Shinmai Maou no Testament

Shinmai Maou no Testament (‘testament’ juga ditulis ‘keiyakusha’, artinya kira-kira ‘perjanjian’ atau ‘kontrak’; ‘shinmai maou’ kira-kira ‘adik-adik perempuan yang menjadi raja iblis/sihir’), atau yang juga dikenal dengan judul The Testament of Sister New Devil, berawal dari seri light novel karangan Uesu Tetsuto (yang sebelumnya mengarang Hagure Yuusha no Aesthetica) dengan ilustrasi buatan Oukuma Nekosuke (yang untuk musim depan juga membuat desain karakter Hundred). Penerbitannya dilakukan di bawah label Kadokawa Sneaker Bunko milik penerbit Kadokawa Shoten, diterbitkan mulai tahun 2012, dan masih belum tamat saat ini kutulis.

Kayak yang mungkin kalian udah tahu, Shinmai Maou no Testament adalah seri aksi fantasi harem dengan porsi fanservice lumayan banyak. Seri ini kurang lebih sejenis dengan High School DxD. Dalam artian, juga menonjolkan aksi-aksi pertarungan mirip yang ada di komik-komik cowok selain aspek ‘itu’-nya. Malah, Shinmai Maou no Testament dianggap ‘lebih serius’ dalam hal ini, sampai ada bahkan menyebutnya ‘borderline hentai.’

Jadi, buat kalian yang sangat anti atau belum cukup umur, aku serius menyarankan untuk menjauhi seri ini.

…Seriusan serius.

Adaptasi animenya dibuat pada awal tahun 2015 sebanyak 12 episode (+1 episode OVA) oleh Production IMS. Lalu ini segera disusul oleh season keduanya pada Oktober 2015, berjudul Shinmai Maou no Testament BURST, yang berjumlah sebanyak 10 episode (+1 episode OVA lagi). Penyutradaraannya dilakukan Saito Hisashi. Naskahnya ditangani Yoshioka Takaou untuk musim pertama, dan Uetake Sumio untuk musim kedua.

Keluarga Baru

Shinmai Maou no Testament dibuka dengan perkataan Toujou Jin, seorang fotografer profesional yang single parent, kepada anak lelakinya yang remaja, Toujou Basara, kalau dirinya akan menikah lagi. Jin menyebutkan calon istrinya yang baru sudah punya dua anak perempuan yang lebih muda dari Basara dari perkawinannya sebelumnya. Lalu Jin berkata bahwa berhubung selama ini Basara ingin punya adik perempuan, maka harusnya dia senang ‘kan? Mengingat selama ini mereka hidup hanya berdua, pengumuman ini lumayan mengejutkan Basara. Meski sedikit kebingungan, ia menghormati keputusan ayahnya.

Sampai tiba hari ketika ia dipertemukan dengan dua calon adik perempuannya yang baru: Naruse Mio yang sebaya Basara, dan Naruse Maria, yang terlihat berusia anak-anak namun bersikap lebih ramah dan terbuka.

Ibu Mio dan Maria dikabarkan sedang dinas di luar negeri, jadi untuk sementara mereka belum bisa bertemu. Tapi untuk sementara, Mio dan Maria akan mulai tinggal serumah dengan Jin dan Basara. Bahkan sampai Jin mengatur agar ia dan Basara pindah ke kota mereka, dan Basara bisa pindah sekolah ke sekolah Mio.

Semua berlangsung lancar-lancar saja. Sampai hari ketika Jin tiba-tiba perlu pergi karena tugas dinas ke tempat jauh.

Pada Basara, Mio dan Maria tiba-tiba mengungkapkan kalau mereka sebenarnya bukan manusia, melainkan mazoku (iblis, kaum sihir). Semua rencana soal pernikahan itu hanya tipuan. Ibu Mio dan Maria sejak awal tak ada. Jin selama ini sebenarnya berada di bawah pengaruh hipnotis. Memperlihatkan kekuatan sihir mereka pada Basara, keduanya lalu mencoba mengusir Basara dan mengambil alih rumahnya.

