Punch Line

Mungkin karena Saenai Heroine no Sodatekata, belum lama ini aku bolak-balik mempelajari halaman Wikipedia dari seri Memories Off.

Memories Off merupakan seri VN lama yang pertama dikeluarkan KID di pertengahan dekade 2000an dulu (meski sekarang sudah bubar, KID dulu juga terkenal sebagai pengembang seri VN Infinity Series). Samar-samar di masa lalu, rasanya aku pernah melihat beberapa visual dari seri OVA adaptasinya. Tapi aku tak benar-benar tahu apa-apa tentangnya sampai sekarang.

Alasan ini aku singgung adalah karena buatku, ada sesuatu yang benar-benar memikat dari konsep ‘percabangan cerita’ di seri-seri galge semacam Memories Off. Kita akan ke satu arah kalau memilih A, kita akan ke arah yang lain kalau memilih B. Hal-hal seperti itu agak membuatku mikir tentang beberapa hal, karena pilihan-pilihan yang kita ambil ditentukan oleh—dan sekaligus menentukan ke depan—‘identitas’ diri kita siapa.

Tapi terlepas dari itu, bahasan kali ini adalah Punch Line.

Menutup rangkaian bahasan soal anime musim semi 2015 lalu, ini satu judul lain yang perkembangannya sempat kuikuti. Malah, ini hampir menjadi judul favorit yang paling akan aku rekomendasikan dari musim itu.

Sekali lagi, hampir.

Disutradarai Uemura Yutaka dari studio MAPPA yang memproduksinya, dengan naskah dibuat Uchikoshi Kotaro (penyusun skenario game Ever 17 keluaran KID serta seri game thriller populer Zero Escape di NDS) dengan musik yang ditangani Komuro Tetsuya (buat kalian yang belum tahu, beliau salah satu produser musik veteran tersukses di Jepang, yang berperan memperkenalkan dance music di sana secara mainstream. Aku sendiri pertama mengenal beliau sebagai salah satu personil grup musik globe), dilihat dari sudut pandang manapun, Punch Line termasuk salah satu seri yang high profile.

Berjumlah total 12 episode, dengan melibatkan idola populer Nakagawa Shoko serta grup idola Dempagumi Inc, ada versi gamenya juga yang dikembangkan dan dikeluarkan oleh 5pb (yang kini telah bergabung dalam perusahaan induk Mages) untuk PS4 dan PS Vita, yang konon akan memaparkan perkembangan dan akhir cerita alternatif yang bisa berbeda dari di animenya.

Alasan aku menyinggung soal Memories Off (selain karena dikembangkan oleh KID, dan juga karena nuansa sentimentalisme di dalamnya yang benar-benar kuat), adalah karena daripada anime, Punch Line lebih terasa dibuat untuk dijadikan game.

Jenis game yang mengutamakan soal ‘percabangan cerita’ di dalamnya.

Panties and Cinnamon

Punch Line (ini istilah bahasa Inggris, secara harfiah kira-kira berarti ‘bagian lelucon yang membuat tertawa’; walau dalam konteks ini, merupakan plesetan dari kata ‘panchira’ yang artinya ‘pantyshot’) berkisah tentang Iridatsu Yuuta, seorang remaja yang pada suatu hari terlibat dalam suatu insiden pembajakan bis. Di akhir insiden, Yuuta kemudian terpisahkan roh dan badannya, bertemu seekor roh kucing misterius bernama Chiranosuke, yang kemudian menjelaskan pada Yuuta bahwa dirinya telah menjadi harapan terakhir umat manusia untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran.

Hanya saja, Chiranosuke juga menyebutkan kalau hal ‘sebaliknya’ juga bisa terjadi: apabila Yuuta sampai dua kali melihat celana dalam perempuan secara berturut-turut, maka suatu reaksi berantai akan terjadi, yang justru kemudian akan menyebabkan bumi hancur akibat hantaman meteor.

Uh, oke. Mungkin kurang lebih gitu?

Terlepas dari tema-tema konspirasi, pembunuhan, aliran kepercayaan, dan misteri di dalamnya, Punch Line jelas-jelas bukan anime yang perlu ditanggapi serius. Tapi entah karena pemaparannya yang bagus atau gimana—terlepas dari segala pantyshot di dalamnya—lumayan susah buat enggak jadi penasaran dan kemudian berharap lebih. Ada meteor raksasa di luar angkasa yang sedang mengancam dunia. Ada suatu superhero bertopeng yang menjadi pembasmi kejahatan. Ada aliran kepercayaan Q-May yang menyatakan akan melakukan sesuatu tentang meteor ini bila kemauan mereka tak dituruti.

