Gundam SEED Destiny HD Remaster

Belum lama ini, aku menonton sampai habis sepuluh episode terakhir versi HD Remaster dari Kidou Senshi Gundam SEED Destiny. Menyusul selesainya pembuatan versi HD Remaster dari prekuelnya, Kidou Senshi Gundam SEED, seri ini pertama keluar tahun 2013 lalu, dan baru berakhir pengerjaannya (penayangannya?) pada awal tahun 2014 ini.

Kenapa aku baru menontonnya sekarang?

Sebenernya, aku enggak punya alasan yang bener-bener bagus…

Tapi semenjak aku pertama dengar tentangnya, aku memang sudah lama penasaran tentang versi HD ini. Alasannya karena sebagaimana yang kebanyakan penggemar seri Gundam tahu, seri Gundam SEED Destiny merupakan seri yang paling banyak dicecar dan dikritik oleh para pemerhatinya semenjak pertama tayang tahun 2004 lalu (penayangannya berakhir tahun 2005).

Alasannya kenapa?

Ceritanya agak panjang. Tapi pendeknya: ceritanya… kurang begitu bagus.

Itu bukan sekedar menurutku pribadi. Seri ini secara umum dipandang mengecewakan bahkan oleh para penggemarnya. Karenanya, begitu mendengar bahwa versi HD-nya akan dibuat untuk memperingati ulang tahun kesepuluh seri ini, dan dikatakan bahwa akan ada perbaikan-perbaikan yang akan dilakukan terhadap naskahnya, dan semua episode klip dan kilas balik yang dulu ada akan disingkirkan, ketertarikanku terhadap versi ini sedikit tumbuh.

Ceritanya seriusan akan bisa diperbaiki? Aku skeptis. Tapi ya, aku mulai penasaran.

Format Layar Lebar

Aku agak lupa persisnya kapan, berhubung aku sendiri enggak langsung sadar. Tapi pada pertengahan dekade tahun 2000an, format penayangan anime yang sebelumnya berlayar ‘kotak’ mulai beralih ke format layar lebar berbentuk ‘persegi panjang.’ Gampangnya, proses ‘HD Remaster’ meliputi perubahan format penayangan yang sebelumnya kotak tersebut ke bentuk layar lebar.

Arti aslinya sebenarnya bukan ini sih.

HD sendiri merupakan kependekan dari istilah high-definition (definisi tinggi), yang mengacu pada kepadatan jumlah pixel yang menyusun sebuah gambar digital dibandingkan yang sebelumnya. Intinya: resolusinya lebih baik. Gambarnya (harusnya) lebih tajam! Standar HD kalau enggak salah adalah 720p? Sial, aku enggak yakin juga soal ketentuannya.

Yah, soal teknisnya, ntar aku cari tahu lagi nanti.

Pokoknya, aku ingat banget kalau seri keluaran Sunrise pertama dalam format HD yang aku tahu adalah Code Geass: Hangyaku no Lelouch. Sedangkan seri Gundam pertama yang mendapat perlakuan format demikian adalah Gundam 00. Dan aku pertama sadar soal ini sewaktu menonton kembali episode-episode Eureka Seven setelah sekian lama. Dulu aku terpukau oleh visualisasi Eureka Seven. Tapi sesudah melihatnya lagi, hal pertama yang terlintas di kepalaku adalah “Hah? Layarnya kotak?”

Balik ke soal Gundam SEED dan Gundam SEED Destiny. Di samping perubahan bentuk dan ukuran layar, penggarapan versi HD Remaster di sini juga mencakup perbaikan cara penganimasian sejumlah adegan serta hal-hal teknis secara umum.

Buat versi HD Gundam SEED yang keluar sebelumnya, ini terutama kerasa pada cara penggambaran sejumlah mechanya, yang secara drastis meningkatkan kualitas adegan-adegan aksinya. (Yang juga mencolok di versi ini adalah penganimasian MS Perfect Strike Gundam pada salah satu episode di koloni Mendel, yang memang merupakan varian yang sebelumnya tak ada di serinya yang asli.) Sedangkan buat Gundam SEED Destiny… yah, pada awalnya aku ngerasa perlakuan HD bakal benar-benar dibutuhin karena begitu banyaknya hal yang perlu diperbaiki.

