu. Karenanya, bagaimana animasi 2D dan permainan warna lebih banyak ditonjolkan di NHK ni Youkoso! menjadi kejutan yang bagiku mencolok. Gaya visualnya sedehana, tapi memaparkan banyak detil latarnya secara baik. Lalu ini dihiasi dengan penataan audio yang benar-benar bagus.

Satu hal menarik adalah bagaimana paruh awal animenya, yang masih banyak diselingi bumbu komedi, banyak menggunakan warna-warna cerah. Tapi nuansa ini perlahan berubah seiring dengan datangnya musim dingin, yang menandai semakin gelapnya perkembangan cerita. Mulai dari Yamazaki yang tak lagi bisa menolak panggilan ortunya untuk pulang kampung, serta semakin terkuaknya hal-hal yang Satou dan Misaki selama ini sembunyikan dari satu sama lain.

Cerita NHK ni Youkoso! menurutku seriusan bagus. Terlepas dari berbagai hal gila dan mencurigakan dan sesat yang tersirat di dalamnya (seperti bagaimana semua halusinasi Satou, tentang alat-alat rumah tangganya yang berulangkali bisa berbicara dan memberinya nasihat, sebenarnya lebih disebabkan oleh zat-zat halusinogenik ‘legal’ yang dikonsumsinya bersama Yamazaki), ceritanya mengandung pesan moral yang lumayan kuat.

Intinya, mungkin soal… keinginan untuk bisa menjadi lebih baik ‘kan?

Terlepas dari seberat dan sesakit apapun?

Semua karakter, baik sentral maupun sampingan, sama-sama mempunyai kelemahan dan masalah mereka masing-masing. Satou dengan semua delusi dan prasangkanya. Yamazaki dengan egonya dan bawaannya untuk memandang rendah orang. Lalu Misaki dengan masalah ketergantungannya terhadap orang lain, yang berakar dari kondisi keluarganya yang buruk di masa lalu.

Tema-tema yang diangkat juga seputar hubungan-hubungan pribadi, kecendrungan-kecendrungan sosial, sampai falsafah hidup. Lalu semua disampaikan dalam bentuk komedi yang sebenarnya agak ‘hitam’ untuk ditertawakan.

Soal aspek audionya yang beneran keren, BGM yang dibawakan Pearl Brothers lumayan berhasil mencakup beragam emosi. Mulai dari hari-hari lesu di Mita House sampai ke saat-saat penuh suspens ketika Satou harus berhadapan dengan orang asing dan kegugupannya mencengkram. Seri ini juga salah satu yang menonjolkan bakat seiyuu Makino Yui yang sedang tenar-tenarnya di masa itu, walau para seiyuu lainnya juga berperan dengan benar-benar baik. Lagu “Puzzle” yang dibawakan Round Table ft Nino menjadi pembuka yang gampang didengar dengan temanya yang tentang adanya suatu hal tersamar yang harus dipecahkan. Sedangkan lagu penutup pertama “Odoru Akachan Ningen” yang dibawakan Ohtsuki Kenji dan Kitsu Fumihiko adalah lagu yang paling kuat mencerminkan nuansa khas seri ini tentang orang-orang stres dan putus asa.

Singkatnya, bagiku ini seri yang dari awal sudah pasti bakal berkesan.

“Kalau kau tak melihatnya, kau takkan jatuh cinta. Kalau kau tak jatuh cinta, maka kau tak akan tersakiti.”

Aku pertama kali tahu tentang seri ini dari seorang kenalanku yang membicarakannya lewat Internet. Waktu itu, dia kayak cuma nyerocos tentang berita akan diangkatnya seri ini menjadi anime. Hanya saja, tak ada orang lain di komunitas kami yang waktu itu sudah tahu tentangnya.

Makanya, baru agak belakangan aku tahu tentang kebagusan seri ini.

