Absolute Duo

Sebenarnya, aku kurang cocok dengan Absolute Duo.

Animenya diangkat dari seri light novel buatan Hiiragiboshi Takumi (bagian ‘boshi’ pada nama beliau suka ditulis dengan tanda bintang). Ilustrasi orisinilnya dibuat Asaba Yuu, dan diterbitkan di bawah label MF Bunko J. Produksi animenya dibuat oleh studio 8-Bit, dengan Nakayama Atsushi sebagai sutradara, dengan jumlah episode total sebanyak 12, dan ditayangkan pertama kali di awal tahun 2015.

Alasan aku merasa kurang cocok karena ada terlalu banyak hal di dalamnya yang enggak ‘masuk’ buatku. Tema ceritanya kurang berarti. Perkembangannya kurang mengesankan. Lalu karakterisasinya juga tak sedalam yang aku harap.

Aku sempat baca terjemahan buku pertama dari ranobenya. Aku kira mungkin yang membuatnya bagus adalah perkembangan ceritanya ke depan. Tapi meski aku ada beberapa hal di dalamnya yang memang menarik, beberapa perkembangannya buatku tetap agak terlalu tak masuk akal. (Seperti… adanya guru bergelagat psikopat yang selalu mengenakan usamimi, tapi anehnya tak dipermasalahkan siapa-siapa. Atau tentang bagaimana sang karakter utama menjadi yang satu-satunya yang dipasangkan sekamar dengan perempuan, tapi tak ada karakter cowok lain yang protes.)

Bagiku, Absolute Duo itu contoh seri ranobe yang benar-benar generik dan ‘biasa.’ Karenanya, buatku kurang menarik, meski mungkin aku merasa gini karena faktor usiaku juga. Menurutku, cerita Absolute Duo memang kayak paling cocok buat remaja-remaja berusia belasan tahun awal.

Tapi saat aku melihat key visual dalam promo animenya (aku bahkan sempat enggak habis pikir soal gimana bisanya seri ini diangkat jadi anime), ada sesuatu yang beneran menarik perhatianku.

Key visual-nya keren.

Aku enggak bisa jelasin kerennya di mana. Tapi ada nuansa keren yang enggak kusangka yang ada di dalamnya.

Aku memperhatikan nama-nama staf yang menangani adaptasi animenya. Lalu saat melihat kalau studio 8-Bit yang terlibat, aku kembali teringat dengan pengalamanku mengikuti season pertama Infinite Stratos, yang secara enggak disangka karena suatu sebab termasuk sangat kunikmati.

Aku akhirnya mencoba mengikuti perkembangan animenya. Lalu sesuai dugaanku, kualitas eksekusinya ternyata benar-benar lebih bagus dari yang aku kira.

…Walau sayangnya, aku tetap enggak bisa suka sih.

Apple Tea and Norse Mythology

Di dunia Absolute Duo, ada jenis persenjataan yang disebut Blaze, yang merupakan hasil manifestasi dari ‘jiwa’ seseorang, dan karenanya bersifat unik dan memiliki sifat-sifat khusus. Blaze bisa dimunculkan dari suatu rajahan yang disebut Luciful, dan akan pertama keluar dari dalamnya melalui manifestasi kobaran api. Lalu orang-orang yang dapat menggunakan Blaze dari Luciful mereka disebut sebagai kaum Exceed, dengan kemampuan fisik mereka yang jauh melebihi manusia normal sebagai dampak dari Luciful yang diberikan dipinjamkan kepada mereka.

Akademi Koryo adalah sekolah yang dibangun khusus untuk membesarkan kaum Exceed. Di samping pendidikan formal, para murid di sekolah ini secara khusus dilatih untuk menjadi prajurit yang dapat bertempur menggunakan Blaze.

Kokonoe Tooru adalah salah seorang murid baru yang mendaftar ke akademi ini. Tapi berbeda dari murid-murid lainnya, karena suatu alasan, Blaze yang keluar dari dalam dirinya berbentuk tameng, dan bukan senjata serang normal semisal pedang dan kampak seperti kebanyakan murid lainnya. Dirinya karena itu kemudian mendapat sebutan Irregular (‘tidak biasa, tidak wajar’), sekalipun dirinya datang ke akademi ini karena ingin mencari kekuatan akibat sesuatu yang pernah terjadi di masa lalunya…

Ada suatu upacara kenaikan Level yang diadakan secara berkala, yang hanya dapat dijalani oleh seorang murid apabila dirinya telah cukup siap, yang ditandai dengan cukupnya latihan yang telah ia lalui. Apabila Level Luciful yang dipunyai seseorang dinaikkan, maka dengan sendirinya kekuatan Blaze yang dimilikinya akan (jauh) bertambah, meski fisik mereka sendiri mesti harus sudah cukup terlatih untuk mewadahi peningkatan kekuatan ini.

