Musaigen no Phantom World

Aku mengikuti perkembangan Musaigen no Phantom World pertama karena musiknya. Tepatnya, karena lagu pembukanya. Band duo SCREEN mode berhasil membawakan lagu yang selain irama, juga memiliki lirik yang kuanggap menarik.

Alasan kedua, karena di animasi pembuka dan penutupnya ditampilkan seekor anjing bersayap bersama seekor cumi-cumi/gurita/makhluk-bertentakel-entah-apa. Aku penasaran soal peran yang dimiliki dua makhluk ini. Lalu selama menunggu, tahu-tahu saja aku mulai bisa menikmati cerita Phantom World.

Musaigen no Phantom World, atau Myriad Colors Phantom World (‘dunia Phantom yang berjuta warna’), sebenarnya termasuk anime yang menuai kontroversi di musim dingin lalu. Alasannya  karena sebagai anime keluaran studio Kyoto Animation, ceritanya (katanya) tak sebagus anime-anime keluaran mereka sebelumnya. Ini terutama terasa sesudah Hibike! Euphonium yang mendahuluinya beberapa waktu lalu.

Singkatnya, ada banyak penggemar studio ini yang kelihatannya jadi menuai harapan terlalu tinggi, sementara KyoAni sendiri sedang memilih mengerjakan sesuatu yang relatif ringan. Setidaknya, menurut penilaianku sebagai orang awam, terlepas dari ceritanya sendiri, ini masih termasuk seri yang penganimasiannya tereksekusi dengan amat sangat baik.

Jadi kalau misalnya aku yang ditanya, hasil jadi Phantom World memang di luar ekspektasiku. Tapi di sisi lain, aku enggak akan secara blak-blakan sampai ngatain kalau ini jelek juga.

Jadi, yea. Mungkin berkat anjing bersayap dan cumi-cumi/gurita itu, aku berakhir jadi orang yang lumayan bisa menikmatinya.

(Diamlah. Beberapa bulan kemarin aku stres karena kerjaan! Aku emang butuh sesuatu yang ringan!)

Berjumlah total 13 episode dan pertama tayang pada perempat awal tahun 2016 (ketika genre misteri sedang ngetren dan ada banyak pilihan anime menarik), Musaigen no Phantom World diangkat dari konsep novel buatan Hatano Soichirou yang diterbitkan KA Esma Bunko (jadi sejak awal pencetusannya memang telah menarik perhatian pihak KyoAni sendiri) dengan ilustrasi orisinil buatan Shirabi. Penyutradaraannya dilakukan sutradara ternama Ishihara Tatsuya, komposisi serinya dibuat oleh Shimo Fumihiko, dan musiknya ditangani oleh EFFY.

What is reality

Cerita Phantom World berlatar di dunia di mana khayalan dan kenyataan seakan telah membaur, akibat suatu insiden misterius di lembaga penelitian Arayashiki belasan tahun sebelumnya. Phantom adalah istilah untuk menyebut berbagai macam hantu/monster/UMA dan makhluk-makhluk lain sejenis, yang pada awalnya dianggap manusia hanya sebatas ilusi, yang mulai bermunculan dan bisa dilihat dengan mata telanjang semenjak terjadinya insiden itu. Teorinya (kalau tak salah), Phantom-Phantom ini bermunculan dari dalam collective unconciousness manusia, dan bisa tampak dengan mata telanjang sebagai dampak insiden tersebut atas cara kerja sistem saraf kita.

Meski biasanya memiliki hubungan live and let live dengan manusia, terkadang ada Phantom yang keberadaannya memang mengganggu atau bahkan membahayakan. Karenanya, anak-anak dan remaja-remaja yang tahu-tahu didapati berkemampuan khusus semenjak insiden itu dapat berkontribusi membantu Arayashiki dengan bergabung dalam Klub Perbaikan Kesalahan Neural yang ada di tiap sekolah, yang secara khusus menangani masalah-masalah seputar Phantom.

Phantom World berkisah tentang pengalaman-pengalaman siswa kelas satu SMA Ichijou Haruhiko beserta teman-teman sekelompoknya di Perguruan Hosea, dalam menangani berbagai isu seputar Phantom.

Tapi Kalau Kau Ingin Lebih…

Phantom World memang ceritanya tak pernah terlalu serius. Adegan-adegan aksinya juga lebih ke ‘rame’ dan ‘menghebohkan’ ketimbang ‘fantastis’ dan ‘keren.’ Kalau dirangkum, ceritanya memang tak sekeren dan seberbobot bayanganku di awal. Namun entah ya. Ada bagian-bagian tertentu yang buatku sedikit thought provoking, walau sekali lagi, bahasannya tak pernah sampai terlalu serius.

