Aquarion Logos

Aquarion Logos keluar pada paruh akhir tahun 2015. Jumlah episodenya sebanyak 26. Seri ini adalah seri TV ketiga dari seri robot raksasa Aquarion, yang didahului oleh Genesis of Aquarion dan Aquarion Evol. Tapi agak berbeda dari dua pendahulunya, seri kali ini diproduksi Satelight bersama C2C, mungkin untuk mengefektifkan proses produksi sekaligus menekan biaya. Penyutradaraannya dilakukan oleh Sato Hidekazu, dengan naskah yang dibuat oleh Kumagai Jun.

Agak berbeda lagi dari pendahulunya, ceritanya tak langsung ‘nyambung’ seperti halnya Genesis of Aquarion dengan Aquarion Evol. Kesan pertama saja, dari sisi visual, seri ini tak ‘semencolok’ dua pendahulunya (robot Aquarion, yang sebelumnya dibentuk dari tiga pesawat, kali ini normalnya dibentuk dari dua misalnya, walau dalam perkembangan cerita, bisa lebih). Selain itu, ceritanya juga berlatar di dunia kontemporer (bukan di masa depan atau dunia lain), khususnya di seputaran Asagaya, yang terletak di area Suginami, Tokyo. Elemen-elemen fantastis seperti yang ada di pendahulunya juga agak di-tone down. Jadi meski sejumlah elemen khasnya tetap ada, mungkin Aquarion Logos bisa dibilang semacam spin off ketimbang sekuel?

Entah ya. Aku selalu agak terdiam setiap mengingat soal Aquarion.

Aku selalu agak… merasa ada butir keringat menetes dulu.

Soalnya, seri Aquarion dari dulu memang punya nuansa agak-agak aneh. Aku sering ragu seserius apa kita perlu menyikapinya. Tapi Aquarion Logos berhasil melampaui semua batasan aneh itu, baik dalam arti baik ataupun buruk. Sehingga terlepas dari semua keterbatasannya, ceritanya buatku terasa segar dan unik.

Oke, aku juga enggak gitu ngerti ngejelasinnya gimana.

…Intinya, mungkin karena saking anehnya, kayaknya cuma segelintir orang yang mengikuti perkembangan seri ini di tahun 2015.

Destiny on the Asagaya

Aquarion Logos berfokus pada sekelompok remaja yang memiliki kekuatan Verbalism (sousei-ryoku, semacam kekuatan suara atas penciptaan, dengan ‘sousei’ ditulisnya berbeda dari ‘sousei’ yang ada di Sousei no Aquarion). Mereka tergabung dalam suatu organisasi bernama DEAVA (Division of Earth Verbalism Ability; buat yang penasaran, kepanjangannya juga berbeda dari DEAVA di seri-seri sebelumnya), yang menampung mereka untuk menggunakan mesin-mesin Vector yang serupa pesawat, untuk melindungi peradaban dari ancaman makhluk-makhluk MJBK.

MJBK (baca: mojibake, bahasa Jepang untuk ‘monster huruf/aksara’, walau singkatannya yang kreatif itu punya kepanjangan bahasa Inggris: Menace of Japanese with Biological Kinetic energy, ‘ancaman bahasa Jepang dengan energi kinetik biologis’, oke, jangan ketawa dulu!) merupakan makhluk-makhluk yang tercipta dari pengkorupsian konsep aksara di suatu dimensi lain bernama Logos World. (Kalau kalian enggak langsung ngerti ini maksudnya apa, tenang aja.)

Jadi, kalau misalnya ada yang mengkorupsi konsep ‘amarah’, maka perwujudan konsep ini, yakni huruf kanjinya di Logos World, akan berubah menjadi monster MJBK dan mengancam konsep-konsep lain yang ada di sana. Sementara di dunia nyata, suatu kekacauan bisa akan terjadi akibat korupnya konsep ‘amarah’ ini. Mungkin terjadi kerusuhan atau apa. Pokoknya, ini akhirnya berujung pada hilangnya konsep ‘amarah’, orang bakal lupa amarah itu apa, dan, yah, hal-hal gila akan terjadi.

