Aura: Maryuin Kouga Saigo no Tatakai

Sesekali, aku perlu menulis sesuatu secara cepat. Jadi untuk kali ini, aku akan menulis soal ini.

Aura: Maryuuin Kouga Saigo no Tatakai (judulnya kira-kira berarti ‘Aura: perjuangan terakhir Maryuin Kouga’), atau yang juga dikenal dengan judul Aura: Maryuin Koga’s Last War, merupakan film animasi layar lebar keluaran tahun 2013 yang diangkat dari light novel berjudul sama buatan Romeo Tanaka yang aslinya diterbitkan tahun 2008. Seperti yang sebelumnya pernah aku singgung, aku punya perasaan agak gimanaa gitu terhadap karya-karya Romeo Tanaka-sensei, dan itu menjadi sebab utamaku memeriksa film layar lebar ini.

Alasan lainnya karena penyutradaraannya dilakukan oleh Kishi Seiji, dengan komposisi seri yang dibuat Uezu Makoto serta naskah buatan Kumagai Jun. Produksinya dilakukan oleh AIC A.S.T.A. dan susunan staf produksinya waktu itu menurutku benar-benar solid. Durasinya sendiri sekitar satu setengah jam.

Langsung saja ke intinya. Film layar lebar ini punya dua tokoh utama: Satou Ichirou yang disuarai oleh Shimazaki Nobunaga, dan teman sekelasnya(?), Satou Ryoko, yang dihidupkan lewat suara lembut khas milik Hanazawa Kana. Pada dasarnya, film ini bercerita soal bagaimana mereka bertemu dan saling mengenal.

Inti ceritanya adalah… lagi-lagi, tentang chuunibyou.

Dragon Terminals

Sebelumnya mesti kuakui, mulanya, aku enggak tahu kalau tema cerita ini adalah tentang chuunibyou. Aku bukan penggemar seri Chuunibyo demo Koi ga Shitai! (aku mengerti kalau seri itu bagus, jadi tolong jangan pukul aku) yang di sekitaran waktu itu sedang populer season pertamanya. (Buat yang agak lupa, itu keluar di tahun 2012.) Karenanya, pas melihat sendiri filmnya, aku kaget karena ini lagi-lagi cerita tentang anak-anak remaja yang harus bisa membedakan mana dunia nyata dan mana dunia khayalan mereka.

Aku semula malah mengira Aura adalah seri bertema sains fiksi yang mengisahkan tentang bagaimana Ichirou, si tokoh utama, mendapati sekolahnya ternyata tempat bersemayamnya gerbang-gerbang ke dunia lain saat ia tanpa sengaja pada suatu malam melihat Ryoko berkeliaran di dalamnya. Ceritanya kemudian berkembang lagi dan lagi, saat kita menyelami lebih banyak ke latar belakang pribadi Ichirou dan Ryoko. Tapi sebelum sampai ke sana, aku benar-benar sempat heran sendiri.

Aku sempat kecewa begitu menyadari ini. Tapi pas menjelang akhir, aku enggak bisa enggak sedikit menyukainya, karena suatu alasan yang enggak begitu kupahami pada saat itu.

Setelah kupikir beberapa waktu kemudian, alasannya karena berbeda dari Chuunikoi yang notabene merupakan komedi romantis, Aura adalah cerita drama yang meski punya beberapa adegan (komedi?) yang bikin “Hah?”-nya, penggarapannya terus terang lebih berbobot dan serius. Ceritanya… bernuansa sedikit lebih suram, gelap, dan lebih to the point.

Mungkin juga itu karena cara pembawaan di materi aslinya yang dibuat Romeo Tanaka. Itu yang kumaksud. Kayak, ada sesuatu yang selalu membuatku penasaran pada cara penceritaan beliau, meski di akhir, cerita jadinya enggak selalu bisa kusukai.

Ada seorang temanku yang kebetulan melihat ini di waktu kurang lebih sama denganku. Lalu di akhir, dia membenci film ini. Mengenal temanku yang sifatnya memang serius, aku enggak kaget dengan reaksinya ini sih. Tapi memikirkannya belakangan, aku jadi sadar: pesan yang disampaikan film ini kayaknya memang bisa disalahpahami/disalahartikan, dan karena itu juga film ini tak terlalu dikenal?

Baliknya, mungkin ke soal apa kita tunduk pada pengharapan orang lain atau enggak. Tapi entah ya.

Kalau bisa, aku tak ingin terlalu berdebat soal pesannya, dan lebih ingin menekankan kalau ada sesuatu yang ‘kudapat’ dari film ini ketimbang sebaliknya.

Menara Meja

Bicara soal teknis, sekali lagi, ada nuansa ‘suram’ yang film ini tampilkan. Mungkin karena kuatnya nuansa kelabu yang ada dalam visualnya, yang berupaya menonjolkan nuansa keseharian yang biasa. Di sisi lain, ada kesan kuat yang diperlihatkan pada adegan-adegan ‘menakjubkan’ ketika Ryoko muncul, serta pada desain karakternya sendiri. Tapi meski tak benar-benar ada yang bisa dibilang jelek, kalau dipikir ulang, secara umum animasi visualnya tak kuat juga. Meski demikian, sekalipun jumlah karakter yang bernama notabene agak banyak, fokus selalu kayak berhasil terarah pada Ichirou dan Ryoko. Jadi karenanya, aku cuma bisa bilang hasilnya beneran efektif.

Suara Hanazawa-san sebagai Ryoko di sini seriusan juga menjadi daya tarik bagi sebagian orang. Soalnya, ini salah satu perannya di mana ia memperlihatkan suara lembut khasnya yang telah membuat banyak penggemar jatuh hati.

Satu hal lain yang patut kusinggung, lagu penutup “Bokura no Sekai” ternyata dinyanyikan CooRie, yang sebelumnya lumayan banyak terdengar pada pertengahan dekade 2000an lewat lagu-lagunya di Midori no Hibi dan School Days. Rasanya agak mengejutkan mendengar suaranya lagi.

Akhir kata, ini film anime yang termasuk solid kalau kalian suka tema-tema drama remaja begini. Tak terlalu ringan dan tak terlalu berat juga, dengan cerita yang langsung tuntas dengan sekali jadi. Untuk kalian yang tertarik dengan tema-tema begini (atau kalau kalian sepertiku, tertarik dengan karya-karya Romeo Tanaka), kusarankan untuk kalian memeriksanya.

Eh? Terus Maryuin Kouga yang ada di judulnya itu siapa?

Ah, itu sosok di masa lalu Ichirou yang harus dipanggilnya kembali untuk satu pertempuran terakhir di masa sekarang.

(Eh? Soal aura? Kalo ga salah itu sesuatu yang disinggung tokoh utamanya sebagai sesuatu yang dapat membedakan mana orang normal dan mana yang bukan.)

Penilaian

Konsep: C+; Visual: A; Audio: A-; Perkembangan: B; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A-

 

 

 


About this entry