Junketsu no Maria

Ada beberapa judul yang ingin kubahas sebelum 2015 berakhir.

Salah satunya adalah Junketsu no Maria (‘Maria, sang perawan’). Seri ini juga dikenal dengan judul Maria the Virgin Witch (‘Maria, sang penyihir perawan’). (Subjudulnya, Sorcière de gré, pucelle de force, kira-kira berarti ‘penyihir karena pilihan, gadis karena kuasa’.) Ini seri historical berbau fantasi yang diproduksi studio Production I.G. yang keluar pada musim semi tahun ini.

Anime ini termasuk yang kuperhatikan karena disutradarai oleh Taniguchi Goro. Beliau sebelumnya sangat dikenal karena arahan beliau di anime Planetes dan Code Geass: Lelouch of the Rebellion. Penonton awam mungkin takkan langsung menyadarinya, tapi selalu ada sesuatu yang benar-benar apik pada pengarahannya (walau hal ini juga baru aku sadari sesudah menonton Bamboo Blade sih).

Terlepas dari itu, anime ini diangkat dari seri manga seinen berjudul sama karangan Ishikawa Masayuki, pengarang manga tentang mikroba Moyashimon. Seri manganya sebelumnya diterbitkan oleh Kodansha, dan aslinya diserialisasikan dari tahun 2008-2013. Lalu mengiringi pembuatan animenya, seri ini dilanjutkan dengan semacam pelengkapnya, Junketsu no Maria Exhibition, yang diserialisasikan dari pertengahan 2014 sampai awal 2015. Jadi bisa dibilang adaptasi anime ini seperti ‘merayakan’ berakhirnya manganya.

Naskahnya sendiri diadaptasi untuk versi anime oleh Kurata Hideyuki (mungkin ada yang ingat manga TRAIN+TRAIN yang naskahnya beliau buat), dengan jumlah episode sebanyak 12.

Karena Aku Telah Mengetahui Arti Cinta

Junketsu no Maria berlatar di suatu wilayah di Perancis, pada masa Perang Seratus Tahun yang berlangsung antara Kerajaan Inggris dan Kerajaan Perancis dari tahun 1337 sampai 1453.

Perang Seratus Tahun merupakan rangkaian perang berdurasi panjang yang berlangsung di wilayah pesisir barat Eropa dengan ‘jeda-jeda damai’ di antaranya (mungkin agak mirip konflik antara Zeon dan Federasi Bumi di waralaba Gundam). Gampangnya, ada dua pihak di masing-masing negara yang awalnya saling berseteru. Lalu seiring dengan waktu, kedua pihak tersebut lalu membawa-bawa pihak-pihak lain untuk masuk, hingga akhirnya jadi perang yang terus berkepanjangan.

Maria ceritanya adalah penyihir muda namun sangat kuat (dengan asal usul misterius yang tak benar-benar diketahuinya sendiri) yang tinggal di hutan dekat sebuah desa, yang lambat laun ikut terseret dalam perang.

Singkat cerita, Maria tidak suka pertumpahan darah. Sehingga setiap kali pertempuran pecah di sekitar wilayahnya, Maria akan menggunakan kekuatan sihirnya yang dahsyat untuk ‘mendamaikan’ kedua belah pihak, dengan memanggil makhluk-makhluk mistis berukuran besar atau menimbulkan fenomena-fenomena alam yang dahsyat.

Tindakan Maria tersebut kerap berbuntut pada kekacauan. Pertempuran memang terhenti untuk sementara, dan ada penduduk yang bersyukur karena kerabat mereka yang diperintahkan pergi perang bisa kembali dengan selamat. Namun ada dampak-dampak tak terduga dari tindakan-tindakannya.

Akhirnya, itu semua memuncak dengan bagaimana Michael, salah satu archangel di langit, tiba-tiba muncul di muka bumi dan memberi Maria larangan untuk menggunakan kekuatan sihirnya di depan publik. Akibat perbuatannya mengintervensi ‘urusan manusia’ itu, Maria juga diultimatum bahwa hari ia kehilangan keperawanannya juga akan menjadi hari ia kehilangan kekuatan sihirnya.

