Anata ga Ireba

Dulu waktu kuliah, aku menyempatkan untuk membaca Anata ga Ireba karangan Yoshimura Akemi, yang aslinya diterbitkan tahun 2003 oleh Shogakukan, atau yang juga diterbitkan di sini oleh Level Comics sebagai If You Were Here (‘andaikan kau di sini’).

Ini manga josei yang bercerita tentang seorang perempuan muda bernama Tsukigata Toriko yang merupakan reinkarnasi dari Putri Kaguya. Dirinya tewas dalam suatu kecelakaan, dan untuk bisa hidup kembali, dirinya harus bisa menemukan cintanya yang sejati atau mengabulkan permohonan hidup sejumlah orang lain. ‘Sejumlah orang lain’ di sini sebenarnya adalah… reinkarnasi dari lima pria bangsawan yang dulu pernah melamarnya saat ia masih menjadi Putri Kaguya, yang kesemuanya ditolak dengan sadis dengan permohonan mas kawin yang gila-gilaan dan seakan tak mungkin diwujudkan, sehingga akhirnya mereka sengsara.

Ceritanya seriusan merupakan spin yang lumayan bagus dari mitologi Putri Kaguya yang sudah kita kenal.

Menolong Toriko, adalah seorang pria tampan dan agak misterius tapi kadang enggak keren bernama Mifune, yang kelihatannya memiliki kebutuhannya sendiri untuk memastikan Toriko melakukan apa yang ia harapkan.

Regarding Ignorance and Pride

Err, sebenernya, aku enggak bener-bener yakin kenapa aku sekarang menulis tentang ini. Mungkin karena aku masih lajang dan sekarang masih bulan Februari?

Tapi aku seriusan teringat dengan seri ini karena suatu alasan.

Aku ingat kalau aku pertama membaca ini karena sebelumnya terpikat pada karya-karya Akemi-sensei sebelumnya, yang mencakup Beyond the Sea dan For the Rose. Itu masa-masa ketika aku masih kuliah dan banyak berpikir tentang kedewasaan. Lalu memandang lagi ke belakang sekarang, jangan-jangan aku yang sekarang malah kalah dewasa dibandingkan aku yang dulu?

Hmm. Mungkin juga.

Balik ke soal manga ini, aku menggemari karya-karya Akemi-sensei karena drama interaksi karakternya kuat. Apa ya, kayak ada sesuatu yang khas dan riil gitu di dalamnya. Agak kayak yang bisa kau temukan dalam drama-drama di televisi, tapi dengan porsi yang lebih berbobot.

Mengingatnya lagi, aku kayaknya dulu mengikuti seri manga ini lantaran enggak ada seri karya Akemi-sensei lain. Lalu aku jadi keterusan dan membacanya sampai akhir. Mempertimbangkan Akemi-sensei pengarang macam apa, cukup mengesankan bagaimana beliau berhasil menuntaskan ceritanya. Walau menurutku masuknya elemen-elemen supernatural ke dalamnya jadi agak aneh… Tapi mengesampingkan itu, manga ini seriusan punya bagian-bagian tertentu yang buatku sangat berkesan dan patut di-highlight.

Hmm. Apa aku jadi orang yang lumayan bisa memahami cara berpikir cewek karena suka manga macam begini ya? Entah ya.

Aku sudah lama tak membaca karya-karya beliau yang lain. Mungkin kalau lagi wiken harusnya aku lebih banyak main ke toko buku atau taman bacaan.

Eh? Kesan akhirku tentang manga ini?

Hmmmmm.

Ini manga yang berarti bagiku. Tapi jujur saja menurutku ini bukan manga terbaik karangan Akemi-sensei yang pernah kubaca. Kurasa semua balik ke apa kau bisa suka karakter Toriko atau enggak sih. Perkembangan hubungannya dengan Mifune juga lumayan gampang ketebak.

Tapi yea, tetap ada beberapa adegan yang lumayan sempat mengangkat alis.

…Mungkin mestinya aku enggak terlalu menanggapinya dengan terlalu serius.


About this entry