Ouroboros

Sepupuku bertanya soal tamatnya Ouroboros. Dia bilang adaptasi doramanya berakhir dengan bad ending. Makanya, dia penasaran tamat di manga aslinya itu kayak gimana.

Aku perlu mengingat-ingat dulu Ouroboros tentang apa. Lalu baru aku jawab kalau aku enggak tahu.

Aku memang enggak mengikuti seri ini (dan sempat kusangka ini tentang adu kekuatan super remaja). Tapi saat sadar kalau Ouroboros pasti cukup menarik perhatian untuk dibikin jadi dorama, akhirnya aku penasaran dan mencoba mencari tahu ini tentang apa.

Sedikit bicara soal sepupuku, he’s a good guy. Tapi mesti kuakui, ada sesuatu tentangnya yang kurasa ‘enggak sama’ dengan kebanyakan orang. Antusiasmenya kerap sulit ditebak. Lalu sesudah dia bicara soal ini, baru aku tersadar kalau seri ini pasti punya sesuatu yang unik kalau sampai termasuk lingkup minatnya.

Singkat cerita, Ouroboros adalah seri manga seinen bertema kepolisian yang dibuat oleh Kanzaki Yuuya, dan pertama terbit pada tahun 2009 oleh penerbit Shinchosha.

Terjemahan bahasa Indonesianya sudah dikeluarkan Level Comics. Hasilnya lumayan. Seri ini kalau kalau tak salah terbit per babnya bulanan, jadi walau versi Jepangnya sudah lumayan jauh (kalau enggak salah, sudah ada 21 tankoubon saat ini kutulis) sebenarnya kita enggak terlalu ketinggalan dalam serialisasinya.

Segera kuinfokan ke sepupuku kalau manganya di Jepang memang masih lanjut dan belum tamat. Lalu begitu dengar soal ini, untuk suatu alasan dia kelihatan lega.

Buatku pribadi, kurasa memang mesti kuakui kalau Ouroboros lebih menarik dari yang aku kira.

Naga Kembar

Ouroboros berkisah tentang dua sahabat masa kecil, Ikuo Ryuuzaki dan Danno Tatsuya. Keduanya sempat terpisah di masa remaja. Tapi sesudah dewasa, mereka kini menjalani suatu persahabatan rahasia.

Ikuo adalah detektif berpangkat sersan di Divisi Dua Departmen Kepolisian Shinjuku. Di balik sikap luarnya yang telmi dan kekanakan—dan ini juga sulit dipercaya oleh rekan-rekannya—Ikuo adalah detektif dengan catatan penangkapan terbanyak di divisi tersebut.

Sedangkan Tatsuya adalah pria muda necis dan cool yang menjabat sebagai wakil ketua Grup Matsuo, brigade tingkat tiga yang bermarkas di Shinjuku dari klan Abiko. Tatsuya adalah pemimpin muda yang naik jabatan dan meraih pengaruh dengan sangat cepat di klan yakuza tersebut. Dirinya karismatik, cerdas, dan (berbeda dengan Ikuo) sangat dihormati para bawahannya.

Rahasia di balik prestasi Ikuo sebenarnya adalah berkat dukungan diam-diam dari Tatsuya. Secara rahasia, keduanya selama ini memang saling membantu satu sama lain. Keduanya berusaha meraih kedudukan di lingkungan mafia dan kepolisian dengan maksud agar bisa menemukan jejak orang-orang yang telah membunuh pengasuh/guru mereka sewaktu mereka anak-anak, Kashiwaba Yuiko-sensei, dan kemudian membalas dendam.

Ouroboros pada dasarnya bercerita tentang sepak terjang Ikuo dan Tatsuya dalam menghadapi kasus demi kasus. Sedikit demi sedikit, mereka semakin dekat pada kebenaran tentang pria berjam tangan emas yang mereka temui pada malam Yuiko-sensei dibunuh lima belas tahun silam. Pembunuhan itu terjadi di hadapan mata kepala mereka sendiri. Namun meski ada kesaksian mereka, kebenaran kasus itu tak pernah terungkap, dan mereka curiga ada suatu pihak tertentu yang menutup-nutupi penyelidikannya.

