Carnival Phantasm

… …

Aku sibuk belakangan ini.

Aku sibuk. Tapi karena itu, aku merasa ini waktu yang tepat buat membahas Carnival Phantasm.

Mereka yang agak rajin mengikuti blogku mungkin tahu kalau aku sudah lama jadi pemerhati karya-karya keluaran Type-Moon. Siapa Type-Moon? Mereka adalah grup pengembang game yang dari status doujin ke profesional, kemudian menciptakan dua seri legendaris Tsukihime dan Fate/stay night beserta semua karya lepasannya. Aku pertama tahu tentang mereka semenjak aku masih mahasiswa, dan aku masih mengikuti perkembangan mereka sampai sekarang.

…Sekali lagi, aku mengulas soal ini karena sedang sibuk belakangan. Bukan karena musim tayang kali ini sudah hampir berakhir. Dan juga bukan karena anime Fate/stay night – Unlimited Blade Works yang luar biasa keren akan dipotong penayangannya sebelum dilanjutkan dua musim lagi, sehingga aku kecewa dan butuh pelampiasan.

Alasannya, sekali lagi, sama sekali bukan itu.

Teringat Carnival Phantasm, aku selalu ikut teringat akan seorang teman yang pernah sekerja denganku dulu. Dirinyalah yang dulu terobsesi untuk nonton seri ini. Padahal aku sendiri enggak. Padahal di antara kami berdua, dengan pasti aku bisa memproklamirkan diri bahwa akulah yang menjadi penggemar Type-Moon yang lebih besar!

Orang enggak tahu apa-apa kayak dia maksa-maksain ngikutin seri OVA yang tahu tentangnya baru hari kemarin. Sementara aku, yang sudah lama jadi penggemar, hanya menanggapi keluarnya seri ini secara luar biasa cooool.

Yeah, aku adem ayem.

Satu, karena ini seri komedi. Dua, karena dengan demikian isi ceritanya pasti hanya plesetan dan enggak terlalu berbobot (di masa itu aku merasa lebih serius ketimbang sekarang). Tiga, karena pada waktu itu aku enggak kenal sama sekali soal Takenashi Eri itu siapa. Empat, karena seri tersebut waktu itu baru keluar dan masih berlanjut.

Masih berlanjuuut!

Total episodenya hanya 15 (ditambah satu). Durasi satu episodenya hanya sekitar 15 menit. Tapi kelima belas episode tersebut keluar secara agak enggak teratur selama paruh akhir tahun 2011 gitu.

Jadiii… hmmm.

Ini adalah sesuatu yang enaknya dinikmati sekaligus.

Mwahahahahahaha!

(Dan aku seriusan baru melihat ini semua sesudah semuanya tamat. Sebagai seorang penggemar Type-Moon, menontonnya dengan cara demikian memberikan kepuasan tersendiri.)

Tapi terlepas dari itu, seri OVA ini diadaptasi dari seri manga komedi Take Moon yang dibuat oleh Takenashi Eri (diserialisasikan dari tahun 2004-2005), yang belakangan aku kemudian tahu sebelumnya dikenal sebagai pengarang seri Kannagi. Animasinya disutradarai dengan luar biasa apik oleh Kishi Seiji dan diproduksi oleh studio Lerche, yang saat itu baru mencuat sebagai studio animasi baru (dan belakangan mengeluarkan adaptasi animasi Persona 4 serta Danganronpa).

Hajimaru yo!

Premis dasar Carnival Phantasm kurang lebih seperti ini.

Ada suatu siklus tertentu dalam sekian ribu…? Ratus? Puluh… tahun? Sial, aku lupa. Yang pastinya, saat siklus itu terjadi, itu memungkinkan pertemuan antara orang-orang yang normalnya takkan mungkin bertemu. Di mana pertemuannya? Di sebuah kafe, bernama Ahne Nerbe. Kafe yang terkesan sepi, atau bahkan mungkin dikelola oleh orang-orang berbahaya, tapi sebenarnya nyaman di dalam.

Yah, intinya, Carnival Phantasm adalah kumpulan skit atau gag atau sketsa random yang melibatkan karakter-karakter dari semesta Fate dan Tsukihime. Ceritanya enggak sepenuhnya nyambung. Kerap kali enggak jelas. Tapi intinya, dimaksudkan untuk membuat penontonnya ketawa.

