Heavy Object

Heavy Object (harfiahnya berarti ‘benda berat’) merupakan karya kedua dari pengarang light novel Kamachi Kazuma yang diadaptasi ke bentuk anime. Jumlah episodenya sebanyak 24, produksinya dilakukan studio J.C. Staff, dan penyutradaraan dan komposisi serinya masing-masing ditangani oleh staf veteran Watanabe Takashi dan Yoshino Hiroyuki.

Untuk yang belum tahu, Kamachi-sensei adalah pengarang seri Toaru Majutsu no Index yang sangat terkenal di Jepang beserta semua seri lepasannya. Selain itu, yang membuat beliau menakjubkan adalah banyaknya karya beliau dalam kurun waktu relatif pendek, menjadikan beliau salah satu pengarang ranobe paling produktif di masa ini. (Beberapa pengarang produktif lain misalnya Nisio Isin dan Kawahara Reki, tapi mending kita bahas karya mereka di postingan lain.)

Terlepas dari itu, aku jujur terkejut saat mendengar Heavy Object akan dianimasikan. Meski produktif dan unik, cerita-cerita Kamachi-sensei biasanya punya struktur cerita yang agak-agak ajaib, dan karenanya agak ‘menantang’ kalau mau diubah ke bentuk manga atau anime secara bagus.

Makanya, aku lebih terkejut lagi saat mendapati hasil adaptasi anime Heavy Object ternyata beneran bagus. Di samping mempertahankan nuansa khas di novelnya, animenya juga berhasil menutupi kelemahan mencolok di narasi novelnya lewat pemaparan karakter yang benar-benar bagus.

Tayang sepanjang dua cour dari Oktober 2015 sampai Maret 2016, anime Heavy Object mungkin termasuk yang kurang terdengar gaungnya. Premisnya memang hanya cocok dengan sebagian orang. Perkembangan karakternya juga minim, ada porsi fanservice konsisten yang agak mendistraksi meski tak sampai benar-benar mengganggu, dan dialognya lumayan dipenuhi technical jargon. Tapi untuk mereka yang bisa menggemarinya, ini serius termasuk adaptasi yang bisa dinilai berhasil.

Dunia Dengan Geopolitik Kaleidoskop

Heavy Object berlatar jauh di masa depan, ketika balapan senjata antar negara-negara dunia berujung pada terciptanya kendaraan-kendaraan perang kolosal yang kebal terhadap segala bentuk persenjataan yang diciptakan sebelumnya: bom nuklir, persenjataan laser, persenjataan kimia, dan bahkan bom hidrogen(?!). Kendaraan-kendaraan tersebut disebut Object, dan lazimnya memiliki ‘rangka utama’ berupa bola bundar raksasa.

Penemuan Object mengubah paradigma perang dunia. Berhubung semua senjata perang lain seperti tank, pesawat tempur, rudal-rudal ICBM, sudah tak bisa berdampak lagi terhadap Object, dunia memasuki era ‘perang bersih’ di mana yang namanya ‘perang’ pada dasarnya hanya ‘adu Object’ antara negara-negara yang berkepentingan.

Lalu yang namanya militer sudah tak lagi aktif terjun ke medan perang. Mereka jadi lebih kayak tim mekanik yang membantu maintenance Object kayak di pit stop balapan Formula 1.

Namun bahkan di masa ini, perang masih saja sering terjadi. Gara-gara ini, batas-batas negara di dunia jadi cepat sekali berubah. Ini berakibat pada bagaimana dunia kini sebenarnya tak lagi terbagi oleh negara, tapi oleh blok-blok kekuatan besar yang dibedakan oleh paham.

