Seikoku no Dragonar

Ada beberapa teman dekatku yang kaget waktu tahu kalau aku mengikuti Madan no Ou to Vanadis. Ya, aku termasuk orang yang suka. Kurasa mereka kaget karena biasanya aku bukan orang yang menyukai anime-anime yang berat di sisi fanservice seperti ini. Untuk kasus Madan no Ou, alasan aku suka mungkin ada kaitannya dengan gimana ada fase tertentu di masa kecilku ketika aku menganggap kalau ‘orang yang jago memanah itu keren!’

Tapi sesudah kejadian tersebut, sebenarnya sempat timbul kekhawatiran lain. Sebab sebelum Madan no Ou, aku secara diam-diam juga sempat mengikuti perkembangan Seikoku no Dragonar, atau yang juga dikenal sebagai Seikoku no Ryuukishi atau Dragonar Academy, yang pertama tayang sebanyak 12 episode pada musim semi 2014 lalu.

Kasusnya sebenarnya enggak jauh beda. Tapi menjelaskannya dari sana, kayaknya agak susah.

Terlepas dari itu, Seikoku no Dragonar diangkat dari seri light novel buatan Mizushi Shiki dengan ilustrasi yang dibuat Shimesaba Kohada, yang diterbitkan Media Factory di bawah label MF Bunko J. Animenya sendiri kalau tak salah mengadaptasi cerita dari buku 1-4, dengan sekitar 16 buku yang sudah terbit sampai sejauh ini, dengan produksi animasi dibuat oleh C-Station.

Crepes and Pal

Seikoku no Dragonar (mungkin berarti ‘Dragonar/Ksatria Naga yang Bertanda Bintang’) berlatar di Negeri Ksatria Lautreamont. Di negeri ini, naga dari beragam ras dilahirkan dari Breeder yang telah ditandai oleh Seikoku, yakni lambang berbentuk bintang naga di tubuh mereka. Untuk mendidik para Breeder, terdapat Akademi Dragonar Ansarivan tempat para pemuda-pemudi dididik dalam membesarkan dan menunggangi naga-naga.

Di Akademi ini, ada seorang remaja bernama Ash Blake yang karena suatu alasan, masih belum juga memiliki pasangan naganya yang disebut Pal, sekalipun di tangan kirinya terdapat lambang Seikoku mengesankan yang merupakan pertanda bahwa dirinya seorang Breeder.

Lalu sesudah suatu mimpi aneh (yang di dalamnya, Ash mendapati badannya ‘diteliti’) naga Pal yang menjadi pasangan Ash akhirnya muncul. Namun daripada kadal, naga bernama Eco tersebut ternyata berwujud seorang gadis kecil yang memiliki tanduk, yang bahkan memandang Ash sebagai pelayannya, dan bukan sebaliknya.

Singkatnya, cerita berkembang lebih jauh tentang pemaparan soal siapa jati diri Eco dan peran apa yang sebenarnya dimilikinya bersama Ash. Meskipun hubungan mereka di awal canggung, lambat laun Ash bisa juga berteman dengan Eco serta mengetahui kesukaannya terhadap crepes.

Lalu ada ancaman yang secara berkala datang dari seorang pria misterius bernama Milgaus, yang membangkitkan jasad naga-naga yang tewas sebagai naga zombie yang disebut Necromancia, dan nampak memiliki rencana terhadap Eco. Dirinya mungkin saja berasal dari Kekaisaran Zepharos yang bermaksud menguasai dunia.

Karakter-karakter lain yang banyak berperan di seri ini meliputi:

  • Silvia Lautreamont, putri keempat dari Kerajaan Lautreamont yang karena satu dan lain hal, menjadi putri yang nantinya mewarisi tahta. Pal miliknya adalah naga Maestro putih bernama Lancelot. Dirinya termasuk karakter yang paling banyak disorot dalam cerita ini, dengan suatu kejadian masa silam yang sebenarnya menghubungkan dirinya dan Ash.
  • Rebecca Randall, kepala Dewan Siswa di sekolah Ash, yang kemudian menjadikan Ash salah satu bawahannya untuk melindungi kepentingan Ash juga. Naga pal miliknya adalah naga Maestro Cu Chulainn.
  • Veronica Lautreamont, kakak perempuan Silvia, yang semenjak tidak terpilih sebagai Breeder, melatih badannya siang dan malam menjadi ksatria yang teramat tangguh. Dirinya menolak mewarisi tahta dan mempercayakan hal tersebut pada Silvia. Terlepas dari sikap kerasnya, dirinya sangat menyayangi adiknya.
  • Anya, seorang gadis berkulit coklat dan kepala suku Tantalos yang sangat setia kepada Milgaus.

…Aku baru sadar kalau kebanyakan karakter yang penting selain Ash memang karakter wanita. Tapi memang masih ada lumayan banyak karakter lain yang belum kusebut sih. Lalu setelah kupikir lagi, untuk ukuran anime berdurasi segini, jumlah karakternya lumayan banyak.

The Return of the Silver Knight

Sekali ini, aku enggak yakin apa aku bisa menjabarkan anime ini secara baik. Soalnya setelah kupikir ulang, aku enggak yakin apa aku benar-benar ngerti apa-apa yang terjadi di dalam ceritanya.

Maksudku, aku paham garis besar ceritanya sih. Cuma…

…Cuma, dari awal sampai akhir—sekalipun ceritanya berkembang secara konsisten ke arah yang lumayan—ada begitu banyak distraksi di dalanya, baik pada adegan-adegannya atau pada desain karakternya.

