Fate/stay night (2006)

(Ini adalah bahasan tentang seri TV FSN yang paling awal. Bahasan seri TV UBW aku buat di sini.)

Aku pernah ditanya tentang perbedaan apa saja yang seri TV orisinil Fate/stay night buatan Studio DEEN punyai dibandingkan adaptasi ceritanya yang lebih baru, Fate/stay night: Unlimited Blade Works yang dibuat Ufotable pada tahun 2014.

Tentu saja aku menjawab: ‘rute cerita’ yang diambil dari gamenya berbeda.

Seperti yang kebanyakan penggemar sudah tahu, animenya diadaptasi dari game visual novel buatan Type-Moon berjudul sama. Game tersebut memiliki tiga percabangan cerita utama, dengan perkembangan cerita dan tokoh utama wanita yang berbeda pada masing-masing rute. Tiga percabangan cerita tersebut masing-masing adalah Fate, Unlimited Blade Works, dan Heaven’s Feel. Fate dan UBW sudah dianimasikan (UBW bahkan sudah dianimasikan dua kali.). Sedangkan Heaven’s Feel sedang dalam proses dianimasikan dalam bentuk rangkaian film layar lebar oleh Ufotable seperti halnya proyek Kara no Kyoukai dulu.

Hanya saja, berhubung kebanyakan orang yang bertanya juga belum pernah memainkan gamenya, mereka jadi bertanya juga soal perbedaan-perbedaannya secara lebih rinci.

(Aku jadi merasa bego sendiri karena sebelumnya enggak lebih awal menyadari hal ini.)

Sebelum aku bahas lebih lanjut, aku mau singgung apa saja judul seri Fate yang signifikan saat ini kutulis selain Fate/Zero dan Fate/stay night, berhubung kelihatannya banyak yang suka mencari informasi tentang ini. (Signifikan yang kumaksud di sini adalah dari segi cerita ya.)

Judul-judul tersebut antara lain: (Mungkin akan kulengkapi sambil jalan nanti)

