Subete ga F ni Naru

Dulu, aku lumayan menggemari genre misteri. Pernah ada masa ketika aku rutin membeli terbitan ulang novel-novel Agatha Christe (untuk suatu alasan, meski sangat terkesan oleh karakternya, aku tak segitunya terkesan oleh cerita-cerita Sherlock Holmes). Tapi seiring aku dewasa, aku sampai ke kesimpulan kalau ada sejumlah misteri yang sampai akhir memang lebih baik dibiarkan tak terjawab.

Aku sebenarnya sampai ke kesimpulan ini bahkan sebelum aku memainkan Umineko no Naku Koro ni keluaran 07thExpansion. Jadi, wahai para pembacaku yang (mungkin) setia, sebenarnya aku sampai ke kesimpulan ini bukan karena seri itu.

Malah, bisa dibilang aku tertarik pada Umineko justru karena kesimpulan ini. Aku tak menyadarinya di awal, tapi perkembangan cerita Umineko yang ternyata paling baik menggambarkan perasaanku saat itu.

Yah, intinya, aku bosan dengan format yang dipunyai cerita-cerita misteri.

Meski aku tak sampai benar-benar jadi pandai dalam memecahkan kasus-kasus, suatu bagian bawah sadarku membuatku berpikir, “Apa iya ini cuma segini?” Lambat laun, aku merasa adanya sesuatu yang ganjil. Lalu, seperti yang Battler sendiri bilang pada Beatrice, rasanya seperti hatinya tidak ada.

Hati apa yang dimaksud Battler?

Yah, aku enggak akan menjelaskannya. Berhubung itu jadi spoiler buat Umineko.

Tapi terlepas dari itu, hal tersebut yang jadi alasan pertama aku tertarik pada Subete ga F ni Naru (‘segalanya menjadi F’), atau juga dikenal dengan judul The Perfect Insider (‘orang dalam yang sempurna’). Pertama itu. Lalu berikutnya, karena ceritanya yang bersetting di paruh akhir dekade 1990an.

Waktu adaptasi animenya diumumkan akan tayang pada musim gugur tahun 2015 lalu (ketika genre anime misteri sedang mulai ngetren), aku serta merta langsung tertarik pada seri ini. Jumlah episodenya sebanyak 11, dan ini salah satu seri yang sempat tayang untuk slot waktu Noitamina. A-1 Pictures yang memproduksinya. Sutradaranya adalah Kanbe Mamoru (sutradara veteran yang telah menangani hal-hal menakutkan macam Denpa Teki na Kanojo dan Elfen Lied sampai hal-hal ‘manis’ seperti Cardcaptor Sakura dan So Ra No Wo To), dan naskahnya dikomposisi oleh Ono Toshiya.

Ceritanya didasarkan pada novel berjudul sama karangan Mori Hiroshi, yang diterbitkan Kodansha pada tahun 1996. Novel tersebut menjadi novel pertama yang mengawali seri detektif S&M buatannya, yang mengetengahkan dua karakter Saikawa Souhei dan Nishinosono Moe. Ceritanya kelihatannya sedemikian uniknya, sampai meraih penghargaan Mephisto Prize.

Adaptasi animenya ini terjadi nyaris setahun menyusul adaptasinya ke bentuk dorama live action, yang sempat menarik perhatian pada perempat akhir tahun 2014. Seri televisi ini sebenarnya lebih mirip kumpulan cerita yang mengetengahkan Souhei dan Moe ketimbang adaptasi novelnya semata, dengan Ayano Gou berperan sebagai Souhei dan Takei Emi berperan sebagai Moe.

Sebelumnya lagi, pada tahun 2002, novel ini sempat diadaptasi ke bentuk visual novel oleh pengembang KID.

Sebelumnya lagi lagi, pada tahun 2001, novel ini juga sempat diadaptasi ke bentuk manga oleh Asada Torao. Lalu lebih belakangan, pada tahun 2015, sempat diadaptasi ulang ke bentuk manga, kali ini oleh mangaka Brave10 S, Shimotsuki Kairi. (Aku samar-samar ingat kalau ada sesuatu yang benar-benar menarik pada desain karakter versi Shimotsuki-sensei.)

Mungkin patut kusinggung juga bahwa desain karakter yang digunakan di animenya adalah buatan Inio Asano, pengarang manga Solanin dan Oyasumi Punpun, yang dikenal karena penggambaran drama psikologisnya yang kuat.

Siapa Kau

Inti cerita Subete ga F ni Naru berfokus pada tiga individu, yaitu dua tokoh utama kita, Saikawa Souhei dan Nishinosono Moe; serta Magata Shiki, seorang programmer jenius yang dituduh telah membunuh kedua orangtuanya pada usia 14 tahun, tapi kemudian dinyatakan tak bersalah karena ‘kondisi psikologis’-nya.

