Paprika

Mari kita sesekali bahas sosok-sosok yang telah wafat.

Paprika adalah film animasi layar lebar terakhir arahan sutradara Kon Satoshi, sebelum yang bersangkutan meninggal dunia karena kanker pankreas pada tahun 2010. Beliau masih relatif muda saat meninggal, yaitu di usia 46 tahun. Beliau menuntaskan Paprika pada tahun 2006 setelah perencanaan yang berlangsung beberapa tahun. Lalu karena saking kerennya, Paprika sukses dan menuai lebih dari satu penghargaan. Ceritanya diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Tsutsui Yasutaka (yang juga menulis Tokikake atau The Girl Who Leapt Through Time) yang aslinya pertama terbit tahun 1993. Lalu agak seperti Tokikake, hampir semua kecuali cerita dasarnya yang diubah pada versi animenya.

Tak terasa, sudah hampir enam tahun semenjak kabar kematian beliau.

Aku jadi takut sendiri. Apa iya sudah selama itu? Rasanya baru kemarin. Hal-hal seperti itu jadi terulang dalam kepala saat aku mengingat Paprika. Ini persis seperti perkataan Saito Hajime pada Himura Kenshin dalam reuni mereka kembali. “Sudah sepuluh tahun.” Hanya tiga kata yang sama-sama membahas soal waktu, tapi menyiratkan telah berubahnya begitu banyak hal.

Berhubung aku sudah om-om, aku kini paham maksud ucapan Saito. Dulu, sepuluh tahun bagiku juga terasa seperti waktu yang lama. Tapi dengan kenangan-kenangan di zaman SMA yang masih jernih di kepala, buatku yang sekarang itu seriusan terasa kayak baru kemarin. Jadi jangankan enam tahun, sepuluh tahun saja di usiaku sekarang sudah terasa pendek.

Paprika adalah karya pertama Kon-sensei sekaligus yang kulihat sesudah beliau wafat. Berdurasi 90 menit dan diproduksi oleh Madhouse. Ceritanya sebenarnya bergenre sains fiksi, tapi mulai meranah ke domain psikologi fantastis gitu.

Aku Mengikuti Perempuan yang Menunjukkan Jalan

Di dunia masa depan tak jauh tempat Paprika berlatar, perawatan psikoterapi melalui mimpi dikisahkan telah bisa dilakukan. Ini terwujud berkat penemuan suatu perangkat canggih bernama DC Mini yang dapat digunakan untuk menyaksikan dan memasuki mimpi-mimpi orang lain.

Kepala tim yang bertanggung jawab atas penelitian ini, seorang wanita mandiri tapi sedikit galak bernama Doktor Chiba Atsuko, mulai menggunakan DC Mini secara ilegal untuk bisa menolong pasien-pasien di luar lembaga penelitian. Dia melakukannya dengan menggunakan alter ego bernama Paprika, seorang perempuan muda berambut coklat pendek yang memikat, lincah, dan sangat hidup.

Sesi konseling yang Atsuko lakukan sebagai Paprika sebenarnya sama sekali tidak resmi. Sehingga Atsuko dan kawan-kawan dekatnya, Doktor Shima Toratarou yang merupakan kepala departemen di mana penelitian mereka bernaung; serta Doktor Tokita Kousaku, seorang pria sangat gemuk dan kekanakan tapi juga jenius, yang merupakan penemu asli DC Mini dan kawan lama Atsuko, harus bisa menjaga agar keberadaan DC Mini dan Paprika tak boleh sampai bocor ke dunia luar. Ini terutama karena perangkat-perangkat DC Mini yang mereka kembangkan, meski bisa berfungsi, masih belum benar-benar ‘jadi.’ Lalu karena statusnya yang belum final ini, pembatasan akses masih belum diterapkan. Sehingga siapapun yang menggunakannya bisa bebas untuk memasuki dan mempermainkan mimpi siapa saja.

Masalah timbul saat salah satu perangkat DC Mini ternyata benar-benar hilang. Konsekuensi dari hal ini ditandai dengan bagaimana Shima tiba-tiba saja, entah karena apa, mulai melontarkan serangkaian omong kosong yang tak jelas maksudnya, yang diikuti dengan bagaimana ia melemparkan dirinya sendiri ke luar jendela, nyaris membuatnya terbunuh.

Akibat insiden ini, penggunaan DC Mini dilarang sama sekali oleh Doktor Inui Seijirou, kepala institut penelitian mereka. Tapi menghadapi ancaman sosok yang bisa memanipulasi orang untuk bunuh diri lewat perantara mimpi, Atsuko dan kawan-kawannya tahu bahwa apabila kasus ini tak diselesaikan, bisa ada lebih banyak korban-korban lain yang berjatuhan.

