Undefeated Bahamut Chronicle

Undefeated Bahamut Chronicle berkisah tentang Lux Arcadia, pangeran terakhir Kekaisaran Arcadia yang tumbang beberapa tahun sebelumnya untuk kemudian digantikan pemerintahan baru Kerajaan Atismata. Cerita dibuka dengan awal pertemuan Lux dengan putri kerajaan baru tersebut, Lisesharte Atismata, yang sesudah serangkaian hal, berujung pada bagaimana Lux harus turut bersekolah di Akademi Perwira Kerajaan tempat para pengguna Drag-Ride kerajaan dilatih, yang seluruh muridnya sebelum Lux adalah perempuan.

Drag-Ride, atau Kiryuu (‘naga mesin’), merupakan peralatan tempur yang terpasang di tubuh penggunanya yang diaktifkan melalui sebilah alat berbentuk pedang yang disebut Sword Device. Ada parameter kecocokan tertentu antara sebuah Drag-Ride dengan penggunanya. Lalu ada beberapa jenis Drag-Ride tertentu yang dipandang sakral, dan karenanya diperlakukan sebagai pusaka, yang disebut Divine Drag-Ride atau Shinshou Kiryuu. Keistimewaaan yang Divine Drag-Ride punyai dibandingkan Drag-Ride biasa adalah kemampuan khusus tertentu yang disebut Divine Raiment atau Shinshou (yang pengaktifannya ditandai dengan kemunculan lingkaran-lingkaran sihir) yang hanya dimiliki oleh Drag-Ride tersebut.

Yang paling terkenal dari semuanya, adalah Divine Drag-Ride berwarna kelam yang digunakan oleh sang Pahlawan Hitam, sosok misterius yang menjatuhkan 1.600 pengawal kekaisaran dengan Drag-Ride mereka masing-masing seorang diri pada malam pertempuran terakhir melawan Kekaisaran, yang berkat dirinyalah, revolusi akhirnya bisa terjadi.

Seperti Naga Terbang

Undefeated Bahamut Chronicle atau Saijaku Muhai no Bahamut (‘Bahamut yang terlemah dan tak terkalahkan’) diangkat dari seri light novel buatan Akatsuki Senri yang diterbitkan SB Creative di bawah label GA Bunko sejak tahun 2013. Ilustrasinya dibuat Kasuga Ayumu, yang mungkin sebelumnya telah kalian kenali lewat suatu seri tertentu tentang sebuah kota kerajaan, atau sebuah seri lain tentang gaya rambut kuncir dua.

Terlepas dari itu… adaptasi animenya dibuat oleh Lerche dan disutradarai Ando Masaomi (yang saat anime ini diumumkan, sedang naik daun berkat arahannya di seri zombie Gakkou Gurashi!). Komposisi serinya dibuat oleh Kakihara Yuuko dengan musik dibuat oleh Matsuda Akito. Jumlah episodenya 12, dan pertama tayang pada awal tahun 2016.

Undefeated Bahamut Chronicle sejak awal punya nuansa mirip Infinite Stratos. Bedanya, daripada dunia masa depan, latarnya dunia fantasi abad pertengahan. Pengecualiannya paling di adanya zirah mekanik Drag Ride yang para karakternya gunakan, yang dikisahkan berasal dari suatu peradaban ajaib kuno yang telah lama hilang. Selebihnya, seri ini juga seperti berusaha membidik semua elemen yang sama, tercermin pada premis sekolah yang semua muridnya selain Lux adalah perempuan.

Makanya, aku kurang menaruh harapan terhadap seri ini pada awalnya.

Bukannya aku tak suka ide ceritanya. Hanya saja, ceritanya memang dibuka dengan cara yang agak bikin hilang selera. (Karena suatu kesalahpahaman, Lux terjatuh ke dalam kamar mandi para siswi di Akademi, dan karena itu ditantang duel.)

