Dungeon Meshi

Dalam setahun ini, ada seri manga baru yang belakangan terkenal berjudul Dungeon Meshi.

Judul tersebut mungkin belum terlalu dikenal di luar Jepang berhubung proses serialisasinya yang relatif lambat (walau mulai terbit di awal 2014, tankoubon pertamanya saja baru keluar tahun ini, dan bab 16-nya kalau tak salah baru keluar pada Oktober ini). Tapi semua yang sempat memeriksanya kurasa sama-sama sepakat kalau ini seri yang benar-benar bagus.

Dikarang oleh Kui Ryouko, Dungeon Meshi (‘makanan dungeon’, tapi juga dikenal dengan judul Delicious in Dungeon) adalah salah satu seri yang mengangkat premis penjelajahan sebuah dungeon ajaib, seperti yang sering ada di RPG-RPG (seperti seri Danmachi yang belum lama ini terkenal animenya, misalnya), dan berkisah tentang petualangan sekelompok penjelajah yang menempuh perjalanan untuk menembus suatu dungeon penuh bahaya, hanya saja sambil melakukan wisata kuliner (terhadap monster-monster yang mereka kalahkan).

Diterbitkan di majalah harta terbitan Enterbrain (buat yang belum tahu, majalah ini sebelumnya bernama Fellows! dan namanya memang diambil dari Bahasa Indonesia; seri Emma karangan Mori Kaoru yang terkenal juga sebelumnya diserialisasikan di majalah ini), seri ini dibuka dengan takluknya rombongan sang ksatria, Laios, saat melawan seekor naga api, karena kesalahan fatal yang diakibatkan oleh perut yang lapar. Dalam keadaan terdesak, adik perempuan Laios yang sekaligus jadi cleric/penyembuh di grup mereka, Farlyn, menggunakan sisa-sisa tenaganya yang terakhir untuk menteleportasi kawan-kawannya keluar dungeon sementara dirinya sendiri kemudian dimangsa.

Kekurangan uang, kehabisan perbekalan, serta ditinggal dua orang anggota mereka karena masalah uang, Laios dan dua teman seperjalanannya yang masih tersisa: Marcille sang perempuan elf penyihir beserta Chilchak si halfling yang ahli kunci, nekat untuk menjelajahi dungeon sekali lagi demi menolong Farlyn sebelum yang bersangkutan habis dicerna di perut si naga.

Bagaimana cara mereka mengatasi persoalan kurang biaya dan bekal makanan?

Ya dengan menjadikan monster-monster yang telah mereka kalahkan sebagai santapan! Sesuatu yang sebenarnya sudah lumayan lama ingin Laios coba, tapi jelas tidak langsung disetujui teman-temannya…

Kekurangan Gizi Lebih Menakutkan Dari Monster Apapun

Premisnya sederhana sih. Tapi serius, dalam penceritaannya, jadinya jauh lebih menarik dari yang mungkin kalian sangka. Premisnya juga mungkin terdengar mirip dengan Toriko. Tapi serius, hasil akhirnya juga lumayan berbeda.

Pada awalnya, ide Laios ditolak mentah-mentah oleh teman-temannya yang lain. Apa-apaan? Kata mereka. Ditambah dengan reaksi-reaksi dramatis dari Marcille dan Chilchak (terutama Marcille) yang lumayan bikin ngakak.

Tapi Laios yang notabene memang sedikit eksentrik (dirinya sejak dulu punya ketertarikan aneh terhadap monster), di samping karena sudah bertekad untuk tak mengulang kesalahan yang menyebabkan nyawa adiknya terancam, akhirnya nekat mencoba memasak monster kalajengking dan jamur berjalan, yang bisa ditemukan di lantai dungeon paling awal. Laios mencoba memasak dengan berbekal suatu buku petunjuk soal monster, yang juga menyertakan keterangan soal layak makannya, yang diperolehnya entah dari mana.

Upaya pertama mereka kurang membuahkan hasil. Tapi mereka menarik perhatian Senshi, seorang dwarf yang tak kalah eksentriknya, yang rupanya telah lama mendalami ilmu tentang kuliner monster ini. Dengan bimbingan Senshi, baik secara sukarela maupun terpaksa, mulai terbukalah suatu dunia citarasa baru di hadapan Laios dan kawan-kawannya.

Perjalanan untuk menyelamatkan Farlyn, singkatnya, kemudian dimulai.

Untuk Makan Atau Dimakan

Apa yang menakjubkan dari Dungeon Meshi adalah keseimbangan elemen-elemen ceritanya. Ya, ini seri tentang masakan (meski masakan terkait tak mungkin ada di dunia kita). Tapi ceritanya tak pernah sampai melepas elemen-elemen petualangan, intrik, serta perkembangan karakter juga, dan aku bicara begini untuk sebuah seri yang durasinya masih belum panjang!

Genre utama Dungeon Meshi adalah komedi dan petualangan sih. Sorotan utamanya adalah bagaimana Laios dan kawan-kawan selalu bereksperimentasi untuk memasak atau memanfaatkan suatu ‘makhluk’ baru. Lengkap dengan segala harap-harap cemas soal rasanya, sembari memberi kita yang baca sedikit rasa geli sekaligus jijik (mulai dari “Gyaaaaah!” atau “Hiiiii!”) soal seperti apa wujudnya saat masih ‘mentah.’