C.E. 73

Masuk ke soal hasilnya sendiri. Hal pertama yang disadari, yang agak mengecewakan, adalah pada bagaimana pembuatan format layar lebar ini enggak mencakup penambahan gambar untuk setiap framenya. Yang mendapat perlakuan kayak gini hanya sebagian frame saja. Kebanyakan frame malah hanya dipotong atas dan bawahnya agar jadi ‘lebar.’

…Seenggaknya, kesan yang kudapat itu kayak gitu sih.

Maksudku, sebagian frame pada versi HD dari Gundam SEED juga cuma digituin, terlepas dari perbaikan adegan dan animasinya.

…Oke, pikirku. Mungkin penggarapannya enggak benar-benar HD. Tapi seenggaknya adegan-adegan aksi dan lainnnya bakal diperbaiki ‘kan? Jadi ya sudah.

Makanya, aku berusaha buat enggak terlalu mempermasalahkan soal ini.

(Kalau ada di antara kalian yang enggak ngerti apa maksudku di sini, sudahlah, jangan terlalu dipikirin.)

Walau aku ngomong demikian, versi HD ini tetap jadi versi yang paling aku rekomendasikan buat kalian-kalian yang baru pertama tertarik terhadap seri Gundam SEED dan sekuelnya. Tapi karena alasan itu juga, aku jadi skeptis dengan hasil penggarapan HD Gundam SEED Destiny. Karena kayaknya, para produsernya enggak segitu berminat melakukan perombakan besar-besaran drastis pada ceritanya, sekalipun mungkin itu yang sebenarnya dibutuhkan.

Dulu Gundam SEED Destiny mendapat banyak cercaan karena kualitas ceritanya ngedrop akibat sakit kronis yang melanda Morosawa Chiaki, sang penulis naskah utama.

Ada lumayan banyak pertanyaan soal apakah cerita Gundam SEED Destiny jadi kayak gini karena ‘keadaan’ membuatnya demikian, atau karena visi awal yang direncanakan untuknya memang kayak gitu. Itu satu pertanyaan yang kuharap bisa terjawab dengan versi HD ini. Terutama karena di awal-awal, Gundam SEED Destiny dianggap semua orang memiliki potensi cerita bagus yang sangat, sangat besar.

Jadi bagaimana hasilnya?

Sebelumnya, seperti yang kubilang di atas, dari total 50 episode untuk versi ini, yang aku lihat kemarin cuma 10 episode terakhir. Alasannya karena episode-episode terakhir ini yang menurutku paling memerlukan perbaikan. Di samping itu, sejauh yang sempat aku lihat sebelumnya, episode-episode awal yang menampilkan Armory One dan Junius Seven memang tak mengalami banyak perubahan signifikan. Ditambah lagi, aku agak malas melihat ulang bab konflik antara ZAFT dan Orb yang menurutku merupakan bagian paling menyakitkan untuk dilihat di seri ini sih.

…Kusampaikan pendapatku dalam poin-poin pendek deh.