Shiki semenjak itu kemudian mengurung diri di lab riset swasta miliknya di suatu pulau terpencil (Institut Penelitian Magata) selama belasan tahun. Lalu cerita terjadi saat mahasiswa-mahasiswa yang berhubungan dengan kelas seminar Souhei mengadakan kunjungan wisata ke Pulau Himaka, di mana lab tersebut berada.

Saikawa Souhei adalah dosen muda di Universitas Nasional N, yang mendalami komputer, sangat cerdas, namun merasa tersisihkan dari dunia. Dirinya adalah murid terakhir Profesor Nishinosono, mendiang ayah Moe, sebelum beliau kemudian wafat bersama istrinya.

Nishinosono Moe, anak perempuan mentor Souhei, adalah mahasiswi arsitek cerdas yang memiliki kemampuan pengamatan dan kalkulasi luar biasa, meski terkadang ia suka melompat dari satu kesimpulan ekstrim ke kesimpulan ekstrim lain. Semenjak kedua orangtuanya yang kaya raya wafat, Moe sedikit banyak telah ‘dijaga’ oleh Souhei. Lalu meski Souhei seakan kerap bersikap cuek terhadapnya, Moe merasakan rasa sayang dan ketertarikan yang besar terhadapnya.

Souhei sejak awal telah mengagumi hasil-hasil penelitian Dr Magata. Tapi mendengar tentang sejarah pribadinya—yang tak pernah meninggalkan lab dan hanya menampakkan diri pada dunia sekelilingnya secara tidak langsung—Souhei sadar bahwa mungkin ia takkan pernah berkesempatan bertemu dengannya. Namun kemudian terungkap bahwa Moe pernah bertemu dan bahkan berbincang-bincang dengan Dr Magata, dalam suatu kesempatan saat ia berkunjung ke labnya. Lalu hal ini kemudian berujung pada rencana wisata ke pulau dekat lab penelitian milik Dr Magata itu.

Singkat cerita, tak dinyana, pembunuhan ruang tertutup kemudian terjadi. Souhei dan Moe, yang semula berkunjung ke lab tersebut dengan harapan bisa bertemu Dr Magata, kemudian menjadi saksi atas dua kematian yang proses terjadinya seakan tak bisa dijelaskan oleh siapapun.

Aku Ingin Berbicara Denganmu

Hal pertama yang berkesan buatku dari anime Subete ga F ni Naru adalah animasi pembuka dan penutupnya. Pembukanya diiringi lagu ‘talking’ bernada ceria dari band KANA-BOON, sedangkan penutupnya diiringi lagu ‘Nana Hitsuji’ dari band Scenarioart. Dua lagu tersebut, sekaligus animasi yang menghiasinya, menurutku membawakan nuansa yang pas buat seri ini, dengan kurang lebih sama-sama membuat kita mikir, ini semua maksudnya gimana sih?

Animasinya juga sekaligus membuktikan kehandalan A-1 Pictures. Motif komputer dalam cerita, kebingungan dan rasa penasaran para tokoh utama, penggambaran hubungan mereka lewat imaji tiga tokoh utamanya yang seakan melakukan drama tarian—yang mana sosok Souhei dan Moe dengan frustrasi senantiasa mengejar sosok Shiki yang terus menghilang—merupakan cara penggambaran yang benar-benar keren dan memang hanya bisa ditampilkan dalam bentuk animasi.

Sekilas ini tak terdengar istimewa sih. Tapi kekerenan ini juga terasa pada bagaimana mereka memadatkan kedua lagu pembuka dan penutup dalam durasi standar satu setengah menit.

Untuk selebihnya… memang mesti diakui kalau ini salah satu anime yang agak susah dimasuki. Apalagi kalau dibandingkan seri drama prosedural Sakurako-san no Ashimoto ni wa Shitai ga Umatteiru yang tayang pada musim yang sama. Meski Subete ga F ni Naru hanya 11 episode, itu saja sudah terasa ‘panjang’ untuk durasi ceritanya. Ini terutama terasa di bagian tengah yang serasa mengalami perkembangan cerita yang bukan hanya benar-benar lamban, tapi juga agak sukar dipahami.

Penyebabnya karena bagi Souhei dan Moe, memahami pribadi Dr Magata Shiki yang misterius, serta apa yang sampai menyebabkan insiden pembunuhan kedua orangtuanya, sama pentingnya dengan memecahkan teka-teki pembunuhan yang terjadi di masa sekarang. Bukan hanya karena mereka meyakini bahwa sebagian petunjuk untuk pembunuhan itu adanya di masa silam, tapi juga karena mereka butuh pengetahuan soal seperti apa kepribadian Dr Magata demi menemukan jawaban atas persoalan pribadi mereka masing-masing.

Persoalan pribadi yang kaitannya soal cara ideal dalam memandang dunia beserta isinya. …Mungkin ini jenis masalah yang khusus hanya dialami orang-orang pintar.

