Rakudai Kishi no Chivalry

Selain pemanah, aku juga pernah menganggap konsep ksatria berbaju zirah itu benar-benar keren.

Mereka melindungi orang-orang lemah. Mereka bertindak mengikuti kode etik kehormatan yang mengikat. Lalu baju zirah yang mereka kenakan memberi mereka ‘ketahanan’ melampaui manusia biasa. Kayak, kau tahu, Iron Man.

Romantismeku soal ksatria berzirah tentu saja luntur ketika aku belajar lebih jauh tentang sejarah. (Juga, sesudah mengikuti A Song of Ice and Fire karya G. R. R. Martin.) Lalu pada titik ini aku nyadar kalau aku mungkin enggak jauh bedanya dari Kinoko Nasu, Raiku Makoto, dan banyak pengarang Jepang lain yang dengan seenaknya meromantisasi Inggris sebagai negara para ksatria.

Aku teringat kembali akan semua hal di atas sesudah mengikuti perkembangan anime Rakudai Kishi no Chivalry, yang terang-terangan menyebut soal ‘ksatria’ di judulnya. (subjudulnya: A Tale of the Worst One, kira-kira berarti ‘kisah dia yang terburuk’)

Hal yang terlintas di kepalaku: para ‘ksatria’ di sini hampir enggak ada yang pakai armor. Lalu kenyataan tersebut sempat membuatku terdiam untuk beberapa lama.

Terlepas dari itu, Rakudai Kishi no Chivalry (‘chivalry’ ditulis sebagai ‘eiyuutan’, dan karena cara bacanya, kadang judulnya salah ditulis/baca sebagai Rakudai Kishi no Cavalry), atau Chivalry of a Failed Knight (‘kehormatan seorang ksatria gagal’, walau dari cara penulisan aslinya, arti judul yang dimaksudkannya adalah ‘kisah-kisah kepahlawanan seorang ksatria gagal’), berawal dari seri light novel karya Misora Riku dengan ilustrasi yang dibuat Won. Seri ini diterbitkan di bawah label GA Bunko milik penerbit SB Creative sejak pertengahan 2013, dan terbilang berhasil punya pangsa penggemarnya sendiri.

Animenya dibuat studio Silver Link (dengan dibantu Nexus) dan mengudara belum lama ini di cour terakhir tahun 2015. Oonuma Shin yang menyutradarainya dengan dibantu Tamamura Jin. Sedangkan Yasukawa Shogo menangani naskah.

Ada adaptasi manganya juga yang keluar agak lebih awal, dibuat oleh Soramichi Megumu, dan diserialisasikan di Gangan Online milik Square Enix. Saat ini kutulis, manganya telah terbit sebanyak 5 buku.

Tidak Naik Kelas

Cerita Rakudai Kishi no Chivalry berlatar di dunia di mana manusia-manusia berkekuatan supernatural yang disebut Blazer mampu memanifestasikan senjata-senjata yang disebut Device dari dalam jiwa mereka. Mereka yang diakui sebagai ‘ksatria’ kemudian dapat berpartisipasi dalam ajang pertandingan prestisius yang disebut Seven Star Sword Art Festival, yang diadakan oleh tujuh Akademi Mage Knight paling terkemuka di Jepang, untuk menentukan siapa Apprentice Knight terkuat yang akan bergelar Seven Star Sword King.

Garis besar ceritanya sendiri seputar Kurogane Ikki, siswa Blazer F-rank dari Perguruan Hagun, yang pada tahun sebelumnya, secara tidak adil dilarang turut serta dalam pertandingan. Alasan yang diberikan adalah karena kekuatan sihirnya hanya F-rank. Padahal kemampuan bela diri Ikki sebenarnya lebih dari cukup untuk mengimbangi keterbatasan kekuatan sihirnya itu.