  • Untuk suatu alasan, sejumlah frame yang menampilkan nudity atau semi-nudity semakin ditonjolkan dan diperjelas.
  • Ekspresi-ekspresi para karakternya dipertegas emosinya.
  • Ada peningkatan kualitas signifikan dalam penceritaan. Cuma, ya itu, ini ternyata masih tetap cerita Gundam SEED Destiny yang sama.
  • Stock footage yang dipakai berulang masih banyak dan ada. Tapi secara relatif, sekarang stock footage tersebut tertata lebih baik. Pemutaran ulang adegan-adegan ini jadi banyak digunakan untuk menampilkan kilas balik sesaat sekaligus memberi penekanan terhadap konteks pembicaraan para karakternya. Cuma, ya itu, masih tetap banyak.
  • Bicara soal konteks pembicaraan, Sunrise enggak bohong soal adanya penambahan dialog-dialog baru. Dialog-dialog baru ini (buatku, seenggaknya) memperjelas beberapa hal dalam cerita yang sebelumnya memang tersamar. Intinya, dialog-dialog ini menyampaikan konteks lebih baik tentang apa yang terjadi di seri ini. Sebagian percakapan kayaknya bahkan direkam ulang. Ini satu hal yang paling kusyukuri dari versi ini.
  • Adegan-adegan aksinya tertata lebih rapi. Pengaturan temponya lebih baik. Ini paling terasa pada klimaks cerita yang berlangsung pada tiga episode terakhir. Mereka menggabungkan adegan pertempuran dari versi episode spesial Final Plus ke dalam cerita, dan ini yang membuat hitungan jumlah episodenya tetap sama dengan versi TV aslinya.
  • Perbaikan beberapa detil yang sempat diberikan pada versi Special Edition lucunya malah luput masuk di versi ini. Ini paling terlihat pada adegan penemuan surat dan catatan harian Meer Campbell menjelang akhir seri. (Aku ngelihat versi streaming-nya sih, jadi mungkin di versi DVD/BD ini sudah diperbaiki.)
  • Hampir lupa. Musiknya mengalami peningkatan kualitas signifikan. Baik BGM maupun sejumlah soundtrack remix di versi ini beneran enak didengar.

Kalau boleh agak kasar, salah satu kelemahan Gundam SEED Destiny ada pada sejumlah perkembangan ceritanya yang kurang masuk akal. Tapi kalau mengesampingkan itu, bagi yang suka, ini tetap seri aksi mecha yang menarik sih.

Sekarang lebih jelas kalau paruh awal Gundam SEED Destiny kayak memang dimaksudkan untuk menampilkan gimana para karakter yang semula dikira protagonis—dalam hal ini Shinn Asuka dan kawan-kawannya—bisa jatuh ke sisi salah. Lalu baru menjelang paruh kedua seri, para karakter utama dari Gundam SEED—yaitu Kira Yamato dan kawan-kawannya sendiri—sepenuhnya kembali dalam konflik dengan maksud untuk memperbaiki keadaan. Lalu terjebak di tengah semua ini, adalah Athrun Zala, mungkin bisa dibilang tokoh utama sesungguhnya, yang semula memiliki niat mulia untuk menebus kerusakan yang semula dipicu oleh ideologi ayahnya, tapi kemudian malah terseret ke dalam pusaran konflik kepentingan baru yang berdampak ke seluruh dunia.

Jadi enggak. Enggak tahu kenapa para pembuatnya enggak mengadopsi sepenuhnya rute konflik Zeta Gundam seperti mereka dulu mengadopsi alur konflik Kidou Senshi Gundam pada Gundam SEED. Padahal itu opsi yang dengan gampang sekali bisa mereka ambil. Mereka beneran mau mencoba arah perkembangan cerita baru yang memang enggak biasa dan belum pernah dilakukan sebelumnya sih.

Sekarang setelah semua itu jelas, jujur saja, hasilnya buatku kerasa agak aneh. Tapi aku ngerti sekarang, dan kurasa itu bisa kuterima. Jadi, uh, oke.

“Karena sekarang aku punya ‘kemarin,’ aku ingin tahu tentang hari esok…”

Selebihnya, aku perlu menyinggung soal pertempuran terakhir.

Pertempuran terakhir di versi TV asli, di versi episode spesial Final Plus, dan bahkan di versi kompilasi Special Edition juga, sama-sama ditampilkan agak singkat dan beneran berat sebelah. Di versi HD kali ini diperjelas soal apa sebenarnya yang para pembuatnya ingin buat, yaitu soal gimana Kira, Athrun, dan kawan-kawan mereka beneran dikejar waktu untuk mencegah penembakan ulang sebuah senjata penghancur massal, dan untuk itu mereka harus berhadapan dengan pasukan lawan yang membuat mereka benar-benar kalah jumlah.

