Yojou-Han Shinwa Taikei

Aku agak lupa gimana persisnya. Tapi aku sempat pernah mikir, kalau suatu hari nanti aku jatuh cinta lagi, aku ingin jatuh cinta kayak di Yojou-Han Shinwa Taikei (judulnya kurang lebih berarti: ‘catatan kronologi mitologi empat setengah tatami’; tatami—buat kalian yang enggak tahu—adalah tikar anyaman bambu Jepang berbentuk persegi panjang yang sering digunakan sebagai satuan ukur luas kamar).

Juga dikenal dengan judul The Tatami Galaxy (‘galaksi tatami’), ini seri anime keluaran tahun 2010 yang sempat aku lewatkan pada masa itu. Jumlahnya episodenya 11. Produksinya dilakukan oleh studio Madhouse. Penyutradaraannya secara mencolok dilakukan oleh Yuasa Masaaki, yang punya ciri khas gaya animasi tangan 2D yang mulus. (Belum lama ini beliau juga yang menyutradarai seri anime Ping Pong: The Animation.)

Anime ini diangkat dari seri novel buatan Morimi Tomohiko yang semula diterbitkan oleh Ota Shuppan pada tahun 2004, dan kemudian diterbitkan ulang oleh Kadokawa Shoten dalam bentuk bunko pada tahun 2008.

Kalau kalian merasa pernah dengar nama Morimi-sensei, itu karena beliau adalah pengarang asli novel Uchouten Kazoku yang dianimasikan P.A. Works beberapa waktu lalu. Seperti Uchouten Kazoku, seri ini juga sepenuhnya berlatar di Kyoto, dan menampilkan berbagai tempat wisata bersejarah yang ada di sana.

“Karena kamu dan aku sama-sama terhubung oleh benang hitam takdir!”

Sebenarnya, The Tatami Galaxy termasuk seri anime aneh yang mengangkat tema yang agak-agak enggak jelas. Aku memang menyinggung soal cinta. Tapi sebagian besar ceritanya sebenarnya lebih tentang drama komedi kehidupan yang mengangkat tema-tema soal keberadaan (uh, eksistensialisme) dengan ditambah bumbu-bumbu supernatural.

Garis besarnya kira-kira begini.

Si tokoh utama (yang hanya disebut ‘aku’) adalah seorang mahasiswa tingkat tiga(?) di Universitas Kyoto(?) yang berkacamata dan berpembawaan agak-agak lembek. Lalu seri Yojou-Han Shinwa Taikei adalah tentang bagaimana si tokoh utama ini—di tengah kamar apartemennya yang berukuran empat setengah tatami—seakan mengenang kembali tahun-tahun awal masa kuliahnya dan mulai memandangnya sebagai waktu terbuang.

Cerita dibuka pada suatu malam, di suatu warung ramen misterius bernama Neko Ramen (yang sempat dicurigai memakai daging kucing dalam masakan mereka) yang kadang kali buka pada hari-hari tertentu di belakang Kuil Shimogamo. Lalu di situ, kita langsung sadar kalau ada sesuatu yang aneh dengan situasi si tokoh utama. Karena di sana si tokoh utama berpapasan dengan orang yang mengaku sebagai ‘dewa perjodohan’ bernama Kamotaketsununokami atau Kamotaketsunominokamo (agak enggak jelas yang mana karena dia menyebutnya cepat, dan ditambah sebenernya langsung kelihatan meragukan apa orang ini beneran serius apa enggak—mohon diinget bahwa Jepang adalah negeri dengan banyak dewa.).

Tapi orang yang ngaku dewa ini, yang jadi sesama pelanggan di warung ramen tersebut, kemudian menyebut satu nama yang langsung dikenal si tokoh utama: Akashi.

Akashi adalah seorang gadis pendiam dengan mulut blak-blakan yang jadi adik angkatan tokoh utama dari jurusan berbeda, yang ia tahu dikenalnya karena kegiatan-kegiatan klub yang diikutinya di kampus. Si dewa ini seperti sedang mempertimbangkan soal hubungan si tokoh utama, Akashi, dengan seorang kenalan tokoh utama lain yang hanya disebut sebagai Ozu.

Gampangnya, si Ozu ini yang si tokoh utama anggap sebagai biang kerok semua masalahnya dalam dua tahun terakhir. Ozu adalah orang yang si tokoh utama sebut ‘saking banyaknya makan makanan instan sampai-sampai tampangnya jadi kayak siluman.’ Lalu untuk suatu alasan, si Ozu ini selalu sok akrab dan sok dekat dengan si tokoh utama, dan selalu di semua skenario kayak membawa-bawa masalah bagi si tokoh utama dalam dua tahun pertama kehidupan kuliahnya tanpa bisa si tokoh utama hindari.

Mochiguman dan Castella

Mulai dari sini, ceritanya semakin aneh.

Karena tak ingin mengenang kehidupan sekolah menengahnya yang terbatas pergaulannya, pas masuk dunia kuliah ‘yang penuh warna,’ si tokoh utama bertekad untuk bergabung dengan suatu kegiatan ekskul (circle), bertemu banyak orang, dan (mudah-mudahan) bertemu seorang gadis anggun berambut hitam pekat yang bisa menjadi pujaan hatinya.

Tapi gara-gara si Ozu ini (walau sebenarnya juga karena kepayahan si tokoh utama sendiri sih), kita kemudian tahu kalau si tokoh utama ini terlibat berbagai masalah. Lalu pada setiap titik di mana dia mulai menyesal dan putus asa, waktu entah gimana akan berputar dan mengulang kembali buat si tokoh utama. Sehingga segalanya kayak ke-reset dan dia kembali ke masa awal saat dia baru pertama masuk kuliah, dan berkesempatan mengambil pilihan ekskul yang beda.

