Owari no Seraph

(Catatan: bila kau membaca ini karena tertarik untuk membaca seri manganya, tanpa melihat dulu animenya, sangat aku sarankan untuk tak membaca tulisan ini sampai sekurangnya kau sudah membaca sampai bab ketiga.)

Tak jauh di masa depan, suatu wabah penyakit misterius tiba-tiba menyerang dunia dan menewaskan seluruh orang dewasa. Di tengah kekacauan, kaum vampir keluar dari persembunyian mereka dan mulai mengambil alih kekuasaan atas peradaban.

Hyakuya Yuuichirou, salah satu anak manusia yang dijadikan budak untuk diambil darahnya secara teratur oleh para vampir, kemudian melarikan diri bersama keluarganya dari kota bawah tanah di mana mereka ditahan. Namun tragedi terjadi, dan Yuuichirou diselamatkan oleh Ichinose Guren, seorang perwira dari Gekki no Kumi/Moon Demon Company, kesatuan khusus tentara Kekaisaran Jepang yang bertugas melawan vampir.

Bergabung dengan Gekki no Kumi dan mengetahui masih ada manusia yang hidup di atas permukaan tanah, Yuuichirou berusaha keras untuk menjadi kuat agar bisa membalas dendam.

Dunia Urat Nadi

Anime Owari no Seraph, atau Seraph of the End – Vampire Reign (arti judulnya kira-kira adalah: ‘malaikat hari akhir’; subjudul vampire reign kurang lebih berarti: ‘era kekuasaan vampir’), dianimasikan oleh Wit Studio (yang belakangan tenar lewat animasi Attack on Titan dan Houzuki no Reitetsu), dan diangkat dari seri manga aksi fantasi gelap buatan Kagami Takaya dan Yamamoto Yamato, dengan dibantu Furuya Daisuke. Manganya diserialisasikan secara bulanan di majalah Jump Square punya penerbit Shueisha dari perempat akhir tahun 2012, dan sampai kini masih berlanjut.

Pertama ditayangkan pada musim semi 2015 lalu, disutradarai oleh Tokudo Daisuke, dan direncanakan sebanyak 24 episode yang dibagi ke dalam dua musim tayang, season kali ini mengadaptasi cerita manganya kira-kira sampai buku keempat. Adaptasinya lumayan setia, dengan hanya sedikit perubahan urutan dalam penceritaannya saja. Lalu cour berikutnya dijadwalkan untuk tayang pada bulan Oktober ini.

Sebenarnya, aku sempat kebingungan mengetik ini. Satu, karena agak sulit menulis tentangnya tanpa terlalu memberikan spoiler. Dua, karena memang aku agak bingung baiknya mulai dari mana.

Owari no Seraph berlatar di sebuah dunia post-apocalyptic di mana kehancuran besar-besaran telah terjadi. Jalanan aspal sudah rusak ditumbuhi ilalang. Bangunan-bangunan besar sudah rubuh, pecah kacanya, dan hanya tinggal puing-puing. Komunikasi dengan negara-negara lain terputus. Lalu monster-monster besar yang disebut Horsemen of Apocalypse berkeliaran dan membatasi pergerakan manusia.

Mengambil waktu beberapa tahun sesudah pelarian Yuu, ceritanya pada dasarnya mengeksplorasi hubungan Yuuichirou dengan orang-orang di sekelilingnya. Ini meliputi Guren yang telah menyelamatkannya, teman-teman setimnya yang baru di Gekki no Kumi, serta sahabatnya yang dibesarkan di panti asuhan yang sama dengannya, Hyakuya Mikaela, yang tertinggal di pihak kaum vampir dan ‘dibesarkan’ oleh mereka.

Hubungan Yuu dan Mika yang terutama menjadi penggerak cerita. Mereka berkeinginan untuk saling menolong satu sama lain. Tapi ada begitu banyak hal yang tak diketahui oleh masing-masing, yang menyebabkan perbedaan pada tindakan dan cara pandang mereka.