  • Fate/hollow ataraxia (format: game): fun disc dari gamenya yang orisinil, dan bisa dibilang semacam sekuel. Mirip seperti Kagetsu Tohya bagi Tsukihime, ceritanya berlatar di semacam dunia mimpi(?) di mana ada hari-hari yang terus berulang, ketika Perang Cawan Suci seharusnya sudah berakhir tapi hal-hal aneh masih terjadi. Karakter utamanya adalah Bazett Fraga McRemitz (Master asli dari Lancer/Chu Chulainn) dan sesosok Servant misterius bernama Avenger (yang seolah ‘menumpangi’ identitas Emiya Shirou) yang sama-sama berusaha untuk bisa membebaskan diri dari siklus tersebut. Meski sifatnya adalah ‘lepasan’ dari seri utama, ada beberapa bagiannya yang memaparkan sejarah beberapa Perang Cawan Suci yang pernah terjadi di Fuyuki.
  • Fate/Prototype (format: anime pendek, novel): konsep cerita asli Fate/stay night di tahap-tahap awal pengembangannya. Mencolok karena memiliki tokoh utama berjenis kelamin perempuan (Sajyou Ayaka) dan karakter Saber yang laki-laki. Latar ceritanya di Tokyo, bukan Fuyuki. Di samping itu, beberapa detil tentang Perang Cawan Suci di dalamnya juga berbeda jauh dari yang kita sudah kenal. Meski ada kemiripan, karakter-karakter Servant dan Master-nya juga berbeda sama sekali. Teaser animasi untuk seri ini disertakan dalam rangkaian seri OVA Carnival Phantasm yang diproduksi studio Lerche.
  • Fate/kaleid liner Prisma Illya (format: anime, manga): cerita lepasan yang menuturkan bagaimana seandainya karakter Illyasviel von Einzbern adalah seorang anak perempuan normal yang kemudian diubah menjadi seorang gadis penyihir (mahou shoujo). Sudah dianimasikan beberapa kali oleh studio Silver Link. Cerita di manganya (bagian ketiga) masih berjalan saat ini kutulis. Meski lebih berat di humor, adegan-adegan aksinya tetap lumayan intens. (Meski berbagi kemiripan, ceritanya berlatar di semesta terpisah dari Fate/stay night dan Fate/Zero)
  • Fate/Extra (format: game, manga, anime sedang diproduksi): game RPG yang dikembangkan bersama Image Epoch dan diterbitkan Marvelous Entertainment. Genrenya kombinasi visual novel dan dungeon crawler. Ceritanya berlatar di masa depan tahun 2032, di suatu semesta terpisah sesudah ‘mana’ di dunia mengering akibat suatu insiden besar tertentu di era 1970an. Karakter utamanya adalah Kishinami Hakuno, murid Perguruan Tsukumihara yang terlibat dalam Perang Cawan Suci sesudah mendapati bahwa dunia yang ditempatinya ternyata adalah dunia virtual. Game ini mendapat sekuel berjudul Fate/Extra CCC yang berperan sebagai sekuel sekaligus pelengkap cerita (semacam rute Heaven’s Feel-nya), yang melanjutkan kisah pelarian Hakuno dan orang-orang yang ditemuinya. Meski sistem permainannya agak tanggung, ceritanya terbilang bagus. Ini seri yang mulai memperkenalkan banyak karakter Servant baru, dengan percabangan cerita salah satunya ditentukan oleh Servant mana yang kita pilih. Seri ini juga menonjolkan karakter Saber ‘merah’ yang identitas aslinya adalah Kaisar Romawi Nero Claudius Caesar Augustus Germanicus, yang sosoknya mirip dengan Saber yang sudah kita kenal. Adaptasi animenya sudah dikonfirmasi akan diproduksi studio SHAFT. (Meski berbagi banyak kemiripan, seri ini sebenarnya berlatar di semesta terpisah.)
  • Fate/Extella (format: game): game aksi relatif baru yang tak lama lagi akan rilis, yang dikembangkan bersama Koei Tecmo. Gaya permainannya serupa dengan game-game Musou/Dynasty Warriors, dengan latar cerita yang sama dengan seri Fate/Extra.
  • Fate/Apocrypha (format: tadinya game, novel): proyek yang semula direncanakan untuk dijadikan MMO, sebelum batal karena suatu sebab. Konsepnya tentang Perang Cawan Suci Agung yang melibatkan 14 pasangan Master-Servant. Sesudah proyek gamenya batal, konsep ceritanya diadaptasi ke bentuk novel yang tamat dalam lima buku. Ceritanya mengetengahkan klan magus Yggdmillenia yang menyatakan perang terhadap Mages’ Association lewat keinginan mereka untuk memisahkan diri. Ini berujung pada konflik besar antara kubu ‘hitam’ dan kubu ‘merah’ dengan kepemilikan Cawan Suci Agung yang telah lama hilang dari Fuyuki sebagai taruhan. Seri ini juga mencolok karena turut memperkenalkan Servant baru, Ruler (identitas asli: pahlawan wanita Perancis, Jeanne d’Arc), yang didatangkan khusus oleh Cawan Suci sebagai ‘pengawas’ konflik ini. (Seri ini juga berlatar di semesta terpisah.)
  • Fate/Grand Order (format: game): social game untuk ponsel yang dikembangkan dari ide awal Fate/Apocrypha. Berawal dari insiden di Fuyuki di tahun 2004, kita sebagai pemain akan menjumpai dan mengumpulkan berbagai Servant dalam menjelajahi berbagai ‘cawan suci’ di berbagai titik di sepanjang sejarah manusia. Ceritanya melibatkan dunia-dunia yang bercabang. Sampai ini kutulis, layanan permainannya masih aktif walau servernya hanya ada di Jepang. Permainannya lumayan seru. Seri ini memperkenalkan jumlah Servant paling banyak.
  • Fate/strange fake (format: novel): cerita yang semula berawal dari lelucon April Mop buatan Narita Ryohgo-sensei (pengarang Baccano! dan Durarara!!) yang kemudian terbit sebagai novel resmi dari Type-Moon. Ceritanya mengetengahkan Perang Cawan Suci ‘tiruan’ yang berlangsung di kota Snowfield, Amerika Serikat, serta hal-hal aneh yang terjadi di dalamnya, yang salah satunya adalah ketiadaan kelas Saber yang digantikan suatu kelas lain….