Sebenarnya, ada satu hal lain yang sudah membuatku merasa aneh sebelumnya.

Maksudku, bila ini memang diangkat dari seri manga Take Moon, kenapa anime ini enggak dinamain Take Moon aja sekalian? Aku masih belum terlalu yakin soal ini, tapi alasannya karena Carnival Phantasm memang enggak langsung ‘mengangkat’ begitu saja cerita-cerita yang ada di  Take Moon. Beberapa cerita di Carnival Phantasm bahkan rasanya pernah kulihat dalam beberapa doujin lain? Yang terutama ‘diambil’ kurasa adalah gaya desain karakternya, dengan bentuk wajah agak bulat yang menjadi ciri khas Takenashi-sensei, yang memang sesuai dengan tema komedi seri ini.

Selebihnya—sebenarnya—seri ini memang lebih ditujukan untuk para penggemar berat Type-Moon. Kebanyakan lelucon yang berpusar di dalamnya memang adalah plesetan dari apa yang terjadi di materi asalnya. Tapi materi asal yang kumaksud di sini bukan sekedar Tsukihime dan Fate/stay night, melainkan juga ditambah semua seri spin off dan sekuelnya. Dalam hal ini, meliputi fan disc Kagetsu Tohya, game tarung Melty Blood (termasuk sampai sekuelnya yang Actress Again), serta fan disc Fate/hollow ataraxia (dan bahkan RPG Fate/Extra!). Bila kau kurang familier dengan seri-seri lain tersebut, kau bisa agak kesulitan dalam mengikuti ini siapa dan itu siapa. Apalagi dengan bagaimana di lelucon-lelucon Carnival Phantasm, sifat-sifat para karakternya memang agak… dilebih-lebihkan secara dramatis. Dan jadinya berakhir enggak lucu bila kalian enggak kenal mereka sejak awal.

Ruranra, Ruranra

Ahne Nerbe, dalam perbendaharaan Type-Moon, intinya memang semacam tempat di mana… para karakter dari satu seri bisa bertemu dengan para karakter di seri lain, terlepas dari adanya… semacam siklus atau apa. Tempat ini beberapa kali muncul sebagai settingan dalam sejumlah cerita Type-Moon, sekalipun cerita-cerita tersebut berlangsung dalam latar waktu dan tempat yang berbeda-beda.

Pada tiap episodenya, kita sebagai penonton agak kayak dipandu oleh makhluk roh kucing(?) Neco Arc (pertama kali muncul di Tsukihime) dan teman-temannya sesama Neco Arc (man, kalimat ini beneran kerasa aneh, tapi sebenernya enggak salah), yang mengurusi kafe Ahne Nerbe. Di samping Neco Arc sendiri, mereka terdiri atas Neco Arc Chaos (warna dominan: hitam) yang suave, terlihat berpengalaman dalam hidup, dan kerap mengucapkan kalimat-kalimat (berkesan) keren sembari merokok (kelihatannya dirinya adalah versi Neco Arc dari tokoh antagonis di Tsukihime, Nrvnqsr Chaos); Neco Arc Destiny (warna dominan: pink), yang terkadang agak bertingkah dramatis tentang dilema-dilema kehidupan (mungkin referensi terhadap Caster?); dan Neco Arc Bubbles (warna dominan: agak pucat?), yang tak pernah bicara selain mengeluarkan kata-kata “Un-Un-Un!!” sembari mengangguk-angguk antusias (kelihatannya makhluk ini tak ada kaitannya dengan Ciel…).

Di pertengahan seri, muncul juga Neco Arc Evolution, salah seorang tamu kafe(?) yang merupakan seorang otaku, dan penggemar berat Shiroi Tsukihime Phantasmoon, karakter mahou shoujo (yang jelas-jelas adalah Arcueid Brunested, tokoh utama wanita pertama Tsukihime) yang mendapat segmen acaranya sendiri di episode-episode awal seri. Salah satu lelucon tersamar di seri ini adalah bagaimana Neco Arc Evolution bersikap luar biasa akrab dengan karakter Neco Arc yang lain. Padahal kenyataannya enggak ada yang benar-benar tahu persisnya dirinya sebenarnya siapa. (Dia referensi terhadap Tohno Shiki?)

