Gin no Cross to Draculea

Belum lama ini di situs Baka-Tsuki, aku membaca Silver Cross and Draculea (Gin no Cross to Draculea) sampai habis sebagai selingan.

Ini seri light novel karangan Totsuki Yuu dengan ilustrasi buatan Minato Yasaka yang diterbitkan di bawah label Fujimi Fantasia Bunko, dengan durasi yang hanya terdiri atas lima buku, dan pertama terbit tahun 2012.

Inti ceritanya tentang… bagaimana ada seorang anak remaja kurus berkulit pucat bernama Kujou Hisui yang karena suatu alasan, mempunyai tubuh yang kebal terhadap gigitan vampir. Sehingga saat ia bertemu sesosok vampir perempuan (yang sangat cantik tapi kekanakan) bernama Rushella Dahm Draculea, Hisui sama sekali tak masalah bila dihisap darahnya. Karena sesudah dihisap, dirinya tak akan berubah menjadi vampir.

…Berhubung ceritanya yang kusangka bergenre aksi ternyata lebih banyak ke komedi romantis, yang ditambah dengan bumbu-bumbu misteri (walau aksinya ada sih), aku takkan masuk terlalu detil soal pembahasan ceritanya.

Aku agak bingung gimana menjelaskannya.

Soalnya… apa ya?

Saat kesan pertama yang masuk ke kepala kamu adalah sesuatu yang penuh aksi pembasmian vampir dan adegan-adegan berdarah gitu, tapi yang kau dapat malah cerita misteri yang melibatkan situasi harem dan bumbu-bumbu fanservice, mungkin kau juga bakal agak kedistorientasi mesti bereaksi bagaimana.

Singkat cerita, walau ini bukan seri ranobe yang jelek, ini bukan seri ranobe yang bisa kubilang bagus juga.

Aku enggak begitu bisa menjelaskannya.

Intinya, pada suatu malam, Hisui yang sedang pulang ke rumah berjumpa (diserang) Rushella yang kebetulan berada di sana. Rushella serta merta syok karena dirinya yang True Ancestor (Shinsou, ‘leluhur asli’) sekalipun tak bisa mengubah Hisui menjadi pelayannya. Karena penasaran, Rushella tidak terima. Hingga akhirnya Rushella (dengan membawa peti mati segala, serta berkeping-keping uang emas) memutuskan untuk ikut tinggal di rumah Hisui karena tak bisa terima jika Hisui tak menjadi pelayannya (di samping karena darah Hisui baginya luar biasa enak).

Seiring dengan waktu, mulai dipaparkan tentang siapa Hisui sebenarnya, serta kenapa ada salib raksasa berwarna perak tersimpan di ruang bawah tanah rumahnya. Terutama sesudah terungkap bahwa Rushella telah kehilangan ingatannya, sama sekali tak tahu dari mana asal-usulnya; dan Hisui jelas-jelas secara diam-diam sadar bahwa kaum Shinsou harusnya tak ada lagi sesudah wafatnya Miraluka, vampir Shinsou yang sebelumnya telah membesarkan Hisui bagaikan seorang ibu, kakak perempuan, dan kekasih sekaligus.

Urban Legends and Kisses

Oke. Ada dua poin utama yang sebenarnya mau kubahas terkait judul ini.

Pertama, adalah bagaimana selain vampir, seri ini juga mengangkat tema bagaimana seandainya monster-monster lain dari film-film horor Hollywood zaman dulu tampil kembali di zaman sekarang. Selain Rushella yang notabene merupakan vampir, juga ditampilkan karakter-karakter lain yang merupakan penyihir, hantu, monster Frankenstein, dan dhampir. Aku pengen cerita lebih banyak, cuma kalau sudah menyinggung soal siapa-siapanya, nanti bisa jadi lumayan spoiler.

Kedua, aku aneh saja karena tak biasanya ada judul seperti ini yang diterjemahkan sampai beres di Baka-Tsuki. Ini bukan seri yang bagus, tapi juga bukan seri yang jelek. Lalu walau ini bukan seri yang terbilang panjang, aku tetap saja heran. Memang ada apa dengan seri ini? Kenapa si penerjemahnya bisa begitu segitu berminat menerjemahkan seri ini sampai beres?

Aku mesti akui kalau desain karakternya buatan Minato-sensei termasuk memikat sih (aku terus terang suka desain karakter Uno Kirika–sempai… dan, uh, Miraluka). Tapi karakterisasi dan perkembangan ceritanya sendiri lumayan mengangkat alis.

Mungkin ini cuma aku, tapi aku sempat mikir kalau perkembangan ceritanya yang aneh mungkin juga karena konflik-konflik yang diangkat dalam cerita ini sebagian besar merupakan konflik pribadi; khususnya, soal identitas Rushella dan hubungan Hisui dengan mendiang Miraluka. Tapi masa iya cuma itu? Aku yakin Totsuki-sensei juga punya alur pemikiran yang aneh. Tapi kayaknya aneh kalau misalnya aku membahas sampai ke sana…

Pastinya, ini seri komedi romantis yang berakhir dengan situasi harem. (Yay, HAREM ENDING!) Jadi kalian yang suka situasi-situasi seperti itu mungkin akan suka. Meski luar biasa aneh perkembangannya, tetap ada kepuasan aneh yang kurasakan sesudah mengikutinya. Semua jalinan plot tertuntaskan (kecuali, mungkin, soal asal usul Sudou Mei), dan ceritanya berakhir dengan relatif bittersweet kalau bukan bahagia.

Beberapa orang mungkin menganggap sifat Rushella mengesalkan. Lalu, temanya juga memang agak… disturbing pada beberapa bagian. Lalu ada juga banyak adegan di mana para karakternya yang—dengan alasan terbawa emosi?—memilih ‘pergi’ begitu saja di tengah suasana klimaks konfrontasi, dan bukannya menyelesaikan masalah mereka di situ juga. …Jadi serius, ini tetap bukan seri yang akan aku rekomendasikan.

Akhir kata, aku merasa settingannya sebenarnya lebih cocok dijadikan game ketimbang light novel. Jadi ya sudahlah.

Aku cukup berhasil dibuat penasaran selama mengikutinya sih.

…Aku benar-benar lega saat pada akhirnya berhasil menyelesaikannya.


About this entry