Mobile Suit Gundam: The Origin I

Mungkin kalian sudah pada tahu.

Dibuat dalam rangka untuk menyambut ulang tahun ke-35 dari waralaba terkenal ini, selepas berakhirnya seri OVA Mobile Suit Gundam Unicorn, episode pertama dari seri OVA baru Mobile Suit Gundam: The Origin keluaran Sunrise tayang selama dua hari pada tanggal 28 Februari-1 Maret 2015. Bertajuk Aoi Hitomi no Casval/The Blue-eyed Casval (‘Casval yang bermata biru’), sebelum dirilis BD/DVD-nya pada sekitar April nanti, episode ini tayang secara bersamaan pada sejumlah bioskop terbatas di seluruh dunia. Termasuk di Indonesia, yakni di bioskop-bioskop Platinum Cineplex dan Blitz Megaplex.

Kebetulan aku berkesempatan menontonnya dalam dua hari itu.

Seri ini diadaptasi dari seri manga karya Yasuhiko Yoshikazu, yang merupakan penceritaan ulang dari seri anime orisinil Kidou Senshi Gundam yang pertama dibuat tahun 1979.

Dari Munzo ke Granada

Mungkin akan aku ceritakan sedikit tentang pengalaman aku menontonnya dulu.

…Sebenarnya, aku sempat ragu apa aku bakal menonton. Selain karena enggak sempat memesan tiket di jauh hari (aku seriusan belum berpengalaman dengan sistem depositnya dsb.), aku capek bukan main pada pagi harinya. Aku pulang malam terus sepanjang minggu dengan kerjaan yang enggak jelas kemajuannya. Ditambah lagi, ditayangkannya cuma dua hari. Lalu waktu aku cek jadwalnya, jamnya kebilang enggak enak. Kalau misalnya aku enggak kebagian yang jatah pagi hari, penayangan berikutnya dijadwalkan sore. Lalu karena jam sore aku enggak akan bisa, aku pasti harus mengambil yang malam. Ditambah, di kotaku, lokasi bioskopnya lumayan jauh dari rumah.

Tapi aku berubah pikiran, karena seminggu menjelang penayangannya, aku juga ikut terbawa hype dari situs-situs berita yang aku ikuti. Lalu walau aku jarang berkesempatan menonton anime di bioskop—terakhir adalah saat aku berkesempatan menonton anime balap Redline keluaran Madhouse saat festival film INAFF—pengalaman nonton anime di sana hampir selalu kebilang memuaskan.

Apa ya? Emang ada sesuatu yang beda di pengalaman nontonnya, dan enggak selalu terkait dengan kualitas filmnya sendiri.

Singkatnya, aku berangkat dari rumah sesudah memaksakan diri bangun. Agak pagi. Aku agak tegang, karena ‘penayangan terbatas’ kupikir akan langsung berhubungan dengan ‘tiket terbatas.’ Dan aku belum pesen. Jadi aku mikir kalo aku mesti berjuang!

Intinya kayak gitu.

Makanya, aku sempat tegang waktu aku seangkutan umum dengan seseorang yang entah gimana aku tahu kayaknya pergi buat tujuan yang sama denganku! Entah ada sesuatu pada tampangnya ato kekalemannya ato gimana. Pokoknya, aku mikir, shit, dia juga berangkat agak pagi! Lalu dia bahkan di dalam tasnya juga bawa bekal makanan dan minuman buat sarapan segala! Aku mikir, sial, kalo misalnya dia belum pesen tiket juga, berarti dia sainganku dalam ngedapetin tiket!

Maka aku lalu mulai bersiap untuk mengantisipasi ini. Kebetulan aku tahu jalan pintas yang bisa sangat membantu kalau lalu lintas macet. Aku berpikir buat turun dari kendaraan separuh jalan, melewati jalan ini, lalu sampai di bioskop—di mall yang pada jam segitu notabene kebanyakan tokonya pasti pada belum buka—sekitar 10-15 menit berikutnya.

