M3: Sono Kuroki Hagane

Tadinya aku mau bahas ini sebelum Gundam: Iron Blooded Orphans tayang, tapi beberapa hal terjadi, dan aku baru sempat menulis tentangnya sekarang. Berhubung ini satu-satunya anime mecha riil (bukan super robot) yang disusun Okada Mari sebelum IBO, aku sempat ingin membandingkan keduanya.

M3 – Sono Kuroki Hagane (subjudul kira-kira berarti ‘logam hitam itu’), atau yang juga dikenal sebagai M3 – The Dark Metal (‘logam yang kelam’, acuan terhadap konsep penyakit ‘logam kematian’ di ceritanya), merupakan anime drama sains fiksi horor keluaran Satelight dan C2C. Dirilis pada pertengahan tahun 2014 (ini kurang lebih sezaman dengan No Game No Life dan Akame ga Kill!), jumlah episodenya 24. Sutradaranya adalah Sato Junichi, staf veteran yang sekarang dikenal sebagai sutradara anime ‘penyembuhan’ Tamayura dan anime teka-teki Phi Brain; meski beliau juga dikenal lewat arahan beliau di sejumlah anime lawas, yang mencakup Aria, Sailor Moon klasik, serta Mahou Tsukai Tai.

M3 sempat mencolok karena lagu pembuka pertamanya, yang berjudul ‘Re: Remember.’ Lagu yang dibawakan May’n ini secara pas menggambarkan nuansa sendu dan keputusasaan di awal seri ini. Di samping itu, naskah cerita yang disusun oleh Okada-san kental dengan drama karakter melankolis khas beliau. Ditambah lagi, ada desain mekanik yang dibuat oleh desainer Macross, Kawamori Shoji.

Karenanya, meski tak meledak, M3 termasuk seri yang menarik perhatian di kalangannya sendiri.

Awalnya, aku ingin menulis tentang M3 untuk memperkirakan IBO jadinya seperti apa. Seperti yang pernah kusinggung di tulisan lain, selain drama remaja Anohana dan Toradora!, seri-seri yang naskahnya ditangani Okada-san yang temanya agak ‘fantastis’ paling hanya Aquarion Evol, Wixoss, dan seri satu ini. Aku tadinya mau pakai M3 sebagai ‘perbandingan’ mengingat statusnya sebagai sesama seri mecha. (Meski memandang lagi ke belakang, aku tak merasa itu banyak gunanya.)

Untukku pribadi, M3 adalah seri yang semula-enggak-begitu-diperhatikan-tapi-lama-lama jadi-berkesan. Nuansanya benar-benar suram. Anime ini menampilkan banyak kesedihan tanpa langsung menjabarkan akar kepedihan dan rasa sakitnya itu karena apa. Kesannya lumayan abstrak. Tapi karena itu juga, seri ini sempat menjadi semacam penghiburan buatku selepas kerja.

Seburuk-buruknya kondisi kerjaanku waktu itu, setidaknya aku belum sedepresi para karakter di anime ini.

Langit Berbintang dan Dewa Kematian

M3 bercerita tentang delapan anak remaja yang terpilih dalam suatu proyek yang dapat menentukan kelangsungan hidup umat manusia. Kedelapan anak ini didekati secara terpisah oleh perwakilan suatu organisasi bernama IX di Jepang, dan mendapati diri mereka mungkin sebenarnya pernah mengenal satu sama lain di masa lalu.

Kedelapan orang remaja tersebut disatukan dalam suatu kelompok yang disebut Team Gargouille. Mereka terdiri atas:

