Sidonia no Kishi

Sebenarnya, aku mengikuti perkembangan Sidonia no Kishi.

Juga dikenal dengan judul Knights of Sidonia (kalau lagunya grup band Muse, itu ‘Knights of Cydonia.’ FYI, ‘si’ di judul ‘Sidonia’ di sini dibacanya ‘si’ dan bukan ‘sai’), anime ini diangkat dari seri manga berjudul sama karangan Nihei Tsutomu, yang diserialisasikan sejak tahun 2009 di majalah seinen Afternoon punya penerbit Kodansha.

Produksi animenya dilakukan oleh Divisi Animasi Toha Heavy Industries Polygon Pictures, yang kalau enggak salah sebelum ini dikenal sebagai studio yang lebih banyak mengerjakan pekerjaan animasi CG untuk proyek-proyek komersil dan film-film layar lebar. Jumlah episodenya sebanyak 12 dan pertama mengudara pada paruh akhir tahun 2014.

Ceritanya berlatar jauh di masa depan, di tahun 3394, ketika Bumi dikisahkan musnah seribu tahun sebelumnya. Musnahnya Bumi akibat serangan makhluk-makhluk asing dan buas yang disebut Gauna. Lalu kapal benih (‘seed ship’) Sidonia (yang berbentuk seperti persegi panjang kolosal yang mencuat dari bongkahan batu karang) berkelana menjelajahi angkasa luar, untuk menemukan planet baru yang bisa umat manusia huni. Pada waktu yang sama, Sidonia berusaha menghindari kejaran Gauna-Gauna yang sewaktu-waktu bisa muncul begitu saja.

Tokoh utama seri ini adalah seorang pemuda bernama Tanikaze Nagate, yang selama bertahun-tahun telah dibesarkan oleh hanya ‘kakeknya’ di lorong-lorong bawah tanah Sidonia, tanpa mengetahui bahwa sebenarnya dirinya berada di dalam sebuah kapal induk raksasa.

Saat kakeknya, Saitou Hiroki, akhirnya meninggal, Nagate yang kelaparan melewati sebuah lorong yang dilarang kakeknya untuk ia masuki, yang akhirnya membawanya ke permukaan area pemukiman. Di sana, Nagate kemudian diketemukan pihak berwenang Sidonia. Oleh seorang pria necis bernama Ochiai, ia kemudian dipertemukan dengan kapten kapal ini, seorang wanita bertopeng bernama Kobayashi. Lalu Nagate dibolehkan tinggal di permukaan (dan dikasih makan) asalkan bersedia menjadi pilot untuk robot humanoid raksasa yang disebut Morito (Guardian, Garde, ‘penjaga’), yang menjadi andalan Sidonia dalam menghadapi Gauna.

Cincin-cincin Cahaya

Ide ceritanya pada dasarnya sederhana. Gampangnya, tentang seorang pemuda ‘terpilih’ yang menjadi pahlawan sesudah diharuskan mengemudikan robot raksasa. Tapi ada banyak hal menarik dalam eksekusi dan perkembangannya.

Pertama, tentang kekhasan nuansa dunia Nihei-sensei.

Buat yang belum tahu, Nihei-sensei adalah pengarang manga aksi sains fiksi Blame!, yang menarik perhatian banyak penggemar anime/manga baru di seluruh dunia pada awal 2000an (dan sudah diterjemahkan sampai tamat di sini oleh Level Comics). Blame!  salah satu judul yang mempelopori penyebaran budaya visual Jepang, walau kepopulerannya enggak bisa dibilang mainstream.

Cerita Blame! dituturkan dengan dialog sangat minim. Dunianya dipenuhi oleh bangunan-bangunan kolosal yang berkelanjutan tiada akhir sampai ujung cakrawala. Nuansa dunia hampir sureal, yang kayak dipenuhi bangunan-bangunan aneh ini, yang kayak menjadi kekhasan beliau. Intinya, ini sesuatu yang disangka enggak akan pernah ditemukan dalam suatu seri lain, dan juga disangka enggak akan pernah bisa tampil dalam bentuk animasi.

Tapi ini dianimasiin. Dalam format animasi digital! Secara bagus lagi.

Sekalipun Sidonia no Kishi notabene punya dialog lebih banyak (Nihei-sensei sudah lebih pandai mengelola karakterisasi tokoh-tokohnya di seri ini), kekhasan desain dunia beliau ini, lengkap dengan bangunan-bangunannya yang ajaib, bener-bener masih ada. Pengarahannya juga sedemikian rupa sehingga dunia Sidonia ini tetap terasa asing tapi enggak (sepenuhnya) terasa aneh. (Nihei-sensei aslinya seorang arsitek, btw.)

Kedua, yaitu soal aspek sains fiksinya.

Ini seri sains fiksi ‘keras’ yang sudah lama enggak kelihatan. Selain soal robot-robot raksasa dan nuansa masyarakat Sidonia yang sangat ‘Jepang,’ ada bahasan-bahasan tentang orbit dan inersia dan sejumlah istilah lain yang agak lebih geeky ketimbang anime mecha pada umumnya. Bagi beberapa orang, mungkin itu juga yang membuat Sidonia no Kishi keren.