Tapi lambat laun kusadari, cara cerita dibuka dengan ‘remeh’ ini mungkin hanya cara Akatsuki-sensei ‘menstarter’ idenya dulu. Soalnya, ke sananya, ternyata ada lumayan banyak ide menarik dalam Undefeated Bahamut Chronicle. Seperti, kayak baru agak belakangan ceritanya berhasil dikembangkan lewat pembangunan latarnya.

Pemerintahan Kerajaan Atismata yang baru beberapa tahun berdiri dikisahkan masih goyah. Guncangan datang dari dalam maupun luar. Salah satunya dari ancaman sisa-sisa pendukung Kekaisaran, meski Lux beserta adik perempuannya, Airi Arcadia, sama-sama lebih memilih menjadi bagian dari negara baru ini.

Lalu ada persaingan antar bangsawan dalam merebut akses masuk ke berbagai Reruntuhan, situs-situs peninggalan peradaban lampau dengan beraneka bentuk, yang dari dalamnya bermacam sumber daya berharga bisa didapatkan, yang salah satunya adalah teknologi Drag-Ride.

Di awal, pertemuan Lisha dan Lux membuka tabir bahwa Lux sesungguhnya adalah Pahlawan Hitam misterius yang menjatuhkan 1.600 pengawal Kekaisaran pada malam terakhir berlangsungnya revolusi. Lux sebelumnya hanya dikenal sebagai petarung terlemah, meski tak terkalahkan, karena kebiasaannya untuk menang dengan mengulur waktu pada setiap pertandingan Drag-Ride.

Namun identitas Lux sebagai pengguna Divine Drag-Ride hitam, Bahamut, akhirnya terkuak saat makhluk-makhluk penjaga Reruntuhan, Ragnarok, secara misterius dikendalikan untuk keluar dari Reruntuhan dan menyerang masyarakat sipil. Kejadian ini menandai awal rangkaian konflik yang mengguncang Kerajaan Atismata lagi.

Jadilah Legenda

Satu hal berkesan dari Undefeated Bahamut Chronicle, yang agak tak seperti seri-seri adaptasi ranobe lainnya, adalah bagaimana setiap karakter baru benar-benar membawa cerita dan sejarahnya sendiri-sendiri. Lalu… entah ya, aku paham kapasitas penceritaannya agak terbatas. Tapi lumayan terasa besarnya dampak kehadiran mereka di masing-masing bab.

Jadi sedikit merangkum, para karakter utama seri ini jadinya meliputi:

  • Lux Arcadia, pewaris ketujuh Kekaisaran Lama yang kerap dipandang sebelah mata, menjadi tawanan kerajaan dan diharuskan menerima berbagai pekerjaan kasar, meski sesungguhnya ia adalah Pahlawan Hitam yang berkekuatan dahsyat. Lux biasa menggunakan Drag-Ride normal Wyvern (yang dimodifikasi untuk lebih menekankan pertahanan) dan baru menggunakan Divine Drag-Ride Bahamut bila benar-benar perlu. Dia memiliki sejarah yang lebih rumit dibandingkan karakter-karakter utama sejenis.
  • Airi Arcadia, adik perempuan Lux yang juga menjadi salah satu murid di Akademi, yang selalu mengkhawatirkan situasi kakaknya. Warna rambut mereka sama. Dirinya yang paling memahami Lux dan paling mengerti cara penyelesaian masalah yang akan diambilnya.
  • Lisesharte Atismata, putri mahkota Kerajaan Baru yang menjadi akrab dengan Lux sesudah Lux berjanji menjaga rahasia Lisha sendiri. Divine Drag-Ride miliknya adalah Tiamat yang berwarna merah. Memiliki hobi mengutak-atik aspek mekanik Drag-Ride. Meski tangguh, ia beberapa kali terancam karena statusnya. Sekalipun demikian, nyatanya, ia bisa dibilang tak punya aura ‘tuan putri’ sama sekali. Dalam perkembangan cerita, ia memilih Lux sebagai ksatria pribadinya.
  • Krulcifer Einfolk, seorang gadis anggun dan disegani yang merupakan putri suatu keluarga bangsawan dari negara tetangga Ymir. Divine Drag-Ride miliknya adalah Fafnir berwarna perak. Awalnya mendekati Lux untuk menghindar dari perjodohan. Dalam perkembangannya, terungkap kalau dirinya sebenarnya diadopsi sesudah ditemukan di salah satu Reruntuhan. Lalu ia diperebutkan karena kemampuan istimewanya untuk mengakses Reruntuhan secara bebas. Rahasia miliknya juga jadi sesuatu yang dijaga oleh Lux.
  • Philuffy Aingram, teman masa kecil Lux yang perhatian tapi selalu terkesan mengantuk. Divine Drag-Ride miliknya adalah Typhon berwarna ungu. Phi adalah adik perempuan dari kepala Akademi yang tengah menjabat, Relie Aingram. Lux mempunyai keterikatan dengan Phi karena ketika Kekaisaran masih berkuasa, hanya keluarga Philuffy sajalah yang bersedia menampung Lux dan Airi sesudah ibu mereka wafat. Lalu keinginan Lux untuk bisa menolong Phi dari suatu hal di masa lalu yang ternyata menjadi motivasi pribadinya untuk membantu menggulingkan Kekaisaran.
  • Celistia Ralgris, gadis bangsawan yang diakui sebagai ksatria terkuat di Akademi, yang karena suatu alasan memiliki reputasi sebagai pembenci laki-laki. Divine Drag-Ride miliknya adalah Lindworm berwarna keemasan. Terungkap kalau dirinya dididik oleh mendiang kakek Lux, dan maksud baiknya telah disalahpahami. Di perkembangan cerita, ia harus menuntaskan konflik dengan Saniya, salah satu mantan murid Akademi yang kemudian mengkhianatinya.

Konflik di seri ini terlahir dari bagaimana ada suatu terompet berbentuk tanduk yang ternyata dapat mengendalikan para Ragnarok, yang ternyata diperjualbelikan oleh suatu pihak misterius di pasar gelap. Jadi selain pertempuran antar pengguna Drag-Ride, ada monster-monster Ragnarok dan hal-hal misterius lain yang bisa ditemukan dari dalam Reruntuhan.

Untuk waktu lama, karena warna rambutnya yang sama, Lux mengira bahwa sosok misterius yang menjadi dalang kekacauan ini adalah Fugil Arcadia, putra mahkota pertama Kekaisaran Lama sekaligus kakak lelaki (tiri?) Lux yang telah lama menghilang dengan menyisakan banyak tanda tanya. Namun sosok ini rupanya adalah Hayes, perempuan tak dikenal yang nampak punya dendam kesumat bukan hanya pada Atismata, namun juga pada anak-anak lain keturunan mendiang Kaisar. (Divine Drag-Ride yang digunakannya adalah Nidhogg, yang sedemikian kuatnya sampai bisa membelah bumi.)

Perkembangan cerita asli di novelnya sebenarnya menarik.

Dipaparkan bahwa pemilik asli Sword Device Bahamut sebenarnya adalah Fugil. Lalu Fugil mempercayakan Bahamut pada Lux untuk digunakannya dalam malam terakhir revolusi. Namun membantah perkiraan Lux, ternyata Fugil memanfaatkan kesempatan yang Lux ciptakan untuk membantai para anggota keluarga Kekaisaran lain dari dalam. Lalu salah satu adegan penutup seri ini adalah bagaimana Lux dan Fugil secara mengesankan sempat saling pandang tanpa kata-kata dari kejauhan, dengan sebuah Sword Device lain serupa Bahamut yang kini disandang Fugil, sebelum ia kembali menghilang.