  • Saginuma Akashi: pemuda tampan yang meski menarik perhatian, memiliki masa lalu pahit yang melibatkan mendiang kakak lelakinya. Karenanya, ia memendam suatu kebencian pribadi yang sangat sulit ia ungkap dan mengubahnya menjadi penyendiri.
  • Hazaki Emiru: seorang perempuan cantik dan pekerja keras yang terpaksa hidup mandiri karena suatu isu keluarga. Di awal cerita, ia berharap bisa dekat dengan Akashi sebagai suatu bentuk pengakuan terhadap dirinya.
  • Izuriha Sasame: seorang gadis lembah lembut yang telah lupa sebagian ingatan masa lalunya. Meski kerap membatasi diri dan ragu akan kemampuannya, ada sesuatu tentang dirinya yang mengingatkan Akashi akan suatu hal penting yang telah lama hilang.
  • Namito Iwato: teman sekolah Akashi yang berpembawaan terbuka dan pengertian, yang ikut terpilih bersamanya dan anak-anak lain sebagai bagian Program Pelatihan Tim Investigasi Khusus.
  • Kasumi Raika: gadis atletis yang menjadi salah satu pilot uji mecha Vess buatan IX. Ia diharuskan menjalani pelatihan lagi semenjak terpilih sebagai salah satu calon anggota Tim Investigasi, yang mana ia kemudian dipasangkan dengan Iwato.
  • Maki Minashi: pemuda ramah yang menjadi anggota Team Gargouille yang paling ceria dan mudah didekati. Nampaknya telah mengenal Sasame lebih dahulu dibandingkan yang lain.
  • Yuzuki Maamu: gadis rendah diri yang sangat pemalu, negatif, sekaligus penyendiri. Ia menyimpan suatu buku catatan yang di dalamnya ia secara tersamar menumpahkan segala isi hati dan pengamatannya terhadap orang lain.
  • Isaku Heito: seorang pemuda yang telah hilang kewarasannya dan terobsesi membuat orang lain takut terhadapnya (karena rasa takut adalah satu-satunya emosi yang masih ia punyai). Konon bertanggung jawab atas pembantaian seluruh anggota keluarganya sendiri.

Dicanangkan IX, Team Gargouille dibentuk sebagai tim investigasi yang akan menjelajah Mumyou Ryouiki/Lightless Realm/Avidea Zone.

Beberapa tahun sebelumnya, fenomena Mumyou Ryouiki melingkupi kota Tokyo. Efek fenomena ini secara perlahan tapi pasti mulai mengancam dunia. Di dalam zona ini, cahaya akan pudar. Lalu dari dalamnya, muncul partikel logam yang disebut Necrometal yang dapat mengikis semua material lain dan menggerogoti anggota-anggota tubuh manusia yang terekspos padanya.

Turut muncul dari dalam Mumyou Ryouiki adalah makhluk-makhluk yang disebut Admonition/Imashime, yang bisa jadi adalah perwujudan derita dan sisa ingatan para korban Necrometal yang telah kehilangan nyawa.

Untuk menghadapi Imashime, IX telah mengembangkan mecha-mecha berkaki tiga yang disebut Vess. Tapi untuk menjelajahi Mumyou Ryouiki, diperlukan versi Vess lebih mutakhir yang disebut MA-Vess yang bisa melawan pengaruh ‘korosi mental’ yang Mumyou Ryouiki berikan.

Terungkap bahwa pengikisan yang Necrometal bawa tak hanya terjadi secara ‘fisik’ karena siapapun (apapun?) yang terjangkit Necrometal bisa sampai lupa jati diri mereka. Lalu para pengguna MA-Vess mampu bertahan karena MA-Vass dilengkapi suatu penemuan relatif baru yang disebut LIM (Linker Interface Module), meski bagaimana persisnya sistem ini bekerja baru terungkap dalam perkembangan cerita ke depan.

Singkat cerita, Akashi dan kawan-kawannya dikumpulkan karena punya potensi ‘kecocokan’ yang diperlukan untuk menggunakan MA-Vess.

Mengawasi Team Gargouille adalah kelompok ilmuwan dari IX yang dipimpin dua figur: seorang lelaki eksentrik bernama Natsuiri, yang seakan hanya punya kepedulian terhadap kemajuan hasil penelitian; dan seorang perempuan muda bernama Agura Kasane, yang Akashi kenali sebagai kekasih mendiang kakak lelaki Akashi, Saginuma Aoshi. Mewakili pemerintah, juga hadir Susan Suzaki, kawan lama Kasane yang lambat laun ikut menjadikan keberhasilan mereka sebagai misi pribadinya.