Haruhiko adalah anak remaja yang sangat hobi membaca. Karenanya, ia tahu banyak tentang berbagai hal walau manfaat pengetahuannya secara praktis agak dipertanyakan. Ia tinggal sendiri, dan karenanya, membaca jadi semacam caranya untuk melewatkan keadaan. Di samping itu, ia juga jago menggambar. Kemampuan menggambarnya itu yang jadi kekuatan untuk menghadapi Phantom, sebab lewat buku gambar yang selalu ia bawa:

  • Haruhiko bisa menyegel Phantom manapun yang telah berhasil ia gambar.
  • Sebaliknya, Haruhiko juga nantinya mampu memanggil Phantom-Phantom yang digambarnya ulang untuk membantunya.

Karena benar-benar menikmati membaca, harus diakui, Ichijou juga agak kurang olahraga.

Ada satu Phantom kecil bertipe peri dengan motif tampilan Timur Tengah bernama Ruru, yang karena suatu alasan telah lama mengikuti Haruhiko ke mana-mana. Sifatnya sedikit cerewet, meski karena itu pula ia bisa jadi akrab dengan orang-orang lain di sekeliling Haruhiko.

Ada kakak kelas bernama Kawakami Mai yang menjadi rekan satu tim Haruhiko di klub. Mai-senpai gadis remaja cantik dengan rambut pirang karena ia berdarah blasteran. Sifatnya ramah dan bisa diandalkan. Namun karena kecendrungannya untuk bertindak sebelum berpikir, Mai kesulitan menemukan orang-orang yang cocok bekerja sama dengannya dalam menghadapi Phantom. Selain itu, kemampuannya adalah semacam ilmu bela diri kempo yang dipadukan dengan kekuatan-kekuatan elemen air, tanah, api, dan logam yang ‘ditarik’ dari berbagai titik di dalam tubuhnya. Karena kemampuannya rentan menimbulkan kerusakan pada lingkungan sekitarnya juga, kebanyakan orang enggan bekerja dengannya, dan jadilah di awal cerita, kelompok Mai hanya terdiri atas dirinya dan Haruhiko saja.

Karena suatu alasan, seperti halnya Haruhiko, Mai-senpai pun hidup seorang diri. Lalu balas jasa yang dimintanya dari menangani Phantom di klub selalu adalah kupon-kupon yang bisa ditukar dengan barang kebutuhan pokok.

Lewat perkembangan berbasis karakter, Phantom World mengeksplorasi bertambahnya anggota tim Haruhiko dan Mai-senpai beserta masalah yang dihadapi masing-masing. Mulai dari Izumi Reina, murid pindahan yang manis dan sopan (tapi jago aikido) yang tak bergabung dengan klub karena isu orangtua yang mengekang, sekalipun Reina mempunyai kemampuan untuk ‘melahap’ Phantom. Dikisahkan juga bahwa kakak perempuan Reina pergi meninggalkan rumah dan menghilang. Lalu ke upaya Haruhiko untuk mengajak bergabung Minase Koito, seorang siswi penyendiri dan cool yang menangani Phantom lewat kekuatan suaranya yang dahsyat, tapi tak pernah mau terlibat dengan orang lain. Serta dengan seorang murid SD bernama Kumamakura Kurumi yang boneka beruang miliknya, Albrecht, dapat bergerak sendiri dan memiliki tenaga besar, yang Mai dan Haruhiko ingin ajak bergabung; meski Kurumi memiliki sedikit masalah kepercayaan diri.

Seperti yang kubilang, ceritanya tak pernah terlalu berat atau serius. Suasana visualnya dijaga agar selalu cerah, dan ini terlihat dari desain berbagai Phantom-nya yang beragam; mulai dari konyol dan unik sampai keren, tapi tak pernah sampai benar-benar menakutkan. Penanganan Phantom-nya juga tak melulu diakhiri dengan baku hantam.

Walau demikian, kuperhatikan selalu kayak ada bagian-bagian tertentu dari ceritanya yang kalau mau dibahas, sebenarnya enggak bisa dibahas dengan main-main. Mengangkat tema-tema soal perasaan terlantar yang Haruhiko rasakan karena ditinggal ibunya sewaktu kecil, atau perasaan kompleks Reina yang bisa sampai berpikir kalau keluarganya sebenarnya bukan keluarganya yang asli.

Hal menarik lain adalah bagaimana fenomena-fenomena Phantom—tak seperti bayanganku—tak melulu dimulai dengan bagaimana mereka sekedar muncul lalu berbuat kekacauan. Tapi juga dapat terjadi lewat beragam fenomena ganjil yang ujung-ujungnya mempengaruhi panca indera dan pikiran manusia. Jadi walau perkembangannya tak sedalam ataupun seberbobot yang aku sangka, bagiku hasilnya tetap menarik.