Blok-blok kekuatan tersebut antara lain:

  • Legitimate Kingdom, yang berpaham aristokraktik dan mengutamakan kebangsawanan dan garis keturunan. Dari blok ini para tokoh utama kita berasal.
  • Information Alliance, yang menjunjung tinggi pengetahuan dan mengutamakan pengumpulan informasi di atas segala-galanya.
  • Capitalist Union, yang mengutamakan uang, yang di dalamnya, memberi sumbangan bisa berujung pada penahanan di penjara.
  • Faith Organization, yang bisa dibilang semacam konglomerasi dari hampir semua aliran kepercayaan yang ada di dunia, termasuk dewa-dewa kuno dan yang baru.

Lalu karena dibedakannya oleh paham, masing-masing tidak lagi terkelompok dalam geografis berdekatan. Wilayah setiap blok seperti tersebar secara acak begitu. Tiap kelompok seperti punya wilayah ‘di mana-mana’ yang bisa terisolir dari wilayah-wilayah lainnya, dengan batas-batas yang selalu bisa berubah setiap hari.

Heavy Object berkisah tentang dua tokoh utama, Qwenthur Barbotage dan Havia Winchell yang tergabung dalam 24th Mobile Maintenance Battallion pimpinan komandan wanita muda Frolaytia Capistrano (yang memiliki proporsi badan yang benar-benar bagus). Kedua orang yang belakangan ketahuan sama-sama agak idiot sekaligus nekad ini pada awalnya tak berminat terhadap perang.

Qwenthur (yang menjadi ‘otak’ di antara mereka) adalah pelajar dari kalangan biasa yang memang mendalami desain Object dengan melibatkan diri untuk bekerja di tim mekaniknya. Dia suka pada hasil perkembangan teknologi yang dipakai di Object dan ingin bisa menguasainya.

Sedangkan Havia, yang sebaya dengan Qwenthur (dan menjadi ‘otot’ bagi keduanya, mengingat status Qwenthur sebagai pelajar membuatnya tak boleh membawa senjata api, meskipun ia boleh membawa-bawa peledak Hand Axe), adalah keturunan keluarga bangsawan yang sebenarnya tak perlu terlibat dalam perang. Namun Havia tetap bergabung dalam kemiliteran—dan resminya, berkedudukan sebagai penganalisa radar—karena ingin mengumpulkan ‘pencapaian’ dan tanda jasa yang bisa berguna baginya saat kelak ia menjadi kepala keluarga. (Alasan sebenarnya adalah karena ia ingin bisa menikahi tunangannya yang berasal dari keluarga Vanderbilt, yang nyata-nyata bermusuhan dengan keluarga Winchell.)

Di awal cerita, Qwenthur dan Havia sama-sama merasa bahwa sekalipun telah ada di ‘medan perang,’ keterlibatan mereka bakal minor karena di zaman ini, segala sesuatunya bisa diserahkan pada sang Elite; sebutan bagi para pilot yang mentalnya telah dikondisikan khusus untuk bisa mengendalikan Object.

Elite di pasukan mereka adalah seorang gadis berbadan mungil dan sifat sedikit aneh bernama Milinda Brantini (yang kerap dipanggil ‘Tuan Putri’), yang mengemudikan Object bernama Baby Magnum yang penanganannya dilakukan oleh Battallion ke-24.

Namun dalam misi pertama mereka di Alaska (yang seharusnya gampang), Baby Magnum kalah oleh Object milik pasukan musuh. Kegentingan terjadi karena hanya kematian yang menanti batallion yang Object-nya kalah dan pernyataan menyerah pasukannya tak digubris. Maka dari itu, sang Tuan Putri pun menjadikan dirinya umpan agar anggota-anggota pasukannya bisa lolos.

Meski kini dihadapkan dengan kengerian medan perang, Qwenthur dan Havia, yang secara kebetulan baru bertatap muka dengan Milinda sebelum pertempuran pecah, tak bisa menerima begitu saja hasil ini. Mereka lalu membangkang perintah Frolaytia dan melakukan upaya nekad untuk menyelamatkan Milinda.

Lalu di luar perkiraan semua orang, ternyata mereka berhasil.

