Fate/stay night – Unlimited Blade Works

Fate/stay night – Unlimited Blade Works diadaptasi dari seri visual novel legendaris Fate/stay night.

Tepatnya, ini adaptasi anime ketiga dari Fate/stay night, sesudah sebelumnya dianimasikan dua kali—sekali ke bentuk seri TV dan sekali ke layar lebar—oleh studio DEEN, masing-masing pada tahun 2007 dan tahun 2010.

Sudah berapa kali ya aku menulis soal seri ini?

Fate/stay night bermula dari game VN dewasa yang dikembangkan grup doujin (indie) Type-Moon. Keluar pertama kali untuk PC pada tahun 2004, gamenya langsung disambut antusias berkat reputasi Type-Moon yang sebelumnya terbangun lewat Tsukihime dan dua seri lepasannya: Kagetsu Tohya dan Melty Blood.

Type-Moon terbentuk oleh duo Kinoko Nasu sebagai penulis dan Takeuchi Takashi selaku ilustrator. Kinoko-sensei punya gaya cerita dan pilihan tema yang khas. Sedangkan Takeuchi-sensei punya gaya desain karakter yang sekilas sederhana, tapi mengandung suatu kedalaman dan perhatian terhadap detil. FSN adalah seri pertama Type-Moon sesudah mereka jadi perusahaan komersil. Seri tersebut, ringkasnya, sukses luar biasa. Karakternya terbukti populer bahkan hingga sekarang. Lalu sesudah sepuluh tahun, kini seri tersebut diangkat menjadi anime lagi.

Sebelum masuk ke soal animenya, perlu disinggung kalo versi game Fate/stay night terbagi ke dalam tiga percabangan cerita (rute):

  • rute Fate, dengan karakter Saber sebagai tokoh utama perempuan;
  • rute Unlimited Blade Works, dengan Tohsaka Rin sebagai karakter utama perempuan;
  • dan rute Heaven’s Feel, dengan Matou Sakura sebagai fokus utama.

Ketiga rute di atas memiliki alur cerita serta tema yang agak beda juga.

Terkait percabangan cerita di masing-masing rute, anime TV-nya yang keluar tahun 2007 secara umum mengadaptasi rute Fate, tapi ada tambahan elemen rute-rute lain di dalamnya juga. Adaptasi kedua berupa film layar lebar di tahun 2010 mengadaptasi rute Unlimited Blade Works, dalam versi agak padat (aku sempet nulis soal itu di sini, btw.). Sedangkan anime yang ketiga ini, yang keluar tahun 2014, kembali mengadaptasi rute Unlimited Blade Works, tapi kali ini dalam format seri TV. Kabarnya, rute Heaven’s Feel sendiri akan dianimasikan sesudah seri TV ini berakhir dalam format film layar lebar.

Studio yang menganimasikan kali ini adalah Ufotable, yang seakan menjadi studio langganan Type-Moon untuk menganimasikan karya-karya mereka. Karena sebelumnya Ufotable juga menganimasikan rangkaian film layar lebar Kara no Kyoukai pada tahun 2007, yang juga diangkat dari seri novel berjudul sama buatan Type-Moon. Ufotable juga yang menganimasikan seri prekuel dari Fate/stay night, yakni Fate/Zero, di tahun 2012, yang terbukti menarik perhatian banyak kalangan. Dengan demikian, kualitas anime ini dari awal seakan sudah terjamin.

Seri TV FSN – UBW juga jadi punya kesan sebagai semacam sekuel dari seri TV Fate/Zero. Selain bisa dibilang ‘melanjutkan’ ceritanya, penayangan FSN – UBW seperti Fate/Zero juga dibagi ke dua tahap, dengan jeda satu season di antara keduanya.

Tulisan ini membahas season pertamanya saja, yang ditayangkan pada musim gugur 2014 lalu dengan total sebanyak 12 13 episode.

Angin yang Menenggelamkan Kata-kata

Premis cerita Fate/stay night mungkin terdengar sedikit ribet.