Pertempuran final di versi HD ini, dengan temponya yang lebih tertata, terasa lebih genting dan seolah berlangsung jauh lebih imbang. Ada proses segmentasi yang diberikan di dalamnya, sehingga semua enggak lagi terasa terjadi sekaligus seperti sebelumnya. Bulan, yang menjadi latar pertempuran terakhir ini, sekaligus lokasi di mana benteng luar angkasa rahasia Messiah milik ZAFT disembunyikan, terasa jauh lebih besar. Juga diperjelas tentang bagaimana Cagalli Yula Atha tak ikut teman-temannya—yang ke luar angkasa, untuk mengumpulkan intelejensi tentang langkah berikutnya ZAFT—karena harus tinggal di Bumi sebagai hampir satu-satunya pemimpin dunia yang masih menentang pemimpin ZAFT, Gilbert Durandal. Ditambah lagi, keputusan ini jadi terasa sangat logis mengingat bagaimana pertempuran terakhir ini ternyata pecah karena perkembangan situasi yang benar-benar dadakan.

(…Kalau kalian membandingkannya dengan Gundam SEED dulu, hal ini memang kerasa agak mengecewakan mengingat bagaimana build up menuju pertempuran klimaks di seri itu benar-benar terasa dalam sepuluh episode terakhir.)

Umm, Yzak Joule dan Dearka Elmsman sama-sama tetap tak mendapat banyak porsi cerita. Mereka malah agak terasa jadi kayak comic relief di bagian-bagian akhir, kalau menilai dari percakapan yang berlangsung di antara mereka.

Lalu Shiho Hahnenfuss, yang berada di antara keduanya, juga masih tetap tak mendapat porsi bicara.

Tapi sekali lagi, pertempurannya lebih seimbang. Kira dengan MS Strike Freedom dan Athrun dengan MS Infinite Justice, serta Neo Roanoke dengan MS Shiranui Akatsuki Gundam, sama-sama dipaksa ‘ke mana-mana’ selama di medan perang karena saking banyaknya lawan mereka. Pasangan Shinn Asuka dengan MS Destiny Gundam dan Rey Za Burrel dengan MS Legend Gundam menjadi lawan tandingan yang lebih dari seimbang bagi Kira dan Athrun, yang keduanya sama-sama harus hadapi.

Rey di sini ditampilkan lebih jelas seperti apa pribadinya. Ada adegan-adegan percakapan ekstensif (agak panjang) antara dirinya dan Shinn menjelang episode terakhir, yang memuncak dengan pembeberan kalau usianya tak lama dan soal bagaimana dirinya adalah seorang klon. Di sini diperkuat kesan kalau Rey memang bermaksud untuk memanipulasi Shinn, tapi enggak lagi dalam artian kalau dirinya sepenuhnya jahat juga. Ada kesan kalau keputusasaan yang Rey sendiri rasakan terhadap keadaannya juga berusaha ditampilkan, dan keputusasaan ini yang membuatnya kayak menaruh harapan pada Shinn. Pilihan yang diambilnya agak sedikit berbeda dari apa yang Rau Le Creuset ambil, sekalipun motivasi yang melandasi keduanya persis sama.

Lalu lucunya, hampir sepenuhnya berlawanan dengan di versi aslinya, di versi HD ini, baik Kira maupun Athrun sama-sama terkesan menang ‘untung-untungan’ atas Rey dan Shinn. Apa yang terjadi di momen penentuan dalam pertarungan masing-masing memang sama dengan versi-versi terdahulu. Tapi entah gimana, penambahan durasi animasi sebelum adegannya malah menghasilkan kesan yang sama sekali beda.