Tapi terlepas dari kucing-kucing(?) di atas, tentu saja para pemeran sebenarnya dari Carnival Phantasm adalah para tokoh yang sudah dikenal dari Fate dan Tsukihime.

Kebanyakan segmen leluconnya kayak dibagi menjadi segmen Fate, lalu segmen Tsukihime (apalagi kalau mengingat kedua game bersangkutan memang berlatar di dua kota yang berbeda). Tapi ada juga segmen-segmennya yang nyambung kok. Walau, ya, kelakuan para karakternya agak dilebih-lebihkan untuk kebutuhan komedi.

…Um, bagaimana menggambarkannya ya?

Yah, selain Phantasmoon (yang untuk suatu alasan hanya menampilkan serangan pamungkas ke si monster mingguan (“Aku akan me-Marble Phantasm hatimu!”) sebelum berlanjut ke preview episode berikutnya), ada juga komedi Afterschool Alleyway Alliance, yang menampilkan sesi pertunjukan komedi dari tiga kawan perempuan (senasib?) Yumizuka Satsuki, Sion Eltnam Atlasia, dan Riesbyfe Stridberg (ketiganya sama-sama lebih dominan di seri game tarung Melty Blood).

Lalu ada juga sejumlah sesi yang mengumpamakan bagaimana seandainya Perang Cawan Suci kelima tak jadi dibuat sebagai ajang pertumpahan darah. Ada sesi yang agak bikin enggak nyaman, walau masih agak lucu, yang menampilkan kisah Matou Sakura bagaikan semacam seri drama televisi, di mana dirinya agak terlalu menghayati perannya sebagai seorang tragic heroine.

Ada beberapa sesi tentang Seihai-kun (Grail-kun), yang jelas-jelas mempelesetkan Doraemon, tentang bagaimana beberapa karakter mengeluh soal hidup mereka dan mengajukan permohonan ke sosok personifikasi (jahat) Cawan Suci.

Lancer ditampilkan selalu mati.

Ada bagian cerita menarik di mana kedua tokoh utama, Shiki dan Emiya Shirou, sama-sama bersekongkol tentang bagaimana mereka bisa mengencani semua heroine masing-masing secara sekaligus dalam satu hari. Dan ini termasuk para heroine minor macam Arima Miyako dan Illyasviel von Einzbern juga.

Lalu setiap episodenya akan selalu ditutup dengan sesi ‘Preview Episode Berikutnya yang Sesungguhnya,’ yang dibuat menyerupai Tiger Dojo yang muncul setiap kali kita mendapat game over di game Fate/stay night. Wali sekaligus guru sekolah Shirou, Fujimura Taiga, bersama Ilya masih menjadi pembawa acaranya, dan lumayan menarik melihat bagaimana mereka antusias sendiri karena sesi mereka dianimasikan. (Baru sekarang aku nyadar sesi ini enggak pernah muncul dalam adaptasi anime Fate/stay night yang utama.)

Hati Kita Akan Selalu Satu

Masuk ke soal teknis, yang kurasa brilian dari Carnival Phantasm adalah bagaimana meski durasi tiap episodenya lebih singkat dari durasi episode anime pada umumnya, tetap kerasa kayak ada begitu banyak hal ditampilkan. Memang tergantung sejauh apa kau akrab dengan Type-Moon sih. Tapi kalau kau jenis yang bisa menikmatinya, ada kepuasan aneh yang kau rasakan begitu tiap episodenya berakhir.

Di samping itu, kualitas visual dan audionya luar biasa konsisten. Animasi pembukanya, yang menampilkan para heroine dari kedua seri menari bersama para tokoh lainnya dalam menyambut ‘festival,’ lengkap dengan begitu banyak detil yang ditampilkan seiring dengan konfeti yang bertebaran di mana-mana, menjadi hal pertama dari seri ini yang benar-benar memukauku. Lalu gaya desain karakternya memang benar-benar manis.

Ada begitu banyak detil tersembunyi yang bisa kau sadari gitu, yang membuatnya masuk akal kenapa ini dibuat dengan format OVA.

Lalu dua hal enggak disangka yang membuatku menilai Kishi Seiji benar-benar melampaui perkiraan di anime ini, adalah bagaimana beliau berhasil memasukkan satu referensi terhadap seri komedi dewasa South Park di seri ini (dengan gimana Lancer secara konyol terus-terusan mati), serta sekaligus mendapat Endoh Masaki, salah satu personil JAM Project, untuk menyanyikan lagu “Fellows” yang menjadi lagu penutup seri ini.

