Fate/stay night – Unlimited Blade Works (Season 2)

Fate/stay night – Unlimited Blade Works belum lama ini berakhir paruh keduanya dengan total jumlah episode sebanyak 13. (Paruh pertamanya aku bahas di sini.)

Bersama season sebelumnya, termasuk episode prolog, total keseluruhan episode seri ini jadi sebanyak 26, dengan tiga episode di antaranya yang berdurasi satu jam. Ditayangkan pada musim semi 2014 dengan jeda satu cour sesudah paruh sebelumnya, studio Ufotable menurutku sudah melakukan hasil kerja lumayan bagus dalam mengadaptasinya.

Yeah. Hasil kerja mereka bagus.

Sial. Aku enggak bisa ngatain kalau hasil kerja mereka enggak bagus.

Paruh ini memaparkan kelanjutan perjuangan Emiya Shirou dan Tohsaka Rin dalam ajang Perang Cawan Suci di kota Fuyuki, sesudah keduanya sama-sama kehilangan Servant masing-masing.

Caster bersama Master-nya, Kuzuki Souichirou yang merupakan wali kelas Rin, bergerak untuk menemukan lokasi sesungguhnya di mana Cawan Suci ditempatkan. Caster menyerang Gereja Fuyuki dan seakan telah menyingkirkan Kotomine Kirei. Saber hanya tinggal menunggu waktu sampai berada di bawah kuasanya, dan Archer menyatakan diri telah berada di pihaknya. Sementara, Rider telah takluk. Caster kini berkeyakinan bisa menemukan jalan pintas untuk menggunakan kekuatan Cawan sebelum para Servant lain terkalahkan.

Tapi Gilgamesh, Servant Archer dari Perang Cawan Suci terdahulu, mulai bergerak untuk suatu agenda pribadi. Lalu dirinya jelas mengetahui betapa Caster masih belum memahami sifat Cawan Suci dan tujuan penciptaannya yang sesungguhnya…

Harapan-harapan Tak Terwujud, Terjebak Dalam Mimpi Tiada Akhir

Sejujurnya, aku sempat bingung untuk bahasan kali ini.

Soal teknisnya dulu: season kali ini mempertahankan kualitas presentasinya. Visualnya masih keren. Bagian-bagian frame yang dipergelap untuk penayangan televisi masih ada, tapi seperti yang kita tahu, itu akan dihilangkan di versi DVD/BD-nya. Soundtrack-nya tetap berkesan, dengan Aimer yang lewat warna suara khasnya kali ini membawakan pembuka berjudul ‘Brave Shine’ dan grup Kalafina membawakan penutup yang baru berjudul ‘Ring Your Bell.’

Tapi menurutku, ada sesuatu yang agak kurang.

Ada lumayan banyak porsi cerita tambahan yang aslinya tak ada di visual novel-nya, walau anime UBW tetap terbilang adaptasi yang sangat setia sih. Tapi anehnya, mungkin justru di situ masalahnya. Bahkan dengan seluruh penambahan itu, cerita untuk adaptasi ini sebenarnya enggak perlu harus sesetia ini.

…Ini beneran aneh. Soalnya buatku, di season ini kayak enggak ada lagi ‘hal baru’ yang bisa membuat wah para penggemar lama. Seperti adegan pertarungan antara Shirou dan Kuzuki di pom bensin, misalnya. Jadi memang ada hal-hal baru di dalamnya. Tapi hal-hal itu bukan hal-hal baru juga. Agak susah menjelaskannya. Mungkin ibaratnya, masakanmu kurang bawang. Tapi bukannya bawang, yang kau tambahkan adalah merica, saus tiram, dan jahe. Jadinya, masakanmu tetap kurang bawang.