Tapi Kui-sensei secara luar biasa juga sampai membayangkan seperti apa anatomi setiap monster, lengkap dengan bagaimana cara ideal untuk mengolahnya. Hasilnya benar-benar imajinatif. Lalu yang kumaksud di sini adalah monster-monster yang sering bisa kita temui dalam berbagai RPG gitu, meliputi slime, basilisk, sampai mandrake serta kelpie.

Hasilnya beneran jadi luar biasa, karena Kui-sensei seakan benar-benar memperhatikan bagaimana reaksi setiap karakter atas jenis masakan baru yang akan mereka makan.

Aspek petualangannya juga terasa pada bagaimana latar dungeon-nya disorot. Dikisahkan bahwa dungeon yang mereka jelajahi merupakan sisa-sisa suatu kerajaan megah yang diyakini pernah ada 1000 tahun sebelumnya sebelum tenggelam ke bawah tanah. Peninggalan kerajaan tersebut mulai ditemukan saat monster-monster mulai didapati keluar dari dasar tanah pemakaman di sebuah desa. Lalu semakin dijelajahi ke dalam, semakin didapati bahwa dungeon tersebut telah membentuk suatu ekosistemnya tersendiri.

Kini ditemani Senshi, Laios dan kawan-kawannya menjelajahi dungeon yang berupa suatu kastil raksasa yang dipenuhi monster gitu. Ada jalan-jalan berliku. Ada kotak-kotak harta. Ada jebakan-jebakan tersamar yang tersebar di sepanjang jalan. Semua demi mencapai tempat terakhir di mana mereka sebelumnya ditaklukkan oleh si naga api.

Di samping mereka, ada banyak pula rombongan petualang lain, yang sama-sama bermaksud mencari ketenaran dan harta. Lalu mereka mulai dibuat penasaran juga dengan kebiasaan baru Laios dkk untuk memasak musuh-musuh mereka.

Menariknya, di dunia tersebut, apabila tewas dalam dungeon, selalu ada peluang untuk ‘dihidupkan kembali’ setiap kali sesudah mati, asalkan jasad yang dihidupkan masih ada. Hanya saja Laios dan teman-temannya masih belum tahu apakah seseorang bisa ‘dihidupkan’ bila yang tersisa dari mereka hanya tinggal ‘bubur’ yang keluar bersama kotoran dari dubur naga. Belum pernah ada yang benar-benar ‘mencobanya.’ Makanya, mereka berjuang sekuat tenaga agar Farlyn yang mereka semua sayangi tak sampai perlu menjadi yang pertama.

Semakin jauh mereka berjalan, mulai terindikasi juga ada sesuatu yang tak biasa dengan perjalanan mereka sekarang. Pergerakan monster-monster mulai berbeda. Lalu si naga api yang mereka kejar juga mulai memasuki wilayah-wilayah dungeon yang biasanya tak ia datangi.

Sepanjang malam, perutnya terasa seolah sedang dipahat dari dalam…

Meski punya gaya artwork yang terkesan sederhana, seri ini ternyata lumayan fleksibel dalam menampilkan ekspresi, latar, serta sekaligus adegan-adegan aksi. …Ya, seri ini juga ada adegan-adegan aksinya. Mungkin enggak sampai kayak di Toriko sih. Tapi bagaimanapun, tetap saja ada adegan-adegan melawan monster. Lalu penggambarannya sering cukup seru.

Ini termasuk seri yang banyak tulisan, jadi kesannya mungkin emang agak bikin keder di awal. Tapi hasilnya jauh dari buruk kok. Bahkan detil-detil proses memasak, yang mungkin jadi apa yang membosankan kalau di konteks lain, malah sering jadi bagian cerita paling menarik di seri ini.

Sekali lagi, karakter-karakternya juga berkembang. Sedikit demi sedikit, semakin dipaparkan seperti apa kepribadian masing-masing karakter utamanya. Laios misalnya, adalah orang aneh tapi dapat diandalkan. Marcille juga handal, andai dirinya mau… um, berpikiran lebih terbuka. Lalu Chilchack intinya hanya ingin teman-temannya tak ingin menyusahkannya. Lalu semakin lama kita ‘berpetualang’ bersama mereka, ceritanya juga makin seru.

Rasanya sulit untuk tak simpati terhadap Marcille setiap kali ada makanan baru yang mau mereka coba.

Jadi, belakangan, mungkin karena aku sudah dewasa sekarang, aku banyak mikir tentang bagaimana aku mesti bisa masak. Tak perlu bisa masak yang rumit-rumit. Intinya, asal bisa cukup menikmati makan. Soalnya, manusia gimanapun akan selalu perlu makan. Aku enggak mau jadi tipe orang yang mati kelaparan hanya karena enggak tahu gimana cara masak beras.

Makanya, seperti yang Laios sadari, yang namanya makanan itu penting.

Pastinya, melalui seri ini, aku jadi tersadarkan akan pentingnya keseimbangan gizi sekaligus rasa syukur sesudah kita makan. Kurasa, dua hal tersebut sebenarnya berdampak besar pada kesehatan kita.

Mudah-mudahan bisa cepat diterbitkan di sini dengan terjemahan bagus.


About this entry