Ditambah lagi, ada situasi rumit lain yang mempersulit turut sertanya Ikki dalam pertandingan (yang terkait dengan latar belakang keluarga Kurogane dari mana Ikki berasal). Tapi semua itu berubah pada tahun ajaran baru, seiring dengan pergantian administrasi di Hagun, yang ditandai dengan pertemuan pertama Ikki dengan teman sekamarnya yang baru, Stella Vermilion, seorang Blazer A-rank yang sekaligus merupakan putri (beneran) dari Kerajaan Vermilion.

Singkat ceritanya kurang lebih begitu.

Premis cerita Rakudai Kishi no Chivalry sekilas terkesan sederhana. Ikki, dengan ditemani Stella yang nanti menjadi teman terpercaya serta kekasihnya, harus berjuang pada kesempatan barunya untuk mengikuti ajang Seven Star Sword Art Festival ini.

Ini seri aksi fantasi ala LN yang biasa ‘kan? Jenis yang sesekali diselingi fanservice? Sudah ada banyak seri macam begini! Tapi nyatanya, Rakudai Kishi no Chivalry ternyata berakhir menjadi salah satu adaptasi LN langka yang melampaui perkiraan orang.

Yeah, hasilnya secara umum disepakati lebih bagus dari perkiraan.

Adaptasi animenya dengan lumayan setia mengangkat cerita dari buku pertama sampai ketiga. Garis besarnya kurang lebih memaparkan perjuangan Ikki untuk lolos dari babak penyisihan di Hagun, dan membuktikan pada semua orang bagaimana dirinya sosok yang patut diperhtungkan.

Let’s Go Ahead

Perjuangan untuk membuktikan diri adalah tema klasik yang menarik untuk diangkat. Jujur saja, aku sampai sekarang masih yakin kalau justru itu sebenarnya yang membuat Naruto terkenal. Rakudai Kishi no Chivalry kembali mengangkat tema ini, dengan berulangkali memperlihatkan bagaimana Ikki ditempatkan dalam situasi-situasi tak adil. Tapi walaupun begitu, Ikki dengan tekad luar biasa selalu berhasil melampaui semua tantangan itu.

Sebenarnya, ini seri yang sempat agak malas kubahas berhubung ada sejumlah hal di dalamnya yang membuatku enggak sreg (seperti animasi lagu penutupnya, misalnya). Tapi di sisi lain, ada banyak hal di dalamnya yang sedemikian melampaui perkiraan sehingga aku tetap merasa seri ini baiknya aku ulas.

Anime Rakudai Kishi no Chivalry juga menampilkan adegan-adegan aksi yang benar-benar keren. Meski bobot aksinya mungkin tak sebanyak itu, koreografi semuanya benar-benar keren.

Hal ini tercermin dalam animasi pembukanya yang dibawakan dengan nuansa gekiga, diiringi suara vokal Sakai Mikio yang sudah lama sekali enggak kudengar dalam suatu anisong. Kalau kau perhatikan, ada tiga variasi untuk animasi pembuka ini, sesuai jumlah buku yang diangkat dari seri novelnya. Lalu cara pengarahannya memberikan kesan yang benar-benar kuat.

Sebelum animenya keluar, terjemahan LN-nya yang dibuat fans termasuk salah satu yang sempat kulihat. Lalu sejujurnya, alasan pertama aku tertarik dengan Rakudai Kishi no Chivalry sama sekali tak ada hubungannya dengan soal ksatria, aksi, atau lainnya. Alasannya karena pas aku secara iseng membaca terjemahan novelnya itu, aku berhasil dibuat tertawa ngakak oleh leluconnya yang paling pertama.

…Leluconnya agak fanservice-y, jadi tak akan kusinggung biar enggak spoiler.

