Yu Yu Hakusho

Karena suatu alasan, aku baru memeriksa tamatnya versi komik Yu Yu Hakusho (‘buku putih si Yu?’) belum lama ini.

Buat yang belum tahu atau sudah tak ingat, Yu Yu Hakusho merupakan manga shonen karangan Togashi Yoshihiro yang terbit di Weekly Shonen Jump punya penerbit Shueisha di dekade 1990an (dan sudah diterbitkan di sini sampai tamat oleh Elex), sebelum beliau meluapkan lebih banyak keanehan seleranya melalui Level E dan tenar lebih jauh melalui Hunter x Hunter. Ceritanya tentang petualangan-petualangan seorang remaja SMP berandalan bernama Urameshi Yusuke, yang dibangkitkan kembali dari kematian untuk memburu siluman-siluman penjahat sebagai detektif alam roh.

Sebenarnya, daripada manganya, yang dulu tenar banget dari Yu Yu Hakusho adalah animenya sih. Animenya dulu pernah sempat ditayangkan di televisi sini, dan dianimasikan sebanyak 110an episode dengan lumayan sukses oleh studio Pierrot. Animenya cukup keren dengan desain monsternya yang beragam dan aksi-aksinya yang bisa berdarah-darah. Tapi cerita asli dalam manganya…

Ehm.

Lebih banyak soal itu biar kubahas nanti.

Gimanapun, konsep ceritanya, yang menampilkan empat sahabat cowok yang bertarung dan bertambah kuat dalam menumpas musuh-musuh, untuk suatu alasan sangat menarik perhatian pada masa itu. Lalu karena suatu alasan juga, beberapa minggu lalu, aku tiba-tiba terpikir untuk memeriksa cerita di versi manganya yang sudah lama kudengar agak beda ketimbang versi animenya.

Oke, sebenarnya aku sudah lama tahu tentang tamat animenya sih. Ringkasnya: tamat versi animenya meski adegannya mirip tetap jauh lebih bagus. Cuma, pada suatu hari aku benar-benar penasaran saja soal tamat manganya kayak apa.

Lalu buat yang mau tahu juga, bicara soal judul-judul manga lawas, sebenarnya aku baru mulai baca manga REAL karangan Inoue Takehiko. Tapi mending soal itu dibahas lain kali.

Telor Cahaya

Ringkasnya: Urameshi Yusuke yang dikenal sebagai berandalan paling keji di SMP Sarayashiki pada suatu hari tiba-tiba mati dalam suatu kecelakaan lalu lintas demi menolong seorang anak kecil yang nyaris ditabrak. Kematiannya ini (hampir secara harfiah) menggegerkan seluruh alam, karena dirinya dipandang sebagai pemuda nakal yang tak bisa diatur dan teramat kejam.

Cuma ada satu orang yang sungguh-sungguh menangis keras-keras saat Yusuke meninggal. Orang itu adalah sahabat masa kecil Yusuke, Yukimura Keiko, yang mungkin satu-satunya orang yang masih menganggap Yusuke orang baik.

Sementara ibu Yusuke, yang merupakan single parent, kurang begitu layak mengurus dirinya sendiri, apalagi berperan sebagai orangtua. Dan, yah, intinya, tindakan Yusuke benar-benar di luar dugaan.

Lalu saat roh Yusuke masih dalam keadaan melayang-layang dan separuh percaya bahwa dirinya sudah mati, tiba-tiba muncul seorang gadis manis utusan alam roh bernama Botan, yang merupakan salah seorang pemandu roh melewati Sungai Sanzu. Botan lalu menjelaskan duduk perkara tentang kematian Yusuke padanya, dan…

…Oke. Kita lewatin saja cerita beberapa buku.

Intinya, beberapa buku kemudian, Yusuke diharuskan menjabat sebagai detektif alam roh yang harus memecahkan kasus-kasus yang melampaui batasan dunia orang mati dan dunia orang hidup. Ada semacam komplikasi situasi yang memaksanya mengambil jabatan itu, yang terutama berkaitan dengan siapa dirinya sebenarnya.

Lalu selain ketangguhan fisiknya, Yusuke juga dibekali dengan senjata khusus para detektif (salah satu ciri khas seri ini), yaitu kemampuan untuk menembakkan energi roh bernama Rei Gun, yang akan terlepas bila ia mengarahkan telunjuk kanannya ke depan dengan posisi jempol ke atas.

Yusuke kemudian berhadapan dengan berbagai kawan dan lawan, dan berhadapan dalam suatu konspirasi berkepanjangan untuk membuka pintu dunia manusia dengan dunia iblis Makai.

Cerita yang Baru Dimulai Dengan Tokoh Utama yang Mati

Membaca ulang cerita Yu Yu Hakusho, aku sulit buat enggak melihat beberapa elemen prototip yang kemudian muncul kembali dalam Hunter x Hunter. Teknik bertarung yang mengandalkan tenaga dalam, pertarungan-pertarungan urat saraf yang menguji mental, sampai ke desain-desain karakter aneh yang bervariasi dari seksi sampai agak menjijikkan.

