Ichiban Ushiro no Daimaou

…Aku agak malu ngomong ini. Tapi dalam sebulan ini, kayaknya aku benar-benar stres.

Manajemen di kantor payah. Kerjaan menumpuk dan tak jelas penyelesaiannya. Gaji tertunda. Lalu ada indikasi aku bakal kelibat pertumpahan darah yang timbul akibat kasus-kasus cinta segitiga orang lain.

Sial. Aku butuh liburan.

Mungkin aku belum sestres itu. Tapi situasi ini sebenarnya udah terjadi selama berbulan-bulan. Jadi, walau kadar stresnya enggak segila kalau aku kelibat perang di Syria misalnya, dan terus terang, seenggaknya aku masih bisa makan, situasi ini sebenarnya udah berlangsung lama, sehingga dampaknya lambat laun mulai kerasa juga.

Lalu mungkin karena itu aku akhirnya nonton Ichiban Ushiro no Daimaou.

Anime ini merupakan semacam seri komedi harem yang sempat diproduksi studio Artland di pertengahan tahun 2010 dan berjumlah 12 episode.

Yeah, sudah lumayan lama semenjak judul ini keluar.

Apa aja ya yang terjadi di masa-masa itu? Pastinya, aku tak begitu berminat terhadap seri ini pada awalnya sih. Lalu tiba-tiba saja aku teringat kalau ada teman yang pernah menunjukkannya, dan berhubung aku butuh hiburan, aku kemudian coba memeriksanya.

…Hasilnya enggak benar-benar sesuai yang aku duga.

Terlepas dari itu, Watanabe Takashi—sutradara veteran yang pernah menangani seri horor misteri Boogiepop Phantom, aksi fantasi Shakugan no Shana, dan fantasi komedi Slayers, serta belakangan ini Fuuin Isshin Daishogun, dan di musim depan nanti Heavy Object—yang menyutradarainya, dengan naskah yang dibuat oleh Yoshioka Takao.

Juga dikenal dengan judul Demon King Daimaou (‘raja iblis daimaou’), Ichiban Ushiro no Daimaou (‘raja iblis agung yang duduk di baris paling belakang’) diangkat dari seri light novel buatan Mizuki Shotaro dengan ilustrasi buatan Itou Shoichi, diterbitkan oleh Hobby Japan di bawah label HJ Bunko. Pertama terbit sejak tahun 2008, seri novelnya ini sudah berakhir pada Maret 2014 dengan total sebanyak 13 buku.

Aku Jadi Cemas Soal Hakikat Hidupku Sendiri

Sebagian besar cerita Ichiban Ushiro no Daimaou berlatar di suatu sekolah sihir bernama Constant Magical Academy. Tapi sebenarnya, aku juga enggak benar-benar yakin soal apa aja yang terjadi dalam seri ini.

Intinya, Sai Akuto, tokoh utama seri ini salah satu murid baru yang asal-usulnya agak misterius tapi berhati baik. Lalu dirinya kelimpungan saat sosok Yatagarasu di sekolah barunya itu memprediksi bahwa profesi masa depannya adalah menjadi Maou (‘raja iblis/sihir’). (Yatagarasu ini ceritanya memprediksi profesi masa depan semua murid, untuk keperluan pendidikan dan pelatihan yang sesuai jalur karir.)

Maou ceritanya adalah sosok legendaris yang secara berkala mendatangkan kehancuran bagi dunia ajaib di mana Constant Magical Academy ini berada. Sehingga dalam sekejap, Akuto langsung ditakuti dan diwaspadai oleh semua orang di sekolahnya, meski ia sudah berulangkali menegaskan kalau dirinya tak punya maksud untuk mengancam mereka semua. Tapi walau demikian, tak dapat dipungkiri kalau nyatanya memang Akuto memiliki kekuatan luar biasa.

Karena hal ini, ada banyak pihak yang langsung mempunyai kepentingan terhadap Akuto.

Eto Fujiko, seorang kakak kelas cantik yang juga merupakan kepala asrama perempuan di Constant, langsung tertarik pada Akuto dan berminat menjadikan dirinya bagian dari rencananya untuk menguak kematian mendiang kakak lelakinya (yang kepalanya ia masih simpan dan masih bisa bicara).

