Mokushiroku Arisu

Di dalam dunia Mokushiroku Arisu, ada tiga jenis orang yang akan datang mendaftar ke SMA Kichijouji, Tokyo:

  • Mereka yang memerlukan kekuatan, apapun bayarannya.
  • Mereka yang memerlukan uang, apapun bayarannya.
  • Mereka yang ingin menyelamatkan dunia, apapun bayarannya.

Disebut ‘apapun bayarannya’ di sini karena memang yang menjadi murid di sana hanyalah orang-orang yang seakan datang untuk mengantarkan nyawa. Lalu disinggung soal ‘menyelamatkan dunia’ di sini itu karena dunia dalam cerita tersebut memang tengah terancam.

Oleh apa?

Oleh suatu penyakit yang hanya akan menyerang gadis-gadis muda: Penyakit Labirin (Labyrinth Disease), yang mana saat sudah menjangkit, akan secara ajaib memunculkan suatu labirin raksasa ke dunia nyata dari dalam ranah kejiwaan sang gadis. Labirin-labirin ekstradimensional tersebut akan ‘membentuk’ di sekeliling si gadis. Lalu sesudah enam jam, labirin itu kemudian stabil menjadi sebuah ‘eternal labyrinth’ (‘labirin abadi’) dan sesudah mencapai bentuk penuhnya tersebut, dunia sudah tak lagi dapat dikembalikan ke bentuk semula.

Dalam radius yang bisa bervariasi mulai dari dua kilometer sampai sekian ratus kilometer dari si gadis, orang-orang akan meninggal secara seketika. Lalu ketika cerita ini dimulai, seperempat daratan di Bumi telah hilang untuk selama-lamanya akibat penyakit ini.

Sementara si gadis, meski diberkahi kekuatan sihir, mereka menjadi kehilangan kendali atas diri mereka sendiri dan menjadi ‘inti’ dari labirin yang mereka ciptakan.

Demi menyelamatkan dunia, berbagai pemerintahan dan perusahaan besar membentuk tim-tim gerak cepat untuk memasuki labirin-labirin. Sekolah-sekolah khusus seperti Perguruan Kichijouji kemudian dibentuk untuk melatih tim-tim gerak cepat ini dan menangani labirin-labirin dengan batasan usia yang hanya memungkinkan orang-orang di bawah usia 19 tahun untuk memasukinya. Baik apakah mereka telah berpengalaman sebelumnya atau masih anak bawang yang baru lulus SD, tugas mereka semua tetap sama: bunuh si gadis, dan selamatkan dunia.

Kemunculan penyakit ini juga menandai munculnya kekuatan sihir yang terwujud dalam bentuk ‘lagu-lagu terkutuk’ (pengkodean dalam gelombang-gelombang suara tertentu?).

Kekuatan sihir diaktifkan melalui perangkat mirip separuh headset yang disebut Headphone Fuzz (Intra-Cerebral Magic Activators) yang akan memainkan lagu-lagu terkutuk itu dan merangsang area otak yang sensitif terhadap sihir. Bila dipasang di telinga kiri, Headphone Fuzz akan merangsang otak kanan manusia, dan membuatnya lebih mudah digunakan orang-orang yang kekuatan sihirnya lebih dipengaruhi oleh emosi. Sebaliknya, bila di dipasang di telinga kanan, Headphone Fuzz akan merangsang otak bagian kiri untuk sihir yang lebih dimanipulasi pemikiran rasional.

Semua labirin dikelompokkan dalam peringkat mulai dari 0 sampai 666. Begitu labirin biasa menjadi labirin abadi, peringkatnya akan melonjak sampai sekurangnya 10 kali lipat. Lalu pada titik tersebut, labirin itu menjadi sumber daya berharga yang meski berbahaya, dari dalamnya dapat diperoleh berbagai kekuatan sihir baru yang menentukan kekuatan militer suatu negara.

Arisu Shinnosuke kembali ke Jepang setelah berkelana 10 tahun dan mendaftar ke SMA Kichijouji sebagai murid baru. Ia menyatakan bahwa yang diinginkannya hanya satu, yaitu uang. Uang, dan hanya uang. Saat teman-teman sekelasnya dibagi ke dalam tim, Shinnosuke  mempertimbangkan tim mana yang akan ia masuki berdasarkan mana yang tawaran bayarannya paling mahal.