Tapi… Basara dan ayahnya ternyata juga bukan manusia biasa.

Basara mampu bertahan dari kekuatan sihir mereka. Lalu semula ia marah. Tapi ia berubah pikiran begitu mengetahui situasi yang Mio dan Maria hadapi dari mulut ayahnya sendiri.

Melindungi Apa yang Berharga Bagimu

Singkat cerita, sesudah Mio dan Maria terungkap bukan manusia, Basara dan ayahnya juga terungkap kalau sebenarnya mereka dulu pernah menjadi bagian dari Suku/Klan Pahlawan, suatu kaum manusia yang telah dipercaya langit untuk menjaga kedamaian bumi dari kaum mazoku. Tapi karena suatu alasan, Basara dan Jin sudah tidak menjadi bagian dari klan tersebut lagi.

Mio ternyata keturunan langsung dari Demon Lord/Maou Wilbert yang belum lama itu meninggal dunia. Kenyataan bahwa dirinya putri dan anak satu-satunya dari Wilbert adalah hal yang belum lama itu juga baru Mio ketahui sendiri. Kedua orangtua Mio, yang semula ia kira hanya orang-orang biasa, ternyata bukan orangtuanya yang asli, melainkan dua orang kepercayaan Wilbert yang telah dipercaya untuk membesarkan Mio.

Semasa hidupnya, meski berkekuatan dahsyat, Wilbert ternyata pemimpin kaum mazoku yang toleran. Dirinya turut memprakarsai perdamaian antara kaum manusia langit dan kaum pahlawan. Karena itu, sepeninggal Wilbert, timbul kekosongan kekuatan di dunia iblis/sihir yang dapat mengacaukan perdamaian antara ketiga pihak.

Masalah terbesar: kekuatan sihir mendiang Wilbert telah ditransfer sepeninggalnya ke Mio. Lalu kekuatan dahsyat yang masih belum termanifestasi sepenuhnya tersebut dapat diambil alih, andai Mio sampai tertangkap pihak-pihak yang menginginkan kekuatannya (yang diduga diutus oleh Maou yang menjabat saat ini).

Padahal, Mio tak menginginkan semua warisan ini. Ia tak ingin tahta Wilbert. Apa yang diinginkannya semula hanya hidup damai bersama keluarganya. Namun kedua orangtua angkatnya pun kini telah meninggal, dan satu-satunya orang yang Mio punya hanyalah Maria, utusan pihak Wilbert yang kemudian membeberkan semuanya padanya.

Menyadari maksud Jin yang berpura-pura untuk jatuh ke perangkap Maria dan Mio, Basara akhirnya bersedia mengambil alih peran sebagai pelindung mereka berdua. Terutama, selaku posisinya sebagai kakak baru mereka.

Sementara itu, Jin ternyata melakukan perjalanan untuk membereskan akar konflik ini, seorang diri ke dalam dunia iblis/sihir.

Hingga Suaramu Hilang

Mungkin ini kedengeran aneh, tapi yang pertama kulihat dari suatu seri fanservice bukan ceweknya, melainkan cowoknya. Kalau karakter utama cowoknya bisa kutolerir, itu biasanya pertanda kalau keseluruhan seri tersebut juga akan bisa kutolerir. (Yang kubicarakan di sini seri fanservice untuk cowok ya. Jadi, uh, tolong jangan salah paham dengan mengira kalau aku suka bishonen.)

Intinya, Shinmai Maou no Testament termasuk seri seperti itu. Basara bukan hanya bisa kutolerir. Dari sudut pandang tertentu, dia bahkan terlihat keren. ‘Keren’ dalam artian maskulin. Enggak lembek. Karena merasa ini hal enggak lazim, hal tersebut menjadi daya tarik pertama seri ini buatku.

