Heroine Shikkaku

Belum lama ini, di dekatku ada orang-orang yang menyebut diri mereka sebagai Aliansi Dunia Ini Suram. Mereka tipe orang-orang yang setiap ada kesulitan, sedikit-sedikit akan mengatakan, “Dunia ini suraam! Dunia ini suraaam!” Sampai aku jadi mikir kalau mereka ingin menjadi penerus ideologi Itoshiki Nozomu-sensei sesudah ia menemui bad end ketika seri manga Sayonara Zetsubou-sensei tamat.

Walau terkesan mendramatisir, aku setuju soal bagaimana dunia ini suram sih. Kelihatannya selalu ada hal-hal enggak enak yang terjadi pada setiap saat, yang kayaknya akan semakin bertambah kalau melihat perkembangan dunia sekarang.

Anehnya, hal-hal tersebutlah yang terpikir olehku saat aku mencoba memeriksa Heroine Shikkaku.

Heroine Shikkaku (‘No Longer (the) Heroine’; ‘bukan lagi sang tokoh utama perempuan’, atau ‘tokoh utama wanita yang gagal’) merupakan seri manga shoujo karangan Kouda Momoko. Seri ini diterbitkan bulanan di majalah bulanan Bessatsu Margaret terbitan Shueisha, berjumlah 10 buku, dan diserialisasikan dari tahun 2010 sampai tahun 2013(?).

Agak mengingatkan pada kasus Strobe Edge dan Ao Haru Ride, aku memeriksa Heroine Shikkaku karena seri ini dikabarkan akan memperoleh film layar lebarnya sendiri pada sekitaran September 2015 nanti, dengan Kiritani Mirei (yang manis dan ekspresif) sebagai karakter utama.

“Naaaaagaaaajimaaaaaaaaaaaaa!” *menangis*

Premis cerita Heroine Shikkaku termasuk sederhana.

Sang tokoh utama, Matsuzaki Hattori, suatu hari syok saat mendapati sahabat cowok dekatnya sejak kecil yang tampan, Terasaka Rita, jadian secara serius dengan seorang gadis berpenampilan datar bernama Adachi Miho.

Terasaka sebenarnya pernah jadian beberapa kali dengan cewek-cewek lain. Tapi biasanya dengan sepintas Hattori bisa melihat bahwa Terasaka tak benar-benar serius dengan mereka. Kenyataannya, Terasaka dan siapapun ceweknya saat itu pasti akan putus baik-baik tak lama kemudian. Karenanya, Hattori selalu merasa peran sebagai heroine bagi Terasaka pasti lambat laun akan jatuh kembali padanya, berhubung rumah mereka dekat dan keduanya sangat akrab sejak kecil.

Tapi Adachi, yang sebelumnya sempat di-bully oleh anak-anak lain di sekolahnya karena keenggakmenarikannya ini, suatu hari ditolong oleh Terasaka, jatuh cinta, dan tak lama kemudian melakukan confession terhadapnya. Yang kemudian dengan ringannya diterima oleh Terasaka seperti yang biasa dia lakukan. Lalu Hattori sedikit demi sedikit mulai panik saat menyadari bahwa kondisi jadian Terasaka kali ini tidak normal, serta mungkin Adachi lebih pantas menjadi heroine bagi Terasaka daripada dirinya.

Untuk Sesaat Benar-benar Terlihat Seperti Pangeran

Tema dasar Heroine Shikkaku benar-benar terbilang menarik. Ada banyak adegan di awal cerita yang lumayan bisa ‘kena’ ke banyak orang. Terutama dengan penggambaran karakter Hattori—yang notabene secara fisik lebih cantik ketimbang Adachi—yang egonya membuatnya memandang rendah Adachi dan sulit menerima kenyataan yang terjadi.

Hattori jelas-jelas menjadi pihak yang ‘salah’ dalam hal ini. Tapi dengan segala tingkah Hattori yang (ehem) putus asa, menangis, mencoba menyabot hubungan Adachi dan Terasaka, menangis lagi, curhat ke Nakajima Kyouko yang adalah sahabat dekatnya, menangis lagi lagi, lari dari kenyataan, mencoba menjalin hubungan sesaat dengan si playboy ganteng Hiromitsu Kousuke (yang diam-diam agak memusuhi Terasaka), menemukan pencerahan lewat zen(?), sampai melarikan diri dari kenyataan lagi; lumayan mudah buat kita untuk simpati dan mengerti posisinya. Semua dilandasi oleh kegalauan soal apakah ia sebaiknya terus memperjuangkan Terasaka atau lebih baik move on. Lalu kalau aku boleh bicara dari pengalamanku pribadi, itu memang pertanyaan yang agak sukar dijawab.

