Dagashikashi

Dagashikashi merupakan salah satu anime yang lumayan menarik perhatian pada awal tahun lalu.

Berlatar di masa liburan musim panas, ini jenis seri komedi yang tayang pada musim yang tak sesuai dengan apa yang ditampilkan di dalamnya (berkebalikan dengan… Flying Witch, misalnya, yang sekarang sedang tayang). Kalian tahu, mungkin dengan maksud agar musim dingin lalu tidak terasa terlalu dingin.

Dagashikashi bercerita tentang keseharian sekelompok teman di sekitar suatu toko permen tradisional Jepang (istilahnya adalah ‘dagashi kashi’ dan ‘permen/cemilan tradisional murah’ ini istilahnya ‘dagashi’) di suatu kota kecil. Tak ada adegan sekolah. Yang ada hanya keseharian selama mereka punya waktu senggang. Lalu keseharian mereka ini selalu menyangkut keberadaan dagashi dalam hidup mereka.

Shikada Kokonotsu (nama panggilannya adalah Coconuts, ‘kelapa’) adalah remaja putra pemilik suatu toko permen, tapi cita-cita yang dikejarnya adalah menjadi manga-ka. Kokonotsu selama ini membantah pengharapan orang yang mengira bahwa ia akan mewarisi toko ini. Sampai suatu hari, datanglah seorang gadis aneh bernama Shidare Hotaru ke tokonya.

Keluarga Shidare dari mana Hotaru berasal merupakan produsen dagashi besar. Hotaru, yang sangat cantik tapi nampak sangat tergila-gila pada dagashi dan dagashi kashi, bermaksud merekrut ayah Kokonotsu, Shikada You (yang juga lumayan eksentrik; kalau sedang sendirian, hobinya adalah nge-rap), ke dalam perusahaan keluarganya. Tapi You ternyata hanya mau direkrut kalau Kokonotsu bersedia menggantikannya sebagai pemilik toko keluarga mereka.

Jadilah, Hotaru semenjak itu mulai sering datang toko Shikada setiap hari, dengan maksud untuk membujuk Kokonotsu agar mau mewarisi toko tersebut sekaligus menunjukkan betapa menakjubkannya dunia dagashi padanya.

Terlalu Banyak Serotonin Mengalir ke Kepalaku!

Ini tak langsung kelihatan sih. Tapi meski para karakternya masih berusia muda, Dagashikashi menonjolkan rasa nostalgia dan kesukaan terhadap toko-toko permen yang ‘logikanya’ dimiliki oleh orang-orang tua.

Mungkin karena ini jenis seri bertema slice of life, tak banyak perkembangan karakter yang ditampilkan di dalamnya. Tapi di sisi lain, seri ini cukup luar biasa dengan caranya menonjolkan suatu dagashi berbeda sebagai inti cerita di setiap episodenya.

Hampir setiap hari Hotaru mendatangi toko Kokonotsu (yang sering dibuat agak deg dengan kemunculannya). Lalu ia akan mengajukan suatu kuis trivia tentang dagashi yang ia beli pada Kokonotsu dan dua sahabat dekatnya yang kerap main ke sana, saudara kembar dari keluarga pemilik kafe langganan penduduk sana, Endou Tou (laki-laki, sering memakai kacamata hitam dan ingin bisa populer) dan Endou Saya (perempuan, cantik dan kurus, diam-diam sejak kecil telah suka pada Kokonotsu).

Mungkin juga karena para karakternya itu, beragam kejadian yang terjadi bisa benar-benar menghibur karena perkembangannya yang benar-benar konyol. Mulai dari berbagai permainan keterampilan yang Hotaru cetuskan (yang entah mengapa selalu dimenangkan Saya), ramalan yang kadang dipakai oleh Tou, sampai saat-saat ketika Hotaru menderita karena sariawan; benar-benar ada banyak yang terjadi di sepanjang seri ini. Lalu bersama setiap kuis Hotaru, makin terlihat betapa Kokonotsu sebenarnya adalah seorang ahli soal dagashi, yang meski banyak mengeluh, memang benar-benar mewarisi banyak keahlian dan keterampilan dari ayahnya.

Jadi, kalau kau ternyata tipe orang yang bisa suka karakter-karakternya ini, walau perkembangannya minim, kau bakal lumayan nyaman dengan Dagashikashi.