Karena judulnya aneh, tentu saja aku penasaran. Lalu sesudah menggali info, baru aku tahu kalau referensi stasiun televisi NHK di judulnya memang cuma dijelaskan dalam versi novelnya. (Intinya, Satou heran kenapa stasiun televisi yang sangat terhormat ini menayangkan anime-anime yang visualnya kayaknya diperuntukkan bagi anak-anak di jam-jam dini hari saat anak-anak harusnya belum bangun. Satou kemudian menduga bahwa anime tersebut sebenarnya sejak awal memang diperuntukkan bagi para hikikomori. Lalu dari sana, Satou berkesimpulan secara konyol bahwa stasiun televisi itu memang punya peran terselubung untuk menambah jumlah hikikomori di Jepang.)

Yah, soal perbedaan antara versi-versi ceritanya: Satou terpengaruh oleh Yamazaki hingga menjadi seorang otaku kelas berat pada semua versi cerita. Misaki-chan memiliki sisi yang agak manipulatif dalam versi manganya. Versi manganya sendiri memang terasa agak keterlaluan dengan ceritanya yang ke mana-mana (membuat para karakternya berkesan semakin menyedihkan). Lalu… hmm, Hitomi-sempai hanya muncul sekilas di versi novelnya lewat perjumpaan kebetulannya dengan Satou (memberitakan bahwa dirinya baru bertunangan dan sebentar lagi akan menikah), lalu Megumi bahkan tak muncul dalam versi novel sama sekali. Kemudian apa yang kelihatannya adalah referensi ke anime komedi Di Gi Charat kemudian diganti jadi suatu ‘anime dalam anime’ orisinil khusus untuk seri ini yaitu Puru Puru Pururin (lagu temanya sempat menjadi ringtone yang benar-benar terkenal, pengisi suaranya adalah Shishidou Rumi, dan inspirasi soal bagaimana perabotan rumah tangga menjadi hidup kelihatannya datang dari anime ini).

Oh. Berhubung tema ceritanya memang agak ke ranah sana, seri ini memang lebih bisa dimengerti oleh kalangan penggemar berusia lebih dewasa. Jadi, kayak biasa, jangan memaksakan diri.

Sekali lagi, versi novelnya lebih suram dan edgy. Lebih terasa kegilaan dan stres para karakternya pada versi ini. Pemikiran-pemikiran para karakternya juga paling terasa masuk. Sedangkan manganya lebih terasa seperti komedi yang ke mana-mana.

Jadi iya, versi animenya, yang seakan menyeimbangkan semuanya, menurutku yang paling berkesan. Eksekusinya seriusan bagus. Kayak, kita enggak pernah benar-benar tahu selanjutnya kita bakal dibawa ke mana. Tapi kita enggak bisa lepas karena penasaran ingin tahu apa selanjutnya yang bisa terjadi. Lalu semuanya juga kayak berhasil diakhiri di saat yang tepat.

“Tanpa jaminan pangan, sandang, dan papan, kecuali kau sudah siap mati, maka kau tak punya pilihan selain bekerja.”

Yah, akhir kata, sebagai orang yang sedikit banyak pernah depresi, aku mendapat sejumlah pelajaran dari seri ini.

Melihat Satou, yang sebenarnya bukan orang bego dan sebenarnya punya bakat, menjadi menderita berkepanjangan seperti ini benar-benar kayak menggugah beberapa hal. Lalu kayak yang kemudian aku pelajari belakangan dari main Persona 3, benar bahwa makna kita hidup sebenarnya adalah untuk memberi manfaat bagi orang lain.

Saat menghadapi kematian, kita semua pada akhirnya pasti akan kembali sendirian. Di tengah kesendirian, mungkin kita bakal merasa utuh dan alami. Tapi tanpa orang lain, hidup kita takkan memiliki arti. Jadi wajar saja bila sesudah semua yang terjadi, Misaki tetap memutuskan untuk bergantung pada Satou, dan demikian pula sebaliknya.

Lagipula, hanya karena kita berpisah, itu tak berarti kita takkan bertemu lagi.

Jadi, uh, lawanlah konspirasi itu.

Kau pasti bakal bisa melakukannya kalau demi orang lain! (Mungkin.)

(Ngomong-ngomong, ini seri pertama yang juga membuatku menyadari kalau Gonzo sebenarnya lebih bagus mengadaptasi karya yang sudah ada ketimbang membuat keluaran mereka sendiri.)

Penilaian

Konsep: A; Visual: A: Audio: S; Perkembangan: A-; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A


About this entry