Bicara soal ceritanya, terus terang, kalau kau baca manganya, kelihatan banget kalau Yu Yu Hakusho adalah jenis seri yang ceritanya ‘dibikin sambil jalan.’ Jadi, bukan jenis yang ceritanya sudah direncanakan sejak awal.

Genrenya, dari drama supernatural keseharian, tiba-tiba berubah menjadi seri aksi ala Dragon Ball begitu Yusuke diangkat sebagai detektif. Kualitasnya sebagai sebuah manga aksi—apalagi kalau menilai dari kualitas gambarnya—sebenarnya enggak bisa dibilang bagus-bagus amat. Tapi ada sesuatu yang benar-benar unik tentang elemen-elemen ceritanya, yang walau enggak bikin kamu wow, di saat yang sama juga enggak akan bisa kamu temuin dalam seri-seri manga lain. (Seenggaknya, sampai Hunter x Hunter keluar.)

Ada yang bilang itu karena ada satu arc penting dalam ceritanya yang memaparkan suatu turnamen bela diri (Dark World Tournament) yang lagi-lagi mirip Dragon Ball. (Yang kemudian juga membuatnya mirip Flame of Recca karya Anzai Nobuyuki. Tapi berbeda dari Yu Yu Hakusho, Flame of Recca lebih tenar karena komiknya, btw.) Tapi terus terang, kupikir alasannya bukan itu.

Meski banyak, adegan-adegan aksinya sebenarnya tak menonjol amat. Ada cukup banyak saat ketika Yusuke menang semata karena keberuntungan semata—walau ini enggak lagi terjadi begitu mencapai pertengahan seri.

Kalau aku menebak, mungkin karena para karakternya. Soalnya para karakternya, bahkan yang sampingan, emang beneran menarik.

Yusuke, meski berandalan, adalah orang baik, pekerja keras, dan bertanggung jawab. Lalu dari yang hanya mengandalkan keberuntungan, sedikit demi sedikit dirinya benar-benar bertambah kuat.

Ada teman sekolah Yusuke bernama Kuwabara Kazuma, yang sok mengaku adalah rival Yusuke, yang di luar dugaan menjadi satu-satunya orang di dekatnya yang punya kepekaan supernatural. (Ada satu bagian cerita di mana Kuwabara didorong untuk berciuman dengan Yusuke demi menghidupkannya kembali.)

Botan adalah gadis cantik namun agak aneh yang dari waktu ke waktu memberi kabar kerjaan yang malas Yusuke hadapi.

Lalu ada dua orang bekas lawan Yusuke yang menjadi kawan: yakni Kurama, alias Minamio Shuuichi, yang merupakan siluman rubah legendaris yang bereinkarnasi menjadi remaja manusia bishonen pengguna tumbuhan-tumbuhan siluman; serta Hiei, seorang siluman berbadan kecil pencari kekuatan yang sekaligus ahli pedang, yang sebenarnya menanamkan mata ketiga pada dahinya demi menemukan adik perempuannya yang hilang.

Bos Botan adalah Koenma, anak kecil yang mengisap dot yang merupakan putra Enma Daioh, dewa alam baka. (Koenma juga berubah menjadi bishonen saat menampilkan wujud manusianya, walau masih tetap dengan mengisap dot. Tapi dotnya kemudian nanti berperan penting dalam cerita!)

Ada seorang nenek-nenek ahli roh bernama Genkai, yang sempat mengadakan turnamen juga untuk menemukan penerus ilmu bela diri Reiko Hadouken (tinju gelombang energi roh?).

Lalu ada juga Keiko, yang dengan setia terus menantikan kepulangan kembali Yusuke terlepas dari hal-hal gila yang ia hadapi.

“Mana ada musuh yang tiba-tiba curhat soal kekuatannya padamu!”

Musuh besar pertama yang Yusuke dan kawan-kawannya hadapi—dalam suatu kasus yang melibatkan Yukina, seorang yuki onna yang merupakan adik Hiei—adalah pasangan kakak beradik Toguro yang bekerja untuk suatu pihak misterius. Toguro ‘kakak’ yang berbadan kecil sanggup mengatur otot-otot di tubuhnya agar bisa berubah menjadi bentuk apapun (dirinya konon tak bisa mati.). Sedangkan Toguro ‘adik’ yang berkacamata hitam dan teramat kekar ternyata adalah teman seperguruan Genkai yang jatuh ke jalan yang salah, yang mampu memanipulasi bentuk ototnya seolah dirinya siluman.

Keduanya sebenarnya bekerja untuk seorang konglomerat sangat kaya bernama Sakyo, pemimpin Black Book Club yang terlibat dalam penyelundupan siluman dan perdagangan budak. Cita-cita Sakyo untuk membuka gerbang antar dunia adalah plot tersembunyi dalam turnamen besar yang dijalankannya. Tapi ternyata kemudian ada penerusnya: seorang pemuda berbahaya bernama Sensui Shinobu, yang ternyata pernah menjadi detektif alam roh untuk Koenma seperti Yusuke juga.