Kini diawasi pengawas Michael, seorang gadis muda jelmaan merpati bernama Ezekiel, yang terus memperingatkan Maria untuk tak menggunakan sihirnya secara seenaknya, Maria jadi kesal sendiri karena tak habis pikir bagaimana bisa orang-orang terus mengeluh tentang perang tapi tak mau mengambil tindakan nyata untuk menghentikan pertumpahan darah.

Walau demikian, itu tak berarti Maria mau menghentikan usahanya.

Memento Mori

Sebelum membahas lebih lanjut, perlu kusinggung bahwa cerita anime ini termasuk ‘aneh.’ Dalam artian, apa yang disampaikan di dalamnya benar-benar enggak biasa gitu. Terlepas dari premisnya yang bisa ‘membuat enggak nyaman’ teman-teman kita yang lebih religius, cerita Junketsu no Maria sebenarnya termasuk ‘dalam’ karena berusaha menggambarkan sejumlah isu sosial dan politik yang enggak langsung kelihatan, namun masih relevan dengan kondisi di masa sekarang.

Aku juga kurang nyaman dengan banyak hal di dalamnya. Tapi daripada mempermasalahkannya, aku malah lebih penasaran dengan apa-apa saja yang sebenarnya mau pembuatnya sampaikan.

Episode-episode awal Junketsu no Maria memperkenalkan kita pada Maria dan orang-orang di sekelilingnya.

Selain Maria, di rumahnya di hutan juga ada dua familiar ciptaannya yang senantiasa menemaninya (sama-sama jelmaan burung hantu), yaitu Artemis (perempuan) dan Priapos (laki-laki, meski… berhubung dia dibuat belakangan, dan Maria belum berpengalaman, makanya dia, uh…). Lalu ada pemuda bertutur kata sopan bernama Joseph yang kerap mengunjunginya, sebagai utusan dari Guilaume, bangsawan setempat pemilik tanah di sana.

Selain mereka ada Anne, anak perempuan ceria yang kerap datang untuk mengambil obat untuk neneknya, Martha, yang merupakan seorang kawan lama Maria (mungkin sempat menjadi teman satu-satunya; Martha juga yang menjadi narator seri ini).

Lalu ada orang-orang yang baru mengenal Maria karena tindak-tanduknya dalam menghentikan perang.

Mulai dari para anggota tentara bayaran pimpinan Yvain sewaan Guilaume, yang jadi terancam mata pencahariannya gara-gara Maria. Ini mencakup Lolotte, satu-satunya perempuan di kelompok mereka. Namun khususnya berdampak pada Garfa, prajurit bayaran handal yang menjadi tahu tentang Maria karena sering berbicara dengan Joseph.

Lalu para rohaniawan di gereja setempat, yang gusar dengan bagaimana ada orang-orang yang jadi memandang Maria sebagai sumber keselamatan mereka. Mereka mencakup Bernard yang senantiasa berusaha mendalami hakikat keimanannya, serta muridnya yang bernama Gilbert.

Tak melibatkan diri langsung dalam urusan perang, tapi sampai datang menyeberangi lautan karenanya, ada sekelompok penyihir dari Inggris pimpinan Viv, yang mulai tertarik pada Maria setelah tahu alasan yang melandasi tindakan-tindakannya (serta mengetahui bagaimana dirinya masih perawan). Di antara mereka juga ada Edwina, seorang penyihir yang mengasingkan diri dengan keahliannya di bidang pengobatan.

Kemudian bersemayam di hutan tempat tinggal Maria, hadir suatu roh kuno bernama Cernunnos yang senantiasa memperingatkan Maria tentang nasib akhir yang pasti dihadapinya sebagai penyihir.