Dipenuhi dendam, dan frustrasi oleh korupsi yang melanda masyarakat, keduanya sepakat untuk mendatangkan keadilan lewat nama Ouroboros, sebutan untuk naga kembar yang terjarah di punggung mereka berdua.

Dua Sisi

Meski menghadirkan dua karakter di dua sisi yang berseberangan, cerita Ouroboros sebenarnya lebih banyak memaparkan sisi Ikuo di kepolisian. Terutama dengan bagaimana Ikuo dan Tatsuya sama-sama meyakini bahwa pria berjam tangan emas yang mereka buru adalah seorang petinggi di badan itu.

Di dunia Ouroboros, kepolisian Jepang ditampilkan sedang mengalami masa decline-nya, dengan hanya sekitar 30% dari seluruh kasus kejahatan yang diketahui (bukan yang terjadi) yang berhasil dituntaskan penangkapannya. Selain berhadapan dengan beragam kasus setiap hari, Ikuo dan kawan-kawannya di Divisi Dua harus berurusan juga dengan bermacam tetek-bengek birokrasi, persaingan antar pejabat, serta intrik-intrik perpolitikan di dalam organisasi mereka.

Format ceritanya seringkali formulaik; Ikuo menemui kesulitan membereskan suatu kasus karena suatu sebab di luar kuasanya, akhirnya menemukan penyelesaian berkat uluran tangan vital dari Tatsuya.

Lalu khusus untuk pelaku-pelaku kejahatan tertentu, pasangan Ouroboros akan melakukan pengadilan mereka sendiri. Ikuo yang biasanya cengar-cengir tiba-tiba akan menunjukkan sisi gelapnya sesudah diserahi Tatsuya untuk mengeksekusi mati si pelaku secara pribadi…

Beberapa karakter lain yang penting meliputi: Hibino Mizuki, perempuan muda serius berpangkat letnan yang menjadi partner Ikuo di Divisi Dua (yang sering dikira oleh sekelilingnya bisa maju berkat pengaruh ayahnya, seorang petinggi di kepolisian); Mishima Kaoru, kapten sekaligus kepala seksi Divisi Dua yang easy going; serta Chono Shinichi, letnan dari Divisi Satu Kepolisian Shinjuku (yang selalu dipandang lebih baik dari Divisi Dua) yang menjadi orang pertama yang menaruh kecurigaan atas hubungan rahasia Ikuo dan Tatsuya.

Dalam perkembangan cerita, Ikuo dan Tatsuya mengetahui kalau ada suatu perusahaan bernama Haijima yang nampaknya berhubungan dengan empat pelaku pembunuhan Yuiko-sensei. Namun Haijima di sisi lain ternyata adalah perusahaan fiktif yang tak jelas asal-usulnya… sampai Tatsuya menemukan petunjuk lain yang mengaitkannya dengan perusahaan kosmetik dan kesehatan Arcana Health and Beauty. Dalam penyelidikan, Arcana rupanya didirikan di tanah bekas Mahoroba, bekas tempat tinggal Ikuo dan Tatsuya sekaligus rumah panti yang dulu dikelola mendiang Yuiko-sensei. Lalu dari sana, plot utama Ouroboros secara berangsur mulai terjalin…

Semakin keduanya menyadari betapa besar pengaruh yang dimiliki orang-orang yang mereka kejar (terlebih dengan bagaimana jam tangan emas ternyata ‘dihadiahkan’ pada orang-orang tertentu sebagai simbol kekuasaan dan kemakmuran), tanpa bisa langsung memberitahukannya ke Ikuo, Tatsuya lambat laun menyadari bahwa siapa sebenarnya Yuiko-sensei yang sangat mereka sayang juga tak mereka ketahui…

Dunia Topeng

Waktu aku membuka buku pertama Ouroboros, yang pertama menarik perhatianku adalah halaman sampul dalamnya. Ilustrasi yang terpampang di sana seolah menggambarkan dunia di mana hanya sedikit sekali orang yang dapat dipercaya. Lalu aku teringat sepupuku juga sempat berkomentar kalau cerita doramanya benar-benar gelap.