Ketiga, soal konsep mechanya.

Jadi, Gauna itu pada dasarnya kayak alien buas gitu. Satu saja ukurannya bisa raksasa. Mereka bukan jenis alien bermasyarakat yang bisa diajak negosiasi. Mereka makhluk yang jelas-jelas dipandang hostile dan pernah menelan banyak korban jiwa dengan semua pengrusakannya. Kesemuanya punya fisiologi yang terdiri atas ‘badan utama’ dan ‘plasenta,’ dengan plasenta yang bisa dibentuk menjadi seperti apa saja.

Nah, plasenta ini yang para pengemudi Morito terlebih dahulu harus singkirkan (biasanya lewat tembakan meriam partikel Higgs) untuk bisa mengekspos dan menghancurkan badan utama Gauna. Tapi menghancurkan badan utama Gauna itu hanya bisa dilakukan jika dan hanya jika menggunakan suatu materi khusus yang disebut kabi.

Di awal cerita, persenjataan kabi yang ada hanya berupa tombak (kabizashi) dengan jumlah yang sangat terbatas (hanya ada sekitar 36?). Lalu itu yang membuat pekerjaan sebagai pilot Morito memiliki kehormatan yang besar, dengan resiko yang sangat besar pula pada waktu yang sama.

Untuk suatu alasan misterius, Kobayashi kemudian menugaskan Nagate sebagai pilot untuk Morito berjenis Type 17 Tsugumori, Morito legendaris yang dulu pernah menyelamatkan Sidonia dari kehancuran. Morito ini tidak memiliki fitur sistem autopilot, yang membuatnya lebih susah dikendalikan dibandingkan Type 18 yang kini sudah lebih banyak digunakan. Namun dengan segera Nagate menunjukkan keterampilan luar biasa dalam mengemudikannya, karena ternyata ia telah terlatih berkat mesin simulasi yang ada di tempat tinggalnya yang lama.

Tapi walau Nagate menunjukkan hasil, keputusan Kobayashi yang tak jelas landasannya tetap mendatangkan pro dan kontra, bahkan dalam kondisi kemasyarakatan Sidonia yang sudah genting di ambang perpecahan.

Kita Akan Gugur di Medan Laga, Kita Akan Relakan Nyawa Kita Untuk Orang Lain

Anime Knights of Sidonia mencakup cerita di manganya kurang lebih sampai buku keenam (bukunya sudah ada 13 saat ini kutulis).

Ceritanya, secara umum, dengan setia mengikuti alur di manganya. Walau ada beberapa perubahan urutan penceritaan yang membuat animenya—secara menakjubkan—agak lebih mudah dipahami dibandingkan manganya. (Mereka yang sudah kenal gaya bercerita Nihei-sensei mungkin tahu maksudku. Tapi kelihatannya ke sini-sini beliau makin jago bercerita kok.) Lalu ada juga beberapa subplot yang kalau mengacu ke manganya, harusnya berjalan di bagian penghujung season 1, kelihatannya jadi dialihkan untuk season berikutnya, yang sudah direncanakan tayang pada musim semi 2015 ini.

Sidonia no Kishi diawali dengan pertemuan Nagate dengan para sesama calon pilot yang berada di sekelilingnya: Shinatose Izana, seseorang dengan jenis kelamin ketiga—sehingga dirinya nanti bisa menjadi lelaki atau perempuan—yang kemudian menjadi sahabat dekatnya; Kunato Norio, anak lelaki keturunan suatu keluarga penting yang kemudian memandang Nagate dengan dengki karena telah mengambil kepemilikan Tsugumori yang telah lama diincarnya; serta terutama, Hoshijiro Shizuka, gadis baik hati yang Nagate kasihi, tapi secara tragis harus terpisah darinya.

Di samping mereka, terdapat juga Midorikawa Yuhata, gadis berambut hijau yang menjadi adik perempuan salah satu pilot Morito terbaik Sidonia saat itu—yang seperti Izana, mengagumi Nagate, tapi secara tak terduga diangkat menjadi XO baru Kobayashi. Lalu ada juga Hiyama Lala, seorang (seekor?) beruang baik hati yang menjadi ibu-ibu pengurus asrama tempat Nagate dan kawan-kawannya tinggal (dan seperti Kobayashi, nampak mengetahui soal jati diri Nagate yang sesungguhnya).

Ada konflik tentang bagaimana Nagate menyesuaikan diri dengan kehidupannya yang baru. Ada konflik tentang bagaimana masyarakat Sidonia terpecah, karena adanya pihak yang meyakini Gauna mengincar Sidonia karena manusia mempersenjatai dirinya, dan menuntut adanya demiliterisasi. Ada fanservice saat Nagate dengan ketidaktahuannya masuk ke ruang ganti perempuan (dan dihajar oleh saudari-saudari dari seri Honoka yang notabene adalah manusia-manusia ‘produksi massal’). Ada konflik antara Kobayashi dengan Komite Kapal Abadi, yang merupakan manusia-manusia masa lalu yang telah diawetkan dan tak bisa mati—dan secara harfiah telah bisa mencapai hidup abadi. …Lalu ada juga sedikit kecanggungan karena Nagate adalah salah satu dari sedikit orang di Sidonia yang tak bisa fotosintesis, dan karenanya bisa makan banyak, sekalipun persediaan makanan di Sidonia terbilang terbatas.