“Segala yang diciptakan tangan manusia, pasti bisa dihancurkan dengan tangan manusia.”

Apa yang keren dari Heavy Object ada pada perjuangan untuk membalikkan sesuatu yang semula dianggap tak mungkin. …Uh, biasanya lewat bagaimana kedua tokoh utama saling teriak-teriak dan mengeluh di antara darah dan ledakan.

Konflik utamanya dimulai dari bagaimana keberhasilan Qwenthur dan Havia dalam mengalahkan sebuah Object tanpa Object langsung seolah mengubah paradigma pikiran orang secara besar-besaran di dunia. Intinya, gara-gara mereka, Object jadi tidak lagi dipandang sebagai ancaman yang ‘secara mutlak’ tak mungkin bisa dikalahkan. Ini langsung kembali mengubah bagaimana perang terjadi, karena Object jadi seperti kehilangan ‘nilainya’ sebagai ‘ancaman’ (deterrent).

Qwenthur dan Havia menyangka kesuksesan mereka akan membuat mereka diakui sebagai pahlawan dan bisa membuat mereka santai-santai dan hidup enak. Tapi tidaaak. Justru karena itu, keduanya dikenal ke seluruh dunia sebagai pasangan ‘pembantai naga’ dan malah kembali diterjunkan ke medan perang untuk menangani berbagai urusan terkait Object.

Bukannya santai dan hidup enak seperti yang semula diharapkan, Qwenthur dan Havia malah dikirim ke berbagai penjuru dunia (Alaska, Gibraltar, Kutub Selatan, Amerika Selatan, lalu Alaska lagi) sekalipun mereka jelas-jelas enggan. Lagi dan lagi mereka secara konyol (tapi serius) harus berhadapan dengan bahaya (meski kini merela lebih banyak didukung Milinda yang sudah bersikap lebih ramah terhadap mereka). Tapi protes berulangkali juga takkan ada gunanya karena para bangsawan di negara mereka memang seenaknya.

Apalagi mengingat bagaimana Baby Magnum, suatu Object generasi pertama yang diciptakan untuk segala medan, sebenarnya sudah mulai kalah performanya dibandingkan Object-Object generasi kedua yang lebih dikhususkan untuk medan-medan tertentu.

Anime Heavy Object mengadaptasi cerita dari tiga buku pertama seri novelnya, dan lumayan berhasil memberi kesan kuat dengan menutupnya lewat cerita orisinil. Hasilnya terbilang keren. Meski berkesan panjang dan ada banyak hal yang terjadi, penggambaran dunianya terbilang komplit. Memang perkembangan karakternya minim. Tapi pemaparan situasi perpolitikan antara satu pihak dan pihak lainnya berhasil disajikan dengan benar-benar menarik, lengkap dengan intrik spionase, kehadiran orang penting yang harus dijaga/diawasi, dan sebagainya.

Makanya, aku enggak kaget dengan rumor yang bilang bahwa anime ini semula dimaksudkan hanya 12 episode, tapi jadi dipanjangkan menjadi 24 episode saat cakupan peminatnya mulai kelihatan.

“Aishiteruze, Baby.”

Sedikit bicara soal materi aslinya, seri novelnya diterbitkan oleh ASCII Media Works di bawah label Dengeki Bunko sejak tahun 2009. Bukunya sudah ada 11 pada saat ini kutulis. Lalu agak sama kasusnya dengan seri Toaru Majutsu no Index, meski perkembangan ceritanya terkesan minim, ceritanya sebenarnya berkembang, hanya saja dengan cara yang tidak terlalu kelihatan.

Serialisasi manganya sudah ada beberapa macam. Biasanya dalam bentuk serialisasi di majalah seinen milik Dengeki karena faktor istilah-istilah teknisnya, dan utamanya dibuat oleh Saitou Sakae.