Lalu untuk mendukung peningkatan keterampilan ini, di Koryo ada sistem pasangan yang disebut Duo, yang mengharuskan setiap murid memiliki semacam partner yang dengannya mereka akan hidup dan berlatih bersama. (Aspek ‘bersama’ di sini sebenarnya perlu agak aku tekankan.)

Absolute Duo pada dasarnya berkisah tentang pengalaman-pengalaman Tooru di Koryo sesudah ia mendapatkan seorang gadis dari luar negeri bernama Julie Sigtuna sebagai pasangan Duo-nya, yang mempunyai Blaze berwujud pedang kembar. Mereka sempat mengalami kesulitan mencari pasangan karena kemampuan tempur keduanya yang sama-sama di atas rata-rata. Lalu rasa keterikatan Tooru terhadap Julie semakin bertambah kuat sesudah mengetahui bahwa Julie mempunyai misi balas dendam pribadi yang serupa seperti dirinya.

…sampai maut memisahkan kita.

Anime Absolute Duo mengangkat cerita novelnya kira-kira dari buku pertama sampai buku keempat. Mulai dari hari pertama ujian masuk ke Akademi Koryo, pertemuan Tooru dengan Lilith Bristol, gadis bangsawan yang disebut Exception (‘pengecualian’) karena Blaze miliknya mewujud menjadi senjata modern yang langka, yaitu senapan, yang juga membebaskannya dari aturan-aturan yang mengekang beberapa siswa lain; sampai ke akhir konflik Tooru dan kawan-kawannya melawan sosok K yang mewakili pihak Equipment Smith. Ceritanya diakhiri dengan bagaimana Julie kemudian membeberkan pada Tooru bahwa sebenarnya dirinya bukan Exceed seperti teman-temannya, karena Blaze miliknya timbul secara alami tanpa Luciful sesudah tragedi yang menimpa keluarganya terjadi.

Dalam perkembangan cerita, Tooru terungkap sering mendapat mimpi buruk tentang terbunuhnya adik perempuannya, Otoha, oleh seseorang yang belum terungkap identitasnya dalam cerita. Insiden tersebut yang mengawali obsesi Tooru untuk mencari kekuatan, yang dilakukannya dengan mendalami ilmu bela diri. Sedangkan Julie, di balik semua kepolosannya, juga ternyata pernah mengalami hal serupa, sesudah ayahnya juga terbunuh oleh suatu pihak yang belum terungkap di negeri Gimle tempat asalnya.

Seperti yang biasa terjadi untuk kasus anime-anime yang diangkat dari LN, subplot yang menggerakkan para karakternya untuk balas dendam ini masih berakhir tanpa dituntaskan. Tapi ceritanya cukup terpapar secara apik, dengan visualisasi latar yang lumayan konsisten serta adegan-adegan aksi yang cukup mencolok.

Absolute Duo sempat memukau sejumlah orang dengan kualitas koreografi aksinya yang lumayan enggak disangka. Meski kadang masih agak ‘bolong’ di beberapa bagian, kualitas koreografi ini tetap ada di atas rata-rata untuk ukuran anime sejenisnya (benar-benar sampai membuatku mengingat nama Nakayama-san yang menjadi sutradaranya). Lalu kerennya adegan-adegan aksi ini lumayan kontras dengan gaya desain karakternya yang dipenuhi bishoujo (yang sempat membuat seorang kenalanku bahkan membuatnya mengira ini seri romansa seperti Da Capo), dan mungkin di sana daya tarik seri ini terletak.

Bicara soal teknis, baik untuk visual maupun audio, presentasinya lumayan di atas rata-rata, walau sempat agak goyah menjelang akhir. Tapi di atas rata-rata di sini beneran di atas rata-rata. Ada bagian-bagian animasi dan musiknya yang seriusan terbilang memukau buat mereka yang biasa suka seri-seri kayak gini. Kenyataan kalau seri yang cuma sebatas satu cour ini punya tiga lagu penutup misalnya, lalu dua dari tiga lagu tersebut terbilang bisa aku sukai, kayak nunjukin para produsernya seserius apa.

Aku sempat agak bingung dengan desain persenjataan Blaze-nya (tameng Tooru ukurannya lebih kecil dari bayanganku). Tapi lambat laun aku terbiasa. Penggarapan ceritanya juga lumayan. Animenya merangkum banyak porsi cerita di novelnya dengan cara yang membuatnya tak terlampau terasa aneh.

Buatku pribadi, ini seri yang masih jauh dari memuaskan. Tapi mungkin karena aku tak berharap banyak juga, aku berakhir sedikit lebih terkesan dari yang aku kira.