Aku senang dengan adanya bagian-bagian tambahan tersebut. Contohnya seperti pemaparan soal masa lalu Caster dan bagaimana ia membunuh Master-nya yang semula; serta sedikit soal masa lalu dan motivasi Illyasviel von Einzbern. Tapi selain karena alasan di atas, jadinya ada semacam ‘masalah tematik’ di seri ini. Maksudku, entah bagaimana di season kedua ini, jadinya makin enggak jelas seri ini sebenarnya tentang apa dan mau menyampaikan soal apa.

Karenanya, UBW sayangnya jadi tak benar-benar bisa dipandang sebagai sekuel anime Fate/Zero. Kalau dibilang tema seri ini adalah tentang ideologi kepahlawanan yang dianut Shirou, yang terwujud dalam konfliknya antara dirinya melawan Archer, maka dengan semua tambahan subplot yang ada, maka tema UBW kayaknya bukan itu juga.

Jadi, yah, itu. Temanya enggak jelas.

Seperti yang pernah aku singgung, versi asli visual novel Fate/stay night memang sebenarnya agak ‘cacat’ ceritanya. Aspek-aspek cerita yang hilang dimaksudkan untuk bisa kita simpulkan sendiri atau diketahui lewat pemaparan dari rute-rute lain. Jadinya, kalau disampaikan dalam format seri TV seperti ini, bukannya menjelaskan keseluruhan subplot secara menyeluruh, elemen-elemen subplot yang terjelaskan dalam rute-rute lain itu malah bisa terasa seperti dilupakan begitu saja.

Makanya, semua penggemar sempat berharap sangat banyak begitu melihat kualitas yang diperlihatkan pada paruh awal UBW. Tapi… uh, demikian.

Meski penceritaan ulang yang dilakukan anime ini secara umum terbilang memukau, tetap ada beberapa hal mengecewakan di dalamnya. Hal-hal yang sengaja disembunyikan ‘agar diketahui lewat rute lain’ sayangnya masih ada. Sehingga kalaupun ini bisa dimaklumi oleh para penggemar lama, para penggemar baru yang hanya tahu ceritanya lewat anime ini kemungkinan besar akan kurang puas. Tentang teknis penceritaannya sendiri, ada bagian-bagian yang diceritakan secara bagus dan ada bagian-bagian lain yang diceritakan dengan ‘kurang’ bagus.

Serius. Aku secara pribadi merasa kurang lebih seperti itu.

Aku benar-benar berharap akan ada cerita seperti Fate/Zero yang akan menceritakan ulang apa yang terjadi dalam VN Fate/stay night. Tapi kelihatannya itu masih belum bisa terwujud untuk saat ini.

Kenangan Kosong yang Tak Terlihat Bagi Semua

Terlepas dari semuanya, berikut beberapa poin soal cerita yang kusadari.

Buat mereka yang sama sekali tak ingin melihat spoiler, kusarankan bagian ini tidak dilihat.

