Gundam Build Fighters Try

Pernah ada masa ketika aku bermasalah dengan kuliah. Lalu di masa itu, aku sering iri bukan main dengan orang-orang yang punya cita-cita.

Perasaan ini mungkin timbul karena aku kebanyakan baca komik. Jadi… yea, bukannya belajar dan beresin tugas-tugas, aku malah sibuk membaca komik sebanyak mungkin buat dijadikan ‘referensi terhadap kehidupan.’ Lalu kesimpulan pertama yang aku dapatkan dari bacaan-bacaanku tersebut adalah rasa iri di atas: dengan punya cita-cita/keinginan/target yang segitu ingin terwujud, orang bisa ‘berubah’ jadi keren!

Buatku, ini sesuatu yang enggak kalah berartinya dengan saat di Naruto disampaikan kalau orang bisa menjadi benar-benar kuat saat ada sesuatu yang ingin dilindungi. Lalu aku merasa bego sekaligus tua pada waktu itu, karena baru menyadari hal ini pada usia segitu.

Terlepas dari itu, aku nyangka Gundam Build Fighters Try tadinya mau mengangkat tema soal suka duka dalam mengejar cita-cita gitu. Seri ini gimanapun merupakan sekuel dari Gundam Build Fighters, yang di luar dugaan cukup sukses pada pertengahan 2014 lalu. Aku pikir, premis yang diangkatnya pasti kurang lebih sama ‘kan?

Aku enggak salah sih. Cuma…

There are no limits…

GBF Try berlatar tujuh tahun sesudah kemenangan Iori Sei dan Reiji dalam kejuaraan dunia Gunpla Battle di seri sebelumnya. Tapi di masa kini, perguruan Seiho tempat Sei bersekolah dulu dikenal agak payah klub Gunpla-nya. Lalu hal ini yang dicoba diubah oleh Hoshino Fumina, seorang siswi kelas tiga SMP penuh semangat yang merupakan satu-satunya anggota klub yang masih tersisa.

Ada seorang adik kelas sekaligus sahabat masa kecil Fumina, Kousaka Yuuma, yang berkacamata dan kalem, yang dulu waktu mereka kecil pernah berjanji untuk menjuarai kejuaraan Gunpla Battle sama-sama. Tapi karena suatu hal, Yuuma sudah sepenuhnya mundur dari dunia Gunpla Battle, agak menjauhkan dirinya dari Fumina, dan kini sepenuhnya berkutat di sisi modelling-nya, hingga bahkan sampai memenangkan Kejuaraan Artistic Gunpla untuk seluruh Jepang. Yuuma sangat enggan untuk membantu Fumina sebagai Gunpla Fighter lagi. Lalu ketentuan kejuaraan Gunpla Battle U-19 yang mengharuskan masing-masing sekolah mengirim perwakilan berupa tim yang terdiri atas tiga anggota benar-benar membuat Fumina kesulitan.

Sampai pada suatu hari, tiba-tiba datang seorang murid pindahan yang sekaligus merupakan praktisi ilmu bela diri Kenpo aliran Jigen Haoh, bernama Kamiki Sekai. Sekai, yang semula kecewa karena tak ada ekskul bela diri di Seiho, kemudian menjadi tertarik dengan Gunpla Battle saat Fumino, sebagai senpai barunya, dengan semangat memperkenalkan soal dunia Gunpla Battle padanya.

Dari sana, segala sesuatunya mulai bergerak. Terutama sesudah Sekai menemukan Gunpla misterius Build Burning Gundam yang tersembunyi di ruang klub mereka, yang seolah-olah tampil kembali dengan sendirinya untuk bisa dipakai oleh Sekai.

Sesudah upaya untuk menyelamatkan klub mereka agar tak sampai bubar, sekaligus mendorong Yuuma untuk berubah pikiran; Fumina, Sekai, dan Yuuma—dengan bimbingan dari si om-om misterius pengguna Gunpla Gouf, Ral-san, yang kemudian menjadi guru pembimbing—kemudian membentuk tim Team Try Fighters untuk sekali lagi menantang kejuaraan Gunpla Battle Nasional U-19.