Lewat penjelajahan Mumyou Ryouiki, IX berharap bisa mengungkap rahasia di balik fenomena Necrometal. Rahasia itu mereka yakini ada pada badan Mukuro/Corpse (‘jasad’), raksasa logam hitam bermata satu yang beberapa kali terlihat di dalam zona dan diyakini sejumlah pihak sebagai sumber segala kejadian ini. Lambat laun, para anggota Team Gargouille pun mulai meyakini bahwa hanya dengan mengalahkan Mukuro, semua penderitaan mereka akan bisa berakhir.

Konflik pertama seri ini timbul dari bagaimana Akashi marah terhadap Kasane yang seakan menganggap dirinya sebagai pengganti kakaknya. Kakak Akashi, Aoshi, sebelumnya juga terlibat dalam penjelajahan ke Mumyou Ryouiki dan berakhir tewas karenanya. Namun seiring dengan waktu, semakin banyak hubungan dan rahasia masa lalu terkuak, terutama mengingat bagaimana Imashime seakan mengingatkan setiap manusia akan dosa-dosa mereka yang telah lalu.

Suara-suara Penyesalan

Sedikit bicara soal robot-robotnya dulu…

Mecha utama di M3 adalah Argent, MA-Vess pertama yang sukses dikembangkan dari pendahulunya, Shirogane, yang dulu dikemudikan Aoshi. Meski secara teoritis dapat bekerja, semua orang yang mencoba mengendalikan Argent karena berbagai alasan berakhir tewas. Ini berujung pada bagaimana MA-Vess ini kemudian disegel rapat-rapat dalam suatu fasilitas terbengkalai dan dijuluki Shinigami (‘dewa kematian’).

Baru sesudah para remaja di atas ditemukan dan Team Gargouille kemudian dibentuk, Argent mulai kembali dioperasikan IX. Lalu sesuai dugaan, meski sempat didahului serangkaian insiden, Akashi menjadi orang pertama (dan mungkin satu-satunya) yang mampu mengendalikan Argent.

Dengan enggan, (meski belakangan ia melakukannya demi Sasame) Akashi akhirnya menuruti pengharapan orang-orang untuk menggunakannya dalam menjelajah Mumyou Ryouiki, yang membawanya berhadapan langsung dengan sosok Mukuro yang misterius.

Penjelajahan Akashi dan kawan-kawannya terhadap Tokyo yang telah kelam dan ditinggalkan menjadi inti cerita M3. Dari sana, kemudian banyak hal terungkap. Digambarkan ada beban mental luar biasa besar dalam menggunakan MA-Vess, dan beban ini tak kalah besarnya dari korosi mental yang didatangkan Imashime dan Mumyou Ryouiki, yang hadir dalam bentuk imaji-imaji persepsi yang menyerbu masuk ke dalam pikiran.

Vess produksi massal yang tidak memiliki LIM diwakili Tower type T1 yang dalam perkembangannya, banyak dipakai oleh Iwato dan Raika. Ini tipe mecha berkaki tiga yang meluncur dengan ‘sepatu roda’ seperti yang di Code Geass, yang bila kaki-kakinya dilipat akan membuatnya tampak seperti mobil. Persenjataan utama T1 adalah sejenis senapan. Namun untuk jarak dekat, mecha-mecha ini dilengkapi persenjataan sejenis palu berpompa, yang diperlukan untuk memecahkan cangkang-cangkang luar Imashime yang keras dan menghancurkan ‘inti’-nya.

Dari segi bentuk, Vess sangat mirip MA-Vess. Kemiripannya lengkap sampai ke jenis persenjataan yang digunakannya, hanya saja berukuran lebih kecil dan mempunyai performa lebih terbatas, di samping ‘tergantung’ pada jalanan.

