ARMS

Sebenarnya, aku sudah lama ingin menulis tentang seri manga aksi ARMS (yang juga dikenal dengan judul Project ARMS, untuk versi animenya yang diproduksi TMS Entertainment). Tapi aku selalu bingung menulisnya mau bagaimana.

Manga ini dibuat oleh Minagawa Ryoji bersama Nanatsuki Kyoichi, dua nama yang mungkin sudah kalian kenal dari seri-seri manga bertema militer mereka (seperti Spriggan atau Aegis in the Dark). Aslinya, ARMS (yang harfiahnya dapat berarti ‘lengan’ dan ‘persenjataan’ sekaligus) diterbitkan di majalah Weekly Shonen Sunday terbitan Shogakukan, dan diserialisasikan dari tahun 1997 sampai 2002. Tapi untuk suatu alasan, di sini diterbitkannya oleh Level Comics, yang demografinya lebih dtujukan buat pembaca dewasa.

Sekalipun mungkin tak terlalu dikenal lagi (dan mungkin terhitung klasik untuk ukuran zaman sekarang—wow, padahal ini berarti manga ini sezaman sama Rurouni Kenshin!), manga ini di tahun 1999 sempat meraih Penghargaan Manga Shogakukan untuk genre shonen. Alasan aku terus penasaran buat mengulasnya adalah karena manga ini…

…Gimana ngungkapinnya ya?

Ringkasnya, buatku, ini satu-satunya manga aksi buat cowok yang berulangkali bikin aku ngerasa kalau para tokoh utamanya enggak mungkin bisa lolos dari situasi mereka. Jadi, para karakter utamanya akan terdesak. Mereka enggak cuma sekali, tapi berulangkali, ngehadepin situasi yang benar-benar gila, di mana enggak kebayang gimana mereka bisa lolos dari bahaya. Tapi mereka berhasil melakukannya. Lalu ini terjadi enggak karena deus ex machina!

Jadi, kalau di manga-manga lain, perasaanku bakal kayak: “Oke, keadaan gawat. Aku penasaran ama lanjutannya. Aku pengen tahu si pengarangnya bakal ngebikin para karakternya lolos kayak apa.” Tapi kalau di manga satu ini, aku kayak, “ENGGAK MUNGKIN! INI ENGGAK MUNGKIN! GIMANA CARANYA INI BISA DIATASIN?!”

Gitu.

Maksudku, ini sensasi yang bahkan enggak pernah kutemui lagi di manga-manga aksi shonen lain yang lebih tenar. Alasannya mungkin karena aspek realisme di ARMS yang dipertahankan dengan benar-benar kuat…

Para karakternya ngatasi situasi mereka semata dengan apa-apa yang sejak awal memang mereka punya gitu. Enggak melulu dengan suatu kekuatan baru dahsyat yang tiba-tiba mereka muncul dan punyai. Jadi mungkin itu yang membuat seri ini begitu berkesan.

Oya. Prinsip-prinsip fisika dari apa yang terjadi juga kerap dijabarkan sih.

“Apa kau menginginkan kekuatan?”

Ehem.

Baiknya aku mulai singgung soal ceritanya.

ARMS berkisah seputar remaja bernama Takatsuki Ryo dan kawan-kawan yang kelak ditemuinya: Shingu Hayato, Tomoe Takeshi, dan agak belakangan, satu-satunya perempuan di antara mereka, Kuruma Kei—yang mendapati diri mereka ternyata telah menjadi subjek percobaan suatu senjata biologis baru yang disebut ARMS, oleh suatu organisasi misterius yang sangat berkuasa bernama Egrigori.

ARMS berwujud seperti kumpulan nanomesin dan mineral yang menyatu dengan tubuh penggunanya, biasanya pada bagian tungkai mereka, tangan atau kaki, dan dapat berubah-ubah bentuk dan fungsi. Jenis kekuatan ARMS bervariasi, mulai dari memberi penggunanya kekuatan super sampai mewujud menjadi suatu senjata pemusnah massal.

…Baiknya kalian baca sendiri langsung sih untuk lebih jelasnya.

Persenjataan ARMS ini dinamai berdasarkan karakter-karakter dari Alice in Wonderland-nya Lewis Carrol. Jadi ada banyak referensi dalam ceritanya yang mengarah ke sana. Lalu seiring dengan waktu, kekuatan masing-masing ARMS mulai berevolusi dan bertambah. Pada saat yang sama, di dalam masing-masing ARMS, bersemayam semacam kecerdasan buatan yang juga berinteraksi dengan pemiliknya, bisa menjadi kawan atau lawan di saat yang sama.

Egrigori ceritanya organisasi sangat raksasa yang secara diam-diam berupaya ‘mempercepat evolusi manusia.’ Karenanya, ada banyak penelitian lain terhadap manusia yang mereka kembangkan. Sehingga ada banyak kekuatan ajaib lain yang dikembangkan selain ARMS, yang juga menjadi lawan bagi Ryo dan lainnya.