Mungkin suatu saat, masing-masing akan aku bahas secara terpisah.

Membiarkan Saat Ini Menjadi Segalanya

Kembali bicara soal seri TV Fate/stay night yang orisinil, produksinya dilakukan oleh Studio DEEN dengan jumlah episode sebanyak 24. Sutradaranya adalah Yamaguchi Yuuji, yang sekarang dikenali sebagai sutradara Angel Links dan Dansai Bunri no Crime Edge. Naskahnya dikerjakan Shimo Fumihiko, yang sebelum ini ikut mengerjakan naskah adaptasi anime dari Air dan Clannad (beliau sekarang dikenal karena menyusun komposisi banyak seri lainnya). Shimo-san turut dibantu untuk komposisi seri oleh Takuya Sato, yang sekarang lebih dikenal sebagai sutradara Moeretsu Pirates! dan Steins;Gate. Musiknya sendiri ditangani oleh Kawai Kenji yang sekarang telah dipandang sebagai komposer veteran.

Pada masanya, menyusul kesuksesan gamenya, hype untuk seri ini terbilang luar biasa. Di atas kertas, staf yang mengerjakan produksi anime ini juga terbilang solid. Lalu ini penting mengingat bagaimana Shingetsutan Tsukihime (yang dipandang kebanyakan orang datar, meski juga diangkat dari game buatan Type-Moon) masih segar dalam ingatan orang.

…Yah, soal Shingetsutan Tsukihime, meski aku memahami berbagai kekurangannya, secara pribadi aku tak sebegitu mempermasalahkannya.

Tapi terkait dengan itu, meski kualitas Fate/stay night sekarang dipandang kalah dibandingkan seri TV Fate/Zero dan Fate/stay night: Unlimited Blade Works, kalau melihat ke belakang, hasil adaptasi ini sebenarnya sama sekali tak jelek. Setidaknya, feel yang ada di gamenya berhasil tersampaikan. Kayak, soal dunia malam di mana hal-hal yang tersembunyi dari mata manusia awam tengah berlangsung, hal-hal ajaib yang merasuk di antara kehidupan perkotaaan modern, serta soal pengharapan akan cita-cita yang telah lama hilang.

Anime ini berhasil membuat Fate/stay night dipandang sebagai semacam dongeng di zaman modern.

Hal yang mencolok adalah bagaimana anime ini menjadi media pertama yang memvisualisasikan aksi antara karakter-karakter Servant. Di gamenya, adegan-adegan aksi ini diceritakan berlangsung dengan benar-benar dahsyat, dan secara visual hanya digambarkan lewat efek-efek garis tebasan dan tusukan gitu. Yamaguchi-san terutama menjadi dikenal karena menggunakan banyak teknik ‘potongan pendek’ untuk memvisualisasikan adegan-adegan berkecepatan tinggi (yang sekarang dengan sebelah mata agak dipandang sebagai cara untuk menekan anggaran). Lalu kalau kupikir sekarang, sebenarnya seri ini punya banyak adegan aksi keren. Hanya saja sebagian berakhir kurang memuaskan karena seolah ada terlalu banyak yang berusaha disampaikan.

Terlepas dari beberapa sentuhan… uh, ‘khusus’ (seperti bagaimana mereka mengadaptasi salah satu adegan di game yang takkan mungkin disiarkan di TV, atau bagaimana nekomimi Kaleido Ruby bisa tiba-tiba kelihatan di satu adegan), seri TV orisinil Fate/stay night mengikuti rute cerita Fate, hanya saja dengan menambah banyak elemen dari rute UBW dan Heaven’s Feel. Hasilnya: seolah ada banyak elemen cerita yang ditampilkan sebatas teaser, yang di akhir tak benar-benar sampai dijelaskan. Ini menjadikan para penonton awam yang belum mengenal gamenya sempat kebingungan dengan sejumlah hal.