Namun kemudian ada seorang cewek yang menarik perhatianku yang masuk ke dalam angkot. Aku penasaran dengan di mana dia bakal turun. Sampai aku ngelewatin tempat pemberhentianku, dan terus terbawa karena lalu lintas yang ‘tanggung’ sampai ke tempat di mana orang biasanya turun kalau mau ke bioskop itu.

Maafkan aku. Aku memang enggak keren.

(Kalau kalian tanya seperti apa ceweknya, aku tertarik karena dia cewek yang slender. No pun intended sekalipun aku memang penyuka Wooser.)

Waktu aku turun, aku kemudian sadar kalau orang dengan tampang Gunota yang kubilang tadi ternyata beneran mengenakan jaket yang bertuliskan hal-hal kayak ‘Gundam Unicorn’ dan ‘Anaheim Electronics.’ Dan aku langsung kayak, “FUUUUUU-! TERNYATA DIA EMANG SAINGANKU!”

Pada akhirnya, meski ngos-ngosan, aku berhasil sampai di loket tiket dan mengambil posisi sebelum banyak yang mengantri. Tapi bahkan walau loket belum buka, sudah ada kerumunan di depan studio. Karena mereka kelihatan akrab satu sama lain, kayaknya ada yang mengorganisir nobar, dan kesemua yang di sana pasti sudah pesan tiket duluan. Jumlah mereka lumayan banyak, dan aku sempat kuatir enggak akan kebagian kursi.

Paranoiaku karena pernah gagal nonton film pertama Rebuild of Evangelion di bioskop ini juga agaknya berpengaruh.

Tapi syukurlah. Aku kebagian. Dan selebihnya semua berlangsung tanpa masalah.

Age Discrepancies

Tentang episodenya sendiri, mungkin sebelumnya perlu kulurusin.

Seri OVA Mobile Suit Gundam: The Origin direncanakan terdiri atas empat episode, yang memaparkan bab kilas balik tentang awal mula berdirinya faksi Zeon dan asal usul karakter bertopeng Char Aznable. Jadi, ya, ini diangkat dari seri manga berjudul sama karya Yasu-sensei di atas. Tapi enggak semua dari manganya akan dianimasikan. Cuma bab kilas balik tentang Char saja.

Kalau kita beruntung, mungkin dalam 2-3 tahun ke depan sisa cerita manganya—tentang perjalanan Amuro Ray dan kawan-kawannya di kapal White Base—juga akan dianimasikan. Moga-moga aja dalam format serial TV. Tapi untuk saat ini, rencananya setahuku masih belum sampai ke sana.

Karenanya, seri OVA ini benar-benar lebih ditujukan bagi para penggemar berat seri Gundam orisinil. Bukan hanya dari soal apa yang diceritakannya. Tapi juga karena cara penceritaannya gitu.

Di samping itu, walau episode ini dibuka dengan adegan pertempuran luar angkasa dahsyat yang melibatkan mobile suit (MS), fokus ceritanya benar-benar lebih pada para karakternya. Jadi para pencari adegan aksi mungkin akan kurang terpuaskan dari segi ini.

Cerita dibuka dengan adegan berlangsungnya Battle of Loum pada tahun 0079 UC, yang sebelumnya hanya pernah dianimasikan dalam MS Igloo. Di pertempuran antar armada kapal ini, faksi Zeon untuk pertama kalinya membalikkan keadaan pertempuran lewat implementasi MS baru ciptaan pertama mereka: Zaku dan Zaku II.

Setelah perkenalan singkat terhadap Char, barulah cerita kemudian kembali ke masa lalu, ke tahun 0068 UC, ketika di Side 3, Republik Munzo masih berdiri.

Zeon Zum Deikun, pemimpin karismatik yang hendak mencetuskan ideologi baru terkait hubungan antara kaum Earthnoid (yang bertempat di Bumi) dan kaum Spacenoid (yang bertempat di koloni-koloni luar angkasa) meninggal secara mendadak saat akan menyampaikan pidato penting. Pidato yang akan disampaikannya diyakini akan berpengaruh besar terhadap hubungan antara Munzo dengan Federasi Bumi, dan karenanya ada kecurigaan bahwa dirinya sebenarnya dibunuh.

