OverLord

Selamat malam, semua. (Walau pas ini kutulis, hari masih siang sih.)

Bahasan kita kali ini adalah OverLord.

Sebagaimana yang mungkin sudah diketahui, OverLord diangkat dari seri light novel berjudul sama karangan Maruyama Kugane, yang semula diserialisasikan online, sebelum kemudian diterbitkan Enterbrain dengan ilustrasi bernuansa gelap dan sangat apik buatan so-bin. Anime ini cukup sukses pada musim panas lalu karena secara nyata berhasil mendongkrak penjualan seri novelnya. Produksinya dilakukan studio Madhouse, dengan Itou Naoyuki yang berperan sebagai sutradara, naskah yang dipenai Sugawara Yukie, serta musik yang ditangani Katayama Shuuji dari Team-MAX.

Tayang satu cour pada Juli-September 2015 lalu, anime ini memiliki jumlah episode sebanyak 13.

Perpisahan Sesudah 12 Tahun

Pembahasan kali ini kita mulai dengan pemaparan sebuah urban legend.

Saudara-saudara sekalian, pernahkah (*diucapkan dengan nada suara rendah*) Anda mendengar tentang Yggdrasil?

Di tahun 2126, Yggdrasil menjadi DMMORPG yang sangat terkenal karena cakupan kustomisasi karakternya, yang sampai memungkinkan para pemainnya untuk merancang konten orisinil mereka sendiri. Meski sempat berjaya, sayangnya ketenarannya perlahan tergeser sesudah 12 tahun. Salah satu yang tersisa dari kejayaannya adalah satu guild legendaris bernama Ainz Ooal Gown yang dahulu pernah dikenal ke seantero dunia…

Uh. Oke.

Intinya, kisah yang sekilas berkesan horor ini dibuka di tengah malam ketika layanan Yggdrasil akan dihentikan.

Pemimpin Ainz Ooal Gown—sebuah guild yang mengkhususkan anggota-anggota yang tidak berwujud manusia dan sudah bekerja—adalah seorang pemain yang menggunakan avatar lich bernama Momonga. Di kehidupan nyata, Momonga adalah seorang pria dewasa muda yang hidup tanpa kerabat. Lalu dirinya merasa berat merelakan berakhirnya layanan Yggdrasil, karena di dunia Yggdrasil inilah, tepatnya di guild Ainz Ooal Gown, semua persahabatan dan hubungan sosial yang pernah dibangunnya itu ada.

Momonga ingin bisa bertahan untuk tetap login sampai detik-detik terakhir layanan permainan virtual tersebut. Sekalipun dirinya tak ditemani siapa-siapa. Sekalipun juga sebagian besar kawan se-guild-nya dulu tak memenuhi undangannya untuk berkumpul untuk yang terakhir kali.

Dan sampai akhir… Momonga ternyata tak pernah logout.

Sesudah tengah malam berlalu, Momonga terus tertahan dalam wujud tengkorak lich-nya, bahkan sampai sesudah layanan Yggdrasil berakhir. Kebingungan, Momonga kemudian menyadari kalau entah bagaimana, dirinya—bersama seisi benteng sekaligus markas Ainz Ooal Gown, Makam Besar Nazarick—ternyata telah ‘berpindah’ ke sebuah dunia lain, yang sekilas memiliki elemen-elemen dunia Yggdrasil, namun ternyata adalah dunia yang asing sama sekali.

Elemen-elemen permainan, seperti sistem untuk memanggil GM atau membuka menu, sudah tak lagi ada (walau anehnya, sebagian konsepnya seperti dipahami). Momonga benar-benar sudah berada di dunia lain, serta bukan lagi sebagai manusia, melainkan sosok tengkorak penyihir lich, dan memiliki semua kesaktian dan harta karun yang karakternya dulu punyai semasa Yggdrasil masih merupakan permainan.

Menyadari bahwa tak ada lagi yang benar-benar bisa dilakukannya tentang ini, Momonga memutuskan memberi makna atas kenangannya bersama kawan-kawan lamanya dengan memimpin Ainz Ooal Gown untuk menanamkan jejak mereka di dunia.

Para Pegawai Baru

Apa yang membedakan OverLord dari seri-seri sejenis tentang ‘dunia game’ lainnya terutama adalah fokusnya terhadap guild-nya.