Seorang manusia buatan (yang juga cantik) bernama Korone ditugaskan pemerintah untuk selalu mengawasinya. Termasuk saat ia tidur. Sehingga hubungan antara dirinya dan Akuto jadi agak mirip hubungan antara Doraemon dan Nobita.

Ada seorang gadis misterius berambut merah penyuka nasi yang sangat sering menghilang, tapi nampaknya tahu sesuatu tentang masa lalu Akuto bernama Soga Keina.

Lalu gadis ninja ramah dan baik hati yang sempat dijumpai Akuto di hari pertamanya di Constant, Hattori Junko dari klan ninja Iga, serta merta malah memusuhinya. (Walau ujungnya nanti menjadi agak tsundere terhadapnya.)

Ada banyak, uh, prasangka dan kesalahpahaman. Seorang sahabat bernama Miwa Hiroshi yang serta merta menempatkan diri sebagai pengikut Akuto. Lalu seekor naga bernama Peterhausen. Dewan Siswa yang dipimpin oleh Shiraishi Lily yang sakti turut mengawasinya. Lalu semuanya memuncak dengan upaya Akuto untuk menghancurkan suatu ‘sistem’ yang disebut ‘dewa’ demi akhirnya mengakhiri…

Sori.

Sekali lagi, aku juga enggak begitu paham.

Intinya, ini jenis seri yang walau kau enggak begitu paham apa yang terjadi, kau bisa tetap mengikutinya karena ceritanya yang (mungkin) memang rame. Kayak, selalu ada banyak hal yang terjadi di dalamnya gitu… walau hubungan sebab dan akibatnya enggak benar-benar kau pahami secara jelas.

“Guga.”

Hal lain yang kurasa cukup jelas adalah kehadiran kelompok misterius (mesum?) CIMO8 yang mengawasi setiap langkah Akuto. Di tengah semuanya, rival Hattori, Teruya Eiko dari klan ninja Kouga, mencoba merebut pengaruh. Tapi tokoh antagonis utama seri ini sesungguhnya adalah seorang lelaki bernama Yamato Boichiro, seorang pemuda sangat kuat yang telah datang dari masa depan, yang kelihatannya bertanggung jawab atas kematian kakak Fujiko, dan memiliki suatu kepentingan terhadap Keina, yang juga menciptakan alat yang sedikit banyak berdampak pada terjalinnya hubungan antara Hiroshi dengan sang bintang idola, Hoshino Yuri.

…. …

Ada… banyak monster-monster juga yang kelihatannya timbul seiring bangkitnya kekuatan Akuto. Lalu ada isu-isu soal kudeta dan perebutan kekuasaan juga. Lalu ada juga lendir dan tentakel.

Aaarrgh.

Beralih ke soal teknis, dari aspek presentasi, seri ini benar-benar termasuk menengah. Lagu pembuka dan penutupnya sama-sama adalah jenis yang lambat laun mencuci otakmu sehingga membuatmu suka terhadapnya. Dalam naskahnya kayak ada banyak banget hal yang dicoba diangkat. Lalu si sutradara saat melihatnya kayak, “Ah, persetan! Kita masukin aja semuanya!” Sehingga di dalamnya ada banyak bumbu ‘tambahan’ yang aneh selain aksi dan komedi romantis gitu.

Seriusan. Kau bakal susah memahami soal apa sebenarnya yang sedang terjadi.

Yah, tapi terlepas dari semuanya, berhubung aku mengikutinya sampai tuntas, maka itu berarti aku lumayan bisa menikmatinya sih. Meski demikian, ini tetap sebenarnya bukan seri yang akan aku rekomendasikan. Kecuali kalau… kau lagi dalam kondisi gaje di mana kau pengen ‘mendobrak semuanya’ dengan nunjukin gimana semua orang lain salah? Dan kau ingin melihat adegan di mana seseorang melakukannya, dengan ditambah bumbu-bumbu fanservice dan harem.

Mungkin gitu.

Oya. Aku sempat dengar pendapat kalau cerita novelnya lumayan berbeda dan agak lebih masuk akal.

Sesudah melihat adaptasi animenya, aku masih agak enggan untuk tahu lebih jauh sih. Tapi yah, mungkin nanti.

Penilaian

Konsep: D+; Visual: C+; Audio: B-; Perkembangan: X(?); Eksekusi: C+; Kepuasan Akhir: B-


About this entry