  • Sekali lagi, anime ini merupakan hasil adaptasi salah satu dari tiga rute cerita di game visual novel Fate/stay night, yaitu rute Unlimited Blade Works. Sebagai informasi, Fate/stay night semula direncanakan memiliki empat rute. Namun karena isu keterbatasan produksi, rute ketiga dan keempat akhirnya disatukan, dan karenanya rute UBW masih memiliki kemiripan nuansa dengan rute Fate, namun keduanya berbeda lumayan jauh dengan rute ketiga dan terakhir, Heaven’s Feel, yang ceritanya sudah dikabarkan akan dianimasikan dalam format layar lebar.
  • Di dalam VN, Master pertama Caster hanya disinggung secara benar-benar selintas. Wajah dan identitas Atram Galiast selaku Master pertama Caster, serta situasi di mana hubungan mereka memburuk, benar-benar baru dibeberkan secara gamblang pada versi anime ini.
  • Masa lalu Kuzuki dalam VN juga hanya dikisahkan sepintas. Kuzuki hanya dijelaskan sudah dibesarkan sejak kecil oleh suatu organisasi rahasia tertentu untuk menjadi pembunuh. Organisasi apa yang membesarkannya, serta bagaimana dirinya bisa sampai ke Fuyuki, juga tak terlalu banyak diungkap.
  • Tak seperti para Master lain, Kuzuki bukanlah magus. Dirinya tak memiliki magic circuit, dan karenanya tak memiliki kekuatan sihir. Tapi kemampuan tempur tangan kosongnya jauh di atas rata-rata. Ditambah dengan penguatan sihir yang diberikan Caster, Kuzuki punya kemampuan tempur setara dengan Saber. Hal ini menjadikannya Master langka yang justru lemah terhadap serangan-serangan sihir dari jarak jauh, tapi sangat kuat di pertarungan garis depan. (Yang membuatnya disebut bahkan lebih menyerupai assassin ketimbang Assassin sendiri.)
  • Meski berperan sebagai ‘jangkar’ bagi Caster untuk tetap di dunia, karena alasan di atas, Kuzuki tak dapat menyuplai mana yang Caster perlukan untuk bertahan sebagai Servant. Karena itu, kekuatan sihir yang Caster perlukan untuk bertahan di dunia harus diambilnya dari sumber-sumber lain, yang berujung pada kasus-kasus jatuhnya korban koma massal di Fuyuki. Jadi tindakan tersebut Caster lakukan bukan karena ia jahat, melainkan lebih karena dirinya tak punya pilihan lain demi mewujudkan tujuan akhirnya.
  • Adegan saat Shirou dewasa (versi masa lalu Archer) membuat kontrak dengan Dunia untuk menjadi Guardian juga dipaparkan pertama kali di anime ini. Aku pribadi baru ngeh kalau Archer benar-benar membuat ‘perjanjian’ di atas sesudah melihat adegan tersebut di anime ini.
  • Sekali lagi, identitas Archer adalah versi masa depan ‘alternatif’ Shirou. Pada anime ini dipertegas bahwa terlepas dari hasil akhir Perang Cawan Suci, selama ideologi kepahlawanan itu masih Shirou anut, maka Shirou masa kini akan berujung seperti dirinya juga. Tapi keberadaan Rin di sisinya memberi keyakinan bahwa Shirou akan mencapai hasil yang agak berbeda dari yang Archer temukan.
  • Bagi mereka yang agak lupa, Shirou di awal cerita sempat tergabung di Klub Kyudo Homurahara bersama Sakura dan Shinji, tapi diceritakan belum lama keluar karena alasan yang tak ia ungkap. Jadi sebagai Archer, dirinya memang berbakat ‘memanah.’ Keputusannya untuk keluar disayangkan, karena dirinya sudah dianggap salah satu anggota mereka yang paling berbakat.
  • Ingatan Rin soal bagaimana Shirou dengan pantang menyerah berlatih lompat tinggi sendirian sebenarnya terjadi belum lama sesudah Kiritsugu meninggal. Ingatan ini memberi kesan pertama Rin terhadap Shirou, dan mempunyai arti besar dalam perkembangan cerita.
  • Pada versi cerita di rute UBW ini, pemenang Perang Cawan Suci secara teknis adalah Rin.