Aku sedikit heran dengan komentarnya ini.

Soalnya, untuk versi manga, masih ada elemen-elemen komedi di dalam ceritanya. Biasanya datang dari bagaimana Ikuo yang terkesan tak dapat diandalkan kerap jadi agak di-bully. Jadi buatku sendiri, ceritanya tak benar-benar segelap itu. (Walau mungkin juga aku merasa begini karena pernah mengikuti MPD Psycho dan Jiraishin sih. Man, mungkin ini terdengar berlebihan, tapi Jiraishin dulu sempat memberiku trauma mental.)

Tapi terlepas dari itu, kebanyakan kasus yang ditampilkan memang benar-benar suram. Kasus-kasus seperti pembunuhan-pembunuhan dengan darah dingin, obat-obatan terlarang, serta pornografi. Bagaimana ada pengkhianatan oleh orang-orang yang kita percaya. Jadi, mungkin juga pemaparan sisi dunia tersebut yang sepupuku maksud.

Daya tarik utama yang ditonjolkan manga ini memang ada di dua tokoh utamanya.

Tanpa bantuan Tatsuya, Ikuo sebenarnya detektif yang jago dengan intuisi (dan penciuman?) yang benar-benar tajam. Dirinya menyembunyikan fisik yang benar-benar prima. Lalu yang ganjil adalah bagaimana hal-hal tertentu bisa memancing kemarahannya secara khusus. Saat marah, Ikuo seakan benar-benar jadi haus darah. Dalam ‘mode murka’-nya, ia kerap jadi melakukan aksi-aksi keren yang normalnya manusia biasa tak bisa lakukan. Ada sesuatu yang benar-benar buas tentangnya, tapi dengan cara dingin gitu. Lalu pas aku pertama melihatnya, aku enggak bisa enggak terkesan. Terutama dengan bagaimana dipaparkan kalau sisi gelapnya ini kerap menggerogotinya juga, dengan bagaimana dia sendiri ragu apakah yang dia lakukan ini sebenarnya sesuatu yang perlu atau tidak.

Tatsuya di sisi lain lebih menonjol di sisi pencarian informasi dan penyelidikan. Dirinya benar-benar suave, punya pesona yang kuat terhadap lawan jenis, dan kelihatannya punya kesukaan pribadi terhadap penyamaran. Tapi terkadang, saat emosinya menguasai, Tatsuya pun mengambil keputusan-keputusan nekat. Lalu pada beberapa kejadian, dia juga enggan melibatkan Ikuo kalau tak benar-benar perlu.

Soal adegan-adegan aksinya, ciri khas Ouroboros terdapat pada bagaimana Ikuo sering menyudutkan si pelaku, keadaan menjadi genting, lalu Tatsuya tiba-tiba muncul entah dari mana, ada pistol melayang, lalu dor. Lalu ini semua selalu mereka lakukan secara pribadi, tanpa pernah ada perantara, tanpa pernah ada back up selain keberadaan satu sama lain.

Meski singkat, adegan-adegan aksinya benar-benar intens. Ini jenis aksi yang bisa bikin kamu membolak-balik halamannya beberapa kali buat memastikan kembali apa yang baru saja terjadi.