Break it down for me

Aku termasuk yang pertama tahu tentang Seraph of the End dari manganya. Desain artwork Yamamoto-sensei terbilang keren. Tapi yang pertama menarik perhatian bagiku sebenarnya adalah nama Kagami-sensei sebagai pengarangnya.

Kagami-sensei sebelumnya telah dikenal sebagai pencetus cerita untuk seri Densetsu no Yuusha no Densetsu serta Itsuka Tenma no Kuro Usagi. Keduanya pertama keluar sebagai light novel, sebelum diadaptasi ke berbagai media lain, dan keduanya juga sama-sama telah diangkat menjadi anime. Tapi terus terang, sebelum Owari no Seraph keluar, aku sempat punya perasaan campur aduk terhadap karya-karya beliau. Apa yang beliau buat biasanya punya adegan-adegan aksi yang seru sih. Hanya saja, kadang ada sesuatu yang benar-benar aneh dengan tema dan gaya cerita yang beliau angkat. Mungkin ada sesuatu di pemaparannya, atau gimana.

Buat yang belum tahu, membaca sendiri Denyuuden atau Itsutenma mungkin akan langsung membuat kalian paham sih.

Tapi terlepas dari itu, Owari no Seraph, pas pertama keluar sebagai manga, benar-benar mengejutkanku karena kualitasnya seakan jauh melebihi karya-karya beliau yang sebelumnya. Premis dan perkembangan ceritanya langsung menarik perhatian. Adegan-adegan aksinya keren. Lalu para karakternya—yang biasanya, mungkin karena masalah selera, berada di ambang suka dan enggak—lebih bisa kusukai dari karakter-karakter beliau yang sebelumnya.

Karena itu, aku lumayan penasaran begitu mendengar kabar kalau ini akan dianimasikan.

Meski klise, hal paling pertama yang seri ini angkat adalah soal isu persahabatan dan kepercayaan. Yuuichirou, meski terbilang kuat untuk usianya, punya masalah sangat parah dalam kerjasama tim. Lalu meski sangat sederhana pemaparannya, hal ini ternyata disebabkan karena ia masih belum mampu merelakan orang-orang yang ditinggalkannya di masa lalu dulu. Dalam hati ia kayak bertanya, ‘Gimana bisa aku sekarang menikmati pertemanan dengan orang lain kalau teman-temanku yang dulu aja enggak bisa kujaga?’

Lalu ini terutama menjadi isu, karena kaum vampir, selain kemampuan mereka menghisap darah, bahkan yang paling lemahpun, juga memiliki kemampuan fisik yang jauh melebihi manusia. Karenanya, sangat tidak disarankan untuk menghadapi mereka sendirian.

Hal ini yang kemudian coba Guren perbaiki dengan memaksa Yuuichirou untuk bersekolah kembali.

Bagian awal seri ini banyak mengeksplorasi hubungan Yuuichirou dengan teman-teman yang kemudian menjadi anggota timnya: si teman sekelas Hiiragi Shinoa, seorang gadis remaja sebaya Yuu, yang ternyata berpangkat lebih tinggi dalam militer, dan secara khusus telah Guren tugasi untuk mengawasinya; Saotome Yoichi, anak lelaki lemah lembut sasaran bullying, yang bersikeras untuk bisa bergabung dengan Gekki no Kumi; Kimizuki Shihou, remaja tinggi berkacamata yang sama penyendirinya dengan Yuu dan kerap bertengkar dengannya (hanya saja nilai-nilainya lebih bagus); dan Sanguu Mitsuba, gadis muda setara Shinoa yang secara tak disangka kemudian diberi tugas untuk memimpin tim mereka.