Fate/stay night bercerita tentang suatu ritual sihir rahasia yang disebut Holy Grail War/Seihai no Sensou/Perang Cawan Suci, yang berlangsung di sebuah kota bernama Fuyuki, di pertengahan dekade 2000an. Ritual ini pada dasarnya merupakan ajang saling bunuh antara tujuh orang penyihir (magus) yang disebut Master, yang masing-masing telah memanggil tujuh makhluk semi roh berstatus familiar dengan kemampuan jauh melampaui manusia yang disebut Servant.

Ketujuh pasangan Master-Servant itu akan saling memburu dan saling menjatuhkan satu sama lain dalam ‘perang’ ini, yang secara rahasia berlangsung di seluruh penjuru Fuyuki. Ada suatu perwakilan dari Gereja yang menjadi pihak netral sekaligus ‘penengah’ dari ritual ini. Pasangan Master-Servant terakhir yang masih bertahan akan mendapat akses ke pusaka sihir legendaris Holy Grail/Seihai/Cawan Suci, yang konon dapat mengabulkan permintaan apapun.

Setidaknya, pemahamannya di permukaan seperti demikian. Kenyataannya, ada banyak intrik dan rahasia yang terjadi di belakang layar…

Seri Fate/stay night mengisahkan peristiwa terjadinya Perang Cawan Suci kelima yang pernah terjadi (dengan prekuelnya, Fate/Zero, mengisahkan yang keempat yang berlangsung sepuluh tahun sebelumnya). Tokoh utamanya adalah seorang remaja yatim piatu bernama Emiya Shirou.

Sesudah tanpa sengaja terlibat dalam perang, Shirou saat terdesak memanggil Servant Saber—seorang ksatria wanita berzirah dan berambut pirang yang menjunjung tinggi keadilan dan kehormatan—yang sekaligus membuatnya menjadi Master terakhir yang ‘dipilih’ Cawan Suci.

Tohsaka Rin, teman sekolah Shirou yang cantik dan sangat populer, ternyata merupakan salah satu magus yang terlibat dan menjadi penyebab tak langsung keterlibatan Shirou. Rin, yang pada dasarnya baik hati, merasa tak bisa membiarkan Shirou yang sedemikian tak tahu apa-apa tentang dunia sihir begitu saja. Karenanya, untuk sementara waktu mereka menyepakati suatu gencatan senjata.

Bersama, keduanya kemudian bekerjasama dalam menghadapi Master-Master lain yang tak segan melibatkan orang-orang biasa dalam Perang.

Aku Tahu Surga yang Menanti Kita

Setiap Servant pada dasarnya merupakan perwujudan suatu roh pahlawan (Eirei/Heroic Spirit) yang dapat berasal dari berbagai mitologi dunia. Kesemuanya konon memiliki kekuatan yang jauh melebihi batasan manusia normal, dan karenanya menjadi andalan masing-masing Master untuk menang.

Ketujuh Servant terbagi ke dalam tujuh ‘kelas’ yang akan kuulas di bawah. Kesemuanya memiliki ‘nama asli’ masing-masing. Tapi karena memanggil mereka dengan nama asli’ bisa membeberkan asal-usul—sekaligus kelemahan—mereka, para Servant lebih banyak dipanggil dengan nama kelas mereka.

Setiap Servant juga memiliki setidaknya satu ‘pusaka’ yang disebut Noble Phantasm/Hougu, yaitu pusaka khusus yang menjadi bagian ‘identitas’ mereka. Semakin tenar mitologi yang melandasinya, konon akan semakin kuat pula kekuatan Noble Phantasm tersebut. Karena bisa membeberkan identitas asli seorang Servant juga, Noble Phantasm biasanya hanya dikeluarkan pada saat terdesak dan menjadi kartu as masing-masing pihak.

Selain berkat kekuatan Cawan Suci, setiap Servant termanifestasi di dunia ini karena mendapat pasokan energi sihir dari Master masing-masing.