Dalam salah satu novel, Kamachi-sensei pernah mengungkapkan bagaimana ide-ide cerita yang tak terpakai untuk sisi sains Index jadinya kemudian dipakai di Heavy Object. Membaca itu, aku maklum dengan bagaimana novel awalnya sangat terkesan sebagai novel one-shot. Tapi fakta ini membuat besarnya pembangunan dunia yang beliau masukkan dalam buku-buku berikutnya jadi makin mengesankan.

Karena tema yang dipilihnya, Kamachi-sensei juga memakai suatu gaya penceritaan sedemikian rupa agar seluruh situasi di medan perang bisa kayak tercermin dari dialog antara hanya beberapa orang. Dalam hal ini, yaitu dari dialog antara para tokoh utamanya saja. Ditambah lagi, sering ada penjelasan-penjelasan padat tapi berkepanjangan (yang sesekali diselingi hal-hal tak penting) dalam narasinya. Terutama kalau bahasannya sudah menyangkut beragam aspek teknologi yang dipakai di Object. Lalu para tokoh antagonisnya juga sengaja ditampilkan dalam porsi benar-benar minim, agar perhatian kita bisa lebih terfokus pada aksi antar Object saja.

Ajaibnya, pendekatan bercerita ini ikut terbawa ke animenya, tapi dengan nuansa natural yang terasa pas. Makanya, aku tak bisa bilang kalau hasil adaptasinya jelek.

Membahas soal teknis, ini kembali jadi keluaran studio J.C. Staff yang punya beragamn ciri khas mereka yang menonjol. Aspek audio dan visualnya sama-sama kuat, dengan penggambaran aspek-aspek mekanis serta letusan dan tembakan senjata yang mencolok. Grup band relatif baru ALL OFF tampil secara keren dengan membawakan lagu-lagu pembukanya, yang semuanya bertema soal pantang menyerah.

Waktu aku dengar bagaimana Watanabe-san, yang sebelumnya menangani Ichiban Ushiro no Daimaou dan Boogiepop Phantom, yang akan menyutradarainya, aku sudah bisa membayangkan hasilnya takkan jelek. Tapi tetap saja aku tak menyangka kalau hasilnya bakal sebagus ini.

Buatku pribadi, anime Heavy Object serius cukup melampaui perkiraan.

Hanya saja, ya itu, ini seri yang hanya cocok untuk sebagian orang. Seru sih, cuma relatif susah dimasuki penggemar awam karena beragam istilah teknologinya yang bisa sangat menarik untuk sebagian orang tapi sangat tidak menarik untuk sebagian yang lain.

Selain temanya yang aneh, juga ada nama-nama karakter aneh macam Sladder Honeysuckle (ilmuwan Object jenius berbahaya yang menjadi sasaran kepentingan banyak pihak), Charlotte Zoom (perwira wanita khusus yang mengawasi militer kerajaan), Flide (orang brengsek yang menjadi atasan Frolaytia dan kawan-kawannya), Lendy Farolito (yang ada di pihak Information Alliance), sampai Oh ho ho (Elite saingan Milinda dari Information Alliance yang pada akhirnya tak diungkapkan nama aslinya, yang juga tertarik pada Qwenthur).

Lalu terkadang sebelum masuk ke bagian-bagian yang seru, kita kerap disajikan hal-hal yang (terkesan) tak penting; macam pembicaraan antara Qwenthur, Havia, dan Frolaytia soal pole dancing; atau soal kenapa Qwenthur dan Havia tiba-tiba disuruh bikin igloo yang kemudian dipakai Frolaytia untuk masak. Jadi walau ada banyak hal serius di dalamnya, ini sebenarnya bukan seri yang bisa dibilang serius.

Maksudku, aku ngerti kalau kalian enggak suka. Tapi kalau kalian tipe yang bisa suka, ini seriusan termasuk bagus.

Gimanapun, aku selalu suka hal-hal yang membuatku tak putus harapan.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A+; Audio: A+; Perkembangan: X; Eksekusi : A; Kepuasan Akhir: A+


About this entry