Nama yang Sama

Seperti yang judulnya indikasikan, status keperawanan Maria memang berperan penting dalam cerita. Lalu terlepas dari lelucon-lelucon seks yang banyak ditampilkan di awal, serta bahasan soal intrik politik dan keagamaan, ada aspek-aspek sensitif lainnya yang mencakup rincian soal ‘mata pencaharian’ para penyihir, desain pakaian mereka, serta berbagai isu-isu abad pertengahan. Makanya, Junketsu no Maria benar-benar lebih cocok untuk pemirsa dewasa.

Awal ceritanya bernuansa ringan. Namun seperti beberapa seri arahan Taniguchi-san lain, kerap ada sejumlah adegan yang kita enggak benar-benar ngerti maksud dibuatnya demikian itu karena apa. Baru pas menjelang pertengahan, ceritanya menjadi makin genting dan berat. Lalu satu hal yang akhirnya benar-benar bikin aku salut adalah penggambaran bagaimana orang bisa sejahat apa kalau sudah saking ignorant-nya mereka.

(Sejujurnya, seri ini memperkuat pendapat pribadiku sendiri soal bagaimana kebodohan bisa jadi adalah sebuah dosa.)

Membahas soal teknisnya, Production I.G. menampilkan kualitas presentasi yang terbilang memukau di anime ini. Terlepas dari beberapa motif visualnya yang sedikit bikin mengernyit (perhatikan panji-panji tiap pasukan saat mereka berhadapan), kualitasnya benar-benar memuaskan. Didukung cerita yang matang dan arahan yang enggak tertebak, Junketsu no Maria menurutku termasuk berhasil menyampaikan pesan yang kuat.

Lagu pembuka yang dibawakan ZAQ sebenarnya terasa biasa bagiku. Tapi itu pembuka yang pas untuk sisanya benar-benar melarutkan. Lagu penutupnya yang dibawakan TRUE kurasa benar-benar pas dengan temanya.

Penggambaran peperangan dan kondisi sosial di abad pertengahannya benar-benar menarik. Penggambaran sihirnya ‘ramai’ terutama dengan dampaknya terhadap sekelilingnya, terutama menonjol adalah motif cahaya bagai kaca yang para penyihir lepaskan saat terbang.

Ada banyak bagian ketika aku mikir apakah para pembuatnya benar-benar serius atau enggak. Tapi sekali lagi, pesan yang seri ini sampaikan terasa beneran berarti. Semua karakternya benar-benar berkembang, terutama di soal hubungan antar karakter seperti antara Maria dan Ezekiel. Lalu apa-apa yang mungkin hendak disampaikan dalam ceritanya juga membuat mikir dengan cara penyampaiannya yang benar-benar tersirat.

…Aku pengen menyinggung lebih banyak. Hanya saja, lebih dari ini bisa agak spoiler.

Tapi satu hal yang benar-benar ingin kusebut itu soal sebahagia apa Maria saat Joseph, yang memang telah lama memendam perasaan terhadapnya, dengan segenap tekad akhirnya melamarnya. Reaksi Maria serta merta langsung berterima kasih pada semuanya.

Dirinya bersyukur.

Aku jadi berpikir, sesudah semuanya, mungkin rasa syukur yang selama ini sebenarnya menjaga kemanusiaan kita. Tapi itu pembahasan soal sesuatu yang juga enggak benar-benar bisa kujabarkan.

Akhir kata, ini satu lagi anime bagus dari jenis yang enggak mainstream. Kurasa cocok buat mereka-mereka yang suka drama, asal tak terlalu mempersoalkan isu-isu terkait cara penggambaran agama.

Ah, soal manganya. Seperti kasus anime Planetes, cerita animenya lumayan berbeda dari manganya. Jadi jangan terlalu dipermasalahkan pembandingannya.

Penilaian

Konsep: X (kalau bukan A-); Visual: A; Audio: A; Perkembangan: A+; Eksekusi: A(?); Kepuasan Akhir: A

 

 


About this entry