Bagaimana Matou Sakura yang lama tidak muncul bisa tiba-tiba masuk lagi dalam cerita, misalnya. Diimplikasikan bahwa dirinya punya suatu keterkaitan terselubung dengan Tohsaka Rin, tapi apa persisnya hubungan itu berakhir tak terjelaskan (poin cerita ini memang dijelaskannya di Heaven’s Feel). Motif beberapa karakternya tak terjelaskan, seperti rasa permusuhan/ingin tahu Illya terhadap Emiya Shirou. Cara kerja kekuatan dan kemampuan masing-masing karakter juga tak benar-benar terjelaskan.

Stafnya seakan… tak rela bila ada elemen-elemen dalam gamenya yang gagal dimasukkan.

Mereka mengupayakan masuknya elemen cerita dari semua rute, terlepas dari berapa banyak durasi episode yang mereka punya. Masalahnya, tak benar-benar (belum?) ada cara untuk bisa memasukkan semuanya secara bagus.

Buatku pribadi, dampaknya seperti pada bagaimana aku—yang kebetulan lebih suka Rin ketimbang Saber—gregetan dengan tumbuhnya kedekatan antara Shirou dan Rin. Berhubung ceritanya akan mengambil jalur cerita Saber, aku kesal karena kedekatan yang tumbuh itu kesannya jadi takkan berujung ke mana-mana.

Atau pada bagaimana Archer mengorbankan diri saat menghadapi Berserker, lalu tetap tewas sekalipun telah menggunakan Reality Marble Unlimited Blade Works. Dalam gamenya, Archer berhasil menaklukkan Berserker sampai enam kali, tapi tak dijelaskan kalau ia sampai menggunakan Reality Marble miliknya (mungkin karena ingatannya belum pulih?). Atau pada bagaimana Archer yang kehilangan ingatannya, tetap menjadi tak jelas identitasnya hingga akhir.

…Atau pada bagaimana Shirou berkat saran Archer pada beberapa titik seakan bakal bisa membuka potensi Reality Marble miliknya, tapi kembali tak jadi.

Rasanya kayak… uuurgh, kayak ada harapan palsu yang terus diiming-imingi di depan kita, yang kita tahu pada akhirnya takkan terwujud

Bagusnya, terlepas dari isu-isu adaptasinya, yang membuat ada plot-plot tangensial yang bolong di mana-mana, cerita di seri TV ini koheren dan terasa tertuntaskan. Fokus ceritanya, yaitu hubungan Shirou dan Saber yang menjadi Servant-nya, lumayan berhasil tergali. Lalu konflik tertutup dengan pembeberan kalau si pendeta Kotomine Kirei sebenarnya orang jahat, dan Saber pernah memiliki hubungan dengan mendiang ayah angkat Shirou, Emiya Kiritsugu, yang darinya Shirou mewarisi idealismenya.

Singkat kata, seri TV ini tetap jadi seri aksi fantasi yang seru.

Mungkin berkat eksekusinya atau bagaimana, begitu episode terakhir usai, ada rasa kecewa yang berhasil timbul karena episodenya tak lebih banyak. Lalu ada kesan kalau sebenarnya materi ceritanya memang ada lebih banyak, hanya saja para pembuatnya sudah kehabisan cara buat menyampaikannya.

Jauh, Jauh di Dalam Hutan

Untuk kalian yang penasaran tentang plot ceritanya; awal ceritanya sama, namun apa yang kemudian terjadi setelah Shirou dan Saber pertama bertemu sedikit berbeda.