Ceritanya, di samping mendesain Makam Besar Nazarick, Momonga dan kawan-kawannya juga merancang berbagai NPC (non-player character, karakter-karakter yang tidak dimainkan manusia) yang mereka kemudian jadikan ‘penghuni’ markas tersebut. Lalu entah bagaimana, para NPC—yang telah mereka rancang lengkap bersama cerita latar, sifat, serta kekuatan dan kemampuan masing-masing tersebut—tahu-tahu Momonga dapati telah ‘hidup’ sebagai makhluk-makhluk nyata sesudah dunia berpindah. Kesemuanya tidak lagi berperilaku mengikuti suatu set aturan yang telah ‘diprogramkan’ pada mereka. Kesemuanya kini hidup dengan kepribadian mereka masing-masing dan dengan sangat setia memandang Momonga sebagai pemimpin mereka, yang mereka pandang sebagai ‘sosok agung’ terakhir yang masih tersisa sesudah kawan-kawannya yang lain pergi.

Interaksi Momonga—yang kini menggunakan nama Ainz Ooal Gown untuk dirinya sendiri—dengan para pengikut barunya tersebut menjadi salah satu daya tarik seri ini. Sebab di awal cerita, Momonga dikisahkan hanya ‘berpura-pura’ berwibawa di depan mereka, karena curiga apakah mereka benar-benar ada di pihaknya atau bukan.

…Alasannya agak rumit. Singkatnya, karena sebagian besar penghuni Nazarick adalah makhluk-makhluk monster yang memiliki kebencian terhadap manusia. Sebab salah satu aturan yang Momonga dkk terapkan bagi guild mereka dulu adalah bahwa yang boleh bergabung hanya mereka yang menggunakan avatar non-manusia.

Terlepas dari itu, sebagian pengikut yang menonjol antara lain:

  • Albedo; pengawas seluruh Penjaga Lantai di Nazarick, sekaligus sosok terkuat kedua sesudah Momonga, yang berwujud seorang perempuan sangat cantik dengan sepasang sayap malaikat dan tanduk. Menjelang berakhirnya Yggdrasil, Momonga sedikit mengubah informasi latar belakang Albedo karena terkejut saat membaca… apa yang tertera di sana. Hal ini kemudian Ainz sesali karena berakibat pada sangat tergila-gilanya Albedo terhadapnya, sampai ke taraf dirinya bisa sangat mudah murka untuk segala yang dilihatnya sebagai hinaan terhadap Ainz, baik yang nyata atau tidak.
  • Shalltear Bloodfallen; Penjaga Lantai untuk tiga lantai pertama Nazarick, seorang vampir perempuan dalam riasan goth loli yang juga jatuh cinta pada Momonga/Ainz, memiliki kekuatan setara Albedo, dan menjadi saingan utama Albedo dalam meraih perhatiannya.
  • Cocytus; Penjaga Lantai untuk lantai kelima Nazarick, berwujud sesosok makhluk serangga besar dengan kekuatan es. Memiliki kepribadian sebagai petarung dan menghargai siapapun yang berusaha keras.
  • Demiurge; Penjaga untuk lantai ketujuh Nazarick, sesosok iblis necis yang mengenakan kacamata. Diberi kewenangan untuk mengatur strategi pertahanan Nazarick, dirinya sangat cerdas, dan sebenarnya yang paling kejam di antara semua pengikut yang ada. Demiurge selalu berusaha memahami maksud sesungguhnya dari tindakan-tindakan Ainz, dan karenanya Ainz sering bersikap waspada terhadapnya.
  • Sebas Tian; kepala pelayan yang sekaligus menjadi Penjaga lantai kesepuluh Nazarick. Berwujud seorang lelaki tua berpenampilan sangat rapi, yang sebenarnya adalah spesies dragonoid. Spesialisasinya adalah pertarungan tangan kosong. Dirinya punya rasa keadilan yang tinggi, dan tidak suka apabila para Penjaga lain dengan seenaknya membunuhi manusia. Sebas juga yang memimpin tim maid tempur Pleiades yang bekerja di bawahnya.
  • Aura Bella Fiora dan Mare Bello Fiore; sepasang anak kembar yang menjadi Penjaga lantai keenam Nazarick. Aura yang perempuan bersifat tomboi, dengan kekuatan untuk menjinakkan makhluk-makhluk liar. Sedangkan Mare yang lelaki lebih pemalu dan feminin (dirinya seorang karakter trap), dengan kemampuan sihir druid yang memungkinkannya mengubah bentang alam. Keduanya sama-sama adalah dark elf, dan dapat bertindak kejam apabila perlu.
  • Narberal Gamma; salah satu dari Pleiades, seorang doppelganger. Dalam perkembangan cerita, Ainz memilihnya sebagai partner dalam penyamaran mereka sebagai petualang karena tampilan luarnya yang menyerupai manusia. Tapi Ainz agak salah memperhitungkan besarnya antipati yang Nabe miliki terhadap manusia.
  • Yuri Alpha; salah satu dari Pleiades, sekaligus wakil Sebas yang dihormati para bawahannya. Sifatnya agak mirip Sebas dengan rasa keadilannya yang tinggi dan keenggannannya untuk membantai manusia.
  • Lupusregina Beta; salah satu dari Pleiades, yang wujud aslinya werewolf. Tampilan luarnya sangat ramah, meski aslinya dirinya kejam. Tampil menonjol pada episode terakhir sehubungan tugas khusus yang Ainz berikan kepadanya.
  • CZ2128 Delta; salah satu dari Pleiades, yang menonjol di antara yang lain karena sebenarnya merupakan automaton yang pendiam dan tak beremosi. Diceritakan kalau dirinya suka hal-hal yang imut.
  • Solution Epsilon; salah satu dari Pleiades, yang wujud aslinya adalah slime yang dapat menyerap apapun ke dalam dirinya.
  • Entoma Vasilissa Zeta; salah satu dari Pleiades, yang sebenarnya adalah arachnid yang suka memangsa manusia.
  • Pandora’s Actor; Penjaga ruang harta Nazarick sekaligus satu-satunya NPC yang didesain Momonga sendiri (dengan kemampuan gambarnya yang pas-pasan), yang memiliki kemampuan untuk menduplikasi semua penampilan dan keterampilan siapapun yang pernah dilihatnya. Tampilan dan sikapnya yang berlebihan membuat Ainz malu. Tapi di sisi lain, Ainz juga tahu bahwa dirinya merupakan pengikut yang paling akan bisa dipercayainya di Nazarick.

