Baby Steps

…Aku jarang mengikuti seri manga olahraga.

Ya, dulu aku penggemar Slam Dunk karangan Inoue Takehiko. (Gimana caranya kau bisa enggak jadi penggemar Slam Dunk sesudah baca sekali?!) Baik anime maupun komiknya dulu sama-sama pernah kuikuti. Tapi makin ke sini, hmm, minatku terhadap seri-seri olahraga kelihatannya agak menurun.

Ya, sesekali aku baca manga bertema baseball karangan Adachi Mitsuru. Tapi ceritanya kan banyak dipadu dengan drama, jadi paling cuma itu. Prince of Tennis tak pernah benar-benar aku minati, walau animenya sempat cukup meledak. Lalu meski harus mengakui kebagusan dan keseruan Kuroko no Basuke serta Haikyuu!, aku tak pernah benar-benar sampai jadi penggemar keduanya. (Oh, manga Kuroko sempat tamat belakangan.) Kalau kupikir lagi, aku juga enggak pernah terlalu menggemar manga-manga yang mengangkat tema soal sepakbola.

Makanya, apa yang kualami sekarang mungkin memang sesuatu yang agak aneh.

Memang jarang-jarang sih. Tapi secara berkala aku mengikuti perkembangan manga tenis Baby Steps (‘langkah-langkah bayi/kecil’) karangan Katsuki Hikaru, yang sudah diterbitkan di sini oleh Elex, dan aslinya diterbitkan mingguan oleh Weekly Shonen Magazine punya Kodansha.

Segala Sesuatu Bisa Diatasi Dengan Akal dan Kemauan

Baby Steps, ringkasnya, mengisahkan pengalaman-pengalaman seorang remaja SMA bernama Maruo Eiichirou yang mulai menggeluti dunia tenis.

Premis ini sekilas kedengaran biasa. Tapi kalau kalian pernah mendapat pelatihan tenis formal sebelumnya, mungkin kalian akan terenyuh karena dalam pandangan umum, mengejar dunia tenis profesional pada usia SMA tidak dipandang sebagai ide yang bagus. Tenis itu, singkatnya, merupakan olahraga yang idealnya turut ‘membentuk’ badan selama masa pertumbuhan. Jadi para petenis dunia yang beneran jago konon telah ditentukan masa depan mereka semenjak mereka masih kecil. Sehingga status Ei-chan (demikian dirinya dipanggil, salah satunya karena sebelumnya berkat nilai-nilai pelajarannya yang bagus dan catatan-catatannya yang teramat rapi ia dikenal sebagai seorang straight A student) sebagai seseorang yang belum lama mendalami tenis berulangkali membuat terkesima orang-orang baru di sekelilingnya. Terlebih saat bagaimana kekurangan pengalaman dan fisiknya ia imbangi lewat kemampuan analitiknya serta kontrol bolanya yang benar-benar jauh di atas rata-rata.

Ei-chan memutuskan untuk tenis saat ia bergabung dengan klub tenis di dekat rumahnya yang bernama Southern Tennis Club atau STC. Semula, dirinya bergabung semata-mata karena merasa dirinya kurang olahraga. Tapi kemudian ia mendapati bahwa ada teman sekolahnya, seorang siswi populer bernama Takasaki Natsu, yang ternyata menjadi anggota pelatihan di sana.

Natchan inilah, yang bercita-cita menjadi seorang petenis profesional, yang kemudian menyadarkan Ei-chan akan adanya jalur kehidupan lain selain mendapat nilai bagus dan kemudian mendapat pekerjaan bagus.

Mungkin separuh agak terpikat olehnya, Ei-chan kemudian mulai serius mendalami tenis demi bisa mengejar Natchan. Terutama sesudah Ei-chan mengetahui bahwa tujuan Natchan tak lain adalah karena ingin mengejar teman masa kecilnya sendiri, Ike Souji, yang seusia dengan mereka, tapi kini telah menjadi rising star dalam dunia tenis profesional internasional.

Antara Akal dan Naluri

Aku pernah menekuni tenis waktu SMP. Bahkan pada waktu itupun aku sudah dikomentari tentang bagaimana aku sudah ketinggalan dibandingkan anak-anak lain yang sejak SD sudah tergabung dalam sekolah tenis ternama di kotaku. Yah, aku enggak merasa ada banyak dari mereka yang kemudian maju ke jenjang profesional sih. Tapi mungkin kalian bisa bayangkan maksudku.

Dulu pelajaran tenis yang kudapat itu lewat les privat. Kalau kupikir, keadaanku dulu beruntung juga. Aku enggak pernah sampai merasa aku jadi benar-benar langsing. Tapi tanpa sadar, ototku terbentuk dengan sendirinya pada masa itu. Lalu walau aku dikelilingi anak-anak yang lebih muda, ada seorang cewek sebayaku yang tomboi yang menjadi teman main.

