Kono Subarashii Sekai ni Shukufuku wo!

Kono Subarashii Sekai ni Shukufuku wo! atau Konosuba: God’s Blessing on This Wonderful World! (judulnya kira-kira berarti ‘memberi berkah pada dunia menakjubkan ini!’ atau ‘berkah dewa pada dunia menakjubkan ini!’) menjadi seri anime paling tak terduga(?) pada musim dingin di awal tahun 2016 ini.

Sebelumnya, aku mengira Dagashikashi, yang juga merupakan seri komedi, yang akan menjadi anime paling tak terduga di musim ini. Tapi ternyata aku salah. Yang paling tak terduga ternyata adalah Konosuba. Gelagatnya sebenarnya ada sejak awal diumumkan jajaran nama stafnya. Namun tetap saja, hasil jadinya melampaui perkiraan.

Untuk informasi awal, Konosuba diangkat dari seri light novel berjudul sama karangan Akatsuki Natsume dengan ilustrasi orisinil buatan Mishima Kurone. Seperti kasus beberapa seri terkenal lain, Konosuba pada awalnya dibuat Akatsuki-sensei sebagai web novel yang diserialisasikan di situs Syousetsuka ni Narou (waktu itu beliau memakai nama pena Jitakukeibihei). Serialisasinya berlangsung dari Desember 2012 sampai Oktober 2013, sebelum diterbitkan secara cetak oleh Kadokawa Shoten di bawah label Kadokawa Sneaker Bunko.

Ceritanya kudengar punya perbedaan mencolok antara versi web novel dan light novel di sekitar buku kelima dan keenam. Tapi soal itu lebih baik tak terlalu kita bahas.

Animenya sendiri diproduksi oleh Studio Deen dengan Kanasaki Takaomi (yang sebelumnya menangani Kore wa Zombie desu ka?) sebagai sutradara, naskah oleh Uezu Makoto, dan musik oleh Koda Masato. Episodenya berjumlah hanya 10, dengan produksi untuk season kedua sudah dikonfirmasi saat ini kutulis.

Hai, hai. Kazuma desu.

Singkat cerita, Konosuba berkisah tentang berbagai pengalaman seorang mantan hikkikomori/NEET bernama Satou Kazuma sesudah ia tewas dalam suatu kecelakaan(?) lalu lintas dan dihidupkan kembali (seperti beberapa orang lain sebelum dia) ke sebuah dunia lain untuk menjadi pahlawan yang akan menaklukkan Raja Iblis (Demon Lord/Devil King/apapun sebutannya).

Ada sejumlah hal konyol yang dipaparkan terkait ini. Tapi yang terkonyol terjadi saat Kazuma berhadapan dengan dewi cantik yang menjelaskan padanya soal ini, Aqua. Aqua menawari Kazuma untuk bisa membawa ‘apapun yang diinginkannya’ sebagai bekal ke dunia lain ini. Karena tak bisa memutuskan (dan juga sebal dengan bagaimana lambat laun Aqua kelihatan seperti memandang rendah dirinya karena kelamaan menunggu), Kazuma akhirnya menunjuk Aqua saja sebagai bekal. Lalu tak dinyana, pilihan Kazuma ternyata valid. Aqua pun ‘dicabut’ dari posisinya sebagai dewi dan didamparkan bersama Kazuma ke dunia lain ini.

Meski masih memiliki segala kekuatan sebagai dewi, Aqua segera terkuak merupakan sosok yang manja, egois, dan tak bisa diandalkan (dengan status INT indikator kecerdasan di bawah rata-rata). Saat mencoba mendaftar sebagai petualang (dengan misi untuk mengalahkan Raja Iblis yang telah lama membawa kehancuran dan kekacauan di dunia ini) Kazuma pun mendapati dirinya sebagai sosok yang biasa-biasa saja (meski status INT indikator kecerdasan dan LCK indikator keberuntungan lumayan di atas rata-rata).

Kazuma dan Aqua mencoba membentuk kelompok (party), tapi orang-orang yang bersedia bergabung dengan mereka ternyata hanya seorang archmage bernama Megumin, yang berupa seorang gadis remaja bernama aneh serta pembawaan untuk bersikap chuunibyou karena ia keturunan para Crimson Demon, yang semua orangnya konon memang bersifat seperti itu; serta sesosok perempuan crusader dewasa cantik dan berkesan kuat bernama Darkness.