Untuk Kebahagiaan Tiga Kali Lipat

Mecha utama—atau dalam hal ini, Gunpla utama—yang ditonjolkan dalam seri ini adalah Build Burning Gundam, yang ditemukan Sekai tersembunyi di dalam Gunpla MS-09 Dom yang digunakannya saat mencoba battling pertama kali. Jujur saja, ini hal pertama yang mencolok bagiku dalam seri ini.

Walau mungkin ada yang mengatakan sebaliknya, mecha ini jelas-jelas mengambil konsep Shining Gundam, yang merupakan MS utama di seri G Gundam. Karenanya, Gunpla ini sangat mewadahi gaya bertarung jarak dekat dengan tangan kosong yang Sekai banyak gunakan. (Walaupun pola api membara yang menjadi ciri khas Gunpla ini memang lumayan membuatnya terkategori sebagai desain orisinil sih.)

Dalam cerita kemudian terungkap bahwa Build Burning Gundam sebelumnya dibuat oleh Iori Sei, untuk seorang ‘sahabat yang mungkin takkan dijumpainya lagi.’ Kualitasnya yang sangat bagus dan berkelas dunia kemudian membuatnya menjadi Gunpla andalan Sekai dalam menghadapi lawan-lawan battling mereka.

Yuuma sendiri, yang kelihatannya paling ahli memodif di antara mereka, mengandalkan Lightning Gundam, Gunpla rancangannya sendiri yang merupakan hasil modifikasi dari Gunpla Re-GZ, suatu MS produksi massal yang tampil di film layar lebar Char’s Counterattack. Yuuma berhasil memodifikasinya agar dapat berubah bentuk dari bentuk humanoid ke pesawat secara bolak-balik, dan tak cuma lepas dari back weapon system, dengan fitur BWS kustom yang disebutnya Lightning Back Weapon System. Bisa dibilang ini Gunpla utama yang terbilang konvensional, yang mengandalkan kecepatan tinggi dan persenjataan canggih, walau senjata utamanya adalah senapan beam jarak jauh yang dimilikinya.

Sadar bahwa GM Powered Cardigan buatannya kurang optimal dengan spesialisasinya dalam serangan pendukung jarak jauh, Fumina mencoba mendesain Gunpla baru yang mampu mendukung Gunpla kedua rekannya. Hasilnya adalah Winning Gundam, Gunpla model SD (super deformed) rancangannya sendiri yang memiliki kekhususan dalam memberikan support di segala medan. Kekhasan utamanya adalah bagaimana bagian-bagian tubuhnya dapat terlepas dan kemudian menjadi perlengkapan tambahan yang ‘memperkuat’ serangan dan pertahanan Gunpla kedua rekannya.

Seiring perkembangan cerita, Fumina dan kawan-kawannya harus berhadapan dengan berbagai saingan lain. Mulai dari Sakai Minato, seorang murid aliran Gunpla Shingyo dari Osaka yang merupakan saingan(?) berat Yuuma dalam membangun Gunpla dan telah menjadi builder kelas nasional; Sazaki Kaoruko, siswi dari sekolah putri St. Odessa dari tim Hokusou no Tsubou/Song Dynasty Vase, yang juga dikenal sebagai Gyanko karena kesukaannya menggunakan Gunpla bermotif Gyan (yang merupakan turunan dalam keluarganya, dirinya adik perempuan Sazaki Susumu yang merupakan kenalan Sei dalam season sebelumnya), dan belakangan naksir pada Sekai; serta Izuna Shimon dari tim FAITH, yang menggunakan Gunpla straight build buatan adik lelakinya tersayang, dan mengimbangi kekurangannya dengan keterampilannya sebagai petinju amatir.

Ancaman utama yang Sekai dan kawan-kawannya harus hadapi di paruh awal cerita adalah tim G-Master dari Perguruan Miyazato, yang menjadi juara wilayah Tokyo Barat pada tahun sebelumnya. Pemimpin tim mereka, Sudou Shunsuke, menggunakan Gunpla Mega Shiki hasil rancangan Sakai, yang merupakan modifikasi Gunpla Hyaku Shiki milik Quattro Bageena dari seri Zeta Gundam, yang dilengkapi perlengkapan Mega Ride Launcher yang dapat berfungsi sebagai Mega Rider dan Mega Launcher sekaligus. Apalagi sesudah tim tersebut kedatangan Suga Akira, murid pindahan yang menggunakan Gunpla DELTA G-Bomber, yang selain bertampang sangat mirip karakter Sleggar Law dari seri Mobile Suit Gundam orisinil (ditambah G-Bomber merupakan modifikasi MA G-Fighter), juga mengenal orang lain selain Sekai yang menggunakan aliran Jigen Haoh dalam Gunpla Battle.