MA-Vess dalam perkembangannya memiliki tenaga jauh lebih besar, mampu melakukan gerakan-gerakan yang lebih lincah, mampu melewati medan lebih berat, dan menjadi satu-satunya tandingan yang Team Gargouille punyai untuk melawan Mukuro.

Seperti yang kusebut di atas, aspek mecha M3 kurang menonjol. Tapi kehadirannya sedemikian rupa sampai aku beberapa kali membayangkan kira-kira seperti apa M3 andai porsi karakternya dikurangi dan konflik Mumyou Ryouiki tak ditampilkan begitu abstrak.

Desain mechanya bukan yang bisa kukatakan ‘keren’ sih (struktur proporsi Argent mirip Mukuro dan sempat agak sulit kubedakan. Desainnya bahkan sedikit mengingatkanku pada desain Aquarion). Di samping itu, adegan-adegan aksinya bukan jenis yang dibuat agar terkesan ‘seru’ (meski kekurangan ini diimbangi konflik emosional yang kuat).

Mungkin, maksudnya malah agar adegan-adegan mechanya lebih berkesan horor?

Tapi tak bisa dipungkiri kalau keberadaan Vess dan MA-Vess menjadi hal yang integral dengan cerita.  Kehadirannya itu memberi kesan sedemikian kuatnya, sehingga kamu enggak benar-benar bisa bilang kalau aspek mechanya jelek. Terlebih dengan bagaimana dengan bayaran teramat besar, mulai hadir dua MA-Vess jenis lain, yakni Sable dan Guhles, yang membawa para anggota lain selain Akashi ke dalam kegelapan Mumyou Ryouiki.

Baru sesudah perjalanan berulangkali ke dalam sana—sekalipun ditelantarkan IX, dan hanya dengan dukungan terbatas yang dapat diberikan Kasane dan Susan—Akashi dan kawan-kawannya menemukan titik terang tentang asal usul Mumyou Ryouiki. Mereka menemukan kembali ikatan lama di antara mereka; kebenaran tentang Tsugumi, gadis misterius mirip Sasame yang hampir selalu terlihat bersama Mukuro; serta penelitian terlupakan di sebuah pulau terpencil bernama Yomijima

Cahaya, dan Kemudian Cahaya

Jadi, selain suram, M3 terbilang punya cerita yang rumit.

Daripada ‘kompleks,’ yang kumaksud lebih kayak rumit dalam ungkapan ‘It’s complicated.’ Semua karakter punya bebannya sendiri-sendiri. Lalu di separuh cerita, sama sekali tak kelihatan bagaimana semua bisa terselesaikan secara baik.

Akashi dengan masa lalu kompleksnya, sementara semua orang di sekelilingnya berharap ia membuka diri. Kasane yang terbebani oleh rasa bersalahnya. Emiru yang frustrasi dengan orang-orang di sekelilingnya dan tak punya orang lain yang padanya ia bisa bercerita. Sasame dengan perasaan adanya sebagian dirinya yang hilang. Rasa takut terhadap dunia yang dipunyai Maamu. Rasa takut kehilangan yang perlahan mencengkram Raika dan Iwato. Sampai Minashi yang mengemban semua keputusasaannya seorang diri di balik senyumannya. Kesannya kayak mereka ada di dunia di mana tak ada yang bisa dimintai bantuan selain satu sama lain.

Karena itu, jujur saja, ada sebagian yang berpendapat kalau M3 sedikit kehilangan daya tariknya saat kepingan-kepingan jawaban mulai ditemukan di paruh kedua cerita. Nuansanya menjadi lebih optimis tapi perkembangannya, sayangnya, kurang berhasil ‘menyentuh’ kita seperti beberapa anime mecha emosional lain macam Eureka Seven atau RahXephon. Salah satu alasannya mungkin karena penggambarannya yang agak abstrak dan tak mudah langsung dipahami tadi, di samping jumlah karakter utamanya yang terbilang banyak.