Tapi segera terungkap bahwa Megumin terobsesi hanya dengan satu mantera, yakni sihir ledakan tingkat tinggi Explosion, dan makanya ia enggan mempelajari sihir lain; ditambah lagi sikap chuunibyou-nya kadang menyebalkan, ditambah lagi lagi kekuatan sihirnya ternyata hanya cukup untuk melepaskan Explosion hanya sekali dalam satu hari, sehingga ia akan langsung tumbang tanpa dapat bergerak sesudah melepasnya sekali.

Lalu Darkness pun ternyata punya pembawaan masokis yang membuatnya berpikir tentang hal-hal yang benar-benar aneh (mesum) setiap kali sedang ada di medan pertempuran. Apalagi, meski daya serangnya sebenarnya tinggi, akurasi serangannya nyaris tak ada. (Setiap tebasan pedangnya hampir selalu meleset.)

Makanya, meski punya teman-teman seperjuangan yang sama-sama berstatistik tinggi, Kazuma mengurungkan rencana untuk menyerang Raja Iblis. Ia berpikir, mungkin lebih baik jika mereka bertahan saja di kota tempat awal para petualang biasa tinggal (sekalipun Aqua menuntut bahwa hanya dengan mengalahkan Raja Iblis, baru dirinya akan bisa kembali sebagai dewi).

Tapi anehnya, bahkan upaya Kazuma untuk hidup damai sehari-hari pun lambat laun tetap saja mengundang perhatian para antek Raja Iblis, dan membawa mereka ke berbagai masalah.

Hari Ini Pun Orang-orang Mengejekku Lagi

Singkat kata, Konosuba bisa dibilang merupakan plesetan dari beragam cerita tentang ‘hidup kembali’ dan ‘tersesat dan terdampar di dunia lain’ yang sedang menjamur dalam tahun-tahun belakangan. Jadi kalau kau asing dengan cerita-cerita begini, mungkin kau akan biasa-biasa saja terhadap Konosuba. Mungkin malah kau akan menganggap ceritanya agak tolol. Tapi kalau kau tak asing, ada kemungkinan lumayan besar kau bakal menikmatinya.

Yang membuat anime Konosuba benar-benar bagus menurutku adalah eksekusinya. Aku dapat kesan aneh kalau para staf dan produsernya kayak menyiasati semua masalah materi cerita dan dana produksi dengan benar-benar lihai, sampai bisa menghasilkan anime dengan kualitas kayak begini. Dialognya berhasil dihidupkan secara kocak, penggambaran leluconnya benar-benar kuat, lalu adegan-adegan fanservice-nya pun (aku mengatakan ini sebagai cowok) patut diacungi jempol.

Soal dialog, kredit besar perlu diberikan pada Amamiya Sora yang berperan sebagai Aqua dan Fukushima Jun sebagai Kazuma. Sosok Aqua yang cengeng, tak mau kalah, tapi juga sebenarnya tak begitu tahu soal apa-apa berhasil dihidupkan secara pas oleh Amamiya-san. Ini terutama menyangkut semua mood swing-nya yang membuatnya terlihat baik hati di satu waktu dan menyebalkan di waktu lain. Tapi peran terbesar di sini ada pada Fukushima-san (mohon tak terbalik dengan Fukuyama Jun yang sangat terkenal dengan perannya sebagai Lelouch di Code Geass), yang berhasil menghidupkan Kazuma sebagai orang yang ‘sadar segala keterbatasannya’ tapi berulangkali juga menjadi ‘orang di belakang layar.’ Ini juga menyangkut sisi Kazuma yang masih pure serta rasa tanggung jawabnya yang lebih kuat dari yang lain.

Fukushima-san sebenarnya pengisi suara lumayan veteran yang selama ini kurang begitu menonjol. Makanya aku lumayan senang saat tahu dia mendapat peran ini.

Seperti yang bisa diharapkan dari Kanasaki-san sebagai sutradara, penggambaran lelucon yang elaborate (yang bisa berlangsung sampai beberapa menit) ada di seri ini.