Tapi semua pembeberan ini kurang begitu tersampaikan di versi anime. Besar kemungkinan, karena faktor durasi. Ini juga lumayan terasa pada pembeberan identitas Hayes, yang sebenarnya bukan hanya seorang ahli siasat tangguh, namun juga pewaris mahkota kedua Kekaisaran Lama sesudah Fugil.

Undefeated Bahamut Chronicle paling mudah aku bandingkan dengan Unbreakable Machine Doll, anime lain keluaran Lerche yang juga hasil adaptasi ranobe. Keduanya sama-sama menampilkan cerita yang benar-benar terasa dipotong dan dipadatkan (yang juga punya kelemahan karena kadang dipenuhi hal tak penting). Tapi keduanya juga punya saat-saat ketika menampilkan adegan-adegan yang menurutku benar-benar berkesan.

Berdua, Terus Terlelap

Sedikit bicara soal mecha, seri ini punya aspek mecha lumayan berkesan. Cuma, ya itu. Entah karena materi aslinya memang demikian, atau lagi-lagi karena keterbatasan durasi, bahasannya terasa agak kurang tergali.

Maksudku: adegan-adegan aksinya sendiri terasa lumayan biasa, tapi kalau kita perhatikan, sebenarnya hampir selalu ada penjabaran menarik di baliknya. Ada berbagai teknik dan strategi yang harus Lux ambil untuk mengatasi lawan-lawannya. Setiap Drag-Ride punya keistimewaan dan keunggulannya masing-masing meski semuanya sama-sama bermotif naga. Tapi itu kayak kurang bagus penjabarannya dalam bentuk anime ini.

Sedikit merangkum:

  • Bahamut milik Lux memiliki Divine Raiment yang bernama Reload on Fire. Secara visual, ini tampak dengan bagaimana Bahamut yang berbasis udara bisa tiba-tiba berkelebat ke segala arah dan menjatuhkan lawan-lawan seketika. Tapi sebenarnya, ini semacam kemampuan untuk menyegel dan mengkompres suatu atribut, yang sesudah dilepas, akan menyebabkan atribut tersebut diperkuat sampai berkali-kali lipat.
  • Tiamat milik Lisha yang juga berbasis udara memiliki meriam dahsyat bernama Seven Heads sekaligus Divine Raiment berupa kemampuan memanipulasi gravitasi bernama Thresher. Ini juga memiliki persenjataan serupa bit. (Selain itu, karena kesukaannya, Lisha juga sempat memodifikasi Tiamat-nya agar punya bor.)
  • Fafnir milik Krulcifer dirancang khusus untuk serangan jarak jauh. Memiliki senapan es laras panjang Frost Cannon yang dapat membekukan sasaran-sasarannya. Lalu Divine Raiment-nya adalah Wise Blood yang memberinya sedikit kemampuan melihat masa depan.
  • Typhon milik Phi berbasis darat dan melancarkan serangan-serangan jarak dekat dengan tinju, walau mampu menjerat musuh dengan kawat-kawat. Divine Raiment Missing Fate miliknya mampu menetralkan Divine Raiment milik Divine Drag-Ride di sekelilingnya.
  • Lindworm milik Celistia bersenjatakan tombak yang mempunyai kekuatan petir serta senapan Starlight Zero. Divine Raiment miliknya adalah Divine Gate yang memungkinkannya berteleportasi dalam sekejap.

Adegan-adegan aksinya adalah tipe yang ‘bakal lebih berkesan andai saja pemaparan karakter dan pembangunan situasinya lebih bagus.’ Ada pemakaian CG yang tak bisa dikatakan jelek, tapi juga tak bisa dikatakan bagus juga. Ini terutama terasa pada penggambaran Ragnarok, yang agak mirip cara penggambaran Metaphysical di Seiken Tsukai no World Break. Sekalipun begitu, perlu diakui kalau menjelang penutup cerita, kualitas beberapa adegan aksinya sempat mengalami lonjakan drastis.