Soal teknis, anime ini memiliki motif warna ‘kelabu’ yang bisa aku mengerti adalah caranya menyampaikan dunia Mumyou Ryouiki yang ‘minim warna.’ (Di samping menjadi cara efektif untuk menekan anggaran.) Tapi ini juga menjadikan anime ini kurang mencolok secara visual, yang untungnya berhasil diimbangi dengan kualitas audio yang lumayan baik.

Walau begitu, (mungkin aneh juga aku ngomong gini) visual desain latarnya tetap menjadi daya tarik buatku. Mulai dari fasilitas rumah sakit terbengkalai dengan ruang-ruang basementnya yang seakan menyembunyikan sesuatu, laboratorium penelitian IX yang ditempati Kasane dan Natsuiri dengan dinding-dindingnya yang berkaca, balkon terbuka tempat Akashi dan Sasame sempat bernaung, bangunan teater besar yang ditempati Tsugumi, bandara kosong di tepi lautan, reruntuhan desa Yomijima tempat asal pohon berpendar misterius Arbornine/Kokonoki dengan gua-gua bawah tanahnya, sampai kamar asrama berinterior nyaman yang Mahmu dan Emiru tempati.

Aku tak menyadarinya di awal, tapi semua tempatnya bagiku benar-benar meninggalkan kesan kuat. Aku sampai ingin mengumpulkan gambar-gambar konsep ilustrasi awalnya. Mungkin aku merasa demikian karena saking kuatnya nuansa sentimentilnya.

Soal audio, para seiyuu-nya terbilang berperan baik. Gampangnya, mereka berhasil menghidupkan karakter-karakter yang enggak kita sukai dengan membuat kita merasakan emosi enggak suka nyata terhadap mereka. (Iya, perlu waktu lumayan sampai karakter-karakternya bisa disukai.) Terus pilihan lagu-lagunya itu. Lagu-lagunya benar-benar sesuai konteks. Kebanyakan temanya tentang kebimbangan sekaligus nostalgia terhadap masa lalu.

Aku bisa saja membeberkan detil ceritanya lebih banyak, tapi itu bisa agak terlalu spoiler. Soalnya, keenggakjelasan soal apa yang terjadi sekali lagi menjadi salah satu daya tarik M3.

Selain itu, sekali lagi, seri ini benar-benar suram. Jadi meski mungkin ini kedengaran aneh, kesuraman itu justru menjadi satu alasan sebagian orang mengikuti seri ini.

Apa yang Menghubungkan Dua Orang

M3 bisa dibilang sejenis anime mecha sains fiksi suram yang banyak dicetus sejak zaman Neon Genesis Evangelion. Ada mecha-mecha besar di dalamnya, tapi ini seri yang benar-benar lebih berat pada drama antar karakternya. Adegan-adegan aksi mechanya jarang. Saat sedang ada, koreografinya juga kayak sengaja dibatasi agar tak terlalu menonjol (mungkin juga buat menghemat biaya).

(…Sori, alasan aku menyinggung soal biaya dari tadi karena sesudah M3, Satelight dan C2C kembali berkolaborasi dalam produksi Aquarion Logos yang benar-benar kelihatan ketat anggarannya.)

M3 bukan seri yang mudah diikuti. Ini bukan seri yang akan begitu saja kurekomendasikan. Tapi iya, ada sesuatu tentang M3 yang terbilang memikat saat kau bisa menerima semua kekurangannya.

Seri ini serius kayak memberi penghiburan aneh bagiku. Sestres apapun aku sebelumnya, kalau melihat anime ini, aku bisa ngerasa kalau para karakternya berada dalam kondisi yang lebih enggak enak lagi.

Yah, mungkin hal seperti ini lebih baik tak ungkap.

Akhir kata, selalu ada harapan di ujung kesulitan. Habislah gelap, terbitlah terang yo.

Lalu balik ke bahasan soal Gundam di atas, kita semua akhirnya tahu kalau IBO berakhir sebagai seri yang keren, sekalipun punya porsi karakter yang benar-benar banyak juga.

Produktivitas Okada-san benar-benar luar biasa.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: B-; Audio: A; Perkembangan: B; Eksekusi: B; Kepuasan Akhir: B+


About this entry