Kembalikan Masa Mudaku

Sebelum animenya keluar, aku sempat membaca beberapa bab dari terjemahan versi novelnya. Daya tariknya tak langsung kelihatan di awal. Lalu butuh waktu untuk benar-benar bisa menikmatinya. Tapi seperti kebanyakan seri-seri sejenis ini, sesudah kau berhasil ‘masuk’, kau bakal lumayan dibikin penasaran dengan kelanjutannya.

Sama seperti novelnya, melihat kesuksesan animenya, kurasa seri ini termasuk salah satu yang paling menghibur pada musim lalu. Takkan cocok dengan sebagian orang sih. Kembali, semua tergantung pada apa kau bisa ‘masuk’ apa enggak. Tapi tingkat kepopuleran yang seri ini raih membuatnya bisa dibilang termasuk yang berhasil.

Seri ini seriusan termasuk yang menghibur. Selama tayang, aku pribadi cukup dibuat penasaran dengan kelanjutannya. Perkembangan karakternya tak banyak, tapi mesti diakui karakter-karakternya penuh warna. Lalu meski ada komedinya, ceritanya punya suatu nuansa gelap yang selalu membayang, dengan perkembangan yang kadang bisa sadis dan kejam.

Padahal kalau bicara soal teknis, OverLord tak benar-benar menonjol. Kualitas animasinya termasuk standar, apalagi untuk ukuran keluaran Madhouse. Penggarapan ceritanya juga terasa aneh di beberapa bagian. Tapi para pembuatnya berhasil memaksimalkan daya tariknya, terutama dengan kualitas audio yang benar-benar pas.

Aku sebenarnya sempat mendengar rumor menarik tentang ini sih.

Kabarnya, pengajuan proposal produksi anime untuk OverLord berlangsung benar-benar dadakan menjelang penghujung 2014 lalu. Kelihatannya ini seri yang pembuatan animenya agak dikebut. Indikasinya adalah adaptasi manganya yang dibuat Oushio Satoshi dan Miyama Hugin baru mulai berjalan pada November 2014. Ini hal yang enggak biasa untuk seri yang mulai dipromosiikan ke banyak media.