Meski sempat dibayang-bayangi oleh Lancer dan Caster, lawan utama pertama yang harus dihadapi Shirou dan Rin adalah teman sekolah Shirou, Matou Shinji (yang baru terungkap sebagai magus) beserta Servant-nya, Rider. Ini diikuti dengan konflik melawan Illya dan Berserker di Puri Einzbern, yang berakhir dengan bagaimana Berserker dikalahkan bersama oleh Shirou dan Saber dengan susah payah. Barulah selanjutnya mereka menghadapi Caster, yang berhasil mengetahui kalau Sakura juga bisa dijadikan ‘wadah’ untuk Cawan Suci. Caster masih didukung oleh Assassin dan guru wali kelas Rin yang misterius, Kuzuki Souichirou. Lalu menjelang akhir, barulah Servant Archer dari Perang Cawan Suci terdahulu, Gilgamesh, menampakkan diri dengan keinginannya untuk bisa ‘memiliki’ Saber, dan membuka jalan bagi Kirei untuk mewujudkan kembali Cawan Suci.

Sekali lagi buat yang penasaran, masing-masing rute juga punya tokoh antagonis utama dan penentu kemenangan sendiri-sendiri. Setiap tokoh antagonis sebenarnya berperan di masing-masing rute sih, hanya saja dalam porsi berbeda-beda.

  • Di Fate, tokoh antagonis utamanya adalah Kotomine Kirei. Penentu kemenangan Shirou adalah penemuan kembali sarung pedang Avalon, pusaka Noble Phantasm terakhir Saber yang telah lama hilang, serta keberhasilan Shirou dalam mereplikanya di hadapan Cawan Suci.
  • Di Unlimited Blade Works, tokoh antagonis utamanya adalah Gilgamesh. Penentu kemenangan Shirou adalah keberhasilannya menguasai Reality Marble Unlimited Blade Works yang dipelajarinya dari Archer untuk menghadapi Gate of Babylon milik Gilgamesh.
  • Di Heaven’s Feel, tokoh antagonis utamanya adalah Matou Zouken, sosok misterius yang merupakan salah satu pemrakarsa asli Perang Cawan Suci. Penentu kemenangannya terdapat pada bagaimana Shirou kehilangan separuh lengannya dalam pertempuran, dan kemudian memperoleh lengan Archer yang akhirnya tewas sebagai pengganti. Lengan tersebut membuat Shirou jadi memperoleh semua pengetahuan Archer, menjadikannya manusia separuh Servant yang memiliki kemampuan bertarung setara dengan mereka, namun dengan timbal balik tubuh yang sekarat karena Reality Marble Archer menggerogotinya dari dalam.

Segmen hiburan Tiger Dojo, yang dibawakan Illya dan Fujimura Taiga-sensei, yang kita temui setiap kali mencapai salah satu akhir cerita dalam gamenya (baik yang good ending maupun bad ending), tentu saja tak dianimasikan. Aku baru sadar kalau mungkin itulah alasan kenapa Illya dan Fuji-nee dibuat sebagai karakter comic relief di anime ini. Aku sempat heran karena adegan-adegan komedi mereka jadinya terasa kontras dengan adegan-adegan serius dan membuat nuansa cerita agak campur aduk.

Setelah aku pikirkan lagi, cuma di rute Fate ini pula Illya memperoleh akhir cerita yang (secara argumentatif) bahagia. Jadi mungkin itu satu lagi alasan yang jadi pertimbangan.

Soal visual, presentasi seri TV ini terbilang benar-benar baik di masanya. Desain karakternya jelas berbeda dari desain karakter versi Ufotable yang sekarang lebih populer. Tapi bahkan hingga sekarang pun anime ini masih termasuk enak dilihat.

Satu kelebihan yang dipunyai hasil adaptasi yang ini dibandingkan yang baru adalah audionya.

Anime ini mempertahankan vokal bertenaga sekaligus merdu Tainaka Sachi yang selain membawakan kembali lagu “Disillusion”  yang merupakan theme song asli dari gamenya, juga membawakan dua lagu lain yaitu lagu pembuka kedua “Kirameku no Namida no Hoshi” dan lagu penutup “Kimi to no Ashita.” Vokal yang beliau bawakan seakan mewujudkan warna khas untuk seri ini.

Lalu  (aku juga baru menyadari ini setelah ada orang lain yang mengatakannya) penataan musik di seri TV orisinil ini sebenarnya lebih baik ketimbang di versi Fate/stay night: Unlimited Blade Works. Aku juga tak benar-benar bisa menjelaskannya. Tapi rasanya seperti momentum cerita di versi ini lebih berhasil dijaga.