Sedikit demi sedikit, mulai terkuak satu demi satu kenyataan tentang pribadi Dr Magata Shiki. Mulai dari OS orisinil Red Magic ciptaannya, yang sekaligus mengendalikan seluruh sistem yang ada di lab; kepribadian majemuk yang ia punyai; kesaksian orang-orang lain atas pembunuhan orangtuanya; kondisi kejiwaannya yang jauh lebih dewasa dari usianya; kesamaan antara dirinya dan Moe sebagai sesama perempuan cerdas yang kehilangan orangtua mereka di usia muda; robot ciptaannya sendiri yang bisa membuka kunci pintu kamar; bagaimana ia sedemikian cerdasnya, sampai dikatakan satu roh mungkin tak cukup untuk mengisi otaknya; serta kata-kata misterius yang bisa jadi adalah pesan terakhirnya…

Yang Berbeda Adalah Jam Dalam Diri Kita

Mungkin karena latar belakangku di bidang teknik, aku berhasil menebak makna ‘segalanya akan menjadi F’ agak awal. Tapi begitupun, menurutku misteri yang terjadi sebenarnya tetap memikat. Pemaparannya memang agak berlarut di tengah, tapi apa yang terjadi memang sedemikian aneh dan ganjilnya, sampai aku bisa paham kenapa novelnya bisa memukau saat pertama terbit.

Berhubung novelnya berlatar menjelang paruh akhir 90an, saat telepon seluler masih belum umum dan komputerisasi masih belum setersebar sekarang, segala yang Dr Magata ciptakan di labnya benar-benar canggih. Membayangkan apa-apa yang telah dihasilkannya dari segi keilmuan saja sebenarnya menarik.

Di samping itu, interaksi antar karakternya—meski mungkin agak susah dipahami—sebenarnya memang bagus. Souhei, yang biasanya tak begitu tertarik pada segala sesuatu, terpikat pada ‘kemurnian’ pikiran Magata Shiki. Lalu ini menimbulkan konflik antara dirinya dan Moe, yang sejak awal telah jatuh cinta pada Souhei dan telah lama berusaha memahami jalan pikirannya. Bagaimana sesuatu mirip cinta segitiga ini bisa terjadi benar-benar menarik.

Ada banyak detil yang berusaha disampaikan (seperti bagaimana Moe memaksakan diri makan jamur shiitake demi melawan anemia). Ditambah lagi, karakternya lumayan banyak. Karenanya, ini seri yang termasuk susah diikuti. Tapi saat kau berhasil menemukan kaitan satu hal dan hal lainnya, hasil akhirnya bisa lumayan membuatmu berpikir.

Mungkin bukan soal misterinya. Tapi lebih pada pesan apa yang berusaha disampaikan di dalamnya. Buatku pribadi, meski aku tak setuju dengan kesimpulan apa yang Dr Magata dapatkan, setidaknya aku memahami penjelasan soal bagaimana ia bisa sampai ke sana.

Aku Tak Bisa Merokok di Dasar Laut

Bicara soal teknis, seri ini sebenarnya termasuk sedikit di atas rata-rata. Sempat ada kekurangan di beberapa bagian. Tapi secara umum seri ini termasuk enak dilihat dan didengar.

Dialognya banyak. Benar-benar banyak. Bahkan diselingi isapan rokok Sohei pun (dia kecanduan), kalian yang tak suka seri yang banyak bicaranya lebih baik menjauh. Lalu yang kumaksud di sini bukan dialog yang kadang melantur dan diisi candaan seperti di Monogatari. Tapi lebih pada dialog datar dan serius antar orang dewasa yang sebenarnya bisa menyiratkan banyak hal.

Satu hal menarik: menit-menit menjelang akhir setiap episode hampir selalu diisi monolog seorang pria, yang menguak sebagian demi sebagian isi buku catatannya tentang Magata Shiki. Siapa identitas pria ini sebenarnya jelas. Apa yang dialaminya juga jelas. Tapi apa yang disorot tentu saja adalah proses terjadinya. Lalu mungkin ini terdengar aneh, tapi apa yang disampaikan itu sejenis kengerian yang kayaknya ‘asing’ bagi kebanyakan orang gitu. Terus yang mengerikan sebenarnya adalah gimana kengerian itu akhirnya bisa ia ‘terima.’

Akhir kata, ini seri yang pasti cocoknya cuma buat kalangan tertentu. Daripada memberimu ‘perasaan’ seri ini lebih pada memberimu ‘pikiran.’ Ada bagian lemahnya di sana-sini, tapi kurasa akan ada orang-orang yang tetap menyukainya.

Agak aneh melihat gaya gambar Asano-sensei dianimasikan. Apalagi mengingat belum ada manga karya beliau yang diadaptasi ke bentuk anime sejauh ini. Jadi, kurasa itu daya tarik juga.

Penilaian

Konsep: A-; Visual: B+; Audio: B+; Perkembangan: B; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: B+


About this entry