Mencicipi Untuk Jatuh Cinta

Produksi anime Dagashikashi (kalau ditulis ‘daga shikashi’, judulnya juga dapat berarti ‘akan tetapi’) dilakukan oleh studio feel., yang sudah lumayan naik daun semenjak kesuksesan mereka menganimasikan season kedua Oregairu. Sutradaranya adalah Takayanagi Shigehito, yang sebelumnya pernah menyutradarai adaptasi anime Tokyo ESP dan The World God Only Knows. Naskahnya dibuat oleh Kamo Yasuko. Jumlah episodenya sebanyak 12.

Dagashikashi sendiri diangkat dari manga karya Kotoyama yang diserialisasikan di majalah Weekly Shonen Sunday milik Shogakukan semenjak pertengahan 2014. Jadi iya, ini seri yang secara relatif terbilang benar-benar baru. Makanya bisa kumaklumi bila cakupan animenya hanya segini.

Meski sempat merasa aneh karena mengira manga Dagashikashi lebih cocok dianimasikan studio SHAFT (terutama karena gaya gambar mata Kotoyama-sensei yang khas; dan karenanya juga, adaptasi desain karakter oleh Kamimoto Kanetoshi di seri ini termasuk sangat keren), studio feel. benar-benar berhasil melakukan kerja bagus di seri ini. Selain dengan menampilkan visual animasi yang benar-benar enak dipandang, mereka berhasil menampilkan sejumlah momen interaksi karakter yang melarutkan.

Eksekusinya juga termasuk bagus. Terlepas dari isu minimnya perkembangan karakter di atas, tetap rasanya menakjubkan betapa banyak yang bisa digali dari perbincangan seputar dagashi.  Animasi penutup yang bertema Alice in Wonderland, yang mana Hotaru dan Saya ditampilkan menari di dalamnya, punya daya tarik psychadelic yang benar-benar keren tanpa menjadi terlalu fanservice-y. Lalu semua ditunjang dengan musik dan performa para seiyuu-nya yang terbilang bagus.

Aku serius terkesan dengan para seiyuu-nya. Peran kunci Hotaru dipegang oleh Taketatsu Ayana yang kurasa sekarang benar-benar sudah dikenal. Selain menyuarakan Hotaru—yang merupakan karakter yang bisa berkesan bijaksana dan idiot pada waktu yang sama—Taketatsu-san menyanyikan lagu penutup ‘Hey! Calorie Queen’ dengan nada suara benar-benar berbeda. Abe Atsushi, yang paling dikenal dengan perannya sebagai Kamijou Touma dalam seri Toaru Majutsu no Index, menampilkan tingkat keseimbangan antara canggung dan tsukkomi yang pas, yang pada saat-saat tertentu membuat maklum mengapa Saya bisa suka pada karakternya. Tou dan Saya diperankan secara pas oleh dua nama yang sedang naik daun, masing-masing oleh Tatsuhisa Suzuki dan Numakura Manami. Bahkan suara You-chan yang berkesan dalam tapi seringkali enggak penting itu dihidupkan pas oleh suara veteran Fujiwara Keiji.

Pada akhir tahun lalu, aku mengira Dagashikashi akan menjadi ‘kuda hitam’ di musim tersebut. Aku ternyata salah (yang menjadi ‘kuda hitam’ ternyata Konosuba). Tapi tetap saja, Dagashikashi menjadi seri menonjol dengan kualitas produksi yang benar-benar bagus. Memang tak memuaskan. Tapi di sisi lain, termasuk berkesan. Terutama dengan caranya menggambarkan bagaimana sekelompok teman ‘bermain’ tanpa terlalu terikat pada pesona gadget dan social media.

Wow. Memandang ke belakang, musim dingin 2016 kurasa benar-benar musim tayang yang solid.

Pastinya, semenjak mengikuti seri ini, aku jadi semakin menghargai produk-produk lokal yang murah.

Aku serius jadi kagum pada Jepang sebagai negara, bila mereka sampai mampu menumbuhkan nostalgia terhadap produk-produk komersil mereka begini. Itu tandanya mereka punya cinta dan kebanggaan terhadap produk dalam negeri!

Yeah, kualitas, semangat berkarya, dan kerja keras pada akhirnya kayak jadi penentu banyak hal.

(Ini kayak jadi kenyataan yang bikin iri karena kebanyakan pekerjaan di Indonesia kayak enggak banyak mendatangkan kepuasan.)

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A+; Audio: A+; Perkembangan: C; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: B+


About this entry