  • Pada beberapa adegan ketika Lancer membahas tipe perempuan favoritnya kepada Shirou, salah satu yang Lancer maksudkan sebenarnya Bazett Fraga McRemitz, satu dari dua tokoh utama Fate/hollow ataraxia, sekaligus Master asli Lancer yang pada titik ini telah ‘disingkirkan’ oleh Kirei. Berhubung ini salah satu rute ketika Lancer berperan menonjol, menurutku sayang bagaimana upaya balas dendam Lancer terhadap Kirei tak digambarkan lebih jauh di sini. (Ya, ini Bazett yang sama dengan yang belum lama ini muncul di Fate/Kaleid Liner Prisma Illya 2wei!. Kalian juga bisa melihat mereka berdua flirting dengan satu sama lain di salah satu episode Carnival Phantasm)
  • Sebagaimana Rin memahami Archer melalui mimpi-mimpinya tentang masa lalu Archer, masa lalu Saber pada rute Fate diungkap melalui mimpi-mimpi yang dilihat Shirou. Pada rute UBW ini, meski konflik dan masa lalu Saber tak banyak diungkap, Saber dikisahkan mencapai kesimpulan yang dicarinya dengan menyaksikan sampai akhir perselisihan antara Shirou dan Archer, yang bisa dibilang selaras dengan konflik ideologi yang selama ini melandanya.
  • Kemampuan regenerasi yang Shirou perlihatkan berasal dari Avalon, sarung pedang Excalibur sekaligus Noble Phantasm terakhir milik Saber yang telah lama diyakini hilang. Avalon ditanamkan dalam diri Shirou oleh Emiya Kiritsugu untuk menyelamatkan nyawa Shirou sepuluh tahun silam. Dalam Fate/Zero dikisahkan bahwa sarung pedang ini awalnya ditemukan pihak Einzbern dan digunakan sebagai katalis untuk memanggil Saber dalam Perang Cawan Suci keempat, dan selanjutnya dibawa secara pribadi oleh Kiritsugu dalam duel mautnya melawan Kirei.
  • Selain memberikan kekuatan regenerasi, Avalon juga dapat berfungsi sebagai ‘benteng portabel’ yang akan melindungi penggunanya dari segala bentuk kerusakan dari segala dimensi dengan mengisolasi penggunanya ke semesta lain. Kemampuan ini yang menjadi penentu kemenangan Shirou dan Saber dalam klimaks cerita di rute Fate. Avalon memiliki keterhubungan tersamar dengan Excalibur. Karena alasan itu pula, daya penyembuh Avalon akan menguat seiring dengan semakin dekatnya jarak antara Shirou dan Saber.
  • Keberadaan Avalon dalam diri Shirou adalah alasan utama mengapa dirinya selamat dari serangan Lancer di awal cerita. Keberadaan Avalon ini pula yang menjadi katalis sihir yang Shirou secara tak sadar gunakan untuk memanggil Saber. Konon pula, keberadaan Avalon dalam diri Shirou juga telah mengubah ‘awal mula’-nya sedemikian rupa sehingga ia memiliki afinitias yang tinggi terhadap ‘pedang.’
  • Berbeda dari Noble Phantasm milik Servant lain, Avalon tidak datang bersama Saber dari Tahta Pahlawan karena status unik Saber sebagai Servant yang tak sempurna. Hal ini disebabkan karena menjelang kematiannya, karena tidak puas dengan kegagalannya dalam menemukan Cawan Suci semasa hidupnya, Arturia menjalin kontrak dengan Dunia (seperti halnya yang Archer/Shirou dewasa lakukan) yang memungkinkannya untuk dapat menemukan (suatu bentuk) Cawan Suci semasa hidupnya. Ini yang memungkinkan Saber, yang berada di ambang kematiannya, dapat dipanggil oleh Dunia pada rentang waktu dan masa manapun selama dirinya masih berupaya menemukan Cawan Suci. Kontraknya dengan Dunia ini baru akan terputus sesudah Cawan Suci ini berhasil ia temukan (yang sudah pasti akan ia temukan pada suatu masa, karena tak terbatasnya kesempatan yang ia punya, walau ia tak bisa mengulang kesempatan yang telah lalu). Hal ini pula yang menjadi alasan Saber hanya memiliki tubuh fisik dan tak bisa mewujud ke roh. Ini juga yang menjadi alasan mengapa Saber bisa mempertahankan ingatannya tentang Perang Cawan Suci keempat sesudah dipanggil kembali dalam Perang Cawan Suci kelima.