Segera, ketiga anggota keluarga Deikun yang ditinggalkan: istrinya, Astraia Tor Deikun, serta kedua anak mereka, Casval Rem Deikun dan Artesia Som Deikun; terjebak dalam pusaran persaingan politik antara pihak-pihak yang berkepentingan terhadap mereka.

Secara garis besar, ada tiga pihak utama yang berkepentingan: Federasi Bumi, yang punya kepentingan untuk menanamkan kuasanya atas Munzo; keluarga Zabi, yang dipimpin Degwin Sodo Zabi, yang merupakan orang nomor dua di Munzo sesudah Zeon; dan keluarga Ral, yang dipimpin Jinba Ral, yang mencurigai keluarga Zabi sebagai dalang kematian Zeon dan bukan Federasi Bumi.

Sepeninggal Zeon, kerusuhan semakin banyak terjadi akibat tekanan ekonomi yang Munzo hadapi. Seiring dengan memanasnya situasi perpolitikan sesudah serangan-serangan yang berlangsung, Jinba Ral lambat laun tenggelam oleh paranoianya terhadap ancaman-ancaman dari keluarga Zabi. Namun Jinba mempunyai anak lelaki, Ramba Ral, yang merupakan perwira kompeten dalam angkatan bersenjata Munzo.

Memahami bahwa pengasingan terhadap Astraia—baik oleh Federasi maupun keluarga Zabi—tidak dapat dihindari, episode ini berfokus pada upaya Ramba Ral bersama kontak wanitanya, Crowley Hamon, untuk setidaknya dapat meloloskan Jimba Ral, bersama Casval dan Artesia, ke Bumi demi menyelamatkan nyawa mereka.

Di tengah itu semua, hampir tidak ada yang menyadari bahwa sekalipun masih berusia 11 tahun, dendam yang Casval punyai tehadap orang-orang yang menewaskan ayahnya sudah mulai membara.

Seratus Purnama

Bicara soal teknis, adegan pembuka yang menampilkan terpukul mundurnya armada Tianem di awal benar-benar luar biasa. Satu, berkesan karena animasinya seriusan keren. Dua, karena nuansanya betul-betul pas sesuai hitungan zamannya.

Maksudku, kalau dibandingkan dengan era Gundam Unicorn yang berlangsung hampir dua dekade sesudah Perang Satu Tahun, teknologi MS yang ditampilkan di pertempuran ini seharusnya terlihat kuno. Tapi seperti halnya dalam manganya, episode ini tetap menampilkan MS-MS tersebut dengan suatu kesan ‘canggih’ yang sama sekali enggak berlebihan.

Ya, sekalipun persenjataannya kebanyakan artileri dan tanpa beam!

Ya, sekalipun masih jadi teka-teki gimana Char bisa jadi pilot yang sedemikian hebatnya dengan mengendalikan MS yang bergerak tiga kali lebih cepat dari MS standar tanpa normal suit!

Apa yang beneran patut dipuji dari adaptasi ini adalah pemaparan nuansanya itu. Ada kesan futuristik di Munzo pada tahun 0068 U.C. Tapi pada saat yang sama, ada juga kesan miskin akibat resesi ekonomi di sana yang banyak mengingatkan nuansa tahun 1960an.

Lalu di penceritaannya, ada adegan-adegan komikal yang secara berkala ditampilkan di sela-sela tema cerita yang agak berat seperti yang banyak ada di manga-manga jadul. Berhubung aku belum baca manganya, kurasa itu suatu hal yang aslinya emang di sana, dan diputuskan untuk dipertahanin daripada dibuang.

Audionya terbilang keren, walau mungkin enggak terlalu terasa karena ini anime yang banyak percakapan. Tapi walau banyak percakapan, tak benar-benar ada saat yang membosankan, karena narasinya beneran ditampilkan dinamis gitu, dengan banyak hal yang kerasa terjadi dalam waktu singkat asal kau bisa ngikutin.

Sayangnya, terus terang aja, teks terjemahan bahasa Indonesia yang digunakan pas tayang kurang begitu bagus sih. Kayak si penerjemahnya lebih banyak melakukan terjemahan kata per kata, tanpa nyadar bahwa karena konteks kalimatnya, makna dalam kata-katanya bisa ada yang berbeda.