Namun Shirou—yang mendiang ayah angkatnya, Emiya Kiritsugu, ternyata merupakan seorang penyihir/magus—ternyata tak pernah mendapat pelatihan sihir secara benar. Sehingga walau ia ‘menarik kartu’ Saber, yang merupakan Servant dengan parameter paling seimbang dan karenanya dipandang punya peluang menang paling besar, dirinya kurang bisa mengoptimalkan potensi sesungguhnya yang Saber miliki.

Satu-satunya jenis sihir bisa Shirou lakukan secara lumayan hanyalah tracing. Tracing merupakan sihir yang memungkinkannya menganalisa struktur suatu benda serta memperkuat dan memperlemah parameter-parameter benda tersebut. Karena kemampuannya itu, Shirou sering dimintai tolong oleh Ryudou Issei, sahabatnya yang menangani OSIS/Dewan Siswa di Perguruan Homurahara tempat mereka bersekolah, untuk memperbaiki barang-barang rusak di sekitar kampus (meski Issei tak pernah mengetahui bahwa keahlian Shirou sebenarnya berasal dari kemampuan sihir).

Berkebalikan dengan Shirou, Rin adalah magus terlatih yang sihir spesialisasi keluarganya memungkinkannya ‘menyimpan’ energi sihir dalam benda-benda tertentu. Sihir andalannya adalah tembakan Gandr, yang mana ia melepas peluru-peluru yang dibuat oleh sihir.

Rin terlibat dalam Perang sebenarnya lebih karena suatu peran yang diwariskan oleh keluarganya. Namun kenyataannya, Rin tak punya permohonan khusus yang ingin dikabulkan melalui Cawan Suci (seperti Shirou, dirinya juga sudah tak punya orangtua). Shirou sendiri berpartisipasi dalam perang tergerak oleh suatu ideologi kepahlawanan yang ia warisi dari mendiang ayah angkatnya.

Sepuluh tahun silam, suatu bencana kebakaran yang teramat besar pernah terjadi di Fuyuki. Di peristiwa itu, Shirou kehilangan seluruh anggota keluarga kandungnya. Tapi ia akhirnya diselamatkan oleh Kiritsugu, dan kemudian dibesarkan olehnya sebagai anak angkat. Shirou tak begitu tahu banyak tentang latar belakang Kiritsugu. Tapi dirinya memahami suatu penyesalan mendalam yang ayah angkatnya dulu punyai, yang disampaikan menjelang ajalnya, tentang keinginannya untuk menjadi semacam ‘pahlawan pembela kebenaran.’

Ideologi yang Shirou punyai ini, yang membuatnya tak segan menempatkan diri dalam bahaya, segera mendapat perhatian Archer, Servant milik Rin. Karena alasan tertentu, hal ini menimbulkan konflik di antara mereka. Lalu lambat laun, Rin sendiri ikut menyadari, mungkin memang ada suatu hal abnormal tentang ideologi yang Shirou anut…

Masa Depan Putih Terang Ini

Terlepas dari semuanya, masing-masing Servant yang terlibat dalam Perang Cawan Suci kali ini (sekali lagi) antara lain:

  • Saber, spesialis pedang, konon berparameter paling seimbang. Master-nya adalah Emiya Shirou. Identitas aslinya pada perang ini adalah Arturia, raja legendaris Britannia yang menyembunyikan jati dirinya sebagai perempuan. Noble Phantasm miliknya yang paling dikenal adalah pedang suci Excalibur, yang disembunyikan dengan berkah roh angin agar tak kasat mata. Sebagaimana dikisahkan dalam Fate/Zero, Saber terlibat dalam Perang Cawan Suci terdahulu dengan Kiritsugu sebagai Master-nya. Ia ingin mengetahui mengapa Perang Cawan Suci sebelumnya berakhir prematur.
  • Lancer, spesialis senjata tombak, konon memiliki kelebihan di sisi kelincahan. Dirinya Servant yang menyeret Shirou sampai terlibat dalam Perang. Identitas aslinya adalah Cu Chulainn, pemburu legendaris dari Irlandia. Master-nya pada titik ini belum terungkap. Namun Master aslinya, Bazette Fraga McRemitz, sebagaimana dikisahkan dalam Fate/hollow ataraxia, sebenarnya telah tewas. Noble Phantasm miliknya adalah tombak Gae Bolg yang dapat selalu mengenai jantung bidikannya akibat pembalikan fenomena sebab akibat.
  • Archer, spesialis busur dan panah, memiliki mata tajam dan kemampuan untuk bergerak secara independen, dalam artian dirinya tidak melulu harus mengandalkan asupan kekuatan sihir (mana) dari Master-nya. Master-nya adalah Tohsaka Rin. Mungkin karena kecendrungan Rin untuk melakukan kesalahan bodoh di saat genting, Archer kehilangan sebagian ingatannya saat dipanggil. Karenanya identitas aslinya masih belum benar-benar diketahui. Sepasang pedang kembar yang sering digunakannya sebenarnya bukan Noble Phantasm milikinya.
  • Rider, spesialis tunggangan, konon memiliki potensi daya rusak paling besar. Identitas aslinya, walau tak benar-benar terungkap pada rute ini, adalah Medusa dari mitologi Yunani. Master-nya pada titik ini adalah Matou Shinji, teman lama Shirou di sekolah yang tampan tapi menjengkelkan. Noble Phantasm miliknya sebenarnya adalah kuda bersayap Bellerophon yang kelihatannya tak sempat tampil di rute ini. (Buat yang memperhatikan, ada alasan tertentu kenapa frame yang menampilkan dirinya ditampilkan sebelum Sakura pada beberapa saat menjelang berakhirnya animasi lagu pembuka.)
  • Caster, spesialis sihir, memiliki kuasa khusus untuk menciptakan teritori yang sepenuhnya berada di bawah kendalinya. Identitas aslinya adalah Medea, putri negeri Colchis dalam legenda Yunani tentang para Argonaut yang memiliki kisah hidup tragis. Master-nya adalah Kuzuki Shoichirou, wali kelas Rin di sekolah, yang menjadi pengganti dari Master asli Caster yang dibunuh oleh Caster sendiri. Noble Phantasm miliknya adalah belati Rule Breaker yang dapat mematahkan ikatan sihir.
  • Berserker, yang mengorbankan kewarasannya dengan imbalan kekuatan sangat besar. Master-nya adalah gadis kecil, Illyasviel von Einzbern, yang seperti Rin, berasal dari salah satu keluarga pemrakarsa ritual Cawan Suci. Identitas Berserker adalah Hercules. Noble Phantasm miliknya yang utama, 12 Labors, mengharuskan Berserker dibunuh 12 kali untuk bisa ditaklukkan. Seperti yang dikisahkan dalam Fate/Zero, Ilya juga sebenarnya adalah putri kandung Kiritsugu.
  • Assassin, spesialis penyusupan dan serangan dari bayangan. Master-nya, entah bagaimana, adalah Caster, dan ada indikasi bahwa Assassin yang tampil di sini bukanlah Servant Assassin yang sesungguhnya. Identitas aslinya adalah pemain pedang legendaris Sasaki Kojirou yang justru bila dilihat dari sisi sejarah mungkin merupakan tokoh fiktif. Noble Phantasm miliknya adalah teknik pedang Tsubame Gaeshi yang memotong batas-batas dimensi dan memungkinkan keberadaan senjatanya pada beberapa titik sekaligus.

Satu-satunya Emosi yang Mungkin Masih Kupunya

Waktu pertama mendengar tentang pengumumannya, aku sebenarnya merasa Fate/stay night tidak perlu dianimasikan lagi. Buat apa sih? Emang kalian masih belum cukup puas? Kira-kira gitu.