Bagi banyak orang, Shinoa terutama yang menjadi karakter paling menarik di seri ini. Terlepas dari kemungilannya, dirinya cantik dan manis, tapi dengan sifat suka menyindir dan mulut yang sangat sarkastis. Shinoa terus terang yang menjadi salah satu daya tarik terbesar Owari no Seraph, dan aku kenal orang-orang tertentu yang menjadi penggemar seri ini semata-mata karena dia doang.

Shinoa juga yang kemudian membeberkan pada Yuu tentang bagaimana pihak tentara Jepang menemukan cara untuk menandingi para vampir, yakni melalui pemakaian Demon Weapon (Cursed Gear, Kiju Soobi).

Demon Weapon merupakan persenjataan khusus yang di dalamnya ada demon bersemayam. Dari dalamnya, si demon meminjamkan kekuatan mereka kepada penggunanya, meningkatkan kekuatan mereka sampai sekian kali lipat. Tapi untuk memperolehnya, masing-masing calon penggunanya harus sanggup menahan ujian mental dari sang demon sebelum menjalin kontrak.

Seperti kebanyakan seri aksi genre shonen lainnya, ada penjelasan teknis lanjut tentang Demon Weapon ini. Secara umum terbagi menjadi dua jenis: tipe manifestasi, yang memunculkan sebagian wujud sang demon dari dalam senjata di sisi penggunanya, yang meski relatif lebih lemah, biasanya turut diimbangi dengan adanya suatu kemampuan khusus; serta tipe perasukan, yang mana sang demon sedikit demi sedikit merasuki si penggunanya dan secara nyata memberikan mereka kekuatan lebih. Lalu ini semua menjadi makin menarik dengan bagaimana asal mula para demon ternyata berkaitan dengan kaum vampir.

Ada lumayan banyak misteri dalam ceritanya. Seperti soal dari mana wabah virus berasal, motivasi kebencian kaum vampir atas manusia, serta perpolitikan di dalam Gekki no Kumi sendiri, terutama sesudah terungkap bagaimana klan-klan paling berkuasa di kemiliteran nampaknya mempunyai agenda mereka masing-masing.

Semuanya kembali berpusar pada suatu proyek rahasia yang kelihatannya dulu dijalankan pihak manusia, dan melibatkan Yuu dan Mika sewaktu mereka masih anak-anak: proyek misterius Seraph of the End, yang mungkin telah menjadi pemicu sesungguhnya kehancuran dunia.

Your salvation has begun

Buat mereka yang tertarik, Demon Weapon masing-masing tokoh utama meliputi:

  • Asuramaru milik Yuu, berbentuk katana, tipe perasukan, yang menguji tekad Yuu lewat visi-visi masa lalu tentang Mika dan kawan-kawan lamanya dari panti asuhan Hyakuya.
  • Shikama Douji milik Shinoa, berbentuk sabit besar, tipe manifestasi, yang secara akrab Shinoa panggil dengan sebutan ‘Shi-chan’.
  • Gekkouin milik Yoichi, berbentuk busur, tipe manifestasi, yang sebelumnya menggoda ketakutan Yoichi dengan traumanya atas kematian kakak perempuannya.
  • Kiseki Ou milik Kimizuki, berbentuk pedang kembar, tipe perasukan, yang menarik sisi gelap Kimizuki lewat gambaran tentang adik perempuannya yang terkena gejala virus dan perlu perawatan medis.
  • Tenjiryuu milik Mitsuba, berbentuk kapak perang raksasa, tipe manifestasi, yang Mitsuba bawa bersama beban rekan-rekan setimnya yang lama, yang tewas mengorbankan nyawa untuknya.

Kesemuanya merupakan Demon Weapon dari Black Demon Series, yang merupakan kelas tertinggi, dan karenanya menjadikan tim yang dipimpin Mitsuba ini semacam tim elit terlepas dari usia muda para anggotanya.

Satu tambahan yang patut disebut adalah Mahiru-no-Yo milik Guren, berbentuk katana dan tipe perasukan, yang di dalamnya diindikasikan bersemayam roh mendiang kakak perempuan Shinoa, Hiiragi Mahiru.