Sesudah kejar-kejaran panjang dan saling adu DRAGOON, di mana keduanya saling menghindari dan menghancurkan DRAGOON satu sama lain, Kira menyadarkan Rey kalau terlepas dari kesamaan keduanya, Rey bukanlah Creuset. Lalu kesempatan yang timbul selama sesaat itu yang memungkinkan Kira untuk mengalahkannya.

It’s kinda weird. Ini sama persis dengan yang berlangsung dengan di versi-versi sebelumnya. Tapi aku menanggapi dan memahaminya dengan cara berbeda. Kalau dipikirin di konteks versi ini, entah gimana it does make some sort of sense. Ucapan itu yang mematahkan mantera yang Gilbert punyai atas Rey, dan yang kemudian melandasi pilihan yang Rey ambil di puncak cerita. Mungkin karena di versi ini, motivasi yang melandasi Rey lebih jelas dikemukakan dibandingkan versi-versi terdahulu.

Di sisi lain, kemenangan Athrun atas Shinn juga tak jauh beda. Intervensi tiba-tiba Lunamaria Hawke dengan MS Force Impulse Gundam (sesudah pertempuran berulang Luna dengan Black Tri-Stars) masih terjadi. Tapi cuma dengan adanya celah itu Athrun dapat bereaksi secepat kilat untuk melumpuhkan Destiny Gundam dalam jarak dekat sekaligus menyelamatkan Luna dari Shinn yang gelap mata. Adegannya kayaknya terasa lebih masuk akal karena sudah diperjelas tekanan apa yang dibebankan pada Shinn akibat manipulasi Rey atas dirinya. Lalu sesudah itu pun keadaan masih genting karena masih ada keperluan yang harus Athrun tangani.

Adegan kejar-kejaran panjang antara dua kapal induk, Archangel yang dipimpin Murrue Ramius, melawan Minerva yang dipimpin Talia Gladys, juga di luar dugaan lumayan kunikmati. Perseteruan dua kapal ini ditampilkan lebih intens, apalagi mengingat seringnya mereka berhadapan di episode-episode sebelumnya. Rivalitas antara dua pemimpin kapal induk menjadi hal agak langka dari sebuah seri Gundam, dan itu lumayan ditonjolkan di seri ini.

Archangel menang karena berhasil melakukan barrel roll yang menghancurkan sisa arnamen yang Minerva miliki, sebelum Athrun berhasil kembali tepat waktu untuk melumpuhkan permesinan Minerva. Tapi pertempurannya beneran nyaris, dengan Archangel yang sempat hampir kalah karena harus melindungi Eternal di mana Lacus Clyne berada, yang menjadi pusat komando seluruh pasukan mereka. Lalu di tengah klimaks itu pun mulai ditampilkan indikasi tentang alasan Talia menyuruh para awak kapalnya menyelamatkan diri sementara dirinya pergi ke tempat Durandal.

Lalu tentang adegan puncak di seri ini, yang menjadi salah satu teka-teki terbesar pada seri yang asli…

Damn. Ini agak menarik.

Tapi mending kalian lewati saja paragraf-paragraf berikut bila benar-benar tak mau di-spoiler. Walau apa yang berlangsung di adegan ini sejak awal memang agak enggak jelas juga sih.

Jadi, buat yang belum tahu, di sepanjang cerita SEED Destiny, diimplikasikan bahwa Talia dan Gilbert Durandal sama-sama pernah memiliki semacam hubungan di masa lalu. Lalu hubungan tersebut kandas karena Talia ingin bisa punya anak. Kaum Coordinator, di balik keunggulan genetik mereka, memang telah dikisahkan mengalami fenomena penurunan kesuburan, walau aku agak lupa persisnya itu dulu diceritakan di bagian mana. Lalu Talia akhirnya meninggalkan Gilbert secara baik-baik untuk menjalin hubungan dengan seorang pria lain, dsb. dan diimplikasikan bahwa akhirnya dia punya anak.

