Space Sherrif Gavan: The Movie

Sebelum ada yang salah paham, biar aku tegaskan. Sebenarnya, aku bukan penggemar Uchuu Keiji Gavan (terjemahan sederhana ‘Uchuu Keiji’ adalah ‘polisi luar angkasa’).

Yeah, seri ini pernah sangat terkenal di Indonesia pada tahun 1980an sampai awal 1990an. Itu masa-masa saat rental kaset video sedang tenar dulu. Tapi bahkan buatku, ini terjadi di masa sebelum aku… yah, aktif (walau, oke, aku sering mengikuti Getter Robo pada zaman itu). Dengan kata lain, kegemaran terhadap Gavan itu ngetren pada saat aku masih sangat kecil. Sehingga, yah, aku lumayan asing dengan seri tokusatsu Metal Heroes secara umum.

(Buat yang mau tahu, satu-satunya Metal Heroes yang sempat agak kuikuti cuma Kidou Keisatsu Jiban. Yea, aku salah seorang dari generasi itu. Apa? Janperson? Sori, aku enggak ngikutin Janperson.)

Tapi walau begitu, sesudah aku dewasa, aku sempat beberapa kali melihat seri sekuel Gavan, yaitu Space Sheriff Sharivan, dan dalam sekejap saja aku langsung mengerti kenapa dulu seri tokusatsu ini dipandang sangat keren. Terlepas dari kejadulannya, lalu efek-efek khususnya, lalu pesawat-pesawat raksasanya dan adegan terlempar ke dimensi lain, ada karisma nyata yang dimiliki oleh para aktornya. Karismanya itu kayak… luar biasa terpancar gitu dan membuat mereka seriusan terkesan keren. Lalu meski konsepnya simpel, diperankannya itu dengan sungguh-sungguh.

Agak… uh, berbeda dengan kualitas akting yang kerap kulihat di zaman ini.

Siapa lagi nama tokoh antagonis di Sharivan? Intinya, dengan ngelihat sekilas saja aku langsung teringat masa kecilku sendiri, dan langsung ngerti soal gimana anak-anak di zaman itu bisa melihat para monsternya sebagai sosok menakutkan.

Terlepas dari semuanya, sebagian karena dorongan rasa ingin tahu, aku mencoba melihat Space Sheriff Gavan: The Movie, yang merupakan film layar lebar yang dibuat untuk merayakan ulang tahun ketiga puluh dari seri ini. Ini suatu produksi baru, keluaran orang-orang Toei yang secara tahunan menangani seri Kamen Rider dan Super Sentai. Tapi formatnya film layar lebar, dan bukan (belum?) serial TV. Lalu sampai sejauh ini, karakter Gavan yang baru ini baru muncul dalam film-film layar lebar lain yang sifatnya masih crossover.

Alasan aku mencoba lihat movie ini, selain karena nama Gavan sendiri, adalah karena aku cukup ingin tahu soal keseriusan penggarapannya, berhubung mereka bilangnya mau mengenalkan karakter ini ke generasi baru.

Lalu soal hasilnya… enggak, film ini sebenarnya, sayangnya, belum bisa dibilang bagus. Tapi fanboy dalam diriku tetap enggak bisa enggak natap dengan mata berbinar saat Gavan akhirnya muncul dan melancarkan serangan pamungkasnya, Gavan Dynamic.

Jadi walaupun begitu, ini tetap sebuah film tokusatsu yang lumayan bisa aku sukai.

Tiga Kalung Pembawa Keberuntungan

Space Sherrif Gavan: The Movie memperkenalkan seorang Gavan baru, yakni seorang pemuda bernama Jumonji Geki.

Singkat cerita, Gavan adalah semacam gelar yang diberikan oleh kesatuan polisi luar angkasa, Galactic Union Patrol, kepada perwira khusus terbaiknya yang ditugaskan melindungi Bumi—sebelumnya, dari ancaman Sindikat Makuu pimpinan alien berkekuatan dahsyat, Don Horror. Gavan dibekali pesawat ruang angkasa khusus dan berbagai perbekalan lain, termasuk zirah sangat canggih yang dapat ditransfer dan dipindahkan kepadanya sesudah diurai ke bentuk partikel dalam nol koma sekian detik.

Film layar lebar ini mengetengahkan hubungan lama yang Geki punyai dengan dua sahabat lamanya, mendiang Okuma Touya, yang berkacamata dan ternyata sebenarnya ambisius; dan satu-satunya perempuan di antara ketiganya, Kawai Itsuki, yang terus meyakini kelangsungan hidup keduanya sesudah kecelakaan misterius yang menimpa pesawat ruang angkasa yang membawa Geki dan Touya dalam sebuah misi menuju Mars setahun yang lalu.

Ketiganya dulunya bekerja sebagai semacam peneliti dalam bidang fisika ruang angkasa di lembaga riset bernama SARD. Lalu saat lab tempat Itsuki bekerja suatu malam diserang oleh makhluk misterius bernama Zan Vard, Geki, yang ternyata selama setahun terakhir ini dirinya ditolong dan direkrut oleh Galactic Union Patrol, datang sebagai Gavan dan menolong Itsuki.