Akhir kata, aku gregetan dengan banyak hal yang ada pada anime ini. Ada kelemahan-kelemahan di sana-sini, dengan naskah yang terasa ‘aneh’ di beberapa bagian. (Seperti adegan “Orang akan mati bila terbunuh!” yang sempat menjadi meme. Menurutku itu contoh kendala penerjemahan yang hanya bisa terasa wajar dalam konteks bahasa aslinya. Di adegan itu, Shirou sedang berusaha menekankan sesuatu tentang melawan hukum alam dengan akan adanya korban-korban yang jatuh.) Namun setelah aku pikirkan lagi, hasil segini benar-benar sudah lumayan. Kenyataannya, kayak dengan bagaimana Saber kesampaian menuntaskan duelnya dengan Assassin misalnya, hasil jadinya bisa saja malah lebih enggak memuaskan ketimbang ini.

The Far-Distant Utopia

Sedikit lagi sebelum penutup, kalau kalian menemukan animasi pembuka Fate/stay night yang diiringi musik dari band Earthmind, maka itu adalah animasi pembuka dari versi Realta Nua dari gamenya. Di versi Realta Nua, ada satu episode tambahan yang diberikan di penghujung rute Fate. Di episode itu ditampilkan bagaimana Saber akhirnya bisa berjumpa kembali dengan Shirou di Avalon (Tahta Pahlawan?) setelah penantian selama berabad-abad. Shirou, yang kini secara fisik mirip Archer, diimplikasikan telah berhasil mewujudkan idealisme kepahlawanannya dan diterima sebagai salah seorang Heroic Spirit.

Aku pernah baca kalau sepeninggal Saber, kesudahan cerita rute ini sebenarnya menyamai akhir cerita di rute Unlimited Blade Works, yang mana Shirou ikut ke Clock Tower bersama Rin untuk menuntut ilmu. Tapi selebihnya baiknya dikembalikan saja pada imajinasi masing-masing.

Anime Fate/stay night yang mencampurkan elemen-elemen cerita antar rute ini sebenarnya agak mirip pula dengan adaptasi manganya yang pertama, tapi dengan hasil agak beda. (Sial, aku lupa nama pengarangnya.) Jadi kalau kalian masih belum juga puas dengan cerita Fate/stay night selama ini, masih ada versi manga tersebut.

Mungkin ini cuma aku, tapi anime Fate/stay night awal ini seolah jadi proyek yang ‘memastikan’ begitu banyak hal. Siapa yang mengisi suara inilah, adegan-adegan aksinya sebenarnya kayak apalah, adegan-adegan sihirnya kayak gimana, tempat-tempat ini sebenarnya lengkapnya gimana lah. Jadi meski sekarang mungkin agak dipandang sebelah mata, aku merasa anime satu ini punya signifikasi lumayan besar.

Buatku pribadi, ini media pertama yang mengenalkanku pada Fate/stay night sebelum aku berkesempatan mencoba gamenya.

Bahkan hingga kinipun, ideologi Shirou yang mendorongnya untuk terus berusaha dan pantang menyerah, sekalipun untuk waktu lama tak ada jalan yang benar-benar jelas di hadapannya, masih kerap membuatku tergugah. Lalu dalam adegan saat Sakura membangunkannya yang tertidur di gudang, aku jadi tersadar kalau dengan kebahagiaan-kebahagiaan kecil saja, orang sebenarnya sudah bisa merasa berkecukupan dalam hidup.

Lagu penutup “Kimi to no Ashita” di episode terakhir, yang dibawakan saat Artoria akhirnya menerima jalan hidup yang telah dilaluinya dan mencapai ujung mimpinya, benar-benar menutupnya secara keren.

Mari kita harapkan saja proyek Heaven’s Feel kelak berjalan lancar. (Dan suatu saat akan ada versi cerita yang memberikan akhir yang memuaskan untuk semua karakter.)

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A; Audio: A+; Perkembangan: B+; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A


About this entry