Cuma, yah, sesuatu nampaknya terjadi. Aku enggak yakin persisnya apa. Dan aku juga enggak yakin apakah anak Talia masih ada atau enggak. Sebab, mengingat suatu adegan tertentu di awal seri, dan menilai kepribadiannya, aku juga enggak yakin apa Talia masih berkeluarga. (Ini seriusan memperkuat dugaanku kalau semua perkembangan cerita ini sejak awal memang sudah direncanakan.)

Kalau aku ada info soal ini, nanti aku update deh.

Tapi kayak, tiba-tiba saja terlintas di kepalaku, pada adegan saat Kira menerobos masuk ke dalam Messiah untuk mengkonfrontasi Durandal dengan todongan pistol. Lalu di sana hadir juga Talia, Rey, dan kemudian Athrun. Kemudian semuanya tiba-tiba kayak ‘klik’ di kepalaku begitu saja.

Durandal telah terobsesi dengan Destiny Plan yang dicetuskannya, dan pada puncaknya ia melepaskan tembakan senjata pemusnah massal yang memakan nyawa pasukannya sendiri.

Kira hadir karena kelihatannya ia menyadari latar belakang dari mana Durandal berasal. Tapi selain itu terutama juga karena ancaman berulangkali yang Durandal telah lakukan terhadap nyawa perempuan yang dicintainya.

Rey hadir di sana karena kesadarannya berkat perkataan Kira.

Lalu Talia hadir di sana… untuk suatu alasan. Tapi sesudah tembakan senjata pemusnah massal yang dadakan itu, jelasnya Talia seperti merasa bertanggung jawab dan dilanda perasaan bersalah. Ia merasa dirinyalah pemicu awal mengapa Durandal sampai berubah jadi orang kayak demikian.

Kalau aku ceritainnya kayak gini, jadinya beneran enggak keren sih.

Tapi intinya, aku nangkepnya bahwa Talia menolak Durandal di masa lalu bukan sekedar hanya karena mereka tak bisa punya anak. Tapi lebih karena gimana Durandal demi punya anak itu, sampai melanggar traktat internasional dan melibatkan diri dalam proyek Ultimate Coordinator, dan berujung pada gimana salah satu klon seperti Creuset, yakni Rey, jatuh di bawah asuhannya. Lalu ada juga kemungkinan soal gimana Talia sempat menjadi surrogate mother bagi Rey ini, dan dia tak tahu pada mulanya, dan setelah segala konflik yang terjadi, mereka akhirnya putus secara baik-baik. Makanya Rey memanggil Talia dengan sebutan “Ibu”, dan karena itu pula baik Gilbert dan Talia sama-sama menanggung suatu luka masa lalu.

Lalu menyaksikan semua yang terjadi, hadir Kira dan Athrun, yang sama seperti kita, dari ekspresi muka mereka saja jelas-jelas kelihatan kalau mereka juga kebingungan dengan apa yang baru terjadi.

Muka mereka, di tengah semua kehancuran yang lagi berlangsung, sama-sama kayak… kehilangan kata-kata gitu. Keduanya, kayak kita, sama-sama nyadar bahwa sesuatu pasti pernah terjadi antara Durandal, Rey, dan Talia. Tapi mereka enggak tahu persisnya apa. Dan ini secara enggak disangka ternyata emang nyambung dengan tema ‘ikatan-ikatan masa lalu’ yang beberapa kali seri ini angkat.

Lalu aku kemudian tiba-tiba nyadar soal makna dimasukannya Athrun ke adegan ini.

Pada versi TV SEED Destiny yang orisinil, hanya Kira seorang yang mengkonfrontasi Durandal. Tapi karena suatu alasan, di versi Final Plus dan Special Edition, Athrun dibuat menyusulnya karena khawatir dengan tindakan yang diambil Kira sendirian.

Alasan Athrun jadi dimunculkan di adegan ini, padahal ujung-ujungnya dia terkesan enggak ngapa-ngapain (di samping karena secara teknis, dirinyalah tokoh utama yang sesungguhnya), kayaknya adalah agar dirinya bisa menyampaikan pesan Talia pada Murrue agar sesekali Murrue menengok anaknya.