Lalu adegan-adegan fanservice-nya itu bukan adegan-adegan yang suka tiba-tiba ada karena mesti terjadi’ gitu, tapi jenis yang dihadirkan sedemikian rupa dengan maksud tertentu karena memang adegannya menyatu dengan lelucon. Di satu episode tertentu, hasilnya benar-benar kocak.

(Ngomong-ngomong, karakter favorit fans sudah terbukti adalah Megumin.)

“Makanya, aku tanya, Destroyer itu apaan!?”

Aku berpendapat kualitas eksekusi Konosuba terbilang bagus karena aku sempat membaca terjemahan novel untuk buku pertamanya. Lalu aku bilang bagus karena meski sudah tahu tentang sejumlah leluconnya, melihatnya lagi dalam bentuk anime tetap berhasil membuatku ketawa.

Ada sedikit perasaan kurang puas begitu seri ini berakhir, mungkin dikarenakan keterbatasan jumlah episodenya. Di samping itu, cour ini memang hanya mengadaptasi cerita dari dua buku pertamanya saja (yang di dalamnya Kazuma dan kawan-kawannya sama-sama berhasil menyelamatkan orang-orang tapi ujung-ujungnya malah dituntut ‘pertanggungjawaban’ untuk berbagai hal…) yang notabene membuat ceritanya berakhir menggantung. Tapi kabar akan adanya episode OVA sekaligus season kedua sedikit mengobati kekecewaan itu.

Ada beberapa karakter lain yang menonjol (yang sayangnya tak tampil lebih banyak), seperti: Wiz, mbak-mbak penjaga toko yang cantik dan baik hati, tapi nyatanya tanpa sepengetahuan umum sebenarnya adalah undead lich yang menjadi salah satu jendral sang Raja Iblis, hanya saja dia maunya memang jadi mbak-mbak penjaga toko saja; Chris, seorang thief teman Darkness yang menemaninya mencari teman sekelompok, yang kemudian memberi Kazuma kemampuan melakukan Steal yang menjadi salah satu jurus andalan Kazuma; serta Eris, dewi manis yang menjadi junior Aqua, yang menjadi sasaran kedengkian Aqua karena memiliki pengikut lebih banyak meskipun kedudukan Aqua lebih tinggi darinya. Tapi mending aku enggak terlalu membahas soal mereka agar tak spoiler.

Soal visual, seri ini menampilkan nuansa cerah yang seakan menonjolkan dunia fantasinya yang penuh warna. Meski tak banyak, desain monster-monsternya terbilang menarik. Lalu saat ada sihir atau keterampilan yang digunakan, efeknya benar-benar keren. Ada beberapa bagian ketika penggambaran karakternya bagi beberapa orang agak aneh, tapi ini tak terlalu terasa dalam keadaan bergerak karena tetap menampilkan perkembangan adegan secara benar-benar luwes.

Audionya pas. Baik lagu pembuka dan penutupnya berkesan. Tapi yang benar-benar membuatnya kuat memang akting para seiyuu-nya.

Ngomong-ngomong kalau kalian memperhatikan terjemahan lirik versi lengkap lagu penutupnya, “Chiisana Boukensha”, yang dinyanyikan bersama oleh seiyuu ketiga heroine-nya, mungkin kalian akan merasa isi lagunya sedikit menyakitkan. Makanya, aku benar-benar salut dengan pembuatan animasi penutupnya. Ide membuat timelapse yang menampilkan keseharian kota tempat Kazuma dan kawan-kawannya tinggal benar-benar bagus dan membuat lagunya semakin berkesan.

Akhir kata, ini seri anime komedi yang paling menonjol di musim dingin 2016. Ceritanya tak bisa dibilang bagus-bagus amat, tapi ini menjadi salah satu seri yang paling menghibur dan paling banyak diikuti pada masanya.

Ada spin off yang sudah dibuat (seperti cerita prekuel yang dibintangi Megumin). Makanya kurasa popularitas seri ini belakangan sedang naik.

Yang paling kusuka dari seri ini: “Bahkan seorang dame ningen kayak Kazuma aja bisa punya rasa tanggung jawab, masa kamu enggak!”

Penilaian

Konsep: C+; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: B; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: A

 


About this entry