Tapi melihat sendiri hasil akhirnya, Fate/stay night – Unlimited Blade Works terbilang mencengangkan. Kualitas presentasi dan eksekusinya benar-benar bagus. Visualnya beneran luar biasa. Seriusan benar-benar memukau; mulai dari efek sihir, pergerakan awan, desain lingkungan latar, pakaian karakter, sampai adegan-adegan aksi. Audionya agak sunyi di beberapa bagian, mungkin karena ceritanya berat di percakapan. Tapi para seiyuu-nya memperlihatkan hasil yang beneran berkesan. Kelihatan betapa besarnya sumber daya yang dikeluarkan untuk anime ini, walau memang ada beberapa kelemahan yang pada cerita yang tetap tak bisa dihindari.

Terkait cerita, cerita dari gamenya telah diekspansi pada beberapa titik. Ada beberapa adegan minor tapi menarik yang tak ada di game aslinya, seperti bagaimana Rin sempat berhadapan langsung dengan Ilya misalnya. Atau ditambahnya interaksi antara Shirou dengan teman-temannya di sekolah.

Walau dimaksudkan sebagai kelanjutan cerita Fate/Zero, Fate/stay night pada dasarnya jenis cerita yang berbeda. Di samping dibuat lebih awal, ceritanya terstruktur sedemikian rupa agar detil-deti yang dibeberkan pada tiap rute bisa saling melengkapi. Karena itu, kualitas ceritanya secara umum sebenarnya agak kalah berbobot dibandingkan Fate/Zero. Tapi kualitas eksekusi animenya seakan mengimbangi kelemahan ini. Pada beberapa titik, kualitas penceritaannya bahkan kerasa lebih baik dibanding gamenya.

Ada beberapa detil tersirat yang akan terasa ‘nyambung’ dengan Fate/Zero saat kau perhatikan. Misalnya pada ekspresi Saber saat mendengar nama Kiritsugu disebut kembali. Juga tentang bagaimana Kotomine Kirei—pendeta yang menjadi ‘wasit’ dalam Perang Suci kali ini—mengenali siapa Shirou bahkan tanpa Shirou benar-benar sadari.

Jadi sekalipun kau sudah tahu cerita FSN sebelumnya, anime ini tetap menarik. Ada banyak hal terselubung yang hanya bakal kau pahami kalau kau sudah tahu ceritanya sebelumnya.

Mengingat game orisinilnya sudah berusia 10 tahun, ada perombakan di segi desain karakter. Paling mencolok terlihat pada jaket yang dikenakan Shirou serta baju musim dingin yang Saber kenakan. Saber maupun Sakura—meski tokoh utama di rute ini adalah Rin—sama-sama ditampilkan sangat adorable di versi ini. Maksudku, keduanya seriusan luar biasa manis dalam desain karakter yang baru ini. Aku sempat lupa heroine utamanya harusnya siapa.

Rin sendiri, di samping secara tampilan, dipaparkan secara ekstensif latar belakang ceritanya. Kita dibawa mengenal lebih jauh tentang latar belakang kehidupannya yang rumit serta kepribadiannya kayak apa. (Mungkin malah agak terlalu ekstensif?)

Bab prolog dari gamenya, yang diambil dari sudut pandang Rin dan secara khusus memperkenalkan dirinya serta konflik Cawan Suci, bahkan ditampilkan pada episode 0 yang berdurasi satu jam. Apa yang membuatku benar-benar kaget adalah bagaimana sesudah episode 0 itu, episode 1 yang memaparkan rentang waktu cerita yang sama di episode 0 dari sudut pandang Shirou ternyata berdurasi satu jam juga. Episode 12, yang menjadi klimaks season ini, berdurasi satu jam pula. Jadi secara efektif seri ini punya durasi sekitar tiga episode lebih panjang dari seri anime seukurannya!

Mencari Fajar Itu

Akhir kata, FSN/UBW jelas merupakan seri paling ambisius pada musim gugur 2014 lalu. Cukup mengejutkan sebagus apa hasilnya. Miura Takahiro yang menjadi sutradaranya kurasa menjadi nama yang patut diingat. Ini kali pertama beliau menjadi sutradara penuh sesudah sebelumnya menangani film layar lebar Kara no Kyoukai yang keenam.