Heroine Shikkaku semula menarik dibaca sebagai manga komedi karena segala tingkah dan ekspresi Hattori yang di satu sisi agak menyedihkan, tapi di sisi lain lumayan kocak. Gaya gambar Kouda-sensei kerap kali berubah-ubah untuk menyamai kondisi mental Hattori; salah satu yang mencolok saat ia mulai menggambar Hattori (saja) dengan gaya gambar manga shoujo tahun 70an untuk menekankan tekad Hattori untuk bersikap sebagai seorang heroine klasik dan ideal (yang akhirnya gagal total ia lakukan).

Serius, ekspresi Hattori sedemikian beragamnya, mulai dari saat-saat ia selalu menangis minta tolong pada Nakajima (yang merupakan karakter favoritku di seri ini, karena betapa cool-nya dia, walau ia lama-lama exasperated juga dengan sahabatnya ini), yang mana Hattori suka digambarkan dengan gaya ala Nobita di Doraemon; sampai ke saat-saat ia bisa tiba-tiba bangkit karena emosinya dan seakan berubah jadi super saiyan.

Tapi baru pada pertengahan seri, segala sesuatunya benar-benar menjadi serius.

Aku agak susah menjelaskannya, dan lagi, mungkin juga ini cuma aku. Tapi tahu-tahu saja, selain karena ekspresi-ekspresi Hattori, ceritanya juga jadi menonjol karena seringnya ada perkembangan situasi yang agak bikin ternganga. Ternganga dalam artian, “Gyah!” yang bisa bikin mikir, “Dosa apa aku ampe bisa di situasi kayak giniii?” yang pokoknya bisa bikin aneh karena saking ‘Apa-apaan?!’-nya.

…Yah, sebagian situasi itu disebabkan memang karena kebodohan Hattori sih.

Sebenarnya, pada titik ini juga mulai kerasa kalau Kouda-sensei memang tak langsung merencanakan kalau ceritanya bakal sepanjang ini. Ada elemen-elemen cerita yang jadi kerasa dimasukin karena ‘bisa masuk,’ meski kurang sesuai dengan tema awalnya. Tapi aku merasa sudah masuk terlalu jauh buat mundur pada titik ini, sekalipun beberapa perkembangan ini rada bikin enggak nyaman.

…Soalnya, meski agak susah buat aku telan, apa yang dikisahkan memang terasa bisa terjadi pada orang-orang di dekatku sih.

“Kita adalah tokoh utama dalam kisah hidup kita masing-masing.”

Akhir kata, aku lumayan penasaran versi film layar lebar live action-nya nanti akan seperti apa. Apa benar Kiritani-san nanti berhasil meniru keragaman ekspresi Hattori? (Walau kabarnya Hattori memang dimodelkan dari Kiritani-san sendiri sih.)

Kalau kalian tanya soal apa seri ini bagus atau enggak, aku cuma bisa sebatas bilang kalau pastinya, seri ini lebih menonjol dari rata-rata. Soal bagus atau enggak, kurasa yang satu ini agak tergantung kalian. Tapi aku pribadi berpendapat kalau ceritanya akan lebih bagus seandainya Kouda-sensei berhasil memfokuskan ceritanya pada bagaimana Hattori berusaha menyikapi hubungan Terasaka dan Adachi.

Perkembangan situasi aneh yang para karakternya alami ini kayak menandai kalau ceritanya enggak akan melulu soal itu. Jadinya, perkembangan ceritanya itu kayak berkesan di satu sisi, tapi menakutkan di sisi lain gitu.

Memang masih mengikuti trope-trope tipikal sebuah seri shoujo. Tapi keanehan-keanehannya itu benar-benar lumayan mengangkat alis. Mulai dari bagaimana Terasaka terungkap sebenarnya bukan cowok yang ‘baik’ juga, bagaimana Hiromitsu mulai jadi cowok yang lebih baik dan berhenti main cewek karena Hattori (soal ini mungkin sudah agak klise sih), soal Nakajima yang mulai agak-agak bisa dibuat ‘deg’ karena Terasaka, sampai ke soal Adachi yang gara-gara semua drama ini, ternyata berubah dari siswi yang dikenal baik di mata para guru menjadi siswi yang agak ‘kurang baik.’

…Yeah, aku jadi terdiam agak lama sesudah membereskan ini. Soalnya, aku merasa ada beberapa hal yang terasa dibuat terlalu seenaknya pada saat menjelang akhir.

Setidaknya, sesudah memeriksa seri ini, aku jadi tersadar kalau aku lebih suka perempuan berambut pendek ketimbang berambut panjang. Jadi meski membuatku merasa suram, hei, seenggaknya aku jadi tahu satu hal baru tentang diriku sendiri!

Karena temanya, mungkin ini jenis seri yang di sini lebih cocok diserialisasikan oleh Level Comics.

Agak tak biasa buat seri-seri shoujo kayak gini, untuk seri satu ini aku mendapati diri ada di camp Hiromitsu. Mungkin karena itu aku kurang puas dengan akhir ceritanya.


About this entry