Twin Blades and Aegis Desire

Selain jalan ceritanya sendiri, yang mungkin agak menentukan buat sebagian orang mungkin karakterisasinya sih. Karakterisasinya, terus terang, sebenarnya cenderung seperti di kebanyakan seri ranobe.

Nagakura Imari, orang pertama yang Tooru kenal di Koryo, yang memiliki sebilah katana sebagai Blaze-nya, adalah karakter lumayan menarik. Tapi sayangnya dirinya tak termasuk sebagai karakter utama.

Tsukimi Rito, guru wali kelas Tooru yang hobi berkostum kelinci dan seperti punya kepribadian ganda, tampil sebagai first boss yang Tooru dan kawan-kawannya harus lalui dengan Blaze-nya yang berwujud pedang (yang dapat menjadi rantai?).

Soal teman-teman Tooru dan Julie, Tooru bertemu kembali dengan kawan lamanya Torasaki “Tora” Aoi, yang sinis dan berkacamata, yang Blaze-nya berbentuk katar. Sedangkan Tora membentuk pasangan Duo dengan Tatsuno “Tatsu” Ryutaro (yang hobinya mengekspresikan diri lewat memamerkan otot daripada kata-kata) yang mempunya Blaze berbentuk naginata.

Pasangan Duo lain yang dekat dengan Tooru adalah pasangan Tachibana Tomoe dan Hotaka Miyabi. Tomoe adalah satu dari sekian sedikit murid baru di Koryo yang telah terlatih ilmu bela dirinya sebelumnya, dan karenanya menjadi sering berlatih dengan Julie dan Tooru dengan Blaze miliknya yang berbentuk rantai kusarigama. Sedangkan Miyabi, meski rendah diri dan pemalu, memiliki Blaze berbentuk lance yang membuatnya memiliki daya penghancur paling besar di antara mereka semua (ukuran Blaze Miyabi jauh lebih besar dari yang aku bayangkan dari novelnya).

Selebihnya, ini jenis cerita yang temanya menurutku lagi-lagi diangkat dengan cara terlalu sederhana (ada sekolah yang melatih ilmu militer, tapi nuansanya masih kalah jauh dengan yang ditampilkan di Final Fantasy VIII atau Chrome Shelled Regios, misalnya). Tapi setelah aku balik, mungkin kesederhanaan dan kejelasan konfliknya ini mungkin menjadi daya tariknya untuk sejumlah orang.

Dalam perkembangannya, Tooru dan para murid lainnya di Koryo terungkap hanyalah bidak-bidak yang dikumpulkan oleh Tsukumo Sakuya, kepala Akademi Koryo yang berwujud seperti seorang gadis kecil yang mengenakan pakaian gothic lolita, yang dengan kejamnya dapat menyuruh Tooru dan lain-lainnya saling bertarung dan mempertaruhkan nyawa mereka. Tapi ini status yang dengan rela diterima Tooru asalkan dirinya bisa mendapat kekuatan yang dijanjikan padanya sebagai imbalan.

Sakuya, yang juga berjulukan Blaze Diabolica, kemudian juga terungkap sebagai satu dari beberapa pihak—seperti halnya Equipment Smith yang menggunakan perangkat-perangkat perlengkapan tempur Unit daripada Luciful—yang berupaya menjangkau sesuatu yang disebut Absolute Duo, yakni manifestasi kekuatan tertinggi dari jiwa.

Apa persisnya Absolute Duo ini masih belum terungkap sampai akhir cerita. Tapi mesti diakui, perkembangan ke sananya memang jadi semakin menarik…

Akhir kata, kalau kau suka seri-seri aksi fantasi yang diangkat dari LN macam begini, Absolute Duo termasuk yang agak kurang dari segi cerita, tapi agak lebih dalam hal-hal lainnya. Kalau kalian merasa bisa suka dengan para karakternya, mungkin kalian bisa suka.

…Kalau aku merasa kayak gini, apa ini tanda kalau aku akhirnya telah menjadi riajuu? Hmm.

Penilaian

Konsep: E+; Visual: B+; Audio: B+; Perkembangan: B-; Eksekusi: B+; Kepuasan Akhir: C+

Update, Agustus 2015

Omong-omong, versi novel Absolute Duo sudah dikonfirmasi akan diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Star Rose Media. Aku sudah lihat preview mereka. Hasil terjemahannya keren!

…Sesudah membaca ceritanya dalam bentuk teks buku, aku mulai bisa agak mengerti kenapa seri ini terkenal. Bahkan untuk ukuran LN, ini benar-benar cerita selingan pengisi waktu yang luar biasa gampang dibaca. Ceritanya ringan, enggak terlalu berat, ada aksinya.

Lalu buat standar ranobe di Jepang, mungkin itu semata sudah cukup.


About this entry