Menanti Go Sign

Bicara soal teknis, ada beberapa isu yang layak dibahas.

Pertama, mungkin ini cuma aku, tapi kualitas presentasi seri ini sempat mengalami penurunan dibandingkan pendahulunya. Kualitasnya sempat naik kembali seiring kelanjutan cerita. Tapi ada kesan kalau para staf turut ‘belajar’ seiring dengan masa produksi anime ini, sehingga bagian akhir anime ini lumayan jauh lebih bagus ketimbang bagian awal. Ini paling kerasa dari cara penataan gambar, pemaparan adegan-adegan aksi, serta cara pemaparan cerita. Bagian-bagian awalnya agak… kurang. Sementara bagian-bagian ujung ke sana berakhir lebih bagus dari yang kau sangka, meski memang belum sampai setara dengan kebagusan GBF.

…Sutradaranya memang berganti sih. Watada Shinya yang kini berperan dalam mengarahkan cerita. Naskahnya masih ditangani oleh Kuroda Yousuke, tapi ada kesan aneh kalau naskah kali ini enggak sematang naskah GBF. Jadi, buat sebagian orang yang mengikuti seri ini karena terkesan dengan pendahulunya, rasanya emang jadi agak campur aduk.

Ada beberapa isu yang langsung kelihatan menjadi penyebabnya sih.

  • Format pertandingan yang menjadi antar tim, dan bukan lagi perorangan, sehingga fokus cerita jadi kesebar ke lebih banyak karakter, dengan durasi cerita yang masih sama. Ini kenanya ke aspek perkembangan karakter.
  • Cakupan cerita yang menjadi berskala nasional, dan bukan dunia, sehingga kita enggak lagi melihat beragam karakter menarik dari berbagai negara kayak di GBF. (Sehingga, walau mecha utamanya lebih mirip dengan mecha utama di G Gundam, nuansa ceritanya justru enggak lagi kayak di G Gundam, berbeda jauh dari seri GBF)
  • Sasaran cerita yang mungkin ditujukan lebih ke kalangan pemirsa yang lebih kasual.

Meski aku sangat suka lagu-lagu yang dibawakan band BACK-ON, lumayan kelihatan perbedaan kualitas animasi pembuka pertama GBF Try dibandingkan pembuka keduanya. Bukannya jelek, dan lagi lagu ‘Cerulean’ itu terbilang keren. Tapi apa yang ditampilin kayak kurang bisa nyajiin apa sebenernya yang ada di dalam ceritanya.

Rada susah ngejelasinnya.

Jadi format cerita ala kompetisi  harusnya menjadikan GBF Try sebagai seri dengan bentuk cerita ala seri-seri olahraga. Tapi kenyataannya enggak jadi gitu. Lalu rasanya jadi salah.

Dengan banyaknya karakter yang ada, ceritanya juga kayak sebisa mungkin berusaha masukin bobot dramatisasi selagi bisa. Lalu ini kenanya ke aspek humor yang jadi hal menonjol di seri pendahulunya. Para karakter sebisa mungkin berusaha dikasi spotlight masing-masing. Jadinya, ceritanya kerasa enggak se-fun sebelumnya. Humor di GBF yang hampir selalu ada di tiap episode jadi hanya sesekali munculnya.

Baru pada paruh kedua cerita, seri ini kayak menemukan momentumnya kembali, lewat perkenalan tim Celestial Sphere dari Perguruan Gunpla yang telah menjadi juara nasional selama enam tahun berturut-turut. (FYI, Meijin Kawaguchi III yang karismatik berhasil menjadi juara dunia selama tiga tahun berturut-turut.) Animasinya jadi keren kembali. Koreografi aksinya jadi lebih berkesan. Lalu kekonyolan-kekonyolan yang ada di seri pendahulunya agak-agak mulai muncul kembali.

Tim ini yang menjadi sasaran yang Sudou Shunsuke ingin kalahkan. Lalu ternyata menjadi sekolah asal Suga Akira sebelum yang bersangkutan keluar dari sana.