Lalu para pembuatnya ternyata enggak bercanda. Jumlah pantyshot di seri ini benar-benar ada banyak.

Hanya saja, entah karena gaya desain karakternya yang imut atau bagaimana, terlepas dari betapa parah dan mendetilnya desain berbagai celana dalam di dalamnya, aku hampir-hampir enggak merasakan apa-apa setiap kali adegan-adegan fanservice ini terjadi (yang ditandai dengan bagaimana Yuuta secara klasik mimisan). Alasannya? Karena aku sudah terlanjur terpikat dengan semua teka-teki yang terjadi di balik semuanya.

Apa sebenarnya yang terjadi? Dunia tengah terancam karena apa?

Episode-episode awal Punch Line membawa kita pada keseharian(?) Yuuta dan para penghuni lain di Wisma Korai yang ditempatinya. Yuuta, dengan bimbingan tak jelas dari Chiranosuke, kini melayang-layang sebagai roh di sana. Sementara, Chiranosuke menjelaskan, ada orang lain yang telah mengambil badan Yuuta. Lalu sosok tersebut telah menempeli dinding kamar Yuuta dengan berbagai kertas mantra sehingga Yuuta tak bisa masuk.

Chiranosuke kemudian berkata bahwa Yuuta harus menemukan kitab misterius Nandala-Gandala untuk bisa menyelesaikan semuanya. Lalu mungkin saja kitab ini ada di Wisma Korai. Tapi di kamar siapa?

Di samping Yuuta, para penghuni Wisma Korai yang lain antara lain (ya, semuanya cewek, karenanya, Yuuta jadi perlu berhati-hati):

  • Narugino Mikatan; seorang gadis cantik yang ramah dan ceria, yang merupakan personil sebuah grup idola terkemuka, sekaligus pahlawan bertopeng misterius Strange Juice yang sebenarnya bermarkas di Wisma Korai. …Mungkin Yuuta memiliki perasaan terhadapnya.
  • Daihatsu Meika; teman lama Mikatan sekaligus pemilik dari Wisma Korai; sebenarnya adalah penemu jenius Pumpkin Chair, yang dari jauh membantu Strange Juice dalam setiap aksinya.
  • Hikiotani Ito; seorang siswi SMA yang karena suatu alasan, sudah agak lama mengurung diri di kamarnya dan tidak ke sekolah. Sebenarnya seorang gamer sangat handal yang ternyata merupakan salah satu lawan online yang sering dihadapi Yuuta.
  • Chichibu Rabura; seorang perempuan dewasa yang terbilang cantik, tapi karena suatu hal masih single. Nampaknya dulu memiliki bakat supernatural untuk meramal dan sebagainya yang ia warisi dari keluarganya, tapi karena suatu sebab, kekuatannya sirna dan itu membuatnya frustrasi. Meski begitu, pengetahuan yang dimilikinya sedikit banyak tetap berguna bagi Yuuta. Dirinya juga sudah mulai putus asa untuk mendapatkan pasangan.

Semuanya dituturkan dengan benar-benar bagus dan mudah dipahami, sekalipun ada begitu banyak hal yang terjadi di antara adegan-adegan konyol yang muncul. Padahal cerita Punch Line latarnya hanya berkisar di hari-hari terakhir Desember di awal musim dingin, tak jauh-jauh dari Wisma Korai. Tapi apa-apa yang terjadi di sana memiliki kaitan dengan nasib seisi dunia.

Lalu semuanya terikat dengan suatu proyek rahasia di masa lalu, seekor kura-kura dan seekor anak beruang, serta peran yang ditakdirkan harus dimainkan oleh masing-masing penghuni Wisma Korai ini.

U-Turn

Bicara soal teknis, kalau kalian tanya apa ini anime yang bagus atau enggak, maka seenggaknya ini anime yang benar-benar bagus secara teknis. Presentasinya mengesankan. Walau kalian mungkin tak langsung sreg dengan gaya desainnya, para karakternya ekspresif dan visualnya ramai oleh motif. Ada banyak detil yang diperhatikan pada interior kamar masing-masing penghuninya. Mulai dari patung cowok di kamar Rabura, peralatan penuh warna di kamar Meika-emon, sampai kesuraman dan keberantakan di kamar Ito.

Adegan-adegan aksinya, yang di luar dugaan lumayan banyak (dan juga lumayan melibatkan banyak hal gila), terkoreografi dengan bagus, terutama pada episode-episode terakhirnya.