Meski demikian, dengan kemampuan yang dimilikinya, dengan cepat Shinnosuke diakui sebagai salah satu remaja paling menonjol dalam kurikulum yang diperuntukkan untuk anak-anak yang akan menjelajahi labirin.

Tapi lambat laun, kehadiran Shinnosuke seakan menandai bahwa ada satu jenis orang lagi di samping tiga jenis di atas:

  • Mereka yang punya maksud rahasia yang ingin dicapai, apapun bayarannya.

Penyakit Seorang Gadis yang Mengakhiri Dunia

Mokushiroku Arisu, atau yang juga dikenal dengan judul Apocalypse Alice, dikarang oleh Kagami Takaya yang belakangan lebih dikenal sebagai pencetus cerita Owari no Seraph (Seraph of the End), yang ditanganinya bersama Yamamoto Yamato dan Furuya Daisuke. Mokushiroku Arisu sendiri diterbitkan dari tahun 2013 oleh penerbit Fujimi Shobo di bawah label Fujimi Fantasia Bunko, dengan ilustrasi buatan Katou Yuuki dari Arc System Works, yang juga mengerjakan desain karakter untuk seri game tarung BlazBlue.

Sebenarnya, sudah lama aku ingin bahas seri ini.

Mokushiroku Arisu sebenarnya tipikal seri karangan Kagami-sensei. Mulai dari tema soal persahabatan dan rasa saling percaya, lengkap dengan cara bercerita khasnya yang menarik bagi satu orang tapi bisa menyebalkan untuk orang yang lain. Tapi dibandingkan dua karya beliau yang sebelumnya, yakni Densetsu no Yuusha no Densetsu dan Itsuka Tenma no Kuro Usagi, terasa kayak ada sesuatu yang lebih ‘matang’ pada Mokushiroku Arisu dan membuatnya lebih bisa dinikmati. Mungkin ini disebabkan karena beliau mulai terlibat dalam proyek Owari no Seraph pada waktu kurang lebih sama.

Di sisi lain, ini jenis cerita yang serupa dengan yang banyak mengangkat soal penjelajahan dungeon belakangan. Labirin-labirin yang Shinnosuke dan kawan-kawan sekelasnya harus hadapi dengan bertaruh nyawa benar-benar seperti dunia lain yang ajaib. Ada monster-monster yang harus mereka kalahkan, ada harta-harta yang bisa mereka temukan, ada wilayah-wilayah ‘aman’ dan ada pemetaan yang bisa mereka buat. Ada sihir Escape untuk lolos yang wajib dibawa semua orang. Di samping itu, masing-masing karakter memiliki kemampuan, kekuatan, dan kelemahan mereka masing-masing.

Jadi ya, ini cerita yang di dalamnya ada banyak elemen serupa seperti dalam game.

Tentu saja juga ada karakter musuh ‘boss’ yang tak lain adalah gadis-gadis tersebut, yang kini tak dapat mengendalikan keinginan mereka sendiri dan sekaligus berkekuatan dahsyat.

…Sekilas, aku juga awalnya kurang begitu tertarik. Tapi membaca terjemahannya waktu itu, aku mendapati perkembangan ceritanya itu cepat.

Kayak, benar-benar cepat.

Para karakternya semula enggak begitu gampang disukai. Shinnosuke misalnya, di awal cerita digambarkan arogan dan sangat materialistis. Hal ini ditekankan berulangkali sampai dalam porsi agak berlebihan. Lalu kawan-kawan sekolah yang kemudian ditemuinya juga tak benar-benar bisa dibilang ‘baik.’ Mizuiro Gunjou, gadis berbadan relatif mungil yang dikenal sebagai siswa paling tangguh di kelas, dan diandalkan banyak orang sebagai pemimpin, berkesan seenaknya dan sok main perintah, apalagi dengan harga dirinya yang sangat tinggi. Meski bermaksud baik, ia jadi suka main prasangka. Lalu di sisi lain, Hishiro Shiro, seorang pemuda bermata merah yang menjadi satu-satunya orang di kelas yang mau menentang Gunjou, juga terkesan menyebalkan dengan sikapnya yang sok akrab dan tak benar-benar jelas tujuannya apa. Dirinya jelas kayak enggan mengungkapkan semua yang dia tahu.