  • Noble Phantasm Gate of Babylon miliki Gilgamesh adalah ruang harta yang di dalamnya terkandung semua Noble Phantasm yang telah terlupakan namanya oleh sejarah, tapi sebenarnya menjadi ‘akar’ dari sebagian besar Noble Phantasm lain dalam legenda-legenda kepahlawanan di seluruh dunia. Sifat ‘akar’ tersebut membuat Gilgamesh, yang sudah separuh dewa, disebut hampir tak tersentuh oleh semua Noble Phantasm ‘modern’ yang merupakan ‘turunan’ dari semua Noble Phantasm yang dimilikinya.
  • Alasan Shirou terkesan menjadi kuat sesudah mengaktifkan Reality Marble Unlimited Blade Works adalah karena selain bisa meniru ‘bentuk’ dan ‘komposisi’ hampir setiap Noble Phantasm yang dilihatnya, Shirou juga memperoleh pengetahuan tentang sejarah dan cara pemakaiannya. Karena itu, meski kualitas tiruan-tiruan yang diciptakannya satu peringkat lebih rendah, Shirou mampu mengungguli Gilgamesh karena tahu ‘keistimewaan’ dan ‘cara pakai’ masing-masing Noble Phantasm ketimbang sekedar ‘memilikinya.’
  • Reality Marble Shirou tercipta berkat idealisme kepahlawanan yang dianutnya. Reality Marble merupakan sihir yang mewujudkan ‘dunia pribadi’ dalam diri seseorang. Idealisme Shirou membuatnya memiliki aspirasi untuk mewujudkan keyakinan dan mimpi semua roh pahlawan yang nantinya dapat menjadi Servant. Upaya Shirou tersebut membuatnya mampu memahami latar belakang dan sejarah hidup hampir setiap roh pahlawan, dan berujung pada bagaimana Shirou mampu mereplika persenjataan Noble Phantasm yang mereka miliki.
  • Salah satu (satu-satunya?) Noble Phantasm pengecualian yang tak dapat Shirou buat replikanya adalah pedang Ea milik Gilgamesh. Ea adalah Noble Phantasm tertua, yang konon menyimpan ingatan tentang awal penciptaan Dunia, dan telah ada bahkan sebelum ‘konsep pedang’ ada. Meski berkekuatan sangat dahsyat dan berstatus penghancur dunia, Gilgamesh sangat jarang menggunakan kekuatan Ea secara penuh dan hanya berkeinginan menggunakannya terhadap lawan-lawan yang ‘pantas.’ Aku sempat lama bertanya-tanya kenapa Gilgamesh tak menggunakan Ea saat melawan Shirou, dan baru paham sekarang kalau dirinya tak sempat. Konon Ea juga memberikan pengetahuan tentang hal-hal tertentu kepada Gilgamesh, dan membuatnya mengetahui berbagai hal yang tak diketahui manusia lain…
  • Sebagaimana terungkap di pertengahan seri, artefak Cawan Suci telah terkontaminasi oleh ‘segala kejahatan di dunia’, Angra Mainyu. Sifatnya masih dapat mengabulkan permohonan, namun dengan mengintepretasikan permohonannya sedemikian rupa sehingga mewujudkannya melalui penghancuran. Yang semenjak awal sepenuhnya mengetahui tentang ini pada Perang Cawan Suci kelima adalah Kirei dan Gilgamesh.
  • Sosok yang berbincang sebentar dengan Shirou menjelang adegan terakhirnya di Clock Tower adalah Lord El-Melloi II, atau yang di masa muda dikenal sebagai Waver Valvet, Master dari Rider dalam Perang Cawan Suci keempat di Fate/Zero. Sifatnya sudah jauh berubah dibanding waktu masih muda. Dirinya juga dikisahkan telah menjadi salah satu guru Rin.
  • Luviagelita Edelfelt, saingan abadi Rin semasa pembelajarannya di Clock Tower, juga tampil di episode terakhir. Meski keluarga Tohsaka dan Edelfelt lama berselisih karena pertentangan mereka di Perang Cawan Suci ketiga, sepertinya awal mula permusuhan antara Rin dan Luvia dipicu alasan yang agak beda.