Kenapa Tak Terus Mencari?

Membahas soal teknis… kita membahas KyoAni di sini, jadi sebenarnya tak banyak yang perlu dibahas. Apapun kata orang, ini tetap keluaran mereka yang solid. Kelihatan banget sehebat apa mereka sebagai studio bila karya mereka yang ‘terjelek’ saja bisa sebagus ini.

Dari segi konten, seri ini memang agak berat di fanservice, walau bukan fanservice yang biasanya, lewat banyaknya karakter perempuan di sekeliling Haruhiko yang cantik dan manis. …Entah ya. Sebagai cowok lajang yang telah menginjak usia om-om, aku enggak bisa mengeluh banyak soal ini.

Satu hal menarik lain adalah bagaimana hampir setiap episode dibuka dengan pemaparan Haruhiko dan Ruru soal tema yang akan sedikit diangkat di episode itu. Jadi dari segi isi, karena tema-tema bahasan yang berbeda di tiap episode tersebut, struktur cerita Phantom World benar-benar seperti seri TV. Ada tema demikian di episode ini untuk premis kayak begini; orang-orang yang menghadapinya adalah para karakter utama yang terdiri atas ini, ini, dan ini; lalu terkadang ada ‘karakter tamu’ ini; satu episode sedikit mereferensikan apa yang terjadi di episode berikutnya; terus menjelang akhir season, ada perkembangan situasi genting yang penyelesaiannya menjadi penutup cerita.

Seperti yang kusadari dari Chuunikoi dan Kyoukai no Kanata, karena materi aslinya ada di bawah naungan mereka sendiri, KyoAni kayaknya punya kebebasan lebih juga soal bagaimana adaptasinya akan mereka lakukan. Jadi tidak seperti studio-studio lain yang kalau mengadaptasi cerita dari light novel, mereka melakukannya dengan tujuan utama untuk mempromosikan versi novelnya; KyoAni berbeda. KyoAni mengadaptasinya murni untuk menghasilkan suatu karya anime yang menurut mereka bisa berdiri sendiri. Lalu kalau seri novel yang jadi materi asalnya tetap laku, ya itu jadi pemasukan tambahan buat mereka.

Makanya, dalam hal ini aku merasa kalau kayaknya materi cerita asli di novel karya Hatano-sensei punya bobot lebih besar dalam perkembangan cerita ke depan. Dengan sejumlah subplot seperti kakak perempuan Reina yang hilang atau bagaimana Mai-senpai juga hidup sendiri, serta bagaimana lembaga Arayashiki di animenya hanya disinggung secara selintas, KyoAni mungkin memangkas porsi cerita agak banyak untuk adaptasi anime seri ini. Satu, mungkin karena cerita di novelnya belum membuka jawaban sampai sejauh sana. Dua, mungkin juga karena isu durasi dari sponsornya.

Tapi sekali lagi, itu cuma perasaanku pribadi. Jadi mending jangan terlalu dipermasalahkan.

Terbukalah Dunia Baru!

Ada pelajaran sederhana yang kuperoleh dari mengikuti seri ini: kalau mengembangkan sebuah produk, yang paling perlu kau lakukan bukanlah membuat produk kamu itu bagus, melainkan memastikan bahwa produk kamu memang adalah yang dibutuhkan orang. Kenyataan bahwa aku suka Musaigen no Phantom World, dan tak terlalu mendalami Hibike! Euphonium misalnya, adalah bukti bahwa KyoAni bisa merasakan adanya konsumen yang belum tersentuh oleh produk mereka yang sebelumnya, dan karenanya mereka mencoba sesuatu yang lain.

Oke. Komentar satu itu juga agak terlalu seenaknya. Jadi mending jangan terlalu dimasalahin.

(Gyagh! Kalian para fans Hibike! Euphonium jangan ngamuk! Jangan ngamuk!)

Kesimpulannya, ini jenis seri yang ringan yang kurasa hanya sekedar ‘hidup’ di masanya. Kurasa bukan jenis yang akan dikenang orang, dan karenanya bukan jenis yang akan aku rekomendasikan kecuali kau benar-benar tertarik pada keanehannya.

Tapi yeah, aku menikmatinya. Selama musim kemarin, ini menjadi salah satu hiburanku di hari Kamis bersama satu seri lain yang sempat menonjol di musim itu. Jadi aku tak bisa membencinya.

Oh, soal dua makhluk itu? Yeah, akhirnya terungkap kalau keduanya semacam penggambaran imut dari Marchosias dan Cthulhu. Tapi walau imut, menjelang akhir, wujud mereka yang sesungguhnya terungkap kok.

Penilaian

Konsep: C; Visual: A; Audio: A-; Perkembangan: C+; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: B+


About this entry