Ceritanya kayak menampilkan beberapa lapis kebenaran gitu, dengan motif tersembunyi yang dimiliki masing-masing orang. Tapi sedikit demi sedikit semuanya terkuak, hingga akhirnya menjadi cerita yang benar-benar seru.  Walau berkesan agak gimanaa gitu di awalnya, aku serius jadi menyukainya lebih dalam dari yang aku sangka.

Dunia Mokushiroku Arisu digambarkan sebagai dunia yang ‘rusak.’ Bukan hanya dalam arti fisik, tapi juga dalam arti mental. Bagi sebagian besar orang, uang dan kekuasaan benar-benar menjadi hal utama. Kedua hal tersebut kayak diutamakan, bahkan bila perlu dengan mengorbankan nyawa orang lain.

Karena itu, kesannya wajar bila Shinnosuke seakan menunjukkan sikap antisosial dan hanya peduli pada dirinya sendiri. Lalu karena alasan yang sama, kesannya aneh juga dengan bagaimana orang-orang yang selamat bersamanya dalam penyerbuan labirin mereka yang pertama, pada akhirnya bisa mengenali bagaimana Shinnosuke sebenarnya orang baik.

Bahkan meski dihadapkan dengan keputusasaan sedemikian kuatnya, mereka mengetuk pintu hati Shinnosuke untuk menjalin persahabatan nyata dengannya.

Enam Slot

Mokushiroku Arisu berkisah tentang perjuangan Arisu Shinnosuke dan teman-teman sekolah barunya yang jadi tergabung dalam kelompok Hero Team karena keberhasilan mereka bertahan di dunia kejam ini. Selain Shinnosuke, anggota tim mereka terdiri atas:

  • Mizuiro Gunjou, siswi elit yang terungkap kerapuhan hatinya di bawah besarnya tekanan mental untuk menanggung nyawa teman-teman sekelasnya yang lain. Ada enam slot sihir yang bisa diisi dalam Headphone Fuzz, dan Gunjou mengisi salah satunya dengan sihir khasnya yang dahsyat berupa kincir-kincir roda air terbang.
  • Hishiro Shiro, pemuda berjiwa pemimpin yang mengisi seluruh slot sihirnya dengan sihir ofensif, yang salah satunya berwujud sebilah tombak(?) raksasa. Seperti Shinnosuke, belakangan terungkap bahwa ia pun memiliki misi pribadinya sendiri dalam memasuki labirin.
  • Kiryuu Kiri, seorang gadis cantik dan ramah yang merupakan orang pertama yang Shinnosuke temui di SMA Kichijouji, sekaligus orang pertama pula yang bisa ‘membaca’ dirinya. Ia terampil menggunakan pedang. Semenjak diselamatkan Shinnosuke, ia berulangkali menyatakan kalau ia jatuh cinta pada dirinya.
  • Endou Yousuke, seorang pemuda berkacamata yang setia pada Shiro dan merupakan salah satu anggota tim asalnya. Ia pribadi ramah yang mengisi seluruh slot Headphone Fuzz-nya dengan sihir-sihir pertahanan dan rela menggunakan tubuhnya sebagai taruhan.
  • Yuuyami Himi, seorang gadis pemalu yang juga menjadi anggota tim asal Shiro. Ia mengisi semua slot Headphone Fuzz dengan konfigurasi sihir untuk support. Salah satu sihirnya adalah kekuatan untuk membuat peta.

Sedangkan si tsundere Shinnosuke sendiri, seperti Kiri dan Gunjou, menggunakan konfigurasi sihir ‘seimbang’ hanya saja yang lebih berorientasi ofensif. Dua sihir yang paling utama digunakannya adalah ‘pedang sihir’ yang mengubah pisau lipat yang sering dibawanya menjadi pedang panjang beraura gelap, yang punya sifat ‘Assassinate’ yang memungkinkannya memburu titik kelemahan lawan secara otomatis; serta sihir akselerasi yang memberikannya kecepatan dewa meski hanya dalam satu detik. Kombinasi dua sihir langka ini menjadikan Shinnosuke pribadi yang sangat berbahaya.