(Sekali lagi, kalau kalian masih enggak ngerti dengan penjelasan ini, telen aja dulu. Di awal, aku juga kayaknya cuma samar-samar paham soal ini.)

Aquarion Logos berfokus pada Kaibuki Akira dan kawan-kawan barunya yang tergabung dalam Klub Sousei. Klub Sousei adalah suatu perkumpulan orang-orang muda yang sebenarnya dibeking DEAVA. Mereka bermarkas di suatu kafe bernama Shirobaco, yang sebenarnya juga menjadi markas DEAVA. Seorang wanita muda yang cantik (namun entah kenapa juga lajang) bernama Souda Sakurako (yang enggan mengakui berapa usianya yang sebenarnya) berperan ganda sebagai manajer kafe Shirobaco sekaligus komandan operasi-operasi DEAVA. (Dirinya akan bersikap dan berdandan cute dan kekanakan sebagai manajer, dan berperan serius dan profesional sebagai komandan.)

Yang khas dari Shirobaco (selain menu makanannya) ada pada bagaimana kafe ini juga menjadi wadah pengembangan kekuatan Verbalism para anggota Klub Sousei. Karenanya, kafe ini memiliki atraksi khas reading theatre, di mana para anggota Klub Sousei akan tampil di atas panggung dan menampilkan suatu ‘pentas membaca.’ Pentas membaca inilah yang menjadi ajang untuk melatih ‘kekuatan suara’ mereka.

Jadi, buat kalian yang belum kebayang, intinya reading theatre itu semacam pentas drama yang hanya mengandalkan bacaan dan suara gitu. Ibarat drama radio, drama CD, atau pentas teater tanpa gerakan. Para pemainnya akan naik ke atas panggung dengan membawa naskah masing-masing. Ada lampu sorot, musik latar, dan efek-efek suara. Tapi yang para pemain lakukan itu pada dasarnya cuma membaca, dengan penuh penghayatan dan emosi. Belakangan jarang kelihatan sih, tapi ini sebenarnya menarik. Yaps, daya tariknya sangat dipengaruhi oleh kualitas dan intonasi vokal para pemainnya, dan ini yang dimaksud sebagai ajang latihan ‘kekuatan suara.’

Lalu soal ‘kekuatan suara’ ini, yaitu kemampuan menyampaikan apa yang perlu/ingin kita sampaikan kepada orang lain, menjadi semacam tema berulang di seri ini.

Aquarion Logos dibuka dengan awal bergabungnya Akira—seorang remaja aneh dengan kepercayaan diri teramat besar, serta bakat Verbalism yang tak diragukan—ke dalam Klub Sousei. Akira berhasil mengetahui latar belakang oranisasi DEAVA yang Shirobaco sembunyikan. Lalu di sana ia juga mengetahui perang rahasia melawan MJBK yang DEAVA lakukan di Logos World dengan menggunakan mesin-mesin Vector untuk membentuk robot Aquarion.

Ini kemudian berujung pada pertemuan mereka dengan Tsukigane Maia, heroine seri ini, serta perusahaan NESTA yang menjadi lawan utama mereka.

Teater Membaca

Sekali lagi: Aquarion Logos itu seri yang aneh. Bukan cuma karena cerita yang dibawakan, tapi juga pada bagaimana ceritanya dipaparkan.

Pada beberapa episode pertama, kita hanya ditampilkan itu begini, ini begitu. Ada karakter-karakter ini. Tapi kita enggak benar-benar dibeberkan mereka itu siapa. Lalu pas episode 6, seakan para pembuatnya merasakan kebingungan kita, baru kita diberi pemaparan blak-blakan soal seri ini tentang apa.