Kesan akhirnya jadi benar-benar epic.

Akhir kata, ini seri yang khusus dibuat untuk para penggemar Type-Moon. Walau sempat tampil sebatas cameo, para karakter dari beberapa seri lain macam Kara no Kyoukai dan Fate/Zero masih belum masuk ke dalam cerita. (Walau Saber ‘merah’ dari Fate/Extra secara licik mendapat kesempatan tampil. Tentu saja untuk mempromosikan gamenya yang baru keluar di masa itu.) Tapi apa yang ditampilkan di sini sudah lebih dari cukup, dan ceritanya kurasa berakhir di titik yang tepat. (Apa? Fate/Apocrypha? …Segala urusan soal dimensi paralel dan linimasa ini emang bisa bikin pusing, tapi jangan nanya sesuatu yang bisa bikin aku ngegetok kepalamu, bung!)

Seri ini dibagi ke dalam tiga season, dengan satu season terdiri atas empat episode.

Lalu, yea, bahkan beberapa karakternya sendiripun agak mengeluhkan soal panjangnya durasi ‘festival’ ini. (Sudahlah. Soal ini beneran agak enggak jelas.)

Jadi, sekali lagi, ini khusus dibuat untuk penggemar Type-Moon. Jadi kalau kau bukan penggemar, mungkin kau enggak akan terlalu mengerti daya tariknya.

Yah, kurang lebih gitu. Jadi jangan memaksakan diri untuk menikmatinya. Apalagi ini kayak, kau jadi perlu agak mendalami soal cerita-ceritanya. Dan tema-tema yang diangkat dalam ceritanya agak… yah, ‘dewasa’ enggak selalu kata yang secara tepat menggambarkannya.

Aku juga masih belum paham kenapa. Tapi memang ada daya tarik tertentu dari karakter-karakter Type-Moon yang membuat mereka bisa fenomenal bagi para penggemarnya seperti ini. Seri ini memang layak jadi perayaan atas ulang tahun Type-Moon yang kesepuluh.

Dan kualitas teknisnya benar-benar tinggi.

Jadi, yeah, sayangnya ini tipe seri yang enggak akan begitu membuatmu bosan seandainya kau ingin menontonnya lagi.

Apa? Oh, enggak. Di paragraf di atas aku seriusan enggak salah nulis.

Penilaian (rasanya aku udah lama enggak melakukan ini)

Konsep: E; Visual: A+; Audio: A+; Perkembangan: B; Eksekusi: A+; Kepuasan Akhir: A-

Tambahan

Oya. Buat kalian yang tak mengerti soal adegan telepon di penghujung episode terakhir, ‘Sajyou’ yang berbicara di telepon adalah Sajyou Ayaka, karakter utama dari Fate/Prototype. Adegan ini dimaksudkan sebagai teaser soal keluarnya trailer anime Fate/Prototpe, yang merupakan olahan lebih lanjut dari konsep novel paling orisinil dari Fate/stay night. Trailer ini disertakan pada bagian akhir Carnival Phantasm.

Bahkan sejauh ini kutulis sekarang, bertahun-tahun sesudah Carnival Phantasm berakhir, Fate/Prototype masih baru ada sebatas konsep, dan jadinya belum jadi cerita yang benar-benar ‘jadi.’ Tapi segmen anime bersangkutan (yang memang tergarap secara benar-benar keren oleh Lerche juga) merangkum garis besar cerita di novelnya, yang Nasu Kinoko-sensei dahulu buat saat masih sekolah tapi berakhir tak terselesaikan. Meski punya beberapa kesamaan dengan Fate/stay night, cerita ini pada dasarnya memang berkembang menjadi cerita yang lumayan berbeda.