Secara pribadi, aku sebelumnya lebih suka Tsukihime dan Kara no Kyoukai ketimbang seri Fate. Tapi anime satu ini, agak membuatku berubah pikiran. Dulu, sempat ada rumor kalau mungkin anime ini akan menampilkan cerita orisinil yang akan ‘menyatukan’ ketiga rute di gamenya. Jadi jujur saja aku sempat agak kecewa saat tahu kalau ini adaptasi rute UBW lagi. Tapi kebagusan kualitasnya terus terang melampaui pengharapanku, walau mungkin aku merasa kayak gini karena sudah akrab dengan seri ini juga.

Konflik utama rute ini, yaitu soal ideologi kepahlawanan yang dianut Shirou, mungkin agak hit or miss bagi sebagian besar orang. Kau bakal menyukainya apa enggak kurasa tergantung kau orang kayak apa. (Aku pribadi lumayan mendalaminya sih.) Tapi seenggaknya penggemar dari kalangan manapun bakal terkesima oleh kerennya adegan-adegan aksi yang ada. Di samping itu, sebenarnya ada beberapa tema menarik lain lagi sih. Seperti soal sejauh apa tekad bisa membawa kamu, soal gimana apa yang kau yakini bisa diterima orang lain, dsb.

Kembali ke soal teknis, seri ini dipotong pada bagian yang pas. Tepatnya, pada saat Shirou dan Rin melakukan blunder yang mengakibatkan Saber terlepas dari kuasa mereka, dan akhirnya mereka berpisah jalan. Memang sangat terasa menggantung. Tapi kalau aku tak salah ingat, ceritanya mulai berkembang jadi benar-benar seru di gamenya mulai titik ini. Jadi aku berharap pada 12 episode berikutnya, cerita bisa bergulir dengan lebih cepat dan baik.

Sekali lagi, adegan aksinya seru. Skirmish dengan Berserker di tanah pemakaman pada awal cerita, benar-benar tertata secara keren. Adegan saat Shirou, Rin, dan Saber beraksi untuk mengungkap identitas Master Caster di tempat SPBU terbengkalai menjadi jauh lebih berkesan dari yang pernah kuingat dari gamenya.

Sedikit soal soundtrack, walau ada yang berpendapat sebaliknya, aku termasuk yang suka dengan lagu ‘Ideal White’ yang dibawakan Mashiro Ayano. Warna suaranya mirip dengan LiSA, walau mungkin secara performa, Mashiro-san masih belum sematang dia. Tapi nyanyiannya menurutku pas dengan tema yang sering ini usung. (Soal pemilihan judul lagunya terkait nama penyanyinya, apa ini suatu hal yang disengaja?)

Grup Kalafina seperti yang bisa disangka, membawakan ‘Believe’ yang menjadi lagu penutup seri ini. Lalu LiSA sendiri ternyata membawakan lagu ‘This Illusion’ yang melantun menjelang penutup episode akhir, mengiringi adegan melompatnya Rin dari pencakar langit. Iringan lagu-lagu ini berhasil membuat adegan tersebut—yang merupakan salah satu adegan paling berkesan di gamenya—jadi terkesan makin memukau. Lagu ini sendiri, yang dulu dibawakan Tanaka Sachi, merupakan soundtrack gamenya yang paling pertama. Jadi memang ada beberapa orang yang punya kenangan tertentu dengan lagu ini.

Sori aku enggak merasa bisa mengumbar lebih banyak soal ceritanya. Soalnya dari gelagatnya, di paruh berikutnya, para penulis akan mengembangkan konsep cerita dari gamenya secara lebih jauh lagi.

Mari kita nantikan bersama musim semi ini untuk hasil akhirnya.

Oh. Dan sesudah season keduanya nanti, sekali lagi, adaptasi layar lebar dari rute Heaven’s Feel sudah terkonfirmasi, yang memang mesti diakui merupakan rute paling ‘penuntas’ dari seri ini. Tapi soal itu mending kita bahas lain kali.

Penilaian

Konsep: B+; Visual: S; Audio: B+; Perkembangan: B+; Eksekusi: A+; Kepuasan Akhir: A+


About this entry