Undefeated Bahamut Chronicle juga sebenarnya termasuk enak dilihat secara visual. Dengan jalinan plotnya, nuansa harem sekolahnya tak pernah benar-benar menyamai nuansa komedi romantis Infinite Stratos. Sekedar dilihat sekilas pun, seri ini termasuk cantik. Aku awalnya kurang terkesan dengan gaya desain karakter asli Kasuga-sensei yang berkesan ramping. Tapi di animenya, penggambaran latar belakang ‘bangsawan’ dari para karakternya benar-benar kena. Lalu ini diperkuat dengan pemakaian berbagai motif visual yang memberi penekanan hal ini, yang mencakup gaun dan penataan rambut ataupun garis-garis berpola yang membingkai.

Ada satu adegan ketika Lux harus berhadapan dengan gadis pengawal khusus keluarganya, Kirihime Yoruka (Divine Drag-Ride miliknya adalah Yato no Kami yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan Drag-Ride lain). Lalu pertemuan mereka tersebut dibuka dengan semburat kelopak-kelopak bunga berterbangan secara dramatis. Adegan ini terbilang sebentar, tapi keberadaannya membuatku merasa kalau Ando-san sebenarnya benar-benar memberi perhatian khusus terhadap penggambaran adegan-adegannya.

Dari segi audio, seri ini juga sebenarnya tak terlalu mencolok. Tapi pemilihan seiyuu-nya yang sebagian besar nama-nama baru lumayan pas. Lalu di samping itu, lagu penutup yang dibawakan nano.RIPE berhasil menutup tiap episodenya dengan nuansa unik yang benar-benar cocok untuk seri ini.

Akhir kata, kemungkinan besar berkat arahan Ando-san, adaptasi anime Undefeated Bahamut Chronicle berhasil menjadi sesuatu yang tak benar-benar bisa dibilang jelek. Ini kayaknya jenis seri yang lebih cocok dinikmati oleh mereka yang sudah tak asing dengan ranobenya. Tapi sebagai perkenalan untuk materi aslinya… yah, kurasa hasilnya tak jelek.

Aku sempat mengikuti perkembangannya karena… yah, aku lumayan penasaran dengan konsepnya.

Konsep awalnya tak sebagus itu. Tapi yah, perkembangannya lumayan. Aku juga lumayan suka para karakternya.

Ngomong-ngomong, mungkin ada yang penasaran soal kenapa aku sebegitu sukanya mengulas seri-seri semacam ini. Sebenarnya, daripada hasil jadinya sendiri, aku kerap penasaran dengan hasil dari proses produksinya sih. Jadi, membandingkan dengan nama-nama staf yang terlibat, aku bakal mikirin hal-hal kayak: “Oh, kalo si staf ini terlibat, kecendrungannya jadi kayak gini.” atau “Oh. Kalo studio yang menanganinya ini, hasilnya cenderung begini.” atau “Ooh, bagian cerita yang ini di novelnya terus mereka sajiin kayak gini.” Mungkin salah satu alasannya karena usiaku yang tergolong dewasa dan statusku yang bekerja di perusahaan.

Seperti kata pepatah, success is a lousy teacher. Jadi ibaratnya, aku kayak bisa mendapatkan lebih banyak pelajaran dari karya-karya yang gagal atau kurang sempurna ketimbang karya-karya yang notabene bagus. Lalu meski punya banyak kelemahan, biasanya selalu ada yang bisa kunikmati dari seri-seri adaptasi ranobe kayak gini.

Jadi bukan. Bukannya aku maso atau tak suka karya-karya yang memang bagus ya. Kalau ada karya yang diakui bagus dan memang kunikmati, aku juga bakal mengikutinya kok.

Satu lagi.

Phi adalah favoritku di seri ini. Tapi yah, sudahlah. Itu tak penting.

Penilaian

Konsep: D; Visual: A-; Audio: B+; Perkembangan: B; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: B


About this entry