Owari no Seraph memiliki kualitas adegan-adegan aksi yang konsisten. Bukan jenis aksi yang ‘pertarungan,’ melainkan lebih ke aksi jenis ‘pertempuran.’ Di balik semuanya, kelihatan banget betapa rapi penataan segala sesuatunya. Aksinya selalu menceritakan narasinya secara efektif, dengan koreografi yang selalu enak dilihat, meski mungkin akan agak kurang memuaskan buat yang lebih suka aksi tipe ‘pertarungan.’

Para vampir memiliki pedang-pedang khusus mereka sendiri, yang mendapat kekuatan dari menyerap darah mereka, menjadikan bilah mereka mencolok dengan warna merah (secara keren berlawanan dengan kesemua Demon Weapon yang berwarna hijau). Ada monster-monster besar yang dihadapi, ada pesenjataan militer seperti misil dan helikopter yang kemudian digunakan para vampir untuk kepentingan mereka sendiri, ada tembok-tembok besar yang dibangun manusia untuk menyegel wilayah aman mereka. Hasilnya beneran keren, terutama dengan bagaimana semua berlatar di dalam reruntuhan kota Tokyo.

Di pihak para vampir, selain Mika, hadir pula Crowley, vampir maskulin bertubuh kekar yang beberapa kali menjadi lawan yang jauh melampaui kekuatan Yuu dan seluruh timnya; Ferid Bartory, sosok vampir leluhur (ketujuh) yang dianggap sebagai penyebab kemalangan Yuu dan Mika; serta Krull Tepes, vampir leluhur lain (ketiga) yang memprakarsai perang terbuka baru antara para vampir dan umat manusia.

Bahkan Guren dan timnya, yang lebih senior daripada Yuu, tak digambarkan overpowered. Bahkan di hadapan para vampir pun, mereka pun masih bisa terdesak dan nyaris mati.

Ceritanya tertata lebih keren dari yang mungkin kau duga gitu, dengan banyak elemen penting yang baru kelihatan berarti sesudah cerita berkembang.

It’s the pain that makes us all human, after all…

Bicara soal teknis, anime Owari no Seraph mencolok karena gaya visualnya yang mengandalkan lukisan tangan. Ada kesan 2D mulus dari visualnya gitu. Latar belakang dunia yang sudah hancur jadi tergambarkan secara unik, penuh tetumbuhan dan nuansa alam, sembari menonjolkan warna-warna kuat. Ada beberapa adegan di mana lingkungan sekelilingnya jadi terkesan ‘statik’, tapi hasilnya enggak jelek dan tetap punya daya tarik tersendiri.

Dari segi audio, seri ini juga termasuk kuat. Sawano Hiroyuki, yang kini sudah tenar sesudah aransemennya di Guilty Crown dan Aldnoah.Zero, yang menangani sebagian besar soundtracknya. Campuran irama khas beliau lumayan cocok dengan nuansa kesendirian dan pengharapan yang seri ini bawa.

Oke. Walau sejauh ini aku mengatakan hal-hal baik tentangnya, memang ada beberapa alasan mengapa seri ini termasuk yang ‘rata-rata’ pada musim semi lalu sih.

Seperti yang sudah kusebut di atas, meski termasuk yang lebih baik, seri-seri buatan Kagami-sensei memang jenis yang hanya akan cocok buat sebagian orang. Kerap ada sesuatu yang ‘enggak biasa’ pada gaya penceritaan dan fokusnya. Soal ini agak susah menjelaskannya.

Di samping itu, ada juga tema soal vampirismenya, yang juga mungkin membuat kurang nyaman sebagian orang lain. Terutama dengan bagaimana adegan-adegan penghisapan darahnya digambar dengan penuh perhatian di seri ini.