Jadi, para naga yang ada hanya dapat ditunggangi oleh orang-orang yang memiliki ikatan astral dengan mereka, yang terbentuk melalui lambang Seikoku. Hanya Ash seorang yang jadi pengecualian dari hal ini, yang meski tak punya naganya sendiri di awal, bisa menunggangi naga-naga milik orang lain selama diizinkan oleh naga yang bersangkutan.

Lalu ada… baju zirah yang disebut Arch, yang ‘diberikan’ oleh para naga kepada partner penunggangnya, dan memiliki kekuatan luar biasa. Ini terus terang merupakan salah satu konsep terkeren yang dimiliki seri ini.

Ada misteri di balik identitas Milgaus, yang secara enggak kusangka terungkap di penghujung seri. Ada intrik politik antar negara. Ada adegan-adegan pertarungan antar naga di udara. Lalu ada sosok perempuan cantik bernama Navi, yang muncul dalam dunia bawah sadar Ash dan memberikan bimbingan pada dirinya dan Eco. Ada banyak benang cerita yang sebenernya emang menarik.

Tapi ini semua kayak… kerap kali diselingi oleh aspek fanservice-nya yang termasuk berat, sehingga poin-poin yang sebenarnya menarik dalam ceritanya kerap kali tersamarkan.

Gimana ya?

Kadar fanservice­-nya sedemikian beratnya, sampai bisa membuatmu lupa soal apa sebenarnya yang sedang terjadi. Aku enggak tahu cara menjelaskannya. Karena kalau aku nyoba membandingkannya dengan beberapa seri fanservice lain yang pernah kutonton juga, seperti Hyakka Ryouran Samurai Girls atau bahkan Maken-Ki!, belum ada yang efeknya bener-bener kayak gini.

Kayak, kamu nyadar ada cerita yang dituturkan di dalamnya. Kamu nyadar kalau ceritanya sebenarnya lumayan. Tapi di penghujungnya, kamu enggak yakin ceritanya beneran ada apa enggak.

Begitu.

Terlepas dari itu, dari aspek teknis, ini termasuk anime yang punya visual yang beneran bagus. Dengan menampilkan naga-naga yang terbang dan bisa ditunggangi saja, anime ini sudah menarik perhatian. Ditambah dengan desain zirah-zirah Arch-nya yang notabene memang keren—bahkan rasanya aneh karena para pembuatnya tak memberikan adegan-adegan aksi yang lebih banyak.

Dari segi suara… ada beberapa keputusan pengarahan yang lumayan dipertanyakan. Tapi enggak jelek juga kok. Jadi kita batasi saja bahasannya sampai situ.

Tapi sial, aku jadi merasa agak berdosa kalau enggak membahasnya.

Singkatnya, saat kau melihat opening anime ini, mungkin kau akan agak terkesima. Kualitas animasi digitalnya emang termasuk bagus. Lalu meski enggak merasa suka, belakangan bahkan aku tanpa sadar menyenandungkan lagunya. Tapi saat kau mencapai lagu ending-nya—sekalipun kau bisa merasakan ‘maksud baik’ para pembuatnya—besar kemungkinan kau bakal agak terdiam. Karena agak… timpang nuansanya gitu.

Tiada yang Kumiliki

Akhir kata, kalau kau suka naga, suka karakter-karakter yang mendapat penekanan di bagian dada, suka baju-baju zirah keren dan tertarik dengan latar fantasi kayak gini, dan enggak keberatan dengan tentakel, bisa jadi kau akan sangat suka seri ini.

Aku enggak pernah menggemari versi novelnya, meski terjemahannya sudah bisa kau temukan di BT. Tapi memang ada sejumlah aspek yang teramat menarik dengan seri ini. Yah, ada sejumlah aspek lainnya yang aneh serta perkembangan cerita yang meragukan sih, seperti karakterisasi Veronica dan Silvia. Ditambah aspek nudity-nya yang enggak sedikit. Tapi di sisi lain juga, ada beberapa adegannya yang menurutku benar-benar berkesan, walau terasa agak… timpang dan kurang.

…Aku enggak memberitahu siapa-siapa kalau aku mengikuti seri ini. Tapi ada banyak hal di dalamnya yang terlanjur bikin aku penasaran.

Soal fanservice-nya terutama, aku sempat mikir panjang tentang apa preferensi si pengarang sesungguhnya adalah oppai atau pettan. Soal bagaimana semua karakter selain heroine utamanya merupakan tipe oppai, sedangkan Eco adalah tipe pettan. Maksudku, Eco sebagai karakter utama sudah jelas yang akhirnya akan menang! Tapi ada sesuatu tentang ini yang bagiku susah diterima akal!

Jawabannya pada akhirnya kutemukan saat mengetahui bahwa di novelnya sudah dibeberkan kalau sosok Navi yang saat ini adalah wujud yang pasti akan dimiliki Eco pada saat ia dewasa nanti.

Tapi, intinya, alasan aku membahas ini sebenarnya karena enggak pernah menyangka akan ada seri di mana aku akan lebih mempermasalahkan soal tentakel ketimbang nudity. Sementara di saat yang sama ini jenis seri yang… jelas-jelas enggak jelek dan kerasa kerja keras pembuatnya masuk ke dalamnya.

Ini sesuatu yang… terasa memberi konflik gitu. Karena agak sayang, sebenarnya. Lalu, yeah, aku mesti agak berjuang demi membereskannya.

Tapi sudahlah. Untuk sesuatu yang kayak gini pasti ada pihak-pihak tertentu yang menyukainya.

Penilaian

Konsep: D+, Visual: A-, Audio: B-, Perkembangan: B; Eksekusi: B+, Kepuasan Akhir: B


About this entry