Terlepas dari kemungkinan adanya isu internal, ada dugaan kalau pengadaptasian anime OverLord sebenarnya menunggu waktu yang ‘pas’ agar tak sampai saingan dengan seri-seri sejenisnya. Hasilnya, OverLord tayang tak lama sesudah season kedua Log Horizon berakhir. Lalu pas penayangannya usai, langsung keluar berita tentang produksi film layar lebar Sword Art Online dan anime TV baru untuk Accel World, yang bisa menjadi ancaman hype baru di kancah pangsa pasarnya yang ditargetkannya. Jadi kurasa di akhir para produsernya mengejar waktu yang pas dan berhasil menuai hasilnya.

Raja Bijak di Tengah Hutan

Anime OverLord mengadaptasi kurang lebih cerita dari tiga buku pertamanya.

Babak awal menceritakan berpindahnya Nazarick dan bagaimana Momonga harus mengambil alih keadaan dan mengkonsolidasikan kekuasaannya, dan bagaimana ia pertama mengetahui soal ‘standar’ kekuatan di dunia dan bagaimana jejak-jejak Yggdrasil masih tersisa. Bagian kedua menceritakan awal penyamarannya bersama Nabe (dengan menggunakan nama samaran Momon), demi menemukan cara efektif untuk mengabadikan nama Ainz Ooal Gown. Lalu bagian ketiga yang menjadi klimaks anime ini mengetengahkan bagaimana ia harus berhadapan dengan Shalltear, yang entah bagaimana dan karena apa mengkhianati mereka.

Pengadaptasiannya lumayan bagus, dengan struktur cerita padat dan tak terlampau terasa tergesa. Cuma kadang seperti ada beberapa adegan penjelasan yang terasa dilompat.

Daripada tema ‘penjelajahan dunia’ seperti yang biasa diangkat seri-seri sejenisnya, anime ini lebih berfokus pada hubungan dan interaksi antara karakter-karakter utamanya. Porsi pemaparan dunianya dalam skala kecil masih lumayan sih. Lalu pas sampai di akhir cerita, rasanya seperti kita hanya baru diberitahu segelintir tentang kekuatan-kekuatan besar yang sedang bermain di dunia.

Ditampilkan ada dua sisi Momonga/Ainz di cerita ini, yaitu sisi eskternal berwibawa yang ia perlihatkan kepada orang-orang di sekelilingnya, lalu sisi monolog internalnya yang terkesan culun dan kadang penuh keraguan. Dua sisi ini menjadi daya tarik lain karena wujud lich yang Momonga miliki telah membuatnya punya hidup abadi, tak lagi memerlukan tidur, serta telah mensirnakan hatinya sedemikian rupa sehingga ia tak lagi punya keengganan untuk beraksi secara ‘kejam’ apabila perlu. Ditambah dengan level tinggi serta kekuatan sihir dahsyat yang ia punya, Momonga telah menjadi eksistensi yang terbilang imba. Tapi dirinya pun tetap sering disusahkan soal urusan hubungan antar orang.

Kayak kebanyakan orang, yang sempat membuatku terpikat pada OverLord adalah nuansa gelap yang dimilikinya (di samping kecantikan, perhatian, dan ke-yandere-an Albedo). Hasil akhirnya, meski ‘mencapai target’, sebenarnya agak kurang memuaskan di beberapa bagian sih. Tapi ini benar-benar termasuk seri yang berkesan karena enggak banyak seri lain yang menyerupainya.

Belum lama ini ada yang menanyakan seri-seri yang mirip Mahouka Koukou no Rettousei itu misalnya apa. Lalu setelah kupikirkan sekarang, yang mengangkat tema soal kesensitifan hubungan antar orang yang aku tahu kayak di Mahouka paling cuma OverLord. Tapi itupun dengan cara yang lumayan beda.

Akhir kata, kurasa ini bukan jenis seri yang biasanya kalian cari. Tapi ini lebih kayak seri yang tahu-tahu muncul di depanmu, menyeruak masuk, dan meraih perhatianmu entah gimana. Didukung kualitas presentasi yang lumayan, terutama soundtrack yang keren, mungkin akan ada sesuatu yang kalian temukan dengan memperhatikan ini.

Bagaimanapun, Clementine merupakan salah satu karakter antagonis paling berkesan di anime manapun yang pernah kulihat.

Ehem.

Demikian Saudara-saudara. Pelajaran yang bisa kita ambil kali ini adalah jangan main game sampai terlalu malam. Bisa-bisa besok harinya kau tak masuk kerja.

Sampai kita berjumpa pada kesempatan berikutnya.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: B; Audio: A-; Perkembangan B; Eksekusi B; Kepuasan Akhir: B+


About this entry