Alasan Athrun yang mendapat peran ini tentu saja karena hanya Athrun saja di pihak Terminal yang pernah berinteraksi dengan mereka bertiga.

Lalu kenapa Talia sampai rela ikut mati, alasannya kurasa untuk menebus pilihan masa lalunya yang ternyata membuat Durandal dan Rey sampai ‘jatuh.’ Dan Talia bisa begini karena berada dalam kondisi di mana dirinya sudah tak lagi bisa melihat anaknya. Bisa jadi karena anaknya sudah wafat, dan ‘menengok’ yang dimaksudkannya adalah mengunjungi makam. Tapi kurasa bisa juga karena anaknya telah diadopsi oleh keluarga lain dan bukan ‘anaknya’ lagi.

Sama kayak masa lalu dari orang-orang yang kita sayangi, mungkin memang selalu ada pertanyaan-pertanyaan tertentu yang pada akhirnya takkan pernah bisa kita jawab.

The Chosen Future

Bicara soal mecha, SEED Destiny sayangnya memang termasuk yang agak kurang jelas kasusnya.

Aku enggak termasuk yang mempermasalahkan desain MS Infinite Justice, walau ada sebagian temanku yang memandang desain peralatan punggung Justice yang pertama jauh lebih keren. Tapi menonton SEED Destiny lagi memang membuatku nyadar kalau desain Strike Freedom ternyata benar-benar enggak bisa kuanggap keren. Terlepas dari konsep desainnya sendiri, persendian berwarna keemasan itu buatku agak ‘merusak,’ dan itu masih belum setengah dari keluhanku.

Tapi sudahlah.

…Mending aku enggak memulai perdebatan soal MS di sini.

Dulu pernah ada diskusi panjang tentang konsep desain Strike Freedom yang mencakup performa kecepatannya dibandingkan Destiny Gundam, sayap-sayapnya, persenjataannya, dan sebagainya. Jadi mending enggak kita ulas di sini.

Tapi aku sempat penasaran dengan jumlah tembakan sinar yang dilepas Strike Freedom pada saat Full Burst bila dibandingkan Freedom yang awal. Aku kayak terus menghitungnya berulangkali pada sejumlah adegan, karena konfigurasi persenjataan yang berbeda antara keduanya, dan ini menjadi kayak keisengan tersendiri. (Jawab: bila kedelapan DRAGOON Strike Freedom tak ikut ditembakkan, karena sulit berfungsi selain di luar angkasa, jumlah sinarnya sama-sama lima. Strike Freedom tak punya pasangan meriam bahu seperti Freedom. Tapi MS ini memiliki meriam di dada serta senapan ganda, dengan Beam Shield yang menghilangkan kebutuhan perisai yang semula ada di Freedom.)

Akhir kata, di versi ini pun, ceritanya still kinda sucks. Tapi ini relatif yang terbaik yang bisa kita dapat. Ini versi yang paling kurekomendasikan bila kalian tertarik pada SEED Destiny secara sepenuhnya. Dan aku tetap bersyukur versi ini ada karena aku jadi lebih bisa menghargai ceritanya.

Sutradara Fukuda Mitsuo di musim ini juga kudengar menjadi salah satu pencetus seri Cross Ange, di mana belum apa-apa sudah ada banyak keputusan penyutradaraan yang kontroversial di kalangan penggemar.

Agak susah menilai apakah hal-hal ini disengaja atau tidak, dan aku juga ga yakin apa aku punya kapasitas buat menilai. Tapi kayak… sengaja membuat orang enggak suka, kemudian suka, atau sebaliknya; nekat memanipulasi perasaan kayak gitu… apa boleh/layak dilakukan?

Pastinya, belajar dari karya-karya beliau, seenggaknya aku sadar kalau hal-hal tersebut memang bisa dilakukan.

…Aku masih perlu belajar banyak.


About this entry