Lalu musiknya, meski di awal mungkin tak langsung kau suka, memang lama kelamaan meraih perhatian.

Cuma, ya, itu. Ini anime yang benar-benar aneh dari awal sampai akhir. Kalau kau tak suka misteri atau komedi yang jenis seperti ini, atau bahkan tak tahan dengan begitu banyaknya kilasan celana dalam yang berulangkali terjadi, mungkin ini sesuatu yang takkan cocok buat kalian.

Dan lagi, kenapa mesti celana dalam?! Maksudku, apa segitunya mereka mesti memaksakan lelucon yang berbasis permainan kata ini?

… …

Oke. Kembali membahas soal musiknya…

Man, kayaknya aku jadi mesti menuturkan pengalaman pribadi lagi.

Bukan. Bukannya musiknya jelek sih. Aku bahkan enggak bisa mengatakan musik dan audionya jelek.

Tapi terlepas dari Nakagawa-san yang akrab dipanggil Shoko-tan—yang sudah agak lama aku kenal, dan lumayan bisa kuhormati; man, aku harap dia orang baik, karena aku takkan bisa melupakan nyanyian ‘Sorairo Days’ beliau di anime Gurren Lagann—aku pertama mengenal grup Dempagumi Inc dari pengalaman mengikuti AFA Indonesia 2013 dulu. Mereka yang menjadi bintang tamu kejutan di acara pentas musiknya. Tapi aku terus terang agak dendam pada mereka, karena gara-gara mereka tampil, tampilnya Kalafina jadi tertunda.

…Oke, kita jangan singgung soal masa lalu.

Intinya, sesudah pengalaman AFA itu, aku mencari info sedikit soal mereka, dan menurutku mereka grup idola yang benar-benar aneh. Buatku, mereka memiliki kemampuan dalam semua performa mereka gitu. Cuma, mereka aneh. Kayak, aura dan wibawa idol mereka buatku sama sekali enggak kepancar gitu.

They’re just weird.

Jadi aku enggak pernah benar-benar tertarik dengan mereka.

…Yah, Shoko-tan juga sosok yang agak aneh sih. Jadi kurasa ini kolaborasi yang pas.

Namun sesudah mengikuti Punch Line, baru mesti kuakui kalau Dempagumi memang grup yang lumayan. Aku lambat laun bisa suka dengan lagu penutup terakhir yang mereka bawakan. Meski aku masih tak bisa merasakan wibawa mereka sebagai idol, Dempagumi kini telah menjadi kelompok yang juga bisa aku hormati terlepas dari… uh, sisi-sisi aneh mereka.

Jadi, yang ingin kukatakan adalah: hasilnya enggak jelek kok! Sama sekali enggak! Malah hampir bagus!

Hahahahaha!

… …

Iya.

Hampir.

Soalnya tamatnya agak…

Meski klimaksnya bagus, mereka kayak memilih tamat yang bukan tamat terbaik yang bisa terjadi. Para pembuatnya kayak menyimpan tamat terbaik itu untuk digunakan di versi gamenya saja.

Sekali lagi, karena soal ‘percabangan cerita’ di atas.

Menyebalkan? Ya, agak menyebalkan.

Tamat animenya itu kayak neutral ending. Sementara nanti gamenya yang akan menyajikan tamat-tamat yang lebih jauh tergantung rute (cewek?) mana yang nanti akan kita pilih.

Entahlah. Kesannya buatku seenggaknya kayak gitu.

Dan lagi, meski perkembangan ceritanya sudah gila-gilaan dengan berbagai kekocakan di dalamnya, memang masih ada beberapa teka-teki yang belum terungkap. Seperti soal saudara lelaki Rabura (yang disinggung sangat minim). Seperti soal Muhi. Seperti soal awal fobia Mikatan terhadap kura-kura.

Seperti soal nasib akhir yang lain-lainnya lagi…

Akhir kata, ini anime yang berhasil menuntaskan semua jalinan ceritanya, tapi dengan—anehnya—kurang memuaskan. Tapi ini seri yang bisa sangat berkesan bila kalian memilih mengikutinya.

Soal celana dalam… maaf, aku enggak bisa berkomentar banyak soal desain celana dalam.

Soal Memories Off, yah, setelah memikirkannya lagi, aku jadi agak rindu dengan seri-seri macam Memories Off. Mungkin mestinya aku lebih banyak mendalaminya di saat seri-seri seperti itu sedang menjamur.

Yah, mungkin di lain waktu.

Penilaian

Konsep: X; Visual: A; Audio: A; Perkembangan: A; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: B+


About this entry