…Tapi terlepas dari itu, sekali lagi, adegan-adegan aksi di pembuka beneran keren. Selain Char, dua bawahan terpercayanya, Slender dan Denim, juga muncul. Lalu tim Black Tri Stars yang orisinil dengan MS Zaku II mereka yang dipersenjatai beda-beda juga tampil. Semua proporsinya pas secara keren. Adegan-adegan aksinya itu saking ramainya sampai-sampai kamu merasa enggak cukup buat melihatnya hanya sekali.

Karena itu, mungkin sempat ada kesan agak ‘timpang’ dengan gimana pada klimaks episode ini, enggak banyak adegan aksi MS yang terjadi.

Apa boleh buat. Itu enggak bisa dihindari karena di settingnya, pada zaman itu, teknologi MS memang belum banyak berkembang. MS yang ada ‘hanya’ RTX-65 Guntank Early Type milik Federasi Bumi, yang masih berukuran beneran besar dan agak ‘kagok’ untuk digunakan.

Perasaan campur aduk yang kurasakan di akhir episode ini agak terkait dengan itu. Tapi… alasannya sebenarnya bukan hanya karena porsi adegan aksinya yang agak timpang.

Alasannya karena ada Casval yang duduk di kokpit dan karena keadaan, menarik pelatuk.

Ini… bagiku lumayan disturbing lho.

Untuk suatu alasan ini lebih menganggu dibanding kasus Uso Ewin di Victory Gundam, yang sebelumnya dikenal sebagai protagonis seri Gundam yang termuda. Aku mengerti apa yang para pembuatnya mau bidik sih. Terutama dengan mengkontraskan kepribadian Casval dengan kepribadian Artesia. Tapi gimana… di usia segitu… dirinya ditampilkan sebegitu kontrasnya dengan Garma Zabi yang berusia sama dengannya itu, dan sudah cenderung seperti itu bahkan sebelum ayahnya meninggal, benar-benar bikin aku agak terdiam.

Bicara soal keluarga Zabi, penggambaran dinamika hubungan antara mereka menjadi hal lain yang patut dipuji. Gihren Zabi, si anak tertua, ditampilkan sebagai pribadi dingin yang sudah licik dan ambisius semenjak awal. Dozle Zabi ditampilkan simpatik melalui maksud baik sekaligus ketidakberdayaannya. Sedangkan Kycilia Zabi, satu-satunya di antara saudara-saudaranya yang perempuan, terlihat konfliknya dengan bagaimana ia dipandang rendah dalam lingkungan yang didominasi kaum lelaki.

Sorotan utama episode ini sebenarnya tetap dimiliki oleh karakter favorit Ramba Ral, dan Crowley Hamon yang kelak menjadi istrinya. Keduanya benar-benar tokoh berkesan yang karismatik. Oh, dan juga kucing hitam peliharaan Artesia, yang untuk suatu alasan dinamai Lucifer.

Ada beberapa karakter tambahan yang tidak ada dalam seri orisinilnya. Tapi lebih banyak soal ini mending enggak akan kusinggung dulu karena perkenalan terhadap mereka menjadi salah satu daya tarik episode ini.

Kau Akan Bisa Melihat Lautan Bintang

Selebihnya, mungkin perlu kusinggung soal bagaimana seri Gundam: The Origin mengubah beberapa rincian di seri aslinya. Perubahannya meliputi telah hadirnya sebagian teknologi MS Federasi lebih awal (dalam seri asli, ketiga MS Gundam, Guncannon, dan Guntank sama-sama merupakan teknologi baru; sedangkan dalam seri Origin, Guntank telah ada selama sepuluh tahun dan hanya MS Gundam dan GM saja yang terbilang baru), serta perubahan usia pada beberapa karakternya. Misalnya, aku dengar Kycilia dibuat berusia lebih dewasa pada zaman ini, meski detilnya aku sendiri kurang pahami. Tapi spirit asli yang hendak disampaikan lewat seri ini benar-benar kerasa.

