The Shut-Ins are Mocking My Youthful Day

Belakangan, penerbit Shining Rose Media (serta beberapa penerbit lain) mulai menerbitkan beberapa karya light novel di Indonesia. Kualitas mereka lumayan bagus.

Salah satu terbitan mereka yang kubaca adalah The Shut-Ins are Mocking My Youthful Day, atau Hikikomori-tachi ni ore no seisyun honrousareteiru karya Hitsugi Yusuke dengan ilustrasi buatan Non (Non yang ini adalah Non yang itu?! Berarti perkembangan gaya gambarnya luar biasa.) Seri ranobe ini aslinya diterbitkan Ichijinsha dan pertama terbit tahun 2013. (Judulnya kira-kira berarti: ‘para orang ansos/negatif/hikkikomori mengejek hari-hari masa mudaku!’)

Judul ini menjadi yang pertama kubaca karena… yah, alasan ringkasnya karena kelihatannya ini bisa cocok denganku. Maksudku, kalian kan tahu tema-tema ranobe bisa seaneh dan sefantastis apa, apalagi dengan ilustrasi di sampulnya. Jadi kalau ada om-om sepertiku membeli dan membawanya ke kassa, aku jadi sedikit prihatin soal imej pribadiku.

Terlepas dari itu, ini seri komedi romantis yang sempat meraih penghargaan pendatang baru saat pertama terbit. Kalau tak salah, seri ini terdiri atas tiga buku. Aku saat menulis ini dengan antusias sedang menanti terbitnya dua buku sisanya. (Kalau misalnya buku keduanya sudah terbit, tolong ada yang kasih tahu. Belakangan aku terlalu sibuk untuk memantau buku-buku terbitan baru.)

Ceritanya pada dasarnya tentang dua sahabat lama, Aoi Haruya dan Mizudori Shihane. Haruya di masa kecil adalah seorang anak berbadan gemuk dan lemah, yang karenanya dijuluki Nick-kun (diambil dari kata ‘nikku’ yang berarti daging). Sedangkan Shihane adalah seorang gadis cantik, pintar, dan populer yang karena suatu alasan, sangat jago berkelahi. Bahkan sewaktu kecil, Shihane memperoleh julukan Huckebein (yang ketika aku pertama baca ini, hanya aku tahu merupakan salah satu mecha orisinil dari seri Super Robot Taisen—itu loh, yang bentuknya mirip Gundam dan ditenagai Black Hole Engine—tapi ternyata sebenarnya merupakan nama sejenis burung), yang merupakan indikasi dirinya sekuat apa.

Seriusan. Intinya, Shihane saking kuatnya kayak seolah-olah bukan manusia. Mungkin selevel dengan duo Onibaku dari Shonan Junaigumi.

Haruya yang telah berulangkali ditolong Shihane dari bullying mengira dirinya akan bisa menjumpai Shihane kembali sesudah SMA. Terutama ketika keluarganya harus pindah dulu, Haruya berjanji pada Shihane akan menjadi orang kuat yang pantas mendampingi Shihane. Kini sesudah remaja, Haruya telah tampan dan langsing karena rajin berolahraga dan latihan karate. Sekilas, dirinya bahkan kelihatan cocok jadi pemeran utama di salah satu seri Kamen Rider. Di tahun keduanya di SMA, Haruya kembali ke kota tempat asalnya sesudah berhasil membujuk kedua orangtuanya bahwa kini ia bisa hidup mandiri.

Karenanya, Haruya benar-benar berasumsi bisa mendampingi Shihane sekarang.

Tapi tidak. Harapannya ternyata nyaris pupus.

Alasannya karena Shihane telah menjadi seorang hikkikomori yang berhenti bersekolah, yang kerjaannya sepanjang hari hanya bermain eroge dan berotak mesum.

Para Penggemar Jersey

Garis besar cerita seri ini adalah tentang upaya Haruya untuk bisa membuat Shihane bersekolah kembali. Berhubung ini cerita komedi, upaya Haruya banyak diwarnai oleh… bermacam kejadian unik dan ajaib, yang membuat kita maklum kenapa Shining Rose Media memberi rating dewasa untuk buku pertamanya.

…Ahaha, yeah. Walaupun tak mencolok dalam hal adegan-adegan fanservice, dalam ceritanya tetap ada lumayan banyak lelucon mesum.