Pada akhirnya, Ryo, bersama Hayato yang impulsif dan ingin membalas dendam atas keluarganya yang dibantai; dan Takeshi, yang awalnya lemah, pengecut, karena selalu ditindas; melakukan perjalanan panjang keliling dunia untuk mengetahui jati diri mereka yang sebenarnya. Mereka juga sekaligus harus lolos dari pengejaran Egrigori, yang telah mengendus jejak keberadaan mereka. Lalu pada satu titik dalam cerita, mereka juga mulai mencari jejak keberadaan Akagi Katsumi, teman masa kecil Ryo, yang telah diculik Egrigori untuk dijadikan sandera.

Ryo yang sopan dan ramah memiliki ARMS di tangan kanannya, yang seakan bisa berubah-ubah wujud sesuai kebutuhan, mulai dari perisai sampai ke meriam udara. ARMS milik Hayato ada di tangan kiri, yang lazimnya berbentuk mata-mata pedang. Sedangkan ARMS milik Takeshi ada di kaki, memberikannya kemampuan bergerak melebihi manusia normal. Ketiga ARMS juga memberi pemiliknya kemampuan pemulihan di atas rata-rata. (Untuk Kei, tak aku ungkap dulu deh.)

Satu hal lain yang aku suka dari ini adalah bagaimana Ryo dan kawan-kawannya bisa unggul tak semata karena kekuatan ARMS mereka saja. Tanpa ngasih spoiler, Hayato mendalami ilmu bela diri, Takeshi memiliki kepintarannya, lalu Ryo punya pengalaman bertahan hidup di alam liar karena seringnya ia diajak berkemah oleh ayahnya. Tapi ini cuma sebagian kecil dari apa-apa yang mereka punya.

Ada cukup banyak lawan yang mereka hadapi di sepanjang perjalanan, dengan sosok agen Egrigori misterius Keith Black sebagai salah satu yang menonjol. Tapi cerita kemudian berkembang dengan semakin banyaknya pihak lain yang tak mereka kenal, tokoh-tokoh lain yang tak jelas aliansinya yang turut berperan dalam cerita, menimbulkan semacam pusaran intrik dan kecurigaan bagi para karakternya.

Kekuatan yang Sesungguhnya

Secara menyeluruh, ARMS terdiri atas 22 buku.

Animenya berakhir beberapa waktu sebelum manganya tamat, dengan total sekitar 50 episode, terbagi menjadi dua bagian, dan berakhir penayangannya kalau enggak salah tahun 2001. Tapi ceritanya secara garis besar lumayan tuntas.

Aku belum pernah melihat animenya. Jadi maaf karena soalnya aku enggak bisa komentar banyak.

Tapi bicara soal manganya sendiri, ini seriusan termasuk seri yang memuaskan. Ceritanya berawal dan berakhir secara pas. Bagian akhir ceritanya mungkin memang tak sekuat bagian-bagian awal dan tengahnya, berhubung perkembangan karakter yang Ryo dan kawan-kawannya telah tuntas. Tapi tamatnya menurutku tetap memberi penutup yang memuaskan.

Apa? Karakterisasinya agak klise? Tapi aku baca ini buat aksinya, man!

Pada mulanya, aku juga tak merasa temanya menarik sih. Aku juga tak merasa bakal terkesan dengan animenya (padahal kesannya agak mirip S-CRY-ed?). Tapi sesudah membacanya sendiri, aku benar-benar terpukau. Pertama karena nuansanya yang enggak biasa, apalagi kalau mengingat karya-karya lain dari duo pengarangnya. Jadi ceritanya ‘berat,’ tapi enggak ‘segelap’ yang kusangka. Namun alasan sebenarnya seri ini begitu berkesan buatku mungkin karena hatinya kuat.

Oke. Itu ungkapannya mungkin enggak jelas. Tapi intinya demikian.

Akhir kata, kalau kalian bingung ingin baca seri manga cowok yang seru, ini salah satu seri yang bakal aku rekomendasikan.

Soal kenapa ini diterbitkan oleh Level. Satu, mungkin karena gaya gambarnya yang lebih cocok buat orang-orang yang sudah berusia. Dua, karena ceritanya memang bisa seintens itu.

…Enggak, aku enggak bercanda!

Omong-omong, kualitas terjemahan dari Level cukup lumayan. Tapi aku ingat soal betapa penerbitannya kalau enggak salah berlangsung dengan lumayan lambat, agak tak sesuai dengan tempo cerita cepat yang seri ini punya. Yah, tapi seenggaknya mereka menerbitkannya tuntas sampai tamat.

Sesudah Naruto tamat, aku sedang berusaha mengingat-ingat kembali semua manga aksi shonen yang pernah kuanggap keren.


About this entry