Ini jelas seri yang lebih ditujukan untuk para otaku Gundam lama ketimbang baru sih. Tapi dari pengalamanku, itu enggak menghalangi masuknya para penggemar yang lebih muda.

Hei, waktu aku nonton bahkan ada orang yang memakai baju seragam tentara infanteri Zeon. Bahkan ada juga yang membawa-bawa plamo RX-78 Gundam-nya ke dalam bioskop dan bikin aku dalam hati mikir, “Ini film tentang Char, dodol! Di settingnya, Gundam masih belum dibikin! Kalo kamu mau bawa Gunpla ke sini, mestinya kamu bawa Zaku! Zaku!”

Tapi ini seriusan episode yang bagus.

Terlepas dari masalah teksnya, semua yang nonton lumayan bisa menikmati. Ada orang yang duduk di belakangku yang komentar kalau dirinya udah bertekad nonton dua kali. Lalu walau ada beberapa reaksi keheranan dengan berakhirnya film saat kapal Ocean Cargo yang Jinba, Casval, dan Artesia tumpangi tiba di kota bulan Granada, hampir semua bertepuk tangan begitu episodenya berakhir.

(Aku sempat kikuk karena berpapasan lagi dengan ‘sainganku’ yang berjaket Anaheim/Gundam Unicorn itu. Rupanya dia duduk di deret bangku yang sama denganku, dan aku agak menyesal karena enggak nyoba ngajak dia bicara lebih banyak.)

Aku tetap terdiam agak lebih lama dari yang kusangka sih. Tapi aku enggak akan menyangkali kualitasnya yang tinggi.

Sekali lagi, kalau kita beruntung dan sambutan terhadap OVA ini baik, mungkin sisa cerita Gundam: The Origin bisa dianimasikan dalam bentuk seri TV. Tapi sesudah melihat sendiri episode ini, aku bisa memahami kehati-hatian para produsernya. Soalnya nuansa dan cara penceritaan semuanya lumayan old school sih.

Episode berikutnya, Kanashimi no Artesia/Artesia’s Sorrow, sudah diumumkan akan tayang pada musim gugur tahun ini. Aku enggak pernah merasa mengharuskan diri untuk nonton sih. Tapi aku punya perasaan kalau ujung-ujungnya aku tetap akan mendapat pengalaman kayak gini lagi.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: S; Audio: A; Perkembangan: B; Eksekusi: A+; Kepuasan Akhir: B+

Edit, 5 Maret 2015

Ini enggak terlalu penting sih. Tapi sebenernya, ada satu hal yang terlewat kuceritakan soal usia Casval/Char dibandingkan Uso di atas.

Sewaktu episode ini berakhir, aku tiba-tiba tersadar akan betapa miripnya desain karakter Casval muda dengan desain karakter Uso Ewin. Soal ini, aku jadi teringat kalau pernah ada rumor yang menyebut-nyebut kalau Uso, sang tokoh utama di Victory Gundam, pada satu titik di masa produksi seri tersebut, mungkin pernah dimaksudkan untuk dijadikan keturunan terakhir Char di era Universal Century.

Landasan dari teori ini adalah kesamaan nama keluarga ibu Uso, yaitu Miguel, dengan nama kekasih terakhir Char yang bertahan hidup di penghujung film layar lebar Char’s Counterattack, yakni Nanai Miguel. Landasan lainnya dari teori ini adalah miripnya hubungan antara Uso dan karakter Shakti dengan hubungan antara kedua karakter utama novel Gaia Gear yang dipenai Tomino Yoshiyuki-sensei, yang bercerita tentang klon Char yang diminta untuk jadi pahlawan dalam suatu masa depan alternatif Universal Century (yang sifatnya non-canon).

Tak pernah ada konfirmasi tentang kebenarannya, dan kayaknya aku juga pernah dengar kalau teori ini sempat disangkal. Tapi melihat kemiripan desain karakter antara Casval muda dengan Uso, aku enggak bisa enggak jadi mikir, apa Yasu-sensei secara diam-diam pendukung teori ini? Bagaimanapun, beliau memang terlibat dalam produksi seri Gundam paling awal.


About this entry