[Judul Terlalu Panjang] Time to Play – First Half

Aku tak begitu ingat stresku belakangan dimulai sejak kapan. Tapi kalau melihat lagi ke belakang, salah satu keputusan salah yang mungkin kuambil adalah membaca terjemahan seri light novel ini di situs Baka Tsuki.

Danshi Koukousei de Urekko Light Novel Sakka wo Shiteiru keredo, Toshishita no Classmate de Seiyuu no Onnanoko ni Kubi wa Shimarareteiru; atau yang terjemahan bahasa Inggris judulnya adalah I’m a High School Boy and a Bestselling Light Novel Author, Strangled By My Female Classmate Who is My Junior and a Voice Actress (‘Aku seorang anak SMA dan juga pengarang LN yang sukses, yang sedang dicekik teman sekelasku yang perempuan yang lebih muda dariku dan berprofesi sebagai pengisi suara.’)

Yeah, judulnya bener-bener panjang. Bahkan untuk ukuran media light novel yang dikenal suka punya judul-judul panjang.

Kayak biasa, ini seri (relatif baru) yang aku baca karena sedang agak senggang stres. Aku memang semula tertarik karena judulnya yang panjang. Tapi aku bertahan membacanya karena buku ini juga menceritakan tentang aspek-aspek teknis dari penulisan dan penerbitan light novel.

…Oke. Mungkin membacanya sendiri bukan benar-benar suatu keputusan yang salah sih.

Tapi aku beneran sedang stres sekarang. Rasanya kayak, aku bisa tiba-tiba mengamuk sewaktu-waktu dan aku sedang menulis ini dengan maksud untuk menahan diri untuk tak meledak. (Ditambah lagi, ajang AFA tahun ini lagi-lagi tak bisa aku hadiri.)

Terlepas dari semuanya, aku juga sebenarnya masih belum benar-benar tahu seri ini tentang apa. Maksudku, aku menangkap garis besar premisnya. Tapi aku sama sekali masih belum terbayang seri ini akan berkembang ke mana. Karena ceritanya memang lumayan luar biasa enggak jelas.

Kukatakan saja: cerita dari buku pertama seri ini berakhir menggantung.

Mungkin juga itu yang membuatku kesal sih.

Ini jenis akhir cerita menggantung yang agak sulit aku maafkan.

Sashimi Kuda

Time to Play – First Half (ini judul buku pertamanya) mengetengahkan bagaimana si tokoh utama yang sebenarnya kurang pandai bergaul, sebenarnya merupakan seorang penulis ranobe sukses (aku baru nyadar pas menjelang akhir kalau dia tak menyebutkan siapa namanya). Tak ada siapapun, selain keluarganya, yang mengetahui tentang hal ini. Lalu karena hal tersebut, dirinya sempat mengalami beberapa komplikasi situasi pada saat masuk SMA.

Singkat cerita, si tokoh utama adalah penulis suatu seri ranobe laris berjudul Vice Versa, yang pada dasarnya berkisah tentang dua orang dari dunia berbeda—satu dari dunia ini, satunya lagi dari suatu dunia ajaib—yang memiliki wajah yang sangat mirip, dan saling berpindah dunia, dengan suatu keistimewaan yang mereka dapatkan saat berada di dunia yang bukan dunia asal mereka. Dirinya pertama mengajukan karyanya tersebut untuk ajang Penghargaan Novel Dengeki, yang benar-benar ada, yang diselenggarakan Dengeki Bunko, buatan perusahaan ASCII Media Works (beberapa keluaran Dengeki Bunko terkenal lain itu seperti seri To Aru Majutsu no Index dan Shakugan no Shana, misalnya). Lalu tatkala karyanya tersebut akan mendapatkan adaptasi anime, dirinya perlu cuti sekolah selama setahun untuk membantu persiapan proses produksinya.