Ditambah lagi, berhubung aku punya bawaan buat suka tema-tema kepahlawanan ala Dragon Quest, pembeberan konflik yang terjadi juga menjadi kejutan. Terlepas dari fanservice-nya (yang sedemikian segitunya, sampai-sampai ada pengumuman bahwa versi siarannya bukan hanya mendapat sensor, tapi juga dipotong durasinya), konflik cerita dalam Shinmai Maou no Testament memang tergarap relatif serius.

Sedikit bicara soal teknis dulu, untuk season yang pertama maupun kedua, Shinmai Maou no Testament punya kualitas antara menengah dan di atas rata-rata. Visual karakter dan latarnya kadang sederhana, tapi masih termasuk enak dilihat. Ada beberapa bagian di mana kualitasnya terasa menonjol secara mencolok. Lalu ada juga yang terasa menurun. Tapi selebihnya, seri ini cukup enak dilihat. Lebih banyak soal itu kubahas nanti.

Pada season pertama, audionya termasuk solid. Musik latarnya terbilang tak jelek. Seperti di kasus Date A Live, aku terkesan dengan lagu pembuka yang dibawakan grup Sweet Arms. Animasi pembukanya sempat membuatku terpukau lewat caranya memakai tone kelam untuk memberi penekanan kontras pada bentuk, yang dilanjutkan penggambaran elemen aksi. Ini paling terasa pada penggambaran pertarungan sengit Basara melawan Lars, mazoku bertopeng yang menjadi salah satu lawan paling mencolok di seri ini.

Walau kalau dipikir ada sejumlah hal absurd (gimanapun, ini tetap seri fanservice), tetap ada semacam keseriusan yang menggugah gitu dalam nuansa ceritanya. Jadi kayak, mereka sungguh-sungguh dalam membuat ini gitu.

Ditambah lagi, cerita dan konflik pada musim pertama terstruktur lumayan baik. Season 1 memaparkan cerita hingga akhir konflik Basara dan teman-temannya melawan Zolgear (Zolgia?), mazoku kejam yang juga bertanggung jawab langsung atas kematian kedua orangtua (angkat) Mio. Ada sejumlah intrik juga dalam ceritanya. Mulai dari bagaimana Basara, seorang diri tanpa dukungan ayahnya, perlu menjaga kerahasiaan status kekuatan Mio (salah satunya dari pengawasan Nonaka Yuki, teman masa kecil Basara yang ternyata selama ini telah menjadi teman sekelas Mio—tentu saja selama ini Yuki juga memendam perasaan pada Basara). Kemudian dari sisi kaum mazoku, konfliknya terwujud lewat hubungan gampang goyah antara Basara dan Lars, yang berkembang jadi hal yang paling kusukai dari seri ini.

Adegan-adegan aksinya juga ternyata bukan sekedar tentang saling adu kekuatan. Aku sempat membaca terjemahan buku-buku awal dari novelnya, dan aku terkesan karena ada perhatian terhadap aspek-aspek strategis di dalamnya. Maria misalnya, mengandalkan serangan-serangan fisik lewat tenaganya yang besar (yang tak terlihat dari badannya yang kecil). Karena itu, Maria menjadi semacam kartu kuat yang efektif kalau dimainkan di saat yang tepat. Mio hanya memiliki kekuatan serangan sihir, karenanya harus dijaga ketat agar tak sampai masuk dalam jangkauan serangan lawan. Basara yang punya parameter seimbang yang diandalkan untuk melindungi mereka sekaligus, dan ia juga punya jurus dahsyat yang telah lama disegelnya, Banishing Shift, yang disangkanya takkan pernah mampu digunakannya lagi.

Selain itu, para anggota Klan Pahlawan punya senjata-senjata pusaka yang bisa mereka ‘cabut’ dari udara kosong yang seakan hidup dan memiliki sifat masing-masing. Basara dengan pedang suci melengkung Brynhildr (yang ternyata menjadi penyebab tak langsung ia dan ayahnya meninggalkan desa mereka). Lalu Yuki dengan pedang katana Sakuya. (Perbedaan Basara dari kenalan-kenalan lamanya di Klan Pahlawan ada pada bagaimana ia tak menggunakan zirah mereka lagi. Tapi bahkan tanpa itupun, Basara dan ayahnya sudah terbilang benar-benar kuat.)

