Orange

Maaf lama enggak nulis. Bahkan di musim liburan kemarin, weird things kept on happening one after another.

Terlepas dari itu, bahasan kali ini adalah manga shoujo Orange (‘jingga’, atau ‘jeruk’) karya Takano Ichigo, yang belum lama ini telah dibuat versi live action layar lebarnya (dengan Tsuchiya Tao dan Yamazaki Kento sebagai pemeran utamanya). Manga ini pertama diserialisasikan bulanan di majalah Bessatsu Margaret punya Shueisha di tahun 2012, sebelum kemudian pindah ke majalah Monthly Action (yang anehnya, bergenre seinen) milik penerbit Futabasha pada tahun 2013, dan dijadwalkan akan tamat serialisasinya sebentar lagi. Alasan aku menulis ini mungkin ada kaitannya dengan isu penyesalan yang agak melanda beberapa teman di sekelilingku belakangan.

Yeah, tema manga satu ini sedikit banyak tentang itu.

Semua orang punya penyesalan. Ada orang yang seluruh masa lalunya menjadi penyesalan. Orang yang hidupnya seolah didefinisikan oleh penyesalan itu. Lalu ada juga orang-orang yang menjadikannya sebagai landasan untuk terus maju.

…Atau merasa bego.

Entahlah.

Tapi terlepas dari semuanya, sebelum aku mulai, biar aku nyatakan dulu: manga ini beneran bagus. Ini salah satu manga shoujo paling bagus yang pernah aku baca. Aku sama sekali enggak kaget dengan gimana seri ini akan diangkat menjadi film drama. Artwork-nya beneran keren dan nuansa dunia dan karakternya dapet. Karena temanya yang tentang penyesalan itu, awalnya cerita ini agak susah buat kubaca (karenanya aku menunda-nunda untuk membahas ini, walau sejak akhir tahun lalu, seri ini sudah diterjemahkan di sini oleh M&C). Tapi sesudah dipaksain, hasilnya beneran memikat.

…Uh, yeah, ceritanya agak sedih.

Emang mungkin bikin cerita soal penyesalan tapi membuatnya enggak sedih?

Tapi itu tak menutup kemungkinan kalau ceritanya akan berakhir dengan memuaskan kok.

Surat

Orange berlatar di kota Matsumoto, di perfektur Nagano. Pada musim semi saat ia berusia 16 tahun, pada hari pertama tahun ajaran baru, seorang gadis pemalu bernama Takamiya Naho, yang memiliki hobi menulis diary, mendapat surat dari dirinya sendiri yang berada sepuluh tahun di masa depan.

Surat itu datang melalui pos. Bagaimana surat itu sampai ke rumahnya, Naho tak bisa menjelaskan. Tapi saat ia coba baca, surat itu secara tepat menyebut bagaimana hari itu ia telat menyetel alarm sehingga terlambat bangun. Surat itu juga menyebut bagaimana kelasnya hari itu kedatangan seorang murid pindahan dari Tokyo, seorang anak lelaki bernama Naruse Kakeru. Lalu surat itu dengan tepat menyebutkan juga bagaimana Kakeru kemudian mendapat tempat duduk di sebelah Naho.

Kebingungan, Naho mendapati ada beberapa hal yang kemudian disarankan dalam surat itu. Tentang apa-apa yang akan terjadi, tentang apa-apa yang sebaiknya Naho lakukan. Lalu dengan takut sekaligus penasaran, Naho mencoba mengikuti apa-apa yang ditulis di dalamnya.

Seperti soal ajakan Naho dan teman-temannya untuk mengajak Kakeru pulang bersama-sama, sesuatu yang Naho baiknya coba lakukan soal giliran memukul dalam kegiatan softbol pada pelajaran olahraga. Tapi yang terutama membuat Naho tergetar adalah bagaimana surat itu menyebutkan secara tepat bahwa dua minggu sesudah pertemuan pertama mereka, Naho akan jatuh cinta pada Kakeru.

Lalu itupun, ternyata juga menjadi kenyataan.

Hati yang Menyesal Takkan Berubah Sampai Sepuluh Tahun Berikutnya

Agak sayang kalau aku membahas lebih jauh. Karena seri ini seriusan lebih keren kalau dibaca sendiri.

Di samping Naho yang pemalu, tak percaya diri, punya kecendrungan memendam perasaannya (aku merasa aneh menulis ini karena ada seorang teman dekatku yang sifatnya agak seperti dia; apa ada banyak protagonis manga shoujo yang kayak gini? Apa temanku ini enggak sebaiknya menjadi protagonis sebuah manga shoujo aja?!) tapi sebisa mungkin ini menolong orang; serta Kakeru yang jarang memperlihatkan senyumnya, tapi sangat pemerhati; karakter-karakter utama lain yang berperan besar di seri ini meliputi:

  • Murasaka Azusa; teman dekat Naho yang ceria, yang juga menjadi moodmaker di antara mereka
  • Kayano Takako; teman dekat Takako yang cool dan pendiam, dan memiliki aura seorang kakak perempuan
  • Hagita Saku; sahabat lama Azusa yang agak aneh, dan kadang enggak peka terhadap keadaan, tapi tetap termasuk tampan bila kacamatanya dilepas
  • Suwa Hiroto; sahabat dekat Naho dan lainnya, sangat ramah dan terbuka, pandai sepakbola, pemerhati, orang yang pertama berinisiatif untuk mengajak Kakeru menjadi bagian dari mereka, tapi juga yang telah paling lama memperhatikan Naho sebelum Kakeru datang…

Membahas soal teknis, desain karakter dan dunianya benar-benar keren. Kota Matsumoto ini benar-benar ada, dan di sepanjang cerita kita akan dibawa ke berbagai pelosok yang juga didatangi oleh Naho dan kawan-kawannya. Penggambaran pemandangan dan suasananya benar-benar bagus. Selalu ada suatu perasaan lembut yang terbawa dalam penyampaiannya gitu.

Perkembangan ceritanya juga benar-benar mulus. Dengan sedikit demi sedikit mulai diungkap apa-apa sebenarnya yang telah dialami oleh Naho yang di masa depan, yang dibeberkan lewat kilas balik terhadap apa-apa yang sudah terjadi lewat sudut pandang karakter lain. Kenapa surat itu dikirim dan penyesalan apa yang melanda Naho di masa depan menjadi hal yang terkuak secara menarik dengan tempo yang pas.

Karakterisasinya menarik dan simpatik. Bahkan Hagita yang agak bebal pun bisa kita sukai sesudah kita lebih tahu tentang dia. Pembuatan dialognya itu keren. Bagian awal cerita di mana para karakter membahas soal asal nama Azusa seriusan keren, dan kekeranan pengaturan adegan ini terus terbawa di sepanjang cerita.

Seriusan, ini seri drama yang bagus. Walau temanya sekilas seperti sudah biasa, eksekusi ceritanya benar-benar matang dan mengesankan.

Bagian awalnya aja bisa kerasa udah lumayan menohok.

Lalu Suwa merupakan karakter cowok yang…

Argh. Sudahlah.

Ini seri yang akan aku rekomendasikan buat mereka yang suka cerita-cerita seperti ini.

Ah, buat yang penasaran, judulnya mengacu pada sesuatu yang Kakeru berikan atas kebaikan hati yang Naho perlihatkan padanya. Tapi soal itu kubiarkan kalian mencari tahu sendiri.

Kakeru, karena suatu alasan yang benar-benar pribadi, ternyata bunuh diri. Lalu surat itu dikirimkan agar Naho dan kawan-kawannya dapat mencari cara untuk menolong Kakeru.


About this entry