Selebihnya, ciri khas lain yang Ouroboros punyai ada pada bagaimana misteri kasus-kasus besarnya yang hampir selalu lebih besar dari yang tampak di awal (meski, kayak yang kubilang, jadinya bisa agak formulaik sih, tapi itu bisa jadi hal baik sekaligus buruk, tergantung kau sukanya bagaimana), serta bagaimana akhir suatu kasus seringkali berdampak pada penyelesaian kasus berikutnya yang Ikuo dkk hadapi.

Gampangnya, Ouroboros memang seri yang oke kok. Apa yang mungkin normalnya kamu bayangin kalau denger tentang ‘drama polisi’ bisa kurang lebih kamu temukan di seri ini. Lumayan aneh juga karena seri macam Ouroboros tak lebih banyak.

Ada bagian-bagian ceritanya yang kadang bikin aneh sih (seperti pencucian uang di Republik Dominika; lalu kalau tak salah juga sempat ada kasus pengedar obat terlarang yang datangnya dari, uh, Iran…). Lalu cara penceritaannya juga, sekali lagi, kadang bisa jadi aneh (“Hah? Ada kejadian kayak gini lagi?” atau “Ini seriusan jadinya kayak gini?”). Dan meski berusaha menampilkan secara ekstensif dunia kepolisian di sana, aku juga punya perasaan aneh kalau seri ini bakal dipandang gimanaa gitu oleh para polisi beneran di Jepang.

Tapi kalau sekedar seru atau enggaknya, Ouroboros termasuk bacaan seru.

Yea, seri ini termasuk yang kurekomendasikan.

Beban Masa Lalu

Aku sebenarnya sedikit terusik soal alasan Ikuo dan Tatsuya sebegitu dendamnya oleh kematian Yuiko-sensei. Tapi soal itu kurasa tak perlu kupermasalahkan.

Setelah kupikir, aku enggak tahu versi doramanya seperti apa karena aku belum lihat. Tapi kayaknya ada sesuatu tentangnya yang sedikit banyak berpengaruh terhadap sepupuku sedemikian rupa. Mungkin itu tanda kalau adaptasi doramanya memang berkualitas.

Yah, bicara soal artwork, Kanzaki-sensei memiliki gaya gambar yang menurutku efektif. Tak terlalu bisa dibilang atraktif, tapi secara pas mendukung penceritaannya. Sebagai manga tentang kepolisian, Ouroboros termasuk cerita yang dialognya agak banyak, tapi dengan penceritaan yang enggak terlalu berbelit.

Satu hal yang pasti adalah bagaimana Kanzaki-sensei sepertinya betul-betul paham cara mengkoreografikan adegan-adegan aksinya. Serius, karenanya, membaca Ouroboros jadi seperti serasa nonton seri TV yang memuat penyelesaian dendam-dendam pribadi macam ini.

Ouroboros termasuk manga yang membagi ceritanya per season. Walau untuk konteks ini, kayaknya penomoran manganya enggak akan berubah. (Mirip dengan Bloody Monday, tapi sedikit berbeda.)

Season keduanya misalnya, dimulai tak lama sesudah Ikuo dan Hibino dipindahkan dari Shinjuku ke Markas Besar Kepolisian. Perkembangannya turut diiringi dengan kehadiran karakter-karakter baru, seperti Hibino Kunihiko, ayah Hibino yang karismatik namun mengundang sejumlah tanda tanya, serta sejumlah karakter lain yang ditampilkan turut mengenakan jam tangan emas. Pemilik jam tangan emas yang mana sebenarnya, yang menjadi orang di balik pembunuhan Yuiko-sensei, masih menjadi tanda tanya. Lalu semakin tinggi Ikuo dan Hibino beranjak, kelihatannya akan semakin sedikit juga orang yang bisa mereka percaya.

Akhir kata, berhubung aku juga sudah lumayan menyukainya, aku berharap bad ending di versi doramanya enggak sampai terjadi. Yeah, kadang kuharap ceritanya lebih cerdas. Tapi seri ini seru, dan mungkin itu udah cukup.


About this entry