Buku pertama ini pada dasarnya berkisah tentang bagaimana si tokoh utama mendapati bagaimana ada seorang teman sekelasnya di sekolahnya yang baru—seorang gadis cantik berkacamata bernama Nitadori Eri—yang mengetahui identitasnya sebagai pengarang, berkat statusnya sebagai seorang pengisi suara (seiyuu) yang berhasil dapat peran pembantu dalam proyek anime baru ini. Lalu si Nitadori ini kemudian memaksa si tokoh utama untuk ‘menceritakan’ padanya bagaimana awal mula ia menjadi penulis sukses seperti ini.

Proses wawancara ini berlangsung seminggu sekali, di dalam gerbong kereta yang setiap minggu keduanya (tenyata) tumpangi bersama, untuk kelanjutan proses produksi anime Vice Versa.

Lalu ada sangat banyak detil teknis kepenulisan ranobe yang dipaparkan di cerita ini. Terus terang sampai ke porsi di mana aku tak yakin maksudnya apa. Mulai dari soal proses revisi naskah sampai surat-surat penggemar. Sampai-sampai di akhir buku, aku masih merasa tak benar-benar tahu apa-apa tentang kedua tokoh utama ini.

Tapi twist-nya adalah, semenjak awal cerita, si tokoh utama sudah memaparkan bagaimana nyawanya sedang terancam oleh si Nitadori ini.

Cerita seri ini sebenarnya dibuka dengan bagaimana si tokoh utama sedang terkapar di lantai, dengan Nitadori yang tengah emosional dan menangis sedang menahannya dari atas dan mencekiknya. Lalu waktu seakan melambat saat si tokoh utama sedang mengenang kembali bagaimana semua ini bisa bermula.

Lalu dengan heran aku tiba-tiba menyadari: bahwa terlepas dari judulnya yang panjang dan terkesan main-main, cerita seri ini sama sekali bukanlah suatu cerita komedi.

“Kenapa?!”

Secara teknis, ranobe ini termasuk yang tak sulit untuk dibaca.

Cuma, ceritanya itu loh. Benar-benar masih belum jelas dan masih bisa ke mana-mana. Termasuk ke ranah-ranah supernatural dan agak meta. Sudah ada beberapa indikasi misteri yang ditebar, yang meliputi soal identitas asli Nitadori, sampai ke surat pembaca misterius yang si tokoh utama pernah terima dari salah satu pembacanya yang pernah hampir bunuh diri. Tapi benar-benar tak ada hook lain selain itu.

Juga tak benar-benar ada karakter lain yang diperkenalkan selain dua orang ini.

Ini seriusan satu buku yang mestinya dibaca berbarengan dengan buku berikutnya. Tapi sialnya buku keduanya ini masih belum diterjemahkan oleh fans.

Bukan berarti aku punya hak buat marah soal itu sih.

Bagi mereka yang benar-benar tertarik dengan kepenulisan, berbagai detil yang buku ini paparkan benar-benar menarik. Tapi bagi kebanyakan orang lain sih…

Hmm. Entah ya.

Tapi terlepas dari itu, hal teraneh bagiku adalah bagaimana aku benar-benar terlambat menyadari bahwa buku ini dikarang oleh Sigsawa Keiichi, pengarang Kino no Tabi yang terkenal (dan belakangan, kalau aku tak salah, pengarang salah satu spin off SAO yang berfokus pada dunia senjata api GGO, mengingat kegemaran beliau akan pistol dan senapan). Ceritanya kayak… sama sekali bukan gaya beliau. Tapi aku juga bukan penggemar Kino no Tabi, jadi aku tak bisa bilang aku tahu juga.

Ilustrasinya yang kontras dan keren dibuat oleh Kuroboshi Kouhaku. Tapi, aku juga belum bisa komentar banyak soal ini berhubung yang banyak digambarkan baru cuma Nitadori.

Mungkin akan ada twist lain yang akan dibeberkan pada buku berikutnya. Tapi untuk saat ini, kurasa aku cuma bisa berkomentar segini.

Sial. Apa akunya yang benar-benar payah ya?


About this entry