Tapi dari sana, lambat laun ceritanya memperkenalkan kita kepada para tokoh dan karakternya. Terlepas dari deskripsi karakter Stella yang mungkin agak wish fulfillment, para karakter utama seri ini ternyata memang benar-benar simpatik. Ikki sangat pekerja keras dan pantang menyerah. Adik perempuannya yang A-rank seperti Stella, Kurogane Shizuku, meski di awal berkesan aneh, digambarkan sangat menyayangi kakaknya karena menjadi saksi semua kerja keras Ikki sekaligus semua ketidakadilan yang ditimpakan padanya. Lalu karakter teman sekamar Shizuku, Arisuin Nagi alias Alice, yang merupakan laki-laki yang merasa jiwanya perempuan, juga menjadi karakter tak biasa dengan caranya menempatkan diri di garis-garis tepi, membuatnya perhatian terhadap hal-hal yang tak disadari oleh kebanyakan orang lain.

Karakter-karakter lawan utama yang perlu Ikki hadapi selama ajang penyisihan di Hagun meliputi Kirihara Shizuya, rival lamanya dari tahun sebelumnya; Ayatsuji Ayase, seorang kakak kelas yang ternyata menjadi pewaris ilmu pedang dari orang yang pernah diidolakan Ikki, serta Toudou Touka, siswi yang telah diakui sebagai ksatria terkuat yang pernah dimiliki Hagun.

Intinya, karakterisasi seri ini di luar dugaan benar-benar tak biasa. Memang masih agak hit or miss buat sebagian orang. Tapi untuk seri-seri aksi/fantasi/komedi/adaptasi LN sejenisnya, para karakter di Rakudai Kishi no Chivalry memang terbilang gampang disukai, dan itu menjadi kekuatan seri ini yang terbesar.

Sedikit catatan biar tak lupa:

  • Kusakabe Kagami, siswi berkacamata yang menempatkan diri sebagai wartawan koran sekolah Hagun, dan selalu bekerja keras untuk bisa mendapat scoop.
  • Shinguuji Kurono-sensei, yang dulu pernah menempati peringkat ketiga sedunia, sekaligus kepala sekolah Hagun yang baru. Dirinyalah pribadi yang memberikan kesempatan baru bagi Ikki, dengan syarat bahwa Ikki harus dapat memenagi seluruh pertandingannya. Ia juga yang memecat seluruh staf yang terlibat penghalangan Ikki pada tahun sebelumnya.
  • Oriki Yuri-sensei, wali kelas Ikki yang pertama memberi Ikki kesempatan untuk bersekolah di Hagun. Karena kondisi fisiknya, ia akan memuntahkan seliter darah setiap hari.
  • Kurashiki Kuraudo, alias Sword Eater, seorang saingan Ikki dari sekolah lain.

Takkan Kubiarkan Siapapun Membantah Identitasku

It’s kinda weird.

Rakudai Kishi no Chivalry karena suatu sebab, tayang pada musim yang sama dengan anime Gakusen Toushi Asterisk yang memiliki banyak sekali kemiripan dengannya. Ini sebenarnya cerita tak asing buat mereka yang kebetulan sedang ‘aktif’ mengikuti perkembangan anime di musim bersangkutan, tapi kayaknya ini tetap patut kusinggung.

Berhubung aku sama-sama mengikuti perkembangan terjemahan versi LN dari keduanya, aku sudah lama menyadari kemiripan antara kedua seri ini. Tapi bagaimana keduanya kemudian tayang di musim yang sama, dengan kemiripan tema, dan sebagainya, seriusan memberikan kesan kalau kedua seri ini sedang ‘diadu.’

Beberapa kemiripannya antara lain:

  • Sama-sama mengetengahkan tentang suatu ajang pertandingan yang para pesertanya saling bertarung dengan kekuatan-kekuatan khusus.
  • Memiliki tokoh utama perempuan seorang putri, yang berambut merah, dan memiliki kekuatan api.
  • Lagu pembuka yang dibawakan sama-sama mengandung frasa ‘brave new world
  • Sama-sama dibuka dengan adegan pertemuan berbau fanservice yang sejenis.