Permohonan yang Melintasi Waktu

Sedikit membahas lagi soal teknis, walau penceritaannya tak selalu optimal, adegan-adegan pertarungannya tetap keren untuk dilihat. Rematch antara Shirou dan Kuzuki di ruang bawah tanah Gereja Fuyuki kembali berkesan. Adegan pertarungan antara Berserker melawan Gilgamesh mendapatkan ekstensi dibandingkan di VN-nya, menjadikan hasil akhirnya jauh lebih dramatis. Duel ulang Lancer lawan Archer tetap keren, walau sayangnya kembali berakhir menggantung. Akhir perselisihan antara Archer lawan Shirou di Puri Einzbern mungkin sedikit mengecewakan bagi sebagian orang. Tapi adegan yang telah lama ditunggu-tunggu, yaitu konfrontasi Shirou melawan Gilgamesh, lumayan tereksekusi lebih bagus dari yang kukira.

Bagian di mana Shirou menguji keseimbangan pedang ciptaannya di animasi lagu pembuka seriusan memberikan kesan keren. Bagian ini semata memberi kesan yang begitu kuatnya, sampai-sampai aku jadi tersadar ada beberapa bagian season ini yang tereksekusi jauh lebih bagus dibandingkan beberapa bagian lainnya.

Jadi buat yang merasa ada sedikit ketimpangan di beberapa bagian, seperti di soal perkembangan karakter Rin maupun pemaparan debat ideologi antara Shirou dan Archer, kurasa itu bukan perasaan kalian saja.

Selebihnya, bagian-bagian cerita tambahan yang tak ada di gamenya di atas ditulis oleh Nasu Kinoko-sensei sendiri, sehingga penceritaannya konsisten dengan apa yang para penggemar Type-Moon sudah tahu.

Satu hal khusus yang perlu kusebut adalah epilog di episode terakhir. Dalam VN, akhir rute UBW hanya menampilkan bagaimana pada sepulang sekolah suatu hari, Rin mengajak Shirou untuk ikut bersamanya belajar ke markas Mages Association di Clock Tower di Inggris. Tapi versi anime ini bahkan sampai menampilkan kehidupan ‘kuliah’ mereka di sana dua tahun sesudah Perang berakhir. Pemaparan ini terbilang keren, menampilkan konklusi tekad Shirou, dan lengkap dengan bagaimana Rin mengajak Shirou ke Cormwall, tempat di mana makam ‘Raja Arthur’ diperkirakan berada.

Episode epilog ini benar-benar tak disangka, dan karenanya mungkin menjadi episode paling berkesan di season ini.

Sebenarnya, masih ada beberapa hal lain yang mungkin membuat heran beberapa penggemar yang jeli memperhatikan kesinambungan cerita antara seri ini dengan Fate/Zero. Terutama soal pengetahuan rahasia yang mungkin hanya Gilgamesh ketahui. Hal-hal tersebut kayaknya lebih baik kuulas sesudah adaptasi anime Heaven’s Feel keluar. Walau kalau dipikir baik-baik, itu bisa kalian simpulkan sendiri sih.

Akhir kata, paruh kedua Fate/stay night – Unlimited Blade Works sayangnya tak sekuat paruh pertamanya. Tapi seri ini tetap terbilang salah satu yang paling menonjol di musim kemarin.

Pastinya seri ini kelihatannya telah menarik banyak penggemar baru ke karya-karya Type-Moon.

Kelihatannya sekarang tinggal menunggu konfirmasi adaptasi layar lebar Heaven’s Feel.

(Sori, aku juga kurang tahu soal orang yang Shirou sebut sering berpapasan dengannya. Adegan tersebut benar-benar terasa seperti teaser sih. Mungkin benar akan ada kaitannya dengan kabar-kabar soal Tsukihime Rebirth? Yah, kita lihat saja nanti.)

Penilaian

Konsep: C+; Visual: S; Audio: A-; Perkembangan: C+; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: B+

(Konfirmasi beberapa poin diperoleh dari Type-Moon Wiki)


About this entry