Penyelidikan ke dalam dunia mimpi Shima menampilkan suatu parade benda-benda mati seperti mainan dan perabotan yang semakin bertambah ramai sedikit demi sedikit, yang seakan ‘menelan’ mimpi-mimpi asli semua orang. Di dalamnya, Tokita sempat melihat keberadaan Himuro Kei, asistennya, yang memastikan kecurigaan bahwa pencurian itu sebenarnya dilakukan orang dalam.

Namun penyelidikan terhadap Himuro semakin membuahkan hasil tak terduga. Apalagi saat terkuak soal betapa yang bisa dilakukan dengan DC Mini jauh melebihi yang siapapun sangka.

Mengejar Angin yang Kerap Bertiup Dalam Mimpi-mimpiku

Sebenarnya, ada beberapa karakter lain yang terlibat. Tapi satu-satunya yang benar-benar patut disebut adalah Detektif Konakawa Toshimi, perwira polisi paruh baya dan lajang yang telah berulangkali dihantui sebuah mimpi yang berakhir menggantung. Akhir mimpi yang terus-terusan menggantung ini membuatnya tersiksa, yang akhirnya membuatnya mencari pertolongan Paprika. Ini berujung pada bagaimana Konakawa jadi mengenal Atsuko secara pribadi, dan mengenalinya sebagai orang yang sesungguhnya selama ini selalu menolongnya.  (Dirinya memang lambat laun menjadi terpikat pada Paprika, meski sikap Atsuko sendiri soal hal ini selama durasi besar film menjadi tanda tanya.)

Saat mengetahui tentang kasus sensitif hilangnya DC Mini, Konakawa turut membantu Atsuko dan timnya dalam menguak kebenaran kasus ini. Motif mimpi berulang yang dialaminya, serta kontribusi besarnya dalam penyelidikan, membuat Konakawa bisa dibilang sebagai tokoh utama film ini yang kedua. (Padahal kalau tak salah, beliau adalah karakter orisinil anime yang tak ada di novel aslinya.)

Bicara soal teknis, agak susah mendeskripsikan Paprika bagusnya bagaimana.

Daripada soal kualitas animasinya (yang memang bagus), Paprika sukses memvisualisasikan hal-hal yang efektifinya hanya divisualisasikan lewat animasi. Adegan-adegan di dalam mimpinya, yang kerap abstrak dan tersamar, dan juga bisa membuat resah meski kita tak benar-benar mengerti kenapa, benar-benar keren. Tapi yang membuatnya benar-benar berkesan adalah soal makna-makna terselubung yang ada di dalamnya. Jadi, selain soal mimpi aneh yang menghantui Konakawa, Atsuko sebenarnya memiliki masalah pribadinya sendiri. Dalam hal ini, dirinya berada dalam suatu penyangkalan berkelanjutan tentang perasaan yang sudah lama dipendamnya. Lalu penyangkalan ini yang seakan tertuang lewat perannya sebagai Paprika.

Sekali lagi, adegan-adegan mimpinya menjadi apa yang film ini paling tonjolkan. Tapi ada banyak hal terkait dunia nyatanya yang juga menjadi daya tarik, seperti soal betapa besarnya ukuran badan Tokita atau betapa menonjolnya kacamata Shima. Penyampaiannya benar-benar mengikuti ciri khas Kon-san, yang mana hal-hal yang sebenarnya nyata dan hal-hal yang sebenarnya tidak nyata kerap tersamar. Lalu ini terutama terasa menjelang klimaks saat serangkaian hal gila benar-benar terjadi. Efeknya lumayan menakutkan (meski tak sampai ke levelnya film-film David Cronenberg sih). Lalu ini diiringi dengan musik yang benar-benar melarutkan juga.

Soundtrack utama film ini, “Byakkoya no Musume” dikomposisi oleh Hirasawa Susumu dan seriusan perlu kalian dengar sendiri untuk mendapat gambaran tentang keajaibannya.

Sebenarnya, ada hal penting yang semula ingin aku ungkap dengan membahas soal judul ini. Tapi setelah menulis sampai sejauh ini, aku jadi tak jadi. Yah, ada banyak hal pribadi yang rasanya dimasukkan ke dalamnya juga. Jadi membahasnya agak-agak susah.

Pastinya, ini satu lagi karya relatif lebih ke sini yang di dalamnya bakat Hayashibara Megumi dan seiyuuseiyuu lain seangkatan beliau masih tampak.

Yah, bagiku, karya-karya Kon-san (seperti Paranoia Agent atau Perfect Blue) adalah jenis yang lebih membuatku terpukau ketimbang puas sih. Aku sering mikir apa mungkin ada makna-makna tertentu di dalamnya yang luput aku tangkap.

Lumayan disayangkan bagaimana beliau sekarang tiada, berhubung di masa sekarang, masih belum ada sutradara anime lain yang nampak mengikuti jejaknya.

Penilaian

Konsep: A; Visual: A+; Audio: S; Perkembangan: A; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A


About this entry