Semua elemen ini juga memberi dampak pada bagaimana Uesu-sensei tak segan-segan membiarkan terjadinya one-hit kill dalam aksi-aksinya. Jadi aksinya juga tak pernah sampai bertele-tele.

Intinya, ini seri yang kayak, “Wow. Ini lebih rame dari dugaanku.”

Hanya di Malam Purnama

Makanya, kalau bicara soal adegan-adegan fanservice-nya, aku juga merasa agak berat. Bagaimana ya? Aku normalnya bukan penggemar hal-hal begini. Tapi satu hal yang sempat membedakan Shinmai Maou no Testament dari seri-seri fanservice sejenis ada pada bagaimana adegan-adegan tersebut, senggaknya di awal, terasa punya maksud. Jadi bukan sesuatu yang sekedar ‘ada karena harus ada’ gitu.

Adegan-adegan fanservice di Shinmai Maou no Testament sebagian besar bersumber dari kontrak ‘tuan dan bawahan’ yang Basara dan Mio jalin.

Yeah, buat yang mau tahu, adegan-adegannya sangat… serius. Terlalu serius malah. Malah keterlaluan seriusnya. Hanya bisa sampai disiarkan karena tak sampai ‘itu’ dan penyampaiannya dipenuhi sensor.

Balik lagi, kontrak ini terjalin lewat bantuan kekuatan Maria sebagai succubus, dan hanya dapat mereka lakukan di malam bulan purnama. Jadi, karena, sifat alami Maria sebagai succubus, yah, kau tahu, ada nuansa yang sedikit ero di dalamnya.

Gampangnya sih, ini kontrak yang semula dengan enggan Basara dan Mio jalin. (Kontrak ini yang dimaksud dalam judulnya?!) Semula, maksudnya agar keberadaan satu sama lain dengan mudah dapat mereka lacak sekalipun ada bahaya (ini salah satu efek samping dari terjalinnya kontrak ini). Namun, karena suatu hal (Maria), Mio yang semula harusnya jadi ‘tuan’ di kontrak ini malah jadi ‘pelayan,’ dan karenanya, semenjak kontrak terjalin dan sekurangnya sampai malam purnama berikutnya, dirinya harus bersedia tunduk sepenuhnya pada Basara. (Walau dalam perkembangan cerita, ada manfaat-manfaat lain yang kontrak ini berikan.)

Jadi bila sedikit saja Mio merasakan niat untuk membangkang, maka akan ada ‘hukuman’ yang secara seketika akan Mio rasakan. Lalu hukuman ini, lagi, karena sifat succubus Maria…

Yah, begitulah.

Sudahlah. Aku capek mengetik soal ini.

Intinya, ada saat-saat ketika Basara harus ‘menundukkan’ Mio agar efek-efek kutukan yang menimpanya, yang timbul akibat kontrak ini, bisa mereda. Tapi sekali lagi, sumber fanservice-nya bukan sekedar hanya dari adegan-adegan ini.

Fiuh.

Oke. Sebenarnya, yang ingin kukatakan, yang membuatku terkejut sekali lagi adalah bagaimana di season pertama Shinmai Maou no Testament, adegan-adegan fanservice-nya (yang segitunya pun) bahkan terasa memiliki ‘maksud’ dalam cerita. Bukan hanya menampilkan kecanggungan Basara, tapi juga tekad yang kemudian dikumpulkannya, untuk berbuat sesuatu yang kayaknya perlu untuk adiknya. Namun di sisi lain, ini juga kayak…

Argh.

Tadinya aku menulis ini karena merasa telah belajar sesuatu darinya.

Tapi sudahlah. Kita cukupkan dulu pembahasannya sampai sini. Nanti kulanjutkan di postingan berikut.

Sampai lain waktu.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: B+; Audio: B+; Perkembangan: A; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: A-


About this entry