Menyadari hubungan lama Haruya dengan Shihane, wali kelas mereka, Inukai Toono-sensei—yang menjuluki dirinya Beautiful Teacher Inukai karena menyadari sekaligus disadari bahwa dirinya memang cantik—kemudian menugaskan Haruya dan sekaligus memberi dukungan (finansial) padanya untuk membujuk Shihane agar mau bersekolah lagi. Upayanya tentu saja tak berlangsung mudah karena meski tetap cantik, memiliki pembawaan jenius (nilai-nilainya yang sempurna merupakan salah satu pertimbangan kenapa sekolah mempertahankannya), dan masih kuat kalau berkelahi (walau dirinya ternyata tumbuh menjadi pettan), Shihane benar-benar telah menjadi orang yang depresi dan rendah diri.

Untungnya, ibu Shihane masih mengenali Haruya. Makanya ia diberi keleluasaan untuk membantu membujuk putrinya.

Yah, singkatnya, dalam buku pertama ini, ada tiga cerita yang dihadirkan. Satu, upaya Haruya untuk membuka pintu kamar sekaligus pintu hati Shihane (yang berujung dengan klimaks yang diwarnai baku hantam). Kedua, menyusul keberhasilan Haruya membujuk Shihane (meski belajar di sekolah bukan berarti sudah masuk kelas), Inukai-sensei membeberkan dibentuknya Klub Penanganan Hikkikomori khusus untuk Haruya dan Shihane, dengan syarat mereka perlu membujuk seorang murid bermasalah lain, seorang gadis dengan keterampilan artistik tinggi bernama Tanaka Kaizumi yang dilanda chuunibyou akut, yang menjuluki dirinya Haliet Mucus, reinkarnasi Mitsurugi Marianoth Shion yang telah diangkat menjadi walking corpse. Ketiga, saat semua kelihatan sudah lancar, baru kita dibawa kembali ke awal mula kejadian yang membuat Shihane berhenti bersekolah… dalam suatu klimaks yang lagi-lagi melibatkan… yah, mending lihat saja sendiri.

Soal ceritanya sendiri, ceritanya seriusan termasuk menghibur. (Kalau enggak mengangkat alis.)

Enggak penting-penting amat sih. Tapi enak dibaca dan menghibur. (Aku seriusan soal mengangkat alis.)

Iya. Fanservice-nya lumayan ada dari waktu ke waktu.

Yeah, agak tebal dan terkesan mahal untuk ukurannya sih. (Pasti karena ilustrasinya, walau pada tahap ini, ilustrasi buatan Non-sensei masih belum terlalu mencolok.) Tapi seriusan ini termasuk yang kurekomendasikan kalau kalian jenis orang yang tertarik pada genrenya.

Sebelumnya, perlu kuwanti-wanti, kualitas editan dan terjemahannya meski kubilang bagus masih jelas tak sempurna. Kalian tahu bagaimana gaya narasi dan dialog mudah sekali terasa ‘aneh’ sesudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia? Jadi bagi pembawa awam, akan ada banyak hal yang terasa tak wajar gitu (nuansa formal dan informal atau pola baku dan tidak baku, yang tercampur aduk; lalu penggunaan kata ‘aku’ dan ‘saya’ yang terasa random). Tapi kalau kalian memang sudah jadi penggemar seri-seri sejenisnya, terjemahannya sudah lebih dari cukup untuk memberi kalian gambaran soal apa yang terjadi dalam ceritanya. Buat kalian yang paham, lelucon-leluconnya lumayan bisa bikin ngakak. Lalu sesuai dengan sifatnya sebagai light novel, benar kayak ada kemudahan dalam membacanya secara cepat. Dari pengalamanku membaca, halaman demi halaman beneran bisa berganti dengan mudah gitu.

…Aku juga heran kenapa Shining Rose menggunakan istilah ‘parodi’ di berbagai footnotes-nya, dan bukan ‘referensi.’ Tapi hei, mereka menyertakan footnotes saja sudah jadi tanda kalau mereka benar-benar perhatian!

Akhir kata: Yay! Makin banyak ranobe yang terbit di Indonesia!

Kuharap kualitasnya ke depan bakal bisa makin naik. Terutama dalam menumbuhkan minat orang-orang muda untuk membaca, menulis, belajar, dan berkarya.

… …

Tapi iya. Aku juga cemas.

Kurasa bahaya kalau…

Yah. Soal lelucon-leluconnya.

Yah, sudahlah.


About this entry