Sensui menjalankan plot berbahaya yang melibatkan sejumlah orang dengan kemampuan khusus (Game Master, Sniper, Doctor, Gatekeeper, Dark Angel, Seaman… aku lupa sisanya). Yusuke bersama sejumlah kawan lama maupun baru harus bekerjasama untuk mengejar jejaknya dan menghentikan rencananya.

Sesudah bab melawan Sensui inilah, cerita pada manga dan animenya mulai agak mencolok perbedaannya, meski secara umum alurnya benar-benar mirip.

Ceritanya sama-sama mengetengahkan konflik antara tiga kekuatan besar di Makai yang hendak merebut kekuasaan, dengan Yusuke, Kurama, dan Hiei sama-sama mendukung pihak yang berbeda. (Yusuke berada di pihak Raizo; yang secara genetik merupakan leluhur Yusuke dan tengah sekarat; Kurama berada di pihak Yomi, yang merupakan mantan bawahannya semasa dirinya masih menjadi pencuri keji; sedangkan Hiei di pihak Mukuro, yang sebenarnya adalah perempuan) Tapi ada lumayan banyak yang berbeda pada detil dan nuansa pemaparannya.

Pastinya, animenya memaparkan aksinya dengan lebih baik. Terutama pada bagian ceritanya yang paling akhir di Makai. Tapi di manganya, semuanya itu kayak… terlepas-lepas? Entah ya. Mungkin ada beberapa yang akan punya pendapat berbeda. Ceritanya sama-sama berakhir antiklimatik, tapi dengan cara ‘enggak disangka’ yang bisa dibilang benar-benar khas Togashi. Bab-bab terakhir manganya lebih kerasa kayak filler, tapi jenis fillerfiller pendek yang bikin kita agak “Hah?” dan mesti kuakui emang menarik.

Lalu saat semua berakhir, keduanya sama-sama memberi rasa puas di akhir yang (agak) sama. Meski versi manganya beneran kerasa dipercepat temponya (pertarungan terakhir enggak ditunjukin, tapi hanya dibeberkan hasilnya aja dalam dialog) dan ada kesan ‘berantakan’ dan ‘seenaknya’ pada apa-apa yang terjadi.

Foto Lama di Atas Meja

Akhir kata, kurasa ini memang seri shonen yang bakal kukenang. Alasannya terutama karena enggak benar-benar ada seri lain yang serupa dengan seri ini sebelumnya. Kalau kalian penggemar Hunter x Hunter dan mulai membaca seri ini, maka kalian mungkin bakal mulai paham kenapa Togashi-sensei menjadi satu pengarang yang begitu disegani di redaksi Shonen Jump. Soalnya, kayaknya, emang hampir enggak ada lagi pengarang yang bisa bikin cerita kayak yang beliau buat.

Sejak awal ada kesan kalau Yu Yu Hakusho emang enggak dimaksudkan buat jadi manga aksi yang penuh pertarungan. Kelihatan gimana Togashi kayak bertahan menuruti kemauan editornya dan sedikit banyak meluapkan keinginannya sendiri. Terlihat pada adegan-adegan pertarungannya yang bisa sangat ‘seadanya.’ Tapi hasil akhirnya berakhir keren.

Memang adegan aksinya tak pernah panjang dan kerap hampir tanpa koreografi. Tapi empat sekawan Yusuke, Kuwabara, Kurama, dan Hiei, bisa benar-benar berkesan dengan perbedaan kepribadian mereka dan kemampuan mereka masing-masing. Ada banyak sekali perkembangan yang enggak keduga. Ada sejumlah karakter jahat yang nasib akhirnya agak di luar bayangan.

Ya, bahkan ada aksi-aksi sadis dan tema agak berat dan gelap di dalamnya. Semuanya kayak beneran anti-mainstream.

Lalu kalau ada satu tema yang secara konsisten tetap ada dalam ceritanya dari awal sampai akhir, maka kurasa itu cuma tumbuhnya hubungan cinta antara Yusuke dan Keiko yang tergarap dengan benar-benar baik dalam versi animenya. Jadi pada dasarnya, Yu Yu Hakusho itu sebenarnya suatu kisah cinta?

Yah sudahlah.

Oh. Lalu lagu tema animenya yang berjudul ‘Daydream Generation’ terkadang masih aku putar cuma buat sedikit mengenang apa yang telah lalu. Nuansa dekade 90annya benar-benar sangat kental.

Omong-omong, belum lama ini aku berusaha meniru gaya rambut Toguro ‘adik’, cuma agak gagal. Jadi sudahlah juga kalau soal itu.

…Ngomong-ngomong lagi, dari sisi anime, belakangan kita kayak lagi ngalamin kebangkitan era 90an gitu ya? Pertama Sailor Moon, lalu Jojo’s Bizarre Adventure, kemudian ada Parasyte, dan lagi-lagi akan ada Saint Seiya. Bahkan kudengar Ushio and Tora juga tak lama lagi akan dianimasikan.

Kurasa benar kata mereka soal bagaimana sejarah akan berulang.

 


About this entry