Ringkasnya, NESTA Communications adalah perusahaan raksasa di bidang teknologi telekomunikasi. Perusahaan tersebut disebut membawa revolusi pada penggunaan Internet dan media sosial di Jepang. Sebagian faktor yang mendukung kesuksesan ini adalah berkat pemimpinnya, pria paruh baya dingin bernama Kenzaki Sougon.

Namun tak diketahui banyak orang, di masa lalu, Sougon juga melakukan sejumlah penelitian arkeologi terhadap situs-situs bersejarah di dunia. Dari sana, ia berhasil mengungkap sejarah terpendam tentang awal mula peradaban ‘tulisan,’ yang tertuang dalam suatu kitab ajaib yang disebut sebagai Book of Verbalism.

Terungkap bahwa pada zaman dahulu kala, di masa prasejarah, umat manusia memiliki akses langsung ke alam lain yang disebut ‘Dunia Kebenaran’ melalui kekuatan Verbalism. Disebutkan bahwa suara manusialah yang ‘mendefinisikan’ segala sesuatu. Hanya dengan kata-kata, pada masa ini, suatu konsep akan bisa langsung terwujud, dan dengan ini pula segala bentuk kebutuhan mereka bisa terpenuhi (dengan ucapan ‘hujan’ saja maka hujan akan turun, misalnya).

Namun pada suatu titik, peradaban ini ingin agar tak dilupakan oleh penerus mereka. Terlahirlah tulisan.

Namun tulisan berdampak pada hubungan antara manusia dengan ‘Dunia Kebenaran.’ Kekuatan Verbalism memudar. Akibatnya, timbul perang antara ‘Suku Tulisan’ yang mendukung penggunaan tulisan, melawan ‘Suku Kebenaran’ yang berusaha menjaga kemurnian hubungan manusia dengan ‘Dunia Kebenaran.’ Perang ini berakhir dengan kemenangan Suku Tulisan dan berkembangnya peradaban seperti yang kita kenal sekarang.

(Uh, aku juga awalnya enggak ngerti. Tapi kalau mengikuti perkembangan ceritanya sendiri, it kinda makes sense.)

Karena suatu alasan tertentu, Sougon kini memandang bahwa ‘tulisan’ lambat laun akan mendatangkan kehancuran umat manusia. Lalu dengan teknologi yang digali dari masa perang tersebut—yang di dalamnya termasuk mesin-mesin Vector yang membentuk Aquarion—Sougon menciptakan berbagai MJBK dengan maksud untuk memusnahkan kebudayaan ‘tulisan.’

Pada masa ini, Sakurako bekerja di NESTA sebagai asisten langsung Sougon. Namun sesudah mengetahui niat Sougon yang sesungguhnya, Sakurako membangkang dari NESTA dan melarikan sebagian mesin-mesin Vector tersebut.

Dengan dukungan pemerintah, Sakurako berhasil memprakarsai pembentukan DEAVA yang mengumpulkan orang-orang dengan bakat Verbalism kuat. Namun, dengan Book of Verbalism, Sougon telah memiliki kekuatan dahsyat yang membuatnya tak dapat disentuh.

Untungnya, ada artefak prasasti batu besar berkekuatan serupa yang melindungi DEAVA dari pengaruh langsung Book of Verbalism yang dimiliki Sougon. Namun tanpa dapat mengkonfrontasi langsung, pada waktu Akira dan Maia bergabung, ada semacam perang dingin yang berlangsung antara dua pihak ini.

Namun ada lebih banyak dari sejarah ini dari yang tampak di permukaan.

“Pelan-pelan, pelan-pelan…”

Seperti seri-seri pendahulunya, Aquarion Logos lebih menitikberatkan pada karakter-karakternya daripada mechanya.