…Aku agak menyesal karena les privat itu aku akhiri dengan begitu saja sih. Dalam artian, kayak, aku berhenti datang sama sekali, dan berhenti begitu saja tanpa pamit ataupun penjelasan. Kepada kedua orangtuaku, aku memakai kesibukan pelajaran sekolahku sesudah masuk SMA sebagai alasan (walau memang nyatanya ini enggak salah). Tapi sesudah aku dewasa sekarang dan mikir ke belakang, ini keputusan yang pada akhirnya aku sesali.

Aku benar-benar bersikap lemah (dan pengecut) pada waktu itu, dan dampak keputusan itu terasa bahkan sampai sekarang.

Membaca Baby Steps, membandingkan diriku sendiri terhadap Maruo, terutama dengan melihat perkembangan hubungannya dengan para rivalnya, dan juga dengan Natchan sendiri, aku benar-benar jadi merasa payah.

Di sisi lain, ini manga olahraga yang terbilang langka karena porsi cerita yang berfokus pada olahraganya sendiri benar-benar besar.

Yah, tenis memang olahraga yang relatif individualis sih. Jadi enggak banyak faktor hubungan antar karakter yang bisa diangkat sebagai drama.

Tapi bila dibandingkan dengan cabang-cabang olahraga lain yang banyak diangkat dalam suatu fokus pada manga, lumayan terasa perbedaan warna yang tenis punya.

Konfliknya lebih banyak ada pada mental. Segala pergulatannya cukup banyak di dalam pikiran dan hati para pemainnya sendiri. Lalu walau kau kalah di satu kesempatan, itu sama sekali enggak serta merta berarti kau lebih lemah dari lawanmu. Tenis itu olahraga di mana dua pemain yang berhadapan di dalamnya sama-sama mengalami semacam evolusi di sepanjang permainannya.

Singkatnya, bahkan saat Ei-chan kalah pun, dia enggak pernah benar-benar ‘kalah.’ Ada sesuatu yang selalu didapatkan olehnya dan lawan-lawannya seusai bertanding. Sesuatu yang bisa dibilang bersifat pribadi.

Makanya, walau sekilas membosankan, dan karenanya tak begitu meledak, ini seri yang bisa dibilang seru bagi mereka yang bisa mengikutinya.

Oh, dan agak berbeda dari Prince of Tennis, aspek realismenya lumayan besar. Jadi enggak ada jurus-jurus maupun teknik aneh yang ditampilkan di dalamnya. Semuanya murni ada pada parameter fisik, kecendrungan bermain, gaya dan filosofi permainan yang dipegang, serta kekuatan mental masing-masing karakternya.

Metode Termudah Untuk Menjadi Riajuu

Baby Steps sempat memenangkan penghargaan manga Kodansha sebagai manga shonen terbaik. Sesudah aku ikuti, lumayan mudah untuk tahu alasannya kenapa.

Judulnya mengacu pada perkataan salah seorang karakter di dalamnya, yang bilang bahwa dari langkah-langkah bayi yang kecil dan teratur dapat tercipta lompatan-lompatan raksasa yang besar, dan persis itulah yang Ei-chan alami dalam manga ini.

Jumlah karakternya tak benar-benar sedikit. Tapi lingkup perkembangannya memang difokuskan lebih banyak pada Ei-chan, dan pada bagaimana ia mencoba membuktikan pada kedua orangtuanya dan sekaligus pada dirinya sendiri tentang cita-citanya ini.

Aku sempat mengira kalau Takasaki Natsu lebih banyak dipakai sebagai karakter pemanis. Tapi kenyataannya sama sekali enggak.

Hmmm… porsi elemen-elemen cerita di dalamnya memang agak enggak biasa untuk sebuah manga olahraga. Tapi ini seriusan seri yang bagus.

Dari segi gambar dan desain karakter, sekilas kesannya tak menonjol sih. Tapi saat kau perhatikan detil-detil yang ditampilkan di dalamnya, hasilnya sama sekali enggak jelek. Bahkan ada perhatian tak disangka, meski enggak dalam jumlah banyak, terhadap hal-hal sampingan yang ada di dalamnya juga. Dan yea, ini seri yang terbilang ‘bersih’ dari elemen-elemen aneh yang bisa ditemukan pada banyak seri belakangan.

Season 1 dari adaptasi animenya yang dibuat oleh Pierrot belum lama ini berakhir semenjak penayangan dari Oktober lalu. Berhubung ditayangkannya di saluran NHK-E, yeah, kalian tahu animenya adalah jenis yang kayak apa. Season 2 dari animenya sudah diumumkan. Tapi berhubung aku belakangan sibuk dan sudah mengikuti cerita dari manganya, maaf karena aku enggak mengikuti perkembangannya.

You know, alasan aku mengangkat pembahasan soal ini adalah karena kayak yang sebelumnya aku bilang, aku sedang berusaha melakukan pembenahan terhadap hidupku. Dan Baby Steps termasuk seri yang banyak ngasih pengaruh positif sekaligus ide tentang bagaimana baiknya cara aku melakukannya.

Ini serius telah menjadi salah satu manga olahraga favoritku untuk sekarang ini.


About this entry