Yojou-han Shinwa Taikei memaparkan gimana si tokoh utama secara berulangkali, baik secara sadar atau enggak (karena ingatannya jadi tersamar setiap kali ini terjadi), terus-terusan mengulang-ulang waktu karena keenggakpuasan pribadinya. Iterasinya berlangsung kira-kira seperti ini:

  • Circle Tenis “Cupid”
  • Circle Perfilman “Misogi”
  • Circle Bersepeda “Soleil”
  • ???
  • Circle Softball “Honwaka”
  • Circle Percakapan Bahasa Inggris “Joingurisshu”
  • Circle Asosiasi Hero Show
  • Circle Membaca “SEA” (tiga yang terakhir ini dia ikuti sekaligus)
  • ???

Tapi ternyata pilihan ekskul manapun yang dia ambil begitu masuk kuliah, selalu, selalu, selalu, dia berjumpa dengan Ozu yang kemudian membawanya ke dalam berbagai masalah.

Seiring perkembangan cerita, kita kemudian menyadari betapa anehnya keadaan di sekitar si tokoh utama. Ada sesuatu yang besar tengah terjadi. Lalu ada suatu hal gila yang si Ozu tengah rencanakan. Lalu petunjuk-petunjuk tentang semuanya secara tersamar bisa kita temukan lewat pilihan jalan hidup berbeda yang diambil si tokoh utama setiap kali dia mengulang waktu.

Keanehan-keanehan ini mencakup tapi tidak terbatas pada: sindikat pencuri sepeda, dinding yang dihiasi replika dari semua payudara yang pernah dipegang pemiliknya, sebuah love doll, korespondensi rahasia dengan seorang gadis anggun misterius yang (mungkin) berambut hitam, upaya sabotase antar individu dan ekskul, seorang peramal yang terus-terusan naikin harga di Jalan Kiyamachi, putri cantik dari sebuah produsen makanan, sampai ke sebuah organisasi rahasia yang berkembang jadi suatu aliran kepercayaan.

Lalu setiap kali pula, di tengah itu semua, si tokoh utama selalu bersimpangan jalan dengan Akashi, yang secara tersamar pula selalu mengingatkannya akan sebuah janji yang belum dipenuhinya.

Books, Moths, and Idealogue

Alasan aku dulu tertarik pada seri ini kenapa ya?

…Aku enggak begitu inget.

Seri ini lumayan cocok buatku pastinya sih. Lalu dengan penceritaannya yang aneh, lumayan berhasil membuatku mikir tentang beragam hal yang sebelumnya enggak pernah kupikir, dari berbagai sudut pandang yang enggak pernah kusangka juga. Kalau kalian pernah mengikuti drama di Uchouten Kazoku, mungkin kalian sudah ada bayangan soal tema yang diangkat seri ini kayak gimana. Cuma, yah, itu dia, seri ini beberapa kali lipat lebih aneh lagi.

Bicara secara teknis, terlepas dari warna-warnanya yang agak gelap dan suram, ada lumayan banyak hal konyol yang ada secara visual kalau kau mau memperhatikan. Anehnya, entah gimana caranya, semua desain karakter yang agak aneh ini enggak kontras dengan desain-desain karakternya yang relatif lebih normal. Ozu tampangnya beneran kayak siluman. Tapi dia enggak terlihat aneh kalau bersebelahan dengan Hanuki Ryouko yang seksi, misalnya. Lalu Higuchi Seitarou yang agak ‘besar’ wajahnya juga kelihatan bisa pas secara aneh kalau disandingkan dengan Hanuki. Walau soal keserasian ini yang paling aneh tetap adalah Johnny sih…

…Agak susah jelasinnya.

Yang pasti, sama kayak dengan kasus Ping Pong: The Animation (karena itu contoh yang paling gampang kuambil), bahkan dengan visualisasinya yang 2D, adegan-adegan dengan sedikit aksinya saat terjadi tetap mendebarkan untuk dilihat.

Soal audio, grup band Asian Kung Fu Generation membawakan lagu pembukanya yang berjudul “Maigo Ino to Ame no Beat.”

…Apa aku perlu komen lebih dari itu?

Tapi seriusan. Audionya terbilang bagus. Setiap episodenya yang dipenuhi kekonyolan selalu diakhiri perasaan mistis aneh setiap kali waktu berulang. Lalu walau mungkin ada yang ngerasa kalau penutupnya rada antiklimatik—dan emang kayak bikin kita berharap durasinya masih ada lebih—segala keanehan seri ini dan kerapian penyajiannya tetap menutupi segala kelemahannya.

Soal rekomendasi, sejujurnya, ini bukan seri yang akan aku rekomendasikan. Kurasa cuma jenis-jenis orang tertentu saja yang bakal suka seri macam ini. Enggak semua orang bakal bisa nangkep intinya gitu. Ceritanya secara umum memang konyol, walau ada suatu pesan berarti yang disampaikan tersamar di dalamnya. Tapi, yah, seri-seri yang disutradarai Yuasa-sensei memang kerap kayak gitu.

Buatku seenggaknya, ini salah satu seri paling berarti yang pernah kuikuti. Entahlah. Mungkin akunya juga yang suka tema-tema kayak gini. Atau mungkin juga karena aku penggemar AKFG.

Lalu alasan aku menulis tentangnya sekarang… ukh, mungkin karena aku sedang jatuh cinta lagi. Hahaha.

…Gimanapun, kita enggak boleh menunda-nunda keinginan kita untuk hidup di kehidupan kita sendiri.

Penilaian

Konsep: B+, Visual: A-; Audio: A; Perkembangan: B+; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: A


About this entry