Pertemuan kembali Geki dengan Itsuki menuai kembali pertanyaan tentang apa persisnya yang terjadi pada insiden setahun sebelumnya.

Geki, yang sebenarnya masih belum matang sebagai Gavan, harus menyelidiki serangkaian insiden misterius yang akan berujung pada kebangkitan kembali kelompok penjahat Makuu lagi.

Return to Makuu Space

Satu poin menarik yang film ini miliki adalah masih belum matangnya Geki sebagai Gavan. Dirinya dilanda keraguan tentang tugasnya saat ini sebagai Gavan akibat hubungan lama yang pernah dimilikinya dengan Touya dan Itsuki, dan membuatnya belum bisa mengeluarkan potensi yang dimilikinya secara penuh.

Poin menarik lainnya adalah kembalinya Ichijoji Retsu, pemilik pertama dari nama Gavan, sekaligus sosok yang telah membuat nama tersebut menjadi legendaris. Dirinya telah menjadi berusia paruh baya sekarang, namun kemampuan yang dimilikinya masih tak diragukan. Melihat kesulitan-kesulitan yang Geki hadapi, Commander Qom kemudian menugaskan Retsu untuk menjadi mentor Geki sampai yang bersangkutan mandiri.

Geki ternyata hanya adalah satu dari tiga kandidat yang akan dipilih untuk mengemban tugas melindungi Bumi. Dua lainnya adalah Hyuga Kai sebagai Sharivan dan Karasuma Shu sebagai Shaider. Seri Sharivan dan Shaider sebelumnya merupakan penerus dari seri TV Gavan. Lalu meski dua karakter tersebut masih belum banyak berperan di film ini, aku dengar sedang dibuat film layar lebar untuk masing-masingnya sendiri.

Brighton, tokoh antagonis utama seri ini yang berupaya membangkitkan kembali Don Horror, memiliki desain yang menurutku lumayan keren. Selain Zan Vard, monster lainnya yang muncul meliputi Witch Kill dan Lizard Doubler yang sampai menjelang akhir menjadi lawan yang lebih dari setara untuk Gavan.

Ada… seorang gadis alien muda bernama Shelly yang menjadi asisten Geki dalam misi-misinya. Agak serupa dengan Mimi terhadap Retsu dulu. Dirinya memiliki selera berpakaian yang lumayan unik.

Lalu, wujud Gavan yang Geki akses berbeda dari yang orisinil, dengan sebutan khusus Gavan Type-G yang sedikit berbeda dengan wujud yang Retsu punyai. (Saat-saat keduanya harus meloloskan diri dari ruang Makuu menurutku adalah bagian terbaik film ini.)

Hmmm. Electronic Starbeast Dol muncul menjelang klimaks cerita, membantu Geki dalam penyerangan terakhir ke puing-puing Makuu Castle. Jadi itu satu hal yang tak mengecewakan.

Tapi, hmmm, kalau aku mempertimbangkan kembali hal-hal di atas, beneran kerasa betapa zaman udah berubah ya? Zaman dulu, semua elemen cerita ini benar-benar terasa luar biasa keren. Sedangkan waktu aku mengunjunginya lagi sekarang…

Hmmm, perasaanku rumit.

Terlepas dari semuanya, aku jarang membahas soal tokusatsu. Lalu apabila aku membahasnya, pasti aku membahasnya dengan malas-malasan karena suatu alasan. Tapi setelah sekian lama, kurasa ini satu film layar lebar yang entah karena apa terasa perlu aku ulas.

Akhir kata, aku enggak merasa kau akan menemukan banyak hal baru selaku penggemar tokusatsu dengan melihat film ini. Kalau aku mesti membandingkan, standar beberapa movie Kamen Rider Den-O yang keluar bertahun-tahun mendahuluinya rasanya masih lebih tinggi. Tapi, di sisi lain, rasanya kayak, “Hei, ini Gavan bo!”

Jadinya, yah…

Padahal sutradaranya masih Kaneda Osamu.

Aku jadi bertanya-tanya apakah suatu saat kelak akan ada penggarapan lebih lanjut untuk karakter ini.

Terlepas dari semuanya, aku seriusan sempat merasa kalau aku mungkin akan menemukan ‘sesuatu’ yang berkaitan dengan kenangan masa laluku kalau menonton ini. Sesuatu yang aku sendiri enggak yakin apa.

Enggak, aku enggak menemukannya sih. Pada akhirnya aku tetap enggak menemukan apa-apa.

Tapi aku enggak bisa membantah kalau memang ada sesuatu yang kerasa agak mengganjal di kepalaku sesudah melihat ini. Sesuatu yang aku enggak yakin apa.

…Mungkin ini serupa dengan perasaan yang diangkat dalam 20th Century Boys.


About this entry