Tapi yang kemudian patut dicatat adalah bagaimana salah satu slotnya juga ia isi dengan suatu sihir eksperimentil yang disebut Holy Sword, sihir belum sempurna yang khusus dikembangkan untuk membebaskan para gadis yang menjadi inti labirin tanpa membunuh mereka.

Sepuluh tahun telah Shinnosuke habiskan semata-mata demi bisa memperoleh sihir ini.

Alasannya kenapa? Karena adik perempuan Shinnosuke, Arisu Saki, adalah korban paling pertama dari Penyakit Labirin.

Saki, adik perempuan yang dulu sangat disayanginya, pasti masih hidup. Shinnosuke yakini itu. Karenanya, Shinnosuke akan melakukan segala cara untuk bisa membebaskan Saki dari dalam labirin paling berbahaya sekaligus keji yang tercipta darinya, Apocalypse Alice, labirin paling diincar di seluruh dunia yang memiliki peringkat 666.

Keputusasaan dan Hati Untuk Mempercayai Sahabat

Selain temponya yang cepat, daya tarik terbesar Mokushiroku Arisu ada pada adegan-adegan aksinya, yang entah bagaimana memang benar-benar seru. Meski banyak yang harus dipaparkan, perkembangan ceritanya beneran cepat. Lalu ada banyak twist tak terduga sepanjang jalan yang membuatnya benar-benar asyik diikuti, meski sekaligus membuat penasaran juga. Ada pengkhianatan, ada prasangka, ada pemalsuan informasi, ada pasukan-pasukan militer yang punya maksud misterius, ada kematian di mana-mana yang terjadi secara tragis.

Tapi di sisi lain, meski langka, ada bagian-bagian ketika kekuatan persahabatan akhirnya menang juga. Lalu Shinnosuke dengan enggan pun mesti akui, bahwa memang ada beberapa hal tertentu yang takkan dapat dilakukannya seorang diri.

Sayangnya, ceritanya saat ini tengah menggantung di buku ketiga, yang mungkin disebabkan kesibukan Kagami-sensei dengan beragam proyeknya juga. Padahal cerita sedang seru-serunya juga, dengan bagaimana Shinnosuke dan Gunjou yang sama-sama disangka tewas berhasil memasuki labirin Apocalypse Alice jauh lebih cepat dari dugaan. Lalu mereka berusaha menyusul rombongan Shiro yang telah pergi lebih dulu, untuk mengungkap apa sebenarnya yang dicari Perusahaan Farmasi Taikou, konglomerat riset raksasa yang menjalin kontrak dengan sekolah mereka untuk berbagai serbuan mereka ke labirin.

Beberapa karakter lain yang menonjol mencakup Honjou Tsukasa-sensei, guru sekolah yang selalu memberi mereka arahan setiap kali ada suatu kasus penyakit labirin terjadi (yang bisa jadi adalah psikopat). Lalu Sanae Yayoi, sepupu Shinnosuke yang jatuh cinta padanya, yang merupakan seorang remaja jenius yang memiliki lab penelitiannya sendiri di Taikou (tapi juga memiliki sifat dingin bila dihadapkan pada orang-orang selain Shinnosuke).

Ceritanya aneh di banyak bagian, dan para karakternya kerap melelahkan. Ada kesan kalau Kagami-sensei seperti gemar mempermainkan kita sebagai pembaca. Tapi aku benar-benar tak bisa menyangkal kalau ceritanya seru.

Agak aneh karena meski Owari no Seraph sudah dibuat anime sebanyak dua season (dengan kualitas sangat baik oleh Wit Studio), kepopuleran Mokushiroku Arisu belum banyak terdengar. Mungkin karena seri bukunya lagi hiatus dengan perkembangan menggantung? Padahal sejauh yang aku tahu, para fans yang suka seri ini termasuk orang-orang yang benar-benar suka. Sekali lagi, karena ceritanya memang seru.

Selain novel aslinya, seri ini juga sudah diangkat ke bentuk manga yang digambar oleh Youko. Nuansanya lumayan unik. Selain karena dialognya yang relatif padat, juga karena gaya gambarnya yang benar-benar mencerminkan nuansa muram dari dunianya.

Selebihnya…

Sial. Mungkin benar aku menulis ini sekarang adalah karena sedang berusaha mencari harapan di tengah keputusasaan.

Yah, siapapun tolong kabari aku kalau ternyata seri ini sudah ada perkembangan.


About this entry