Beberapa perbedaannya yang mencolok meliputi:

  • Saber yang berjenis kelamin laki-laki (walau identitasnya tetap sama sebagai sang raja Britannia yang legendaris).
  • Tokoh utama, Sajyou Ayaka, yang berjenis kelamin perempuan.
  • Berlatar di kota Tokyo (bukan Fuyuki), delapan tahun sesudah Perang Cawan Suci yang pertama, yang dikenal sebagai Heaven’s Feel, berakhir dengan bencana.
  • Ada semacam penetapan strata (Master Degree) bagi para Master, yang dinamai sesuai hierarki malaikat Nasrani (Princes, Powers, Virtues, Dominions, Thrones, Cherubim, Seraphim). Command Seal juga bisa tertera di sekitar badan, dan tak selalu di sekitar tangan.
  • Hadirnya kelas Servant Beast, yang agak mirip dengan konsep Avenger di seri yang utama.
  • Karakter-karakter Master yang berbeda sama sekali, dan belum terungkap semua.
  • Beberapa perbedaan minor, tapi mencolok, terkait karakter-karakter Servant yang ada.

Ceritanya secara garis besar mengetengahkan Sajyou Ayaka, seorang siswi SMA dari keluarga penyihir yang hidup sebatang kara sesudah kematian ayah dan kakak perempuannya dalam Perang Cawan Suci delapan tahun silam. Kejadian tersebut membuatnya traumatis dan insecure. Terutama menyangkut perbedaan kemampuan Ayaka bila dibandingkan terhadap Sajyou Manaka, mendiang kakaknya yang dikenal sebagai magus yang jenius, dan bagaimana dirinya merasa takkan mungkin bisa menyelesaikan apa yang ayah dan kakaknya dulu gagal selesaikan.

Ayaka tak mau terlibat dalam Perang Cawan Suci baru yang kini akan dimulai lagi. Namun saat dirinya terpilih sebagai Master terakhir, Ayaka, seperti halnya Shirou, diburu oleh Lancer dan berhasil memanggil Saber saat benar-benar nyaris terbunuh.

Di samping punya afinitas dengan burung gagak serta tumbuhan, sihir khas Ayaka lebih berkaitan dengan ritual proses pengambilan energi dari alam ketimbang dari dalam diri. Jadi berbeda dengan Shirou, Ayaka memang memiliki pengetahuan yang lebih mendalam tentang sihir, walaupun dirinya tak bisa dibilang hebat juga.

Beberapa karakter Master lain yang sudah diperkenalkan meliputi:

  • Reiroukan Misaya; prototipe dari Tohsaka Rin. Sama-sama cantik dan memikat, tapi bersifat lebih kejam dan perhitungan. Master dari Lancer. Sama seperti Ayaka, dirinya pun kehilangan ayahnya dalam Perang Cawan Suci sebelumnya. Spesialisasinya adalah sihir rune.
  • Isemi; seorang remaja yang semenjak anak-anak menjadi salah satu kandidat Master dalam Perang Cawan Suci pertama. Tubuhnya dimodifikasi dalam suatu percobaan yang menggabungkan ilmu medis dan sihir, oleh sekelompok magi yang selamat dalam Perang Cawan Suci sebelumnya. Master dari Rider. Sekalipun sekarat, dengan hampir seluruh organ tubuhnya bersifat buatan, dirinya tetap mengharapkan kebaikan bagi umat manusia.
  • Sancraid Pahn; prototipe Kotomine Kirei. Pendeta yang semula terlihat sangat baik hati, namun kenyataannya dirinya seorang psikopat kejam. Master dari Berserker, dan dirinya yang kelak mencuri Saber dari kuasa Ayaka.

Selebihnya, desain Lancer agak berbeda, dengan desain lebih menyerupai seorang pemburu. Ada konsep ‘pangeran’ yang seakan diwakili oleh perwujudan sosok Saber, yang Ayaka pandang telah datang menolongnya dan menyingkirkan ketidakbahagiaannya. Archer di sini sekali lagi adalah Gilgamesh, dengan sifat agak berbeda, yang jatuh cinta pada Ayaka, dan karenanya memandang Saber sebagai saingan terberatnya. Rider di sini adalah Perseus, dan bukan Medusa, dan pada suatu titik mulai bergerak sendiri. Lalu misteri masa lalu terbesar tentang apa sebenarnya yang terjadi di Perang terdahulu, dengan pengungkapan bahwa Manaka, sebagai prototipe dari Ilya, ternyata menjadi Master dari Saber delapan tahun sebelumnya…

Untuk para Servant lainnya, walau mungkin belum pasti, kurasa sama dengan yang di Fate/stay night?

Yah, karena memang benar-benar menarik (meski suram), mudah-mudahan suatu saat nanti karya ini bisa sepenuhnya terwujud, dan tak hanya sebatas konsep.


About this entry