Kaibuki Akira, yang menjadi tokoh utama, adalah seorang remaja aneh yang tiba-tiba muncul di Shirobaco karena meyakini dirinya seorang ‘penyelamat.’ Akira memandang kalau sudah menjadi takdirnya untuk menolong dan menyelamatkan orang-orang yang kesusahan. Daripada sok atau sombong, keyakinan bahwa dirinya seorang ‘penyelamat’ adalah fakta mutlak bagi Akira yang kadang membuatnya jadi orang yang benar-benar aneh, meski sama sekali tak jelas dari mana pemikiran ini bisa berasal.

Tsukigane Maia, di sisi lain, adalah gadis misterius yang ditemukan dalam aksi pertama Klub Sousei dalam memakai Aquarion. Awalnya, Maia berasal NESTA dan sangat setia pada Sougon. Namun ia kemudian ditugaskan untuk menyusup masuk ke DEAVA dan mulai berubah cara pandangnya. Belakangan mulai terlihat bahwa ada sesuatu yang janggal juga tentang Maia, dengan bagaimana norma-norma sosial yang umum kerap tak diketahuinya…

Sedangkan para anggota DEAVA lain yang menjadi pilot Vector meliputi:

  • Kikogami Kokone, seorang gadis sangat pemalu, namun lembut dan baik hati, yang punya rasa gugup sangat akut karena suatu kejadian di masa lalu.
  • Kujyo Hayato, mahasiswa tampan yang juga terlibat di dunia partai politik seperti ayahnya. Ia piawai dalam menangani pekerjaan, namun kaku dan kurang luwes dalam menghadapi orang.
  • Domon Tsutomu, seorang remaja yang ingin bisa lepas dari tradisi keluarganya yang menjadi seniman rakugo, yang bermaksud untuk mengeksplorasi media-media komedi yang lain, dan karena kekonyolannya, sering dipandang sebelah mata.
  • Uminagi Karan, seorang anak perempuan yang menggeluti karir sebagai bintang idola anak-anak dengan ibunya sebagai manajer, meski cita-citanya yang sebenarnya adalah sesuatu yang lain.

Selain mereka, membantu Sakurako, juga ada Iwagami Shouko yang ceria sebagai operator utama di markas, dan Yoshida Kento, yang terlepas dari tampilan ramahnya sebagai koki, juga memiliki peran dari pemerintah untuk mengawasi Sakurako.

Aquarion Logos menampilkan motif-motif huruf kanji yang membuat ceritanya terasa sangat ‘Jepang.’ Tapi yang mengejutkan, meski ada banyak juga episodenya yang konyol, ceritanya juga menyinggung hal-hal dalam seperti hubungan seorang anak dengan ibunya, keinginan untuk menjadi pribadi lebih baik, apa yang membangun identitas seseorang, sampai isu-isu politik dan sosial dalam masyarakat.

Dengan kata lain, meski tak punya karakter mentor seperti Gen Fudou di dalamnya (atau Fudou Zen, variasi anehnya di Aquarion Evol), Aquarion Logos benar-benar menampilkan ciri khas seri Aquarion dengan mengangkat tema-tema macam begini.

Hei, aku juga aneh dengan gimana sebagian temanya bersinggungan dengan yang diangkat dalam Gatchaman Crowds!

Hal mengesankan lainnya adalah bagaimana di awal, sebagian karakterisasinya terasa menyebalkan. Kenapa Kokone enggak bisa langsung to the point? Kenapa Domon selalu bertingkah? Kenapa Akira dan Maia enggak punya common sense? Tapi belakangan aku sadar kalau dimaksudkannya memang demikian, dan semuanya terjelaskan dan mulai terlihat maksudnya saat ceritanya menjelang akhir. Jadi kayak, lambat laun kita mulai bisa menerima kekurangan mereka gitu. Aku bahkan mulai sampai menyukai mereka.

Lalu aku tersadar. Terlepas dari berbagai kekurangan teknisnya, karakterisasi beragam Aquarion Logos merupakan sisi bagus seri ini. Kayak, selalu ada perkembangan baru di tiap episode gitu. Sekali lagi, sebagian besar pertanyaan yang kita punya beneran mulai terjawab menjelang akhir seri.