Tim ini diawasi oleh Allan Adams, yang dulu menjadi mentor Meijin Kawaguchi III, dari masa ketika PPSE masih berdiri. Di tim ini hadir Kijima Wilfrid, keponakan Allan, yang menjadi rival terbesar Sekai dengan Gunpla Transient Gundam miliknya, yang merupakan hasil modifan Gundam Exia milik Setsuna F. Seiei dari seri Gundam 00 dengan mengandalkan senjata tombak GN Partisan (yang dapat berubah jadi lance bit!).

Selain itu hadir juga Adou Saga, dengan Gunpla Gundam The End yang bergaya western dan penuh senjata rahasia (kombinasi Regnant dari Gundam 00 dengan Master Gundam dari G Gundam?), yang dengan hobinya menghancurkan Gunpla lawan ternyata menjadi penyebab traumanya Yuuma dulu; serta Kijima Shia, adik perempuan Wilfrid yang teramat manis, pengguna G-Portent, modifikasi workloader produksi massal Sakibure (yang setara MS) dari seri manga Gundam 00I 2134, yang lincah dan memiliki kemampuan langka untuk mereparasi diri sendiri, dan belakangan juga menjadi rival Fumina (dan Gyanko) dalam meraih perhatian Sekai.

Second Coming

Di satu sisi, agak disesalkan gimana GBF Try kurang berhasil mengimbangi keajaiban yang GBF miliki.

Enggak ada tokoh antagonis yang benar-benar menjadi ‘lawan’ di cerita ini. Peran PPSE sebagai panitia turnamen (yang menjadi ‘musuh’ di seri sebelumnya) telah digantikan oleh perusahaan Yajima Trading, sesudah ilmuwan muda jenius Nils Nielsen bersama Caroline Yajima menemukan kembali cara menghasilkan partikel Plavsky di penghujung seri sebelumnya. (Keduanya kini telah menikah btw, dengan Nils yang telah dewasa kini bernama Nils Yajima dan mengepalai pusat penelitiannya, Nielsen Labs, yang menjadi lokasi ‘latihan musim panas’ berbagai tim Gunpla.)

Lalu apa yang membuat dunia Gunpla menarik juga kurang ditampilkan kecintaannya. Di seri GBF, ditampilkan berbagai otaku Gundam dari berbagai kalangan, dan ditampilkan jelas apa yang membuat mereka begitu suka. Tapi di seri GBF Try, kecintaan tersebut lebih dipaparkan pada keunikan cara modif dan membangunnya, dan lebih dipaparkan secara mild gitu.

Adegan-adegan pertarungannya juga, meski seru buat diikuti, lebih banyak berujung pada pertunjukan ‘adu kekuatan’ ketimbang ‘adu taktik’ seperti yang banyak diperlihatkan pada sejumlah seri anime di masa lampau. (Ini terus terang agak mengingatkanku pada seri Crush Gear Turbo Fighter yang dulu juga dibuat Sunrise.) Ini membuatku merasa agak gimanaa gitu, terutama kalau membandingkannya dengan konfrontasi-konfrontasi di seri sebelumnya yang tahapan-tahapan pertandingannya bisa kita breakdown dan analisa

Tapi di sisi lain, terlepas dari semua kelemahan itu, ada beberapa keistimewaan khas yang seri ini punya.

GBF Try menampilkan banyak referensi enggak disangka terhadap seri-seri Sunrise lain yang non-Gundam. Cakupannya meliputi seri Brave/Yuusha mereka yang dulu terkenal tapi sekarang dorman (melalui desain Gunpla Gundam Tryon 3 yang cukup mencengangkan), Metal Armor Dragonar yang dulu pernah disangka sebagai klon Gundam (terlihat dari jenis spesialisasi Gunpla yang digunakan tim SRSC), Armored Trooper VOTOMS yang terkenal karena sangat real robot (lewat pemilihan warna Gunpla Hi-Mock yang sempat tampil sekilas), sampai Space Runaway Ideon di mana semua karakternya beneran mati (dari pemilihan warna Gundam Amazing Red Warrior milik Meijin, yang dimodifikasi dari Perfect Gundam III “Red Warrior” dari seri Plamo Kyoshiro, yang merupakan manga tahun 80an yang pertama mengenalkan ide adu Gunpla dengan simulator)