Di samping itu lagi, yang kembali bisa menjadi turn off, adalah adanya beberapa hint BL antara beberapa karakter utamanya. Seperti antara Yoichi dan Yuu (di mana Yoichi yang cengeng memeluk Yuu karena lega bisa melihatnya kembali), antara Kimizuki dan Yuu (seperti saat keduanya dalam keadaan diborgol bersama), dan terutama antara Yuu dan Mika (seperti pada bagaimana Ferid terus-terusan menyebut Yuu sebagai ‘tuan putri’-nya Mika, dan bahkan ada adegan di mana Mika menggendong Yuu dengan gaya princess carry). Tapi semua ini benar-benar terasa lebih seperti fujoshi bait dan fanservice. Sebab anehnya, aku sendiri enggak langsung sadar dengan semua ini sampai temanku menunjukkannya. Adegan-adegan aksinya begitu hati-hati, Shinoa ditampilkan begitu manis, dan bahkan ada adegan tarian gemulai yang Krull lakukan di animasi pembuka, sehingga aku enggak benar-benar bisa bilang seri ini bukan buat cowok.

…Jadi, intinya, kalau kalian termasuk jenis yang bisa suka, ya kalian bakal suka. Tapi mending kalian jangan memaksakan diri.

“Tembak dia, Yoichi! Bunuh keparat itu!”

Season pertama Owari no Seraph berakhir persis sesudah pertemuan kembali antara Yuu dan Mika, dalam suatu insiden yang nyaris menewaskan mereka semua. Kesannya lumayan keren karena ditutup dengan pembeberan soal betapa berkuasanya keluarga Shinoa dan Mitsuba, serta bagaimana keluarga Hiiragi sudah mulai bergerak, yang sampai membuat Guren memperingatkan Yuu tentang pada siapa ia harus menaruh kesetiaannya.

Jadi, apa ya, meski ini seri khas shonen yang ceritanya tak perlu ditanggapi terlalu serius (dan terlepas dari semua elemen itu di dalamnya), aku mesti mengakui kalau ceritanya kadang-kadang bisa menjadi lebih berbobot dari yang aku kira. Aku terutama terkesan dengan bagaimana Yuu dipaksa untuk bisa menerima masa lalu untuk bisa melangkah ke depan.

Aku juga suka musiknya.

… …

Yah, oke. Mungkin itu sih sudah jelas enggak perlu disinggung.

Di samping manga, Owari no Seraph juga memiliki seri light novel yang mengetengahkan kisah masa lalu Guren dan kawan-kawannya sewaktu mereka seusia Yuu. Ceritanya dipenai sendiri oleh Kagami-sensei, dan secara keren lumayan melengkapi apa-apa yang terjadi di manganya. Dalam hal ini, soal nasib sesungguhnya yang menimpa Hiiragi Mahiru, serta sejarah apa yang dimiliki Asuramaru…

Gaya tulisan Kagami-sensei memang takkan cocok dengan semua orang (sebagian mungkin malah menganggap tulisan beliau gampangan). Tapi buat mereka yang bisa menikmatinya, benar-benar terasa seperti ada sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Seri ranobe terbaru Kagami-sensei yang lain, Mokushiroku Arisu/Apocalypse Alice, juga termasuk salah satu yang kusukai.

Akhir kata, aku lumayan penasaran dengan seperti apa season lanjutannya pada Oktober nanti. Manganya masih berlanjut. Jadi apa mereka masih akan mempertahankan ceritanya agar setia?

Lalu ngomong-ngomong soal Oktober dan masa tayang musim gugur nanti, kayaknya ini bakal jadi musim yang benar-benar bisa sarat dengan anime aksi? Yah, kita lihat saja nanti.

Oke. Aku juga suka Shinoa!

Dia chara yang akhirnya mendamaikan aku dan temanku dalam perang abadi kami soal oppai dan pettan!

Puas?

Penilaian

Konsep: B+; Visual: A; Audio: A+; Perkembangan: B+; Eksekusi: A; Kepuasan Akhir: A-


About this entry