Sekali lagi, kalau ini kebetulan, ini kebetulan yang seriusan aneh. Mungkin ini contoh nyata kalau collective unconciousness umat manusia yang dikemukakan Carl Jung memang benar-benar ada.

Terlepas dari itu, secara pribadi, aku berpendapat kalau Gakusen Toushi Asterisk mempunyai cerita dan pembangunan dunia lebih bagus, tetapi Rakudai Kishi no Chivalry lebih unggul dari segi karakter. Makanya saat dibawa ke bentuk anime, terasa bagaimana Rakudai Kishi no Chivalry sepertinya yang lebih bagus di antara keduanya, meski mungkin penilaian ini agak kurang adil berhubung cakupan cerita Asterisk lebih panjang dan durasinya sejak awal direncanakan sebanyak dua cour.

Pastinya, aku awalnya tak berharap banyak pada seri ini. Pada bagian-bagian komedi dan fanservice-nya, tanggapanku juga lumayan biasa. Tapi kemudian aku tersadar betapa ada bagian-bagian tertentu yang berhasil membuatku agak berpikir. Pertamanya, pada adegan-adegan saat Ikki dan Stella berusaha memperjelas keinginan dan perasaan mereka terhadap satu sama lain. Tapi lalu juga pada bagian-bagian ketika Ikki sampai tertelan oleh kelemahan mentalnya sendiri saat berhadapan dengan trauma lamanya; atau ketika ia pada satu titik mulai meragukan kata-kata yang pernah disampaikan Kurogane Ryoma, kakek buyut yang dulu mengajarkannya untuk tak pernah menyerah dan selalu bersikap kuat.

Di akhir, aku benar mesti mengakui kalau seri ini termasuk bagus.

Mereka enggak bercanda. Kalau misalnya aku mau merekomendasikan suatu anime adaptasi LN untuk mereka yang awam dengan genre ini, Rakudai Kishi no Chivalry benar-benar jadi satu pilihan yang ideal.

Dalam Satu Serangan

Adaptasi animenya sekali lagi, berakhir pada sekitaran cerita buku ketiga, tatkala Ikki akhirnya diakui sebagai orang terkuat di Hagun, yang menjadi perwakilan mereka di ajang Seven Star Sword Art Festival. Ceritanya berakhir dengan nuansa positif, dan secara pas menutup character arc yang dijalani Ikki di sepanjang ceritanya.

Tamatnya sebenarnya agak mengejutkan buatku. Selaku pemerhati anime-anime adaptasi LN, instingku seperti mengingatkan ada sesuatu yang enggak biasa.

Lalu pas kuperiksa terjemahan novelnya, ternyata benar juga. Tamatnya agak beda, berhubung cerita pada buku keempatnya akan langsung nyambung dengan bagian cerita berikutnya yang mulai memaparkan tentang masa lalu Alice. Lalu dari sana, ceritanya akan menyambung lagi dengan pembeberan jati diri Kurogane Ouma, kakak lelaki Ikki dan Shizuku yang di masa lalu menghilang tanpa jejak.

Perkembangannya, yang kali ini berlatar di ajang pertandingan Seven Star Sword Art Festival yang sesungguhnya, terbilang menarik. (Ada juga pemaparan soal Edelweiss, Blazer terkuat di dunia yang seorang kriminal, tapi karena saking kuatnya ia tak tersentuh oleh hukum.)

Yah, perkembangan novelnya juga belum kuikuti lagi sih. Jadi biar soal itu kubahas lain kali.

Hmm, apa bakal ada season keduanya atau enggak?

Yah, kayaknya enggak sih. Tapi kita selalu bisa terus berharap.

(Eh? Aku enggak ngebahas sama sekali soal kekuatan para tokohnya? Iya juga ya. Yah, sekali ini enggak usah deh.)

Penilaian

Konsep: C; Visual; A-; Audio: B+; Perkembangan: B+; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A


About this entry