Lalu GBF Try juga menampilkan sejumlah desain favorit dan keren yang sebelumnya dikhawatirkan terlupakan karena berasal dari seri yang kurang dikenal. Ini meliputi Gunpla Destiny Gundam milik Shinn Asuka dari Gundam SEED Destiny, yang secara langsung digunakan Shimon untuk membuat adiknya yang bertubuh lemah senang (dan nanti, Destiny Impulse Gundam, yang merupakan prototip pendahulunya, dari salah satu seri Astray yang aku lupa yang mana; buat yang mau tahu, MS ini ceritanya adalah Impulse Gundam yang dilengkapi perlengkapan Destiny Pack, yang maksudnya untuk mewadahi semua fitur dari semua pack sebelumnya, tapi dinilai kurang efisien dan disimpulkan buat mending bikin ulang MS baru sekalian); Crossbone Gundam X-1 Full Cloth, mecha utama dari seri manga Crossbone Gundam: Steel 7, yang digunakan oleh Lucas Kankaansyrjä, atau yang lebih dikenal sebagai Lucas Nemesis, yang di seri sebelumnya adalah anak kecil cucu pemilik Team Nemesis yang kini telah tumbuh jadi Fighter yang tangguh; R-Gyagya yang penuh perisai yang digunakan Gyanko, yang diadaptasi dari R-Jarja milik Chara Soon dari Gundam ZZ; desain-desain variasi Gunpla Zaku II berkecepatan tinggi yang dipelopori team White Wolf pimpinan Matsunaga Kenshou (yang dirinya sendiri jelas merupakan referensi terhadap karakter pejuang Zeon veteran Shin Matsunaga dari seri Gundam MSV, yang agak sayang karena karakternya tak lebih menonjol); sampai ke variasi Vagan Gear K, modifikasi dari boss terakhir dari Gundam AGE, yang dibuat oleh Karima Kei yang di sepanjang cerita ditampilkan sebagai karakter yang konyolnya… menonjol karena gagal menonjol.

Tapi yang paling kelihatan dibandingkan seri sebelumnya, GBF Try menampilkan jauh lebih banyak Gunpla model SD. Seakan buat minta maaf ke kalangan penggemar Gunpla SD yang dalam seri sebelumnya terkesan agak terlupakan.

Selain Winning Gundam yang Fumina gunakan, beberapa yang menonjol meliputi: trio Snibal Gundam, Dragonagel Gundam, Giracanon Gundam, yang digunakan oleh kembar tiga bersaudara ShikiToshiya, Nobuya, dan Kazuya—dari Team SD-R yang agak misterius; Devil Dragon Blade Zero Gundam dari seri Shin SD Gundam Gaiden: Knight Gundam Story, yang sempat digunakan oleh partner wanita Meijin, Lady Kawaguchi; sampai Kouki Gundam yang sempat digunakan Sakai Minato melawan Sekai.

Pantat yang Gatal

Beberapa karakter lain menonjol dalam seri ini meliputi Kamiki Mirai, kakak perempuan Sekai yang cantik, sopan, dan ditampilkan selalu membuat kyun siapapun yang bertemu dengannya. Lalu Kousaka China, sahabat dekat(?) Sei yang merupakan kakak perempuan Yuuma, juga tampil kembali; diceritakan bahwa dirinya kini hidup bersama dengan Sei di Perancis. Kemudian, tentu saja, Lady Kawaguchi, partner Meijin, yang sebelumnya merupakan sosok yang ingin Fumina kejar. (Lady dan Meijin di seri ini benar-benar suka berpose keren.)

Sei dan Reiji sendiri, meski disinggung dalam cerita, sebenarnya sampai akhir enggak ditampilkan. Jadi mungkin itu agak mengecewakan buat kalian yang ingin melihat versi dewasa mereka.

Tapi selebihnya, ada guru bela diri Sekai yang kerap ditampilkan dalam kilas balik; yang tampang, pembawaan, serta pakaiannya agak terlalu mirip Domon Kasshu, tokoh utama dari G Gundam. Serta kemudian ada Inose Junya, kakak seperguruan Sekai yang salah jalan, yang memberi pelajaran berarti bagi Sekai dalam konfrontasinya dengan Denial Gundam. (Lalu, yeah, mereka semua sama-sama menjalani latihan mereka di dataran tinggi Guiana, satu lagi referensi terhadap G Gundam.)