Maksudku, it’s good sci-fi stuff.

Adegan-adegan mecha yang sepenuhnya terfokus di luar angkasa. Intrik antara pihak-pihak misterius. Desain-desain karakter yang menarik. Musuh yang organik dan tak diketahui motifnya. Mecha-mecha yang bergandengan tangan membentuk lingkaran untuk menempuh jarak jauh. Prosedur-prosedur manipulasi biologis. Lalu klimaks yang memuncak dengan pertarungan antara pasukan lawan pasukan—walau kamu memang mesti ngeh dengan apa yang terjadi buat memahami daya tariknya sih.

Intinya, ini salah satu anime paling ‘beda’ yang keluar tahun lalu. Dan karenanya berhasil menonjol dan mendapat pujian yang memang layak diterimanya dari berbagai pihak (termasuk dari sutradara seri Metal Gear Solid, Hideo Kojima).

Ini masih bukan seri yang mudah kurekemondasikan sih. Meski sudah disederhanakan, tetap perlu kesabaran untuk bisa memahami ceritanya. Lalu walau Nihei-sensei sudah berhasil memasukkan aspek-aspek love comedy ke dalam latar-latar ceritanya yang aneh (semenjak beliau menulis Blame! Gakuen), tetap saja ada rasa asing enggak nyaman yang bakal dirasain oleh orang-orang tertentu. Terutama soal… para Gauna-nya, yang secara agak mengerikan langsung memunculkan gelembung-gelembung daging di sekujur tubuhnya setiap kali mati.

Tapi tetap saja, buat yang suka—terutama buat yang senang menebak-nebak sesuatu ini kira-kira maksudnya apa—ini seri yang beneran menarik.

Dengan Tulus Aku Bersumpah Untuk Tak Jatuh Dalam Letih dan Ragu

Bicara soal teknis, visualnya keren. Audionya juga enggak buruk sih.

Buat animasi digital buatan CG, kita sering bayangin ‘sentuhan manusianya’ agak kurang. Tapi di Knights of Sidonia, hasilnya seriusan bagus.

Kalau boleh jujur, yang pertama membuatku jatuh hati pada seri ini adalah animasi lagu pembukanya. Grup musik Angela yang membawakan lagu pembukanya, yang berjudul ‘Sidonia.’ Lalu irama awalnya itu kayak lagu mars gitu, sebelum berlanjut dengan tempo makin cepat yang mengiringi pergantian frame. Ada wajah para karakter bergulir. Ada Morito meluncur. Ada wajah Sei-san yang memberi instruksi. Hasil editan videonya itu yang kayak bikin aku terpukau. Kalau buat animasi mecha, aku bisa paham keputusan buat menganimasikan digital. Tapi buat karakter, di luar dugaan, hasilnya sama sekali enggak buruk.

Musiknya secara umum berkesan agak suram, walau sesekali di tengah episode ada nada-nada yang riang. Tapi tetap saja, untuk suatu alasan, seluruh episodenya itu kayak ditutup dengan kesan suram atau ngegantung. Kesannya jadi kayak ada status quo yang dipanjang-panjangkan.

Maksudku, kerasa bahwa seri ini dan ceritanya memang bukan sesuatu yang ‘sempurna.’ Tapi menurutku ini tetap kerasa sebagai sesuatu yang keren dan berarti.

Aku sudah suka Blame! semenjak mahasiswa. Tapi karena suatu hal, sampai anime ini keluar, aku masih belum terjun ke karya-karya Nihei-sensei yang lain kayak Biomega. Lalu begitu anime ini beres, aku kayak… wow gitu.

…Agak susah menjelaskannya.

Pastinya, aku langsung ingin membandingkannya dengan manganya.

Akhir kata, Polygon Pictures melakukan tindakan berani dengan menganimasikan seri ini. Shizuno Koubun sebagai sutradara kayak berhasil menangani sesuatu yang eksperimental dengan hati-hati. Tapi Murai Sadayuki sebagai penulis naskah yang kurasa patut dipuji karena berhasil mengurai ceritanya dan mengubahnya untuk format episodik kayak begini.

Ada cerita yang bikin ngakak soal gimana Nihei-sensei sempat malah keobsesi ngebangun plamo Tsugumori saat beliau harusnya membereskan bab pertama komiknya. Tapi saat melihat hasil akhirnya, aku kayak bisa bayangin gimana ide yang beliau punya bisa terasa sedemikian menariknya.

Musim keduanya dikabarkan akan tayang pada musim semi 2015 ini.

Penilaian

Konsep: A-; Visual: A; Audio: B+; Perkembangan: B+; Eksekusi: A-; Kepuasan Akhir: B+


About this entry