Selain monster-monster huruf, konflik utama Aquarion Logos juga meliputi bagaimana Kenzaki Subete, putra Sougon sekaligus mantan partner Maia, terobsesi dengan Maia dan tak bisa menerima bagaimana Maia seakan menolak dirinya. Mulai dari mempermasalahkan soal gattai (yeah, ini seri Aquarion…) sampai soal masa kecil yang mereka lalui berdua, Subete ditampilkan sebagai pemuda tampan dan cerdas, namun belum matang secara emosional. Meski memiliki kekuatan Verbalism yang kuat, Subete merana karena merasa tak diakui oleh ayahnya. Lalu penderitaannya juga bertambah saat Maia seolah meninggalkan NESTA dan lebih memilih Akira ketimbang dirinya.

Karakter Subete berkembang lumayan drastis di pertengahan seri saat ia menggantikan peran Sougon sebagai antagonis. Terutama dengan pembeberan Nesta, sosok perempuan yang ternyata telah menghantui Sougon dan kemudian Subete semenjak penemuan Logos World.

Sakebe!

Bicara soal teknis, Aquarion Logos terkesan dibuat dengan budget ketat. Aku sempat ragu soal ini, tapi visualnya benar tak semengesankan seri-seri sebelumnya. Desain mekaniknya—yang mencakup desain tiap robot Aquarion dan pesawat-pesawar Vector—juga tak semendetil pengharapanku (kalau soal anehnya sih, sudah tidak perlu disinggung). Lalu tiap MJBK, mungkin karena didasarkan pada bentuk huruf-huruf kanji, memiliki kesan abstrak yang… uh, intinya, aneh. Terutama dengan bagaimana ini kontras dengan penggambaran dimensi Logos World sebagai latar.

Jadi kalau melibatkan Logos World, kayak ada… penekanan berlebih terhadap penggunaan CG. Baik terhadap penggambaran dunianya maupun mecha-mecha yang memasukinya. Hasilnya menurutku tak jelek sih. Malah bisa kubilang rapi. Tapi tetap jadinya aneh dan agak tak sesuai yang semula kubayang.

Lalu soal pemaparan adegan-adegan aksinya. Mungkin ini karena porsi yang lebih diberikan ke dramanya, tapi aksinya kadang terasa seolah berakhir tiba-tiba. Sesudah ada penyesuaian kanji yang tepat(?) oleh Akira dan kawan-kawannya, tiba-tiba saja MJBK akan meledak dan kalah tanpa build up lebih banyak. Kesannya kadang random.

Tapi the thing is, lambat laun kau terbiasa dengan ini. Agak … susah jelasinnya. Maksudku, kalau kau bertahan, kau bakal menyadari kalau Aquarion Logos sebenarnya seri yang lumayan.

Aspek-aspek audionya juga beneran mendukung. Akino dan grupnya mungkin tak terlibat(?) dalam lagu-lagunya kali ini. Tapi musik yang ditangani oleh R.O.N masih menjadi salah satu aspek terkuat Aquarion Logos. Masing-masing seiyuu memberikan suara mereka secara pas. Lalu baru pada dua lagu pembuka yang dibawakan May’n, aku tiba-tiba tersadar sudah sebanyak apa anisong yang beliau bawakan. Jadi kayak, ‘Wow, dia udah jadi penyanyi dengan pengaruh segede ini!’

Sedikit bicara soal mecha, berhubung Aquarion dapat terbentuk oleh kombinasi hanya dua pesawat Vector, variasi robot Aquarion semakin banyak. Kayaknya mending enggak kusebutkan satu-satu agar tak terlalu spoiler. Tapi biar kusebut bahwa kombinasi utama yang banyak dipakai (yang punya kemampuan Mugen Ken) dinamai Aquarion San. (Dengan ‘san’ di sini bisa dianggap pelesatan ‘sun’ yang merupakan makna lain dari ‘matahari’, sesuai nama mecha utama Solar Aquarion di seri aslinya.)

Sumpah di Bawah Cahaya Bulan

Seri ini paling terasa seperti seri Aquarion terutama menjelang episode terakhirnya, dengan klimaks yang memuncak dengan duel penentuan antara Aquarion Logos yang digunakan Subete melawan Aquarion Deava—gabungan dari semua Vector yang dimiliki DEAVA—yang digunakan Akira. Kebenaran tentang asal mula Logos World terungkap. Bahaya pengkorupsian aksara kini semakin nyata, dengan pertarungan melawan musuh yang terbawa sampai ke dunia nyata.

Hasil akhirnya benar-benar lebih menarik dari yang duga.

…Oke, walau, uh, bentuk akhir kedua mechanya lumayan aneh sih.

Uniknya, Aquarion Logos yang darinya judul seri ini diambil ternyata adalah mecha yang digunakan oleh si tokoh antagonis. Aquarion Logos terungkap sebagai senjata final yang Nesta hadirkan bersama kekasihnya, Kiryu, demi menghentikan perang antara Suku Kebenaran dan Suku Tulisan yang terjadi 12.000 tahun silam.

Seperti Apollo dan Celiane dari Genesis of Aquarion, Nesta dan Kiryu juga menjadi sepasang kekasih yang masing-masing berasal dari pihak berseberangan. Namun jalinan cinta mereka juga berakhir dengan tragedi, yang kemudian berdampak pada apa yang terjadi di masa depan.

Akira pun berhasil mengimbangi Subete dan Aquarion Logos semata berkat keberadaan Vector-Ga, peninggalan Suku Tulisan yang memiliki kemampuan untuk menghapuskan segala konsep, dengan ancaman akan terhapusnya keberadaannya sendiri. Lalu duel di akhirnya itu… uh, intinya aku terkejut saat sadar seri ini ada 26 episode.

Akhir kata, terlepas dari semua kekurangannya, Aquarion Logos kurasa bisa dibilang semacam eksperimentasi yang akhirnya berhasil. Musiknya keren. Komedinya kadang benar-benar membuatku tertawa. Perkembangannya mengangkat alis, tapi mengesankan. Lalu seri ini berhasil membuatku mikir dengan cara-cara yang enggak aku duga; terutama dengan perkembangan karakter Subete, hubungan segitiganya dengan Maia dan Akira, serta hubungannya dengan ilmuwan Hayashi Shintaro yang adalah semacam pamannya.

…Masuk akal bila ada sebagian orang yang menganggapnya sebagai anime favorit mereka di tahun lalu. Terutama saat menjelang akhir.

Yeah, kedengarannya aneh. Tapi kayaknya itu nyata.

… …

Man, aku masih juga lajang.

Penilaian

Konsep: B-; Visual: C+; Audio: A; Perkembangan: A-; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: A-

Episode Spesial Aquarion Love

Oya, aku hampir lupa soal ini. Penayangan Aquarion Logos didahului dengan penayangan episode spesial Aquarion Love, yang pada dasarnya mempertemukan karakter-karakter dari Genesis of Aquarion dengan karakter-karakter dari Aquarion Evol.

Ceritanya berlatar di masa lalu, di sekitar tahun 1960an(?) dan memberikan semacam closure terhadap hubungan cinta antara Yunoha dan Jin di Aquarion Evol. Ceritanya mengindikasikan kalau mereka masih akan mungkin bertemu kembali… mungkin setelah 12.000 tahun kembali berlalu.

Aku agak ugh dengan episode ini, berhubung aku bukan fans Aquarion Evol. Tapi cerita ini memiliki premis yang menarik sekaligus penutup yang pas.

Yah, mungkin ada sebagian di antara kalian yang suka.


About this entry