Sebenarnya, sempat kudengar ada cerita menarik tentang Denial Gundam ini. Aslinya, ini bernama Cathedral Gundam, yang dirancang oleh Meijin Kawaguchi II sebelum yang bersangkutan meninggal dunia karena penyakit yang dideritanya. Tapi Junya kemudian memperoleh Gunpla tersebut dari pelatihnya, yang kemudian ia modifikasi agar sesuai gaya bertarung tangan kosongnya dia. Itu alasan kenapa Gunpla misterius ini bisa mirip sekaligus sangat mengimbangi Gunpla milik Sekai yang notabene juga hasil rancangan kelas dunia.

Menutup pembahasan soal mecha, Sekai kemudian meng-upgrade sendiri Gunpla-nya dengan bantuan Yuuma dan Fumina, menghasilkan Try Burning Gundam yang semakin mewadahi fitur particle burst yang menjadi keunggulan utamanya, yang berkaitan juga dengan jurus-jurus api yang Sekai banyak pakai.

Yuuma menutup sendiri kelemahan Lightning Gundam miliknya dengan mengubahnya menjadi Lightning Gundam Full Burnern, yang dilengkapi Lightning BWS Mk II. Upgrade ini memberikan Gunpla miliknya kecepatan maksimum yang luar biasa (Ini referensi terhadap Gundam GP01 “Zephyranthes” Full Burnern dari Gundam 0083: Stardust Memory, btw.) dan juga menandai perubahan mindset Yuuma dari seorang sniper yang menyerang dengan hati-hati dari jauh ke seseorang yang takkan segan melakukan konfrontasi langsung.

Winning Gundam oleh Fumina kemudian diubah menjadi Star Winning Gundam berkat nasihat yang diterimanya dari Lady, dan mungkin mengubahnya menjadi Gunpla dengan fitur-fitur paling mengangkat alis di seri ini. Bukan hanya dilengkapi perlengkapan armor dan thruster tambahan, di samping fitur-fitur lamanya, Gunpla ini kini memiliki berbagai jenis funnel dan satu mode baru yang beneran menakjubkan kalau berhasil dibikin. (Serta jurus terakhir Winning Beam.)

Akhir kata, seri ini… ukh, yeah, sebenarnya agak mengecewakan. Tapi enggak semengecewakan itu juga. Buatku, ini tetap seri paling fun yang dengan setia kuikuti streaming-nya dari situs Gundam.info tiap minggu.

Rasanya agak gimanaa gitu, berdiam di kantor setiap Rabu malam, sesudah semua teman yang lain pulang, cuma buat menonton setiap episode barunya keluar. Mungkin memang enggak bagus, dan keju, dan berlebihan, dan jelas sebenarnya bukan yang aku harapkan. Tapi tetap lumayan refreshing untuk ukuran anime musim dingin yang lalu. Di samping itu, ada banyak mecha yang bisa dilihat. Adegan-adegan aksinya enggak buruk… meski, yeah, kadang kurang detil ditampilkannya, dan bisa agak berlebihan. Lalu terkadang suka ada adegan komedi yang menarik.

Jadi, meski kalah banget bobotnya dibandingkan pendahulunya—dan tema cita-cita dan kerja keras yang kuharapkan jujur aja agak gagal tersampaikan—ini tetap jadi suatu seri yang punya ciri khasnya sendiri.

Tetap ada beberapa hal penting yang kusadari berkat seri ini:

  • Satu, kalau aku tahu-tahu saja telah jadi penggemar grup musik StylipS.
  • Dua, kalau kayaknya menarik kalau bisa jadi orang berusia dua puluh tahunan dengan identitas misterius dan berkacamata hitam yang dari waktu ke waktu harus berpose keren sambil mengeluarkan kata-kata membahana dari tempat-tempat tinggi.

Penilaian

Konsep: D; Visual: B+; Audio: A-; Perkembangan: C+; Eksekusi: B; Kepuasan Akhir: B

(Oya, aku lupa menyinggung soal sedikit fanservice di paruh awal seri terkait spats yang suka dipakai Fumina.)

(Oke. Mending enggak usah kukomentari deh.)


About this entry