Yakuza Apocalypse

Belum lama ini, aku menemani sepupuku menonton Yakuza Apocalypse (atau juga dikenal sebagai Gokudou Daisensou) di bioskop. Salah satu alasannya karena ini film Takashi Miike. Salah satu alasan lainnya karena Yayan Ruhiyan berperan di dalamnya.

Ceritanya tentang merebaknya wabah ‘vampir yakuza’ sesudah kematian sang bos. Jadi, selain menjadi penghisap darah, mereka yang tergigit juga akan menjadi yakuza. Ditampilkan semacam pembedaan antara kenikmatan rasa darah yakuza dan darah ‘orang biasa.’ Lalu rusaknya keseimbangan antara jumlah orang biasa dan yakuza ini menjadi konflik saat ancaman kehancuran dunia juga terjadi.

… …

… … …

Tokoh utamanya adalah seorang yakuza yang karena kondisi kulitnya yang sensitif, tidak bisa mendapat tato.

Maaf, aku enggak bisa berkomentar lebih banyak lagi.

Selebihnya, ini film yang benar-benar lebih cocok buat mereka yang suka jenis-jenis film ‘aneh’ kayak gini. Ada beberapa adegan yang benar-benar mengesankan dengan cara aneh di dalamnya, mulai dari adegan pembukanya yang garang, adegan saat wabahnya mulai mewabah, sampai penentuan saat jumlah yakuza dan orang sipil sudah tak seimbang.

Lalu kesan ‘Aiih, dana kita udah mau abis tapi ceritanya masih perlu beberapa puluh menit biar bisa beres!’ juga ada.

Gampangnya, buat kalian yang dulu sempat menyukai Sukiyaki Western Django, kurekomendasikan agar kalian nonton.

Eh? Pendapatku pribadi?

…Err, aku enggak menyesal telah nonton sih. Maksudku, pengalaman nonton langsung film aneh kayak gini di bioskop jarang terjadi. Tapi itu juga bukan sesuatu yang bakal gampang aku rekomendasikan ke banyak orang.

Ngerti maksudku?

Apa? Soal adegan-adegan aksinya?

Yah, ada yang bagus sih. Tapi adegan-adegan aksinya ini kayak punya porsi